Permata yang Hilang

spon

Kini setiap hari aku selalu mendapat spon segi empat berwarna merah atau kuning. Spon bernomor dengan ukuran kira-kira 4×4 cm, kadang-kadang ukurannya 4×3 cm, 4×5 cm dan tidak pakai sama dengan.

Spon itu kuperoleh dari pemilik parkir kereta pada pagi hari setelah aku menitipkan keretaku padanya oleh karena aku akan pergi ke kantor dengan naik angkot.

Di tempat parkir itu berjajar berbagai jenis kereta yang didominasi merek Honda dan Yamaha. Suzuki mungkin ada tapi tidak aku perhatikan. Mereka semua ada pemiliknya, yaitu para pekerja yang berangkat pagi-pagi sepertiku, ada anak sekolah dan ada yang menitip saja daripada khawatir tidak aman bila  ditinggal di rumah sementara dia pergi beberapa hari.

Aku perlu menitipkan keretaku disitu agar aku tidak repot naik kereta sampai ke kantor yang jauhnya memakan waktu 1 jam. Selain itu, istriku juga tidak mengizinkan aku naik kereta ke kantor karena nanti wajahku jadi hitam, kotor dan jadi jelek. Kalau jelek, aku jadi menyesal kalau jumpa cermin.

Sebenarnya aku bisa saja tidak menitipkan keretaku disitu asalkan aku diantar setiap hari ke tempat biasa aku menunggu oleh istriku. Namun setelah kupikir masak-masak sampai gosong, itu tidaklah baik. Selain kelihatan manja dan tidak mandiri juga jadi merepotkan istri.

Kakek penjaga tempat penitipan kereta itu sepertinya sudah tua karena rambutnya didominasi warna putih. Bila aku tiba menitipkan keretaku, dia akan mendatangiku dengan Baca lebih lanjut

Iklan

Belah Duren di Musim Hujan

Di kota Tebing Tinggi saat ini lagi musim hujan. Tapi itu biasa. Yang tidak biasa adalah musim durian. Di jalan-jalan protokol terlihat buah berduri itu beselemak peak di pinggir jalan baik di atas trotoar maupun di atas mobil pick up. Bentuk buah duriannya pun bermacam-macam. Ada yang oval seperti telur. Ada yang berbentuk seperti pepaya. Ada yang sudah dibelah dan ada yang tinggal kulitnya karena sudah dimakan. Entah oleh siapa.

Gerombolan durian itu memang nampak menggoda jika dilihat sambil lalu dan korban dari godaan durian itu adalah isteriku. Malam itu sewaktu menjemputnya dari tempat kerja untuk pulang, dia bertanya dengan kalimat mencurigakan.

“Abang nggak pengen makan durian?”

Aku yang mendadak mendapat pertanyaan seperti itu segera merespon dengan cepat.

“Mmm… Kenapa? Adek kepengen durian ya?”

Dia tidak menjawab. Kata guru MAN ku dulu, kalau perempuan ditanya sesuatu dan dia diam, itu tanda setuju. Tapi guruku mencontohkan anak perempuan yang mau dijodohkan sama bapaknya. Mungkin bisa dianalogikan sama kejadian ini.

“Ya udah, kalo kepengen abang putar lagi nih keretanya.” Lalu kuputar keretaku dengan jari telunjuk seperti pemain basket profesional. Ada senyum diwajahnya. Itu artinya dia senang bakal makan durian dan lebih senang lagi kalau aku yang mentraktir.

Checkpoint durian itu ada di persimpangan. Kulihat beberapa buah durian tersusun rapi di atas mobil pick up. Aku memakirkan keretaku lalu memilah-milih durian, mengciumnya dengan hati-hati, meraba-raba durinya.

“Durian dari mana ini bang?” Tanyaku sama laki-laki tanggung yang ada di samping mobil pickup itu.

“Nggak tau.”

“Berapa bang harga yang ini?” Tanyaku sambil menunjukkan buah durian yang paling besar. Pastilah ini raja durian. Karena dia yang paling besar diantara durian yang ada disitu.

“Nggak tau.”

“Lho, abang yang jual?” Aku mulai emosi karena jawabannya selalu tidak tau.

“Bukan.”

“Dasar kampretos. Kirain yang jualan.” Tapi dalam hati.

Tak lama keluar anak laki-laki tanggung dari dalam mobil dan mendekati kami lalu pura-pura ramah. Pastilah orang ini yang jualan.

Kuulangi pertanyaan yang salah sasaran tadi. Katanya durian-durian ini dari Sipispis. Sebuah daerah yang letaknya tidak jauh dari kota Tebing Tinggi.

“Berapa harga yang ini?” Tanyaku sambil menunjukkan durian yang besarnya agak sedikit lebih kecil dari helm LTD.

“Kalo yang itu dua puluh ribu bang.”

“Kok mahal kali.”

“Wiiihhh… udah murah itu bang.”

“Kan durian dari Sipispis biasanya murah.”

“Wiiihhh… sama aja itu bang.”

Nggak kutanya “sama aja” itu maksudnya sama durian yang mana.

“Lima belas ribu ya, biar ambil dua.”

“Wiiihhh… janganlah bang.”

Anak tanggung ini selalu menjawab pake WIIIHHH… sambil mengayunkan kepalanya. Aneh.

Aku memilih-milih lagi. mencium dan meraba-raba lagi. Kubanting pelan durian itu ke lantai pickup. Biasanya kalo durian yang isinya lemak itu agak menggema bunyinya. Beppp… gitu.

Tiba-tiba yang kutanya tadi lari bersama seseorang yang berjenis kelamin sama dengan dia. Sepertinya mereka berebut masuk ke dalam mobil. Kudengar sepintas kalau anak tanggung yang ngomong pake wiiihhh tadi udah ngantuk dan dia mau tidur. Sedangkan partnernya entah baru kembali darimana dan harus gantian melayani pembeli.

Anak tanggung yang baru muncul tadi mendekatiku.

“Yang mana bang?” Dia nanya.

“Yang ini sama yang ini ya. Berapa harganya?” Aku menunjuk dua buah

“Tiga puluh lima ribu aja bang.” Dia jawab sambil megang pisau. Dia pasti bukan mau nodong.

“Mahal kali. Tiga puluh ribu ya.”

Dia mengangguk, terus pisaunya dia buat untuk memotong tali. Padahal tali itu bukan ayam.

Isteriku tadinya mau makan di tempat itu juga. Tapi akunya bilang di rumah aja. Supaya kalau tidak habis dimakan bisa disimpan di tupperware atau dikolak besoknya. Karena isteriku baik budi, dia menurut. Menurut siapa? Menurutku. Mungkin setan jahat bilang, “dasar suami egois”. Eh, jadi suudzon sama setan. Selepas si penjual mengikat durian itu, aku pun pulang sambil membawa isteriku yang menenteng durian.

Makan durian di lapak penjualnya itu sebenarnya seru. Kita nggak perlu belah duren sendiri jadi gak takut kena durinya. Kalau misalnya duren yang dibelah itu busuk atau mentah, bisa langsung ditukar sama durian juga. Sampai-sampai muncul sinetronnya “Durian Yang Tertukar”. Terus kalau makan disitu kita bisa pamer sama orang-orang yang lewat di situ, sama tukang parkir, sama orang yang jualan juga. Kulit duriannya menjadi tanggungjawab yang jualan karena tidak diwajibkan untuk dibawa pulang. Terus kalau kurang, kita bisa langsung pilih dan beli lagi. Repotnya adalah kalau mau cuci tangan dan mau ngelap mulut sehabis makan duren. Itu penjual cuma ngasi kobokan dengan air yang sedikit dan kain lap yang kumal. Hiiii… mulut siapa aja lah yang udah nempel disitu. 

Sementara kalau makannya di rumah agak sedikit kurang nyaman sama tetangga. Bau durian itu bisa memancing tetangga jadi kepingin durian atau bisa juga jadi mual kalau tetangga itu alergi durian.

Akhirnya aku belah durennya di rumah dan warnanya sedikit kekuningan. Orang menyebutnya itu durian tembaga. Ada juga yang menyebutnya durian mentega. Tapi perbedaan nama itu tidak menjadi masalah buat durian. Karena yang terpenting itu bukanlah bagaimana cara memakannya atau dimana memakannya, tapi bagaimana cara membelahnya dan sepertinya saat itu sedang turun hujan.

Service Setengah Hati?

Service itu bukan hanya bagaimana melayani pelanggan, tapi juga bagaimana memuaskannya… #opoiyo

Aku terperangkap di dalam showroom Yamaha dan di luar hujan deras sekali. Tapi kendaraan di jalan seperti tidak perduli. Mereka tetap saja hujan-hujanan. Hujan yang turun sejak pagi belum juga berhenti mengguyur kota. Kadang deras, kemudian rintik-rintik, kemudian deras kembali. Sampai tengah hari gini hujan belum juga habis tercurah dari langit. Kulihat langit berwarna putih sampai batas pandangan. Mungkin kota Medan dan Kisaran juga mengalami basah-basahan seperti kota Tebing Tinggi ini.

Sejak pagi tadi sebenarnya berniat untuk service si biru (Si biru adalah panggilan sayang buat keretaku. Tak usahlah kusebut namanya. Biar tak dibilang pamer. Lagian masih kreditan). Tapi akhirnya baru bisa ke showroom Yamaha untuk service pukul setengah duabelas. Ketika hujan mulai reda. Syukurlah ketika sampai di showroom, mereka belum istirahat dan cuma satu kereta yang kulihat diservice.

Kutemui service counter dengan menyampaikan maksud dan tujuan. Dia pun faham dan meminta STNK dan mengkonfirmasi no telp. Memastikan kalau aku sudah terdata sebelumnya. Ini memang service yang ketiga kalinya. Lumayan, masih ada jatah service gratis, cuma ganti olinya yang nggak.

Service counter itu bertanya pada… sepertinya service advisornya. “Masih diterima? Udah mau jam istirahat?”

Laki-laki berbaju pitstop itu berdiri mendekati mbak service counter. “Terima aja.” Dan kemudian menatapku. “Ditunggu ya pak. Mekaniknya masih keluar bentar.”

Aku menunggu di ruang tunggu yang ada televisinya dengan siaran gosip artis Jupe yang dikabarkan meninggal dunia di hari ulang tahunnya. Dan si artis diwawancarai saat merayakan ulang tahunnya menanggapi kabar kematiannya. Sayang remotenya nggak ada buat ngecilin volumenya. 

Mekanik kulihat mulai mempreteli anggota tubuh si biru sebagai tanda bahwa dia akan diservice. Sebelumnya si mekanik kudengar seperti mengingatkan sudah dekat jam istirahat. Tapi mbak service counter mengatasnamakan perintah advisornya. Jadilah dia kerjain juga si biru.

Baru sekitar 20 menit berlalu. Si mekanik datang menghadap dan bilang padaku service akan dilanjutkan jam satu siang karena sudah jam istirahat. 

Saya mau jawab apa ya. Pengennya sih mau bilang. “Kok gak dilanjutin sampai selesai aja bro. Abis itu baru istirahat. Kan nanggung tuh.” Tapi yang keluar malah “Oh… iya.”

Jadi aku harus menunggu sampai satu jam untuk sampai ke pukul satu. Entah pukul berapa kalau sampai selesai service. Mana yang disediakan di sini cuma sekuntum minuman mineral gelas merk Zukra. Padahal aku kan nggak haus. Rupanya begini ya pelayanannya. Membiarkan pelanggannya menunggu mekaniknya istirahat dulu sementara service sudah setengah berjalan.

Tapi apa mau dikata. Ini service sepeda motor di showroom. Bukan service di bank. Kalau nggak puas dengan pelayanan petugasnya kita bisa buka rekening di bank lain. Nah kalau ini, tidak puas dengan pelayanan mekanik atau pihak service, mana bisa pindah ke showroom Honda atau Suzuki. Wong keretanya Yamaha. Manalagi showroom resmi yang ada bengkelnya cuma sebiji di kota Tebing ini. Ya mau tak mau kesitu juga.

Akhirnya mekanik kembali pukul setengah dua. Artinya dia terlambat setengah jam sebagaimana perkataannya tadi. Dan kerugian waktu itu hanya bisa digantikan dengan mengupdate blog ini. 

Aku jadi teringat harus segera pulang karena mau berbelanja kebutuhan untuk acara arisan besok, membeli melon, pisang, sayur dan game watch. Game watch-nya buat ponakan lho, bukan buat arisan. Juga mau pinjam tikar mesjid. Semoga arisannya lancar ya Jaya… 

Iya…

10# Kerajaan Bedogol di Ujung Tanduk

image

Ini tahun yang sangat panas dirasakan rakyat kerajaan Bedogol. Matahari seperti ada dimana-mana. Kata tuan-tuan yang singgah tempo hari di istana. Ini adalah tahun beruk api, panas macam pantat kuali habis mengaco dodol.

Ingin tahukah kamu siapa gerangan yang singgah tempo hari di istana. Mereka adalah sekawanan isteri-isteri para petinggi istana pusat. Perlu kiranya kawan fahami, bahwa kerajaan bedogol merupakan kerajaan kecil yang mana ianya memiliki induk kerajaan. Induk kerajaan ini berada di padang yang sangat luas dan ramai. Para hulubalang bila ditanya satu persatu, maka semua akan memilih tinggal di induk istana yang megah itu. Namun tak dapat semua menuju kesana jika tidak ada prestasi ataupun handai taulan yang menjadi petinggi disana.

Para isteri-isteri petinggi itu singgah sejenak di kerajaan bedogol adalah untuk

Baca lebih lanjut

Karang Anyar, Bak Telaga Mempesona

Jernihnya Karang Anyar, tenangkan hati

Jernihnya Karang Anyar, tenangkan hati

Kalau ada tanggal merah di kalender, itu adalah hari yang membuat saya bingung, kemanakah saya harus menghabiskan hari libur ini? Banyak orang menggunakan hari libur untuk pergi rekreasi, sebagian orang menggunakannya untuk beristirahat karena lelah bekerja setiap hari. Sekelompok kecil menghabiskan hari liburnya dengan bekerja lembur,aku sendiri termasuk ketiga golongan itu. Wakwau…

Tidak kebetulan, sanak keluarga dari isteri berkunjung ke rumah saat hari libur kemarin. Ramai sekali, sampai dua mobil. Alhamdulillah, mereka menginap satu malam. Esoknya sebelum kembali pulang, mereka kami bawa dulu jalan-jalan ke tempat wisata di Siantar.

Karang Anyar, dari namanya itu adalah nama sebuah tempat di pulau Jawa sana, tapi di Pematang Siantar, nama Karang Anyar sudah tidak asing lagi karena menjadi nama sebuah tempat wisata Pemandian Alam.

Untuk menuju kesana sangatlah mudah, aktifkanlah GPS lewat ponsel pintarmu, lalu ketiklah tempat kamu berada dan ketiklah tempat tujuan kamu, yaitu Karang Anyar Simalungun, nanti akan muncul map
yang akan menuntunku kesana. He…he…

Itu beneran loh, saya awalnya tidak tahu dimana itu Pemandian Alam Karang Anyar, tapi berkat GPS di smartphone itu, saya dan saudara-saudara saya sampai juga disana, ada juga sih nanya-nanya warga sekedar untuk memastikan jalan yang dilalui itu benar atau tidak.

Bila ditempuh dari kota Medan menuju Pemandian Alam Karang Anyar Kec. Gunung Maligas Kabupaten Simalungun sekitar 128 Km atau kira-kira 2 Km setelah memasuki Kota Pematang Siantar. Jalan yang dilalui tergolong bagus karena sudah aspal, walau ada sedikit bolong disana-sini dan sedikit sempit namun untuk kendaraan roda empat tidak menjadi masalah berarti.

Sampai di gapura atau pos selamat datang kita akan Baca lebih lanjut

Berenang Siang

Kapan terakhir kali kamu berenang? Apakah kamu berenang tidak pakai baju? atau pake singlet supaya perutmu yang tumpah itu tidak kelihatan? Kapan terakhir kali kamu pergi ke kolam renang? Apakah makhluk aquarius selalu pandai berenang? Ini pe-er ya… kerjakan di blog masing-masing.

Hari sabtu sekira pukul sembilan lewat sekian, tiba-tiba istri mengajak pergi berenang. Entah mengapa ia tiba-tiba kepingin berenang, karena saya melihat kesungguhan diwajahnya, saya mengiyakan saja. Hitung-hitung mengisi waktu libur.

Sasaran untuk berenang hari itu adalah kolam renang Bayu Lagoon. Bayu Lagoon sendiri merupakan sebuah nama resto yang memiliki kolam renang. Kami memilih tempat itu karena kami tidak tahu lagi dimana kolam renang yang lebih bagus dari kolam renang Bayu Lagoon. He… He…

Untuk menghilangkan kesan bulan madu, istri mengajak anak tetangga yang kira-kira berusia 5 tahun untuk ikut serta, awalnya si Nazli malu-malu, lama-lama mau ikut juga. Dengan mengendarai sepeda motor sampailah kami di Bayu Lagoon dengan selamat tanpa kurang suatu apapun, eh, ada sih yang kurang. Plastik kresek untuk tempat pakaian basah lupa dibawa.

Untuk mandi di kolam renang Bayu Lagoon itu, kamu harus Baca lebih lanjut

Pemilih Bayaran

foto internetSuatu malam yang belum begitu lama berlalu. Saya pergi ke Mesjid untuk memenuhi panggilan azan isya, alhamdulillah jarak dari rumah kontrakan ke mesjid itu cuma berkisar 50 meter saja kalau ditarik garis lurus, tapi karena mengikuti jalanan komplek, jaraknya jadi bertambah 50 meter lagi.

Sebelum sampai ke halaman mesjid, saya sempat mendengar seorang remaja yang berkata kepada seorang ibu bertelekung, bahwa dia telah melaksanakan amanah dari tim-tim sukses yang telah memberinya uang agar mencoblos calon anggota legislatif tersebut.

“Jadi siapa yang kamu coblos, boy.” (anggaplah nama si remaja yang bersarung unyil itu namanya si Boy)

“Ya semua calon yang ngasi uang itu lah wak.”

“Loh, kan satu aja yang dicoblos. Batal lah jadinya kertas suara kau.”

“Bah, awakkan menjalankan amanah orang itu wak, dikasinya awak duit. Coblos ya si ini, coblos ya si itu. Ya karena duitnya udah kuambil, kucoblos lah siapa-siapa yang dibilang tim sukses itu. Nggak salah kan wak?” Baca lebih lanjut