Permata yang Hilang

spon

Kini setiap hari aku selalu mendapat spon segi empat berwarna merah atau kuning. Spon bernomor dengan ukuran kira-kira 4×4 cm, kadang-kadang ukurannya 4×3 cm, 4×5 cm dan tidak pakai sama dengan.

Spon itu kuperoleh dari pemilik parkir kereta pada pagi hari setelah aku menitipkan keretaku padanya oleh karena aku akan pergi ke kantor dengan naik angkot.

Di tempat parkir itu berjajar berbagai jenis kereta yang didominasi merek Honda dan Yamaha. Suzuki mungkin ada tapi tidak aku perhatikan. Mereka semua ada pemiliknya, yaitu para pekerja yang berangkat pagi-pagi sepertiku, ada anak sekolah dan ada yang menitip saja daripada khawatir tidak aman bila  ditinggal di rumah sementara dia pergi beberapa hari.

Aku perlu menitipkan keretaku disitu agar aku tidak repot naik kereta sampai ke kantor yang jauhnya memakan waktu 1 jam. Selain itu, istriku juga tidak mengizinkan aku naik kereta ke kantor karena nanti wajahku jadi hitam, kotor dan jadi jelek. Kalau jelek, aku jadi menyesal kalau jumpa cermin.

Sebenarnya aku bisa saja tidak menitipkan keretaku disitu asalkan aku diantar setiap hari ke tempat biasa aku menunggu oleh istriku. Namun setelah kupikir masak-masak sampai gosong, itu tidaklah baik. Selain kelihatan manja dan tidak mandiri juga jadi merepotkan istri.

Kakek penjaga tempat penitipan kereta itu sepertinya sudah tua karena rambutnya didominasi warna putih. Bila aku tiba menitipkan keretaku, dia akan mendatangiku dengan Baca lebih lanjut

Iklan

Monster Hunt; Bila Manusia dan Monster Hidup Berdampingan

vlcsnap-2016-03-20-11h29m28s63Bisakah manusia dan monster hidup berdampingan? Pertanyaan bodoh ini hanya bisa dijawab jika kamu telah menonton film Monster Hunt yang memecahkan rekor pendapatan film Box Office di China pada tahun 2015 lalu.

Film Monster Hunt menceritakan tentang suatu masa dimana manusia dan monster hidup berdampingan. Karena sifat manusia yang serakah maka kehidupan pun dimonopoli, sehingga monster menerima akibatnya, diperangi, diburu sampai mereka diasingkan ke pegunungan terpencil dan tidak boleh lagi melintasi perbatasan. Perbatasan antara manusia dan monster disini kurang jelas, mungkin seperti perbatasan wilayah Malaysia dan Indonesia di Pulau Kalimantan.

Ternyata di dunia monster pun tidak aman-aman juga. Yang namanya kerajaan bedogol monster, tentu ada raja, ratu dan rakyatnya. Ketika raja lama wafat, maka digantilah dengan raja yang baru dan kebijakan yang baru, menyingkirkan semua pejabat dan monster-monster yang setia dengan raja yang lama, semua itu adalah untuk menghilangkan kekuasaan raja lama.

Ratu yang ternyata hamil juga hendak dilenyapkan dan ratu pun melarikan diri hingga sampai ke dunia manusia. Bersama pengawalnya mereka sampai di Desa Yongning dan bertemu dengan Walikota Tianyin (Boran Jing). Tianyin sendiri adalah anak dari seorang pemburu monster jahat dimana sang ayah tidak diketahui dimana rimbanya.

Plot cerita memang sedikit dipaksakan ketika tiba-tiba seorang pemburu monster amatiran Baca lebih lanjut

ke Pulau Berhala, the Dream Comes True II

Angin laut menyergap tubuh, menusuk lubang pori-pori, menitipkan hawa dingin ke sekujur tubuh. Namun tetap saja rasa dingin itu tidak lebih terasa ketimbang rasa kesal akibat pancing yang jatuh di dasar laut di bawah dermaga.

berhala bacaanAku dan Miko mencari-cari relawan yang mau menyelam untuk menemukan pancing itu. Kami bertanya pada marinir yang sedang bertugas disitu namun mereka menyarankan besok saja mencarinya. Sekarang sudah malam, air juga sudah pasang, akan sulit menemukannya. Begitu jawab mereka.

Betul juga. Namun kami belum puas. Kami melihat ada acik-acik sekira 2 orang sedang memakai pakaian menyelam. Pakaiannya nampak seperti manset berwarna kecoklatan dan ketat menyatu dengan tubuh. Jika dilihat sekilas akan nampak seperti tubuh telanjang yang berukir lukisan. Kami mencoba mendekati kedua pemuda yang sepertinya mirip bintang film Tiongkok itu dan menyapanya.

“Mau menyelam ya Ko…” Miko sok akrab. Menyapa dengan panggilan Koko, seolah-olah itu adalah abangnya. Padahal bukan.

“Iya.” Salah satu dari mereka menjawab sembari menyiapkan perlengkapan menyelam dan menembak. Kemudian mereka memakai sepatu yang telapaknya sangatlah panjang dan lembek. Seperti kaki katak. Yang seorang lagi membereskan pelampungnya. Di pelampungnya tertulis

Baca lebih lanjut

Kereta Api

Atap gerbong KA

Atap gerbong KA

Malam minggu ini aku lagi duduk-duduk di kursi kereta api. Ngapain? Ya duduk saja tapi dengan duduk-duduk begini bisa sampai ke Medan, karena keretanya jalan. Sebenarnya nggak jalan sih, karena kereta tidak punya kaki. Melainkan roda besi yang jumlahnya banyak sekali.

Malam ini saya duduk-duduk di kereta api dan melewatkan konser D’massiv di lapangan kota. Lapangan itu biasa disebut anjungan Sri Mersing. Lapangan yang harusnya bangga karena banyak artis ternama pernah mejeng di sana. Seperti Wali Band, Judika, Five Minutes, Andra & the Backbone, Setia Band dan masih banyak lagi dan mungkin minggu-minggu kedepannya akan ada artis lain yang datang menyanyi.

Asyiknya, penonton tidak perlu membayar untuk menyaksikan mereka karena sudah dibayar perusahaan rokok. Tidak perlu juga Baca lebih lanjut

2# 12-12-12 di Kerajaan Bedogol

Kata rakyat jelata, tanggal 12 bulan 12 tahun 2012 adalah tanggal unik, cantik dan menarik. Tidak akan ada lagi tanggal seperti ini lagi selama engkau masih tinggal di atas bumi. Saking uniknya, berbondong-bondonglah orang berkawinan di tanggal itu. Banyak pula ibu-ibu hamil berusaha melahirkan di tanggal itu baik secara normal maupun dengan jalan operasi.

Bagi para remaja, tanggal 12-12-12 akan sangat indah bila hari itu menjadi hari jadian untuk berpacaran, atau hari yang baik untuk berputusan.

Ada sebagian rakyat jelata di belahan bumi lain menganggap, 12-12-12 bertepatan dengan hari kiamat sehingga mereka mempersiapkan peralatan yang dapat menyelamatkan mereka jika kiamat benar-benar terjadi, seperti kapal dan bungker-bungker di bawah tanah. Pasti harga tiket kapal itu sangatlah mahal. Lalu belinya dimana? Apakah tiket itu dijual online? Tentulah para hulubalang harus bertanya kepada hulubalang Faigol yang baru-baru ini membeli boneka kucing secara online.

****

Di Kerajaan Bedogol, tanggal 12-12-12 ditanggapi dengan dingin. Seluruh hulubalang tidak terpengaruh dengan isu akan terjadinya kiamat. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa dengan berprinsip: “Bekerjalah kamu seakan-akan kamu hidup selamanya dan beribadahlah kamu seolah-olah kamu mati esok hari.” Tapi tentu saja para hulubalang lebih mengikuti kaedah yang pertama.

Bagi hulubalang Digol, 12-12-12 adalah hari dimana pulsa simpatinya hanya bersisa Rp52,- dan Raja sedang bepergian meninggalkan kerajaannya.

Untuk menghidupkan suasana. Sang Menteri Kokogol pun mengusulkan sesuatu dengan cara yang tidak serius.

“Wahai para hulubalang! Baca lebih lanjut

Payung yang Tertukar

Pulang dari kantor malam tadi ditemani sebuah payung. Payung yang diberikan kantor secara cuma-cuma. Aku tertarik yang berwarna hijau. Kebetulan jumlahnya lebih sedikit daripada tiga warna yang lain. Hitam, biru dan Abu-abu.

Gagang payung kutempel inisial namaku “J” agar tidak tertukar dan tidak ditukar teman kantorku yang kadang suka berbuat jahil. Aku menaruhnya di pos satpam dan kutinggal sejenak untuk membeli sebungkus nasi.

Selepas kembali dari warung, aku ke pos satpam dan mendapatkan payung yang sudah tak berinisial lagi. Warnanya masih sama. Satpam yang berada di luar pos aku datangi dan bertanya padanya. Ia sepertinya tidak tahu apa-apa. Ia malah menunjuk ada tiga payung di dalam posnya.

Duh. Ini siapa yang punya kerjaan? Salah seorang teman yang mau pulang berhenti tepat di depanku. Ia tertawa. Aku curiga dan mencecarnya dengan pertanyaan yang sedikit menuduh. Ia mengaku mengambilkan salah satu payung di tempat yang sama. Namun ia tidak memperhatikan payung yang berinisial namaku.

Yah, mau apa lagi. Akhirnya aku bawa pulang putri payung yang tertukar. Moga-moga aja payung ini lebih bagus daripada payungku sebelumnya.

Terkadang, Baca lebih lanjut

Lebih Baik Tidur Daripada Sahur

Setahun yang lalu, di bulan ramadhan. Tempatku bukanlah di sini. Jauh di sana, kota kecil yang dekat dengan deburan ombak laut. Kota Meulaboh yang banyak menyimpan berjuta kenangan selama tiga tahun aku menetap dan bekerja di sana.

Sekarang segalanya berbeda. Cuaca, suasana, teman menjadi serba lain. Segalanya serba baru kembali. Memulai hidup baru lagi dan mencoba eksis lagi di Kota Tebing Tinggi (hah, kayak grup band yang mau bubar aja…)

Kalau setahun yang lalu, aku terbiasa sahur dan buka bersama dengan teman-teman, sekarang harus sahur sendiri. Tiada yang membangunkan kecuali alarm hp. Tapi nyaris saja tak berguna, karena selalu aku lebih cepat bangun dari bunyi alarm. Selanjutnya cuci muka lalu menunggu sang pengantar makanan sahur di serambi.

Di kos-kosan ini, sebenarnya ada rekan kerja juga yang tinggal di tempat yang sama dengan kamar yang berbeda, kadang kami menyantap sahur bersama, kadang di kamar masing-masing. Habisnya, kadang-kadang dia juga sudah ada teman sahurnya di hp. He… he… he…

Ada kejadian lucu beberapa hari lalu. Aku membangunkannya untuk sahur dengan menggedor pintunya. Tidak berapa lama ia membuka dengan mata setengah picing. Lalu kuserahkan sebuah rantang dan aku kembali ke kamarku.

Pagi hari setelah bersiap-siap berangkat ke kantor bersama dengannya. Dia berbicara perlahan kepadaku. Baca lebih lanjut