Arisan yang Luar Biasa

Rombongan arisan yang datang dari Asahan

Ini bulan September. Kata orang ini bulan musim penghujan, padahal sebenarnya ini bulan sembilan. Tetapi benar, hampir setiap hari hujan. Kadang-kadang deras, kadang gerimis, ia adalah orkestra alam yang dirigentnya adalah malaikat Mikail dan tidak ada manusia yang bisa tau dengan pasti hujan akan jatuh kemana, kecuali hanya mengira-ngira saja. Entah apa sebenarnya hubungannya hujan dengan cerita ini, jadi pengen nyanyi Terangkanlah….

Saat itu adalah hari minggu. Hari dimana dilaksanakan arisan keluarga besarku yang kali ini mendapat giliran adalah kakakku yang tinggal di Kota Lubuk Pakam. Maka peraturannya adalah, segenap peserta arisan keluarga haruslah datang ke tempat yang mendapat giliran. Baik itu yang berasal dari tempat yang dekat maupun dari tempat yang jauh. Namun apabila ada yang berhalangan untuk datang, hal itu tidaklah mengapa. Biasanya untuk peserta yang tidak datang akan menitipkan salam pada yang datang berikut alasannya mengapa tidak bisa datang. Karena itu adalah arisan keluarga, maka pesertanya adalah seluruh keluarga yang hubungan persaudaraannya berdasarkan garis patrilineal.

Baca lebih lanjut

Iklan

Bumerang yang Baik

Aku ingin berbagi tentang setitik pengalaman hidup. Tentang usaha menggapai cita. Jika perjalanan hidupku seumpama berada dalam labirin, maka aku perlu usaha untuk sukses menuju pintu keluar. Dimana di tengah perjalanan, ada mungkin hal selama ini yang kita anggap kecil ternyata memiliki pengaruh besar menggenapi mimpi.

Kehidupan dengan jalan yang terjal ku mulai ketika mengawali kuliah di tahun 2001. Aku bukanlah seorang mahasiswa dari keluarga golongan “the havest” yang bisa memilih kuliah di lembaga pendidikan ternama dengan uang kuliah jutaan persemester. Rasa pesimis telah menderaku ketika menerima ijazah SMA. Apakah aku bisa melanjutkan studi ke tingkat Strata 1? Dari mana biaya kuliah dan biaya hidup tinggal di kota? Pertanyaan yang tidak bisa kujawab saat itu.

Baca lebih lanjut

Kerja Kecil Untuk Impian Besar

duitMatahari sedang galak-galaknya di hari minggu siang itu, di sebuah pasar yang dipenuhi dengan hilir mudik pembeli mencari keperluannya masing-masing. Pasar minggu yang hanya beraktivitas sampai sore itu menjadi santapan warga dari berbagai desa sekitar untuk menuntaskan hajat hidup mereka.

Di pojokan dekat penjual molen, seorang remaja berdiri dekat sepeda motor butut. Menyandar sembari memegang setangnya. Alif namanya. Dahinya berkenyit menahan panas. “Kok lama kali sih Emak…” gumamnya dalam hati.

Alif sedang menunggu Emaknya yang membelikan sepatu sekolahnya. Sudah 1 bulan sejak sepatu itu rusak, baru hari ini Emak mengajaknya ke pasar. Memburu sepatu. Alif masih ingat perbincangan kemarin dengan kakaknya saat si kakak menjemur sepatunya yang habis dicuci.

“Alif, kenapa sepatumu ini? Ini kan sepatu yang 3 bulan lalu dibelikan emak, kok udah rusak gini?” Kakak menyodorkan monyong sepatu ke mukanya Alif. Mulut sepatu Alif terbuka sama seperti mulut Alif yang bingung mau menjawab pertanyaan kakaknya.

“Eh… Iya kak. Kemarin Alif main bolanya di sekolah pakai sepatu.” Jawab Alif yang seperti menganggap itu kejadian biasa.

“Kawan-kawanmu tidak pakai sepatu kalau main bola?” Tanya kakak lagi

“Nggak.”

“Jadi, kenapa Alif pakai?”

“Kaki Alif yang luka kena duri waktu mancing kemarin belum sembuh. Alif kuatir lukanya jadi tambah lebar kalo main bola kaki ayam.”

“Iya, tapi sekarang sepatumu yang mulutnya jadi lebar. Udah sana, cari lem. Biar kakak lem kan.”

“Gak usah kak. Biar minta belikan yang baru sama mamak.”

“Kamu ini ya. Mamak nggak punya duit lagi Lif. Lihat kita dari kemarin makan nasi sama ikan asin terus. Kamu malah minta belikan sepatu. Alih-alih nanti kita makan nasi sama garam aja lah.”

Alif terdiam. Suara kakak meninggi, sepertinya dia sedikit marah mendengar jawaban Alif.

“Makanya kamu nabung kayak kakak. Udah bisa beli sepatu sendiri. Buku tulis sendiri. Kamu jangan nambah susah mamak sama bapak lagi Lif. Kasian bapak sama mamak mau nyari duit dari mana lagi.”

Betul juga kata kakak Alif. Fatimah.

“Tapi kakak kan dikasi mamak uang jajan. Sedangkan Alif nggak.” Alif mencoba mencari alasan.

“Itu bukan uang jajan Alif… tapi uang dari hasil kakak jualan keripik.” Baca lebih lanjut

Sandal yang Menghadap ke Timur

Itu adalah malam yang indah ketika melihat barisan saf yang sedang duduk tasahud akhir dalam sebuah mesjid. Begitu rapi dan teratur dengan ekspresi wajah para jamaah yang tidak bisa aku ceritakan karena aku melihat mereka dari luar yang sedang memarkir kuda besi di halaman mesjid. Untuk kesekian kali aku melewatkan kesempatan menjadi masbuk.

Sulit untuk mendapatkan solat magrib berjamaah di mesjid ketika aku masih di dalam angkutan umum. Jika supir bis mengemudikan dengan kencang dan jalanan tidak macet, insya Allah aku akan menjadi masbuk. Itu pun jika waktu magrib tidak masuk lebih cepat.

Menjadi masbuk bukanlah cita-citaku. Melainkan terjadi dengan sendirinya oleh karena keterlambatan untuk bersama-sama mengikuti imam sejak takbiratul ihram. Agar masih tergolong sebagai masbuk, aku harus mendapatkan mesjid yang lebih dekat dari tempat parkiran sepeda motor.

Mesjid yang dekat dan arah jalannya satu arah dengan jalanku menuju pulang ke rumah adalah mesjid Nurul Ikhwan. Dia adalah saksi bahwa aku sering solat magrib sendirian didalamnya. Mesjid Nurul Ikhwan sepertinya mesjid yang menjadi tempat berkumpulnya para jamaah tabligh. Sering kudengar mereka bermusyawarah dan juga berkumpul mendengar tausiah dari salah seorang diantara mereka selepas solat magrib berjamaah.

Beberapa yang lain berkumpul di luar, menentukan tujuan lalu berjalan bersama-sama menuju rumah-rumah orang Islam. Mengajak mereka untuk memakmurkan mesjid.

Aku senang memperhatikan mereka. Kadang-kadang juga mencuri dengar tausiahnya. Beberapa yang pernah singgah di telingaku adalah tentang memaknai nikmat dari Allah yang luas dan banyaknya tiada dapat kita hitung. Perbuatan yang mereka lakukan itu mengingatkanku pada perbuatanku saat masih duduk di bangku Aliyah dulu. Sama persis.

Selepas solat magrib aku bergegas menuju teras. Melihat sepatu dan kuda besiku. Oo… ternyata masih ada. Terima kasih ya Allah. Tapi ada yang aneh.

Sandal yang disusun rapi di halaman mesjid

Kulihat barisan sandal di halaman mesjid berjajar rapi sesuai dengan paasangannya masing-masing. Termasuk juga sepatuku. Seingatku saat memasuki mesjid tadi aku meletakkan sepatu sesuai dengan posisi kaki yang mengarah ke mesjid. Menghadap kiblat. Namun sekarang posisi sepatu dan semua sandal-sandal yang ada di halaman ini mengarah keluar. Sepertinya sepatu dan sandal itu sudah mempersiapkan diri bahwa ketika si empunya akan keluar mesjid tidak perlu repot bagi mereka memutar kaki dan badannya atau mengarahkan dengan tangan mereka sendiri dan itu sangat mudah dilakukan. Perbuatan siapakah yang merapikan semua sandal-sandal dan sepatu di halaman mesjid ini?
Adalah seorang pemuda yang saat itu memakai lobe putih sepertinya salah seorang jamaah tabligh. Dia adalah orang yang merapikan sandal-sandal itu dan mengarahkannya ke timur. Menyejajarkannya sehingga enak dipandang. Aku harusnya berterima kasih padanya karena merapikan letak sepatuku. Kaus kakinya juga masih ada.

Perbuatan remeh temeh seperti itu kadang luput dari perhatian kita karena mungkin kita sering mengabaikan hal-hal kecil yang hadir dihadapan kita dan bagiku itu merupakan perbuatan baik yang sederhana.

Pemuda itu telah memberikan pelajaran berharga bahwa perbuatan baik sekecil apapun itu pastilah ada manfaatnya. Setidaknya dia telah memberikan kemudahan bagi orang lain, memberikan manfaat yang dari perbuatan sederhana itu ada timbul rasa syukur yang terucap, ada tasbih yang menyeruak dari dalam hati dan ada senyum kecil yang terpancar.

Sekali lagi itu adalah perbuatan baik yang sederhana dan kecil di mata manusia dan untuk membalas dengan ucapan terima kasih saja kita enggan. Beda dengan penilaian dan janji Allah yang telah dituliskan dalam alQuran

“Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah-pun, ia akan mendapatkan balasannya (QS. Al Zalzalah:7)

————-

Tamora, sambil nonton moto2

Nenek Koprolalia

Seperti biasa, aku berangkat pagi-pagi sekali ke kantor yang jaraknya lumayan jauh dari rumah dan harus ditempuh dengan angkutan umum. APV yang disulap menjadi angkutan umum berwarna hijau dan aku berada didalamnya bersama 6 orang penumpang yang tiada kukenal.

Di pertengahan jalan, tepatnya di Desa Sei Buluh, naiklah seorang penumpang berjenis kelamin perempuan dengan rambut yang sudah memutih dan memakai pakaian. Aku pastikan dia seorang nenek. Belum lagi ia duduk, mopen alias mobil penumpang itu bergerak sehingga tubuhnya terdorong ke depan dan meluncurlah kata-kata mutiara dari mulutnya karena terkejut.

Baca lebih lanjut

Permata yang Hilang

spon

Kini setiap hari aku selalu mendapat spon segi empat berwarna merah atau kuning. Spon bernomor dengan ukuran kira-kira 4×4 cm, kadang-kadang ukurannya 4×3 cm, 4×5 cm dan tidak pakai sama dengan.

Spon itu kuperoleh dari pemilik parkir kereta pada pagi hari setelah aku menitipkan keretaku padanya oleh karena aku akan pergi ke kantor dengan naik angkot.

Di tempat parkir itu berjajar berbagai jenis kereta yang didominasi merek Honda dan Yamaha. Suzuki mungkin ada tapi tidak aku perhatikan. Mereka semua ada pemiliknya, yaitu para pekerja yang berangkat pagi-pagi sepertiku, ada anak sekolah dan ada yang menitip saja daripada khawatir tidak aman bila  ditinggal di rumah sementara dia pergi beberapa hari.

Aku perlu menitipkan keretaku disitu agar aku tidak repot naik kereta sampai ke kantor yang jauhnya memakan waktu 1 jam. Selain itu, istriku juga tidak mengizinkan aku naik kereta ke kantor karena nanti wajahku jadi hitam, kotor dan jadi jelek. Kalau jelek, aku jadi menyesal kalau jumpa cermin.

Sebenarnya aku bisa saja tidak menitipkan keretaku disitu asalkan aku diantar setiap hari ke tempat biasa aku menunggu oleh istriku. Namun setelah kupikir masak-masak sampai gosong, itu tidaklah baik. Selain kelihatan manja dan tidak mandiri juga jadi merepotkan istri.

Kakek penjaga tempat penitipan kereta itu sepertinya sudah tua karena rambutnya didominasi warna putih. Bila aku tiba menitipkan keretaku, dia akan mendatangiku dengan Baca lebih lanjut

Belah Duren di Musim Hujan

Di kota Tebing Tinggi saat ini lagi musim hujan. Tapi itu biasa. Yang tidak biasa adalah musim durian. Di jalan-jalan protokol terlihat buah berduri itu beselemak peak di pinggir jalan baik di atas trotoar maupun di atas mobil pick up. Bentuk buah duriannya pun bermacam-macam. Ada yang oval seperti telur. Ada yang berbentuk seperti pepaya. Ada yang sudah dibelah dan ada yang tinggal kulitnya karena sudah dimakan. Entah oleh siapa.

Gerombolan durian itu memang nampak menggoda jika dilihat sambil lalu dan korban dari godaan durian itu adalah isteriku. Malam itu sewaktu menjemputnya dari tempat kerja untuk pulang, dia bertanya dengan kalimat mencurigakan.

“Abang nggak pengen makan durian?”

Aku yang mendadak mendapat pertanyaan seperti itu segera merespon dengan cepat.

“Mmm… Kenapa? Adek kepengen durian ya?”

Dia tidak menjawab. Kata guru MAN ku dulu, kalau perempuan ditanya sesuatu dan dia diam, itu tanda setuju. Tapi guruku mencontohkan anak perempuan yang mau dijodohkan sama bapaknya. Mungkin bisa dianalogikan sama kejadian ini.

“Ya udah, kalo kepengen abang putar lagi nih keretanya.” Lalu kuputar keretaku dengan jari telunjuk seperti pemain basket profesional. Ada senyum diwajahnya. Itu artinya dia senang bakal makan durian dan lebih senang lagi kalau aku yang mentraktir.

Checkpoint durian itu ada di persimpangan. Kulihat beberapa buah durian tersusun rapi di atas mobil pick up. Aku memakirkan keretaku lalu memilah-milih durian, mengciumnya dengan hati-hati, meraba-raba durinya.

“Durian dari mana ini bang?” Tanyaku sama laki-laki tanggung yang ada di samping mobil pickup itu.

“Nggak tau.”

“Berapa bang harga yang ini?” Tanyaku sambil menunjukkan buah durian yang paling besar. Pastilah ini raja durian. Karena dia yang paling besar diantara durian yang ada disitu.

“Nggak tau.”

“Lho, abang yang jual?” Aku mulai emosi karena jawabannya selalu tidak tau.

“Bukan.”

“Dasar kampretos. Kirain yang jualan.” Tapi dalam hati.

Tak lama keluar anak laki-laki tanggung dari dalam mobil dan mendekati kami lalu pura-pura ramah. Pastilah orang ini yang jualan.

Kuulangi pertanyaan yang salah sasaran tadi. Katanya durian-durian ini dari Sipispis. Sebuah daerah yang letaknya tidak jauh dari kota Tebing Tinggi.

“Berapa harga yang ini?” Tanyaku sambil menunjukkan durian yang besarnya agak sedikit lebih kecil dari helm LTD.

“Kalo yang itu dua puluh ribu bang.”

“Kok mahal kali.”

“Wiiihhh… udah murah itu bang.”

“Kan durian dari Sipispis biasanya murah.”

“Wiiihhh… sama aja itu bang.”

Nggak kutanya “sama aja” itu maksudnya sama durian yang mana.

“Lima belas ribu ya, biar ambil dua.”

“Wiiihhh… janganlah bang.”

Anak tanggung ini selalu menjawab pake WIIIHHH… sambil mengayunkan kepalanya. Aneh.

Aku memilih-milih lagi. mencium dan meraba-raba lagi. Kubanting pelan durian itu ke lantai pickup. Biasanya kalo durian yang isinya lemak itu agak menggema bunyinya. Beppp… gitu.

Tiba-tiba yang kutanya tadi lari bersama seseorang yang berjenis kelamin sama dengan dia. Sepertinya mereka berebut masuk ke dalam mobil. Kudengar sepintas kalau anak tanggung yang ngomong pake wiiihhh tadi udah ngantuk dan dia mau tidur. Sedangkan partnernya entah baru kembali darimana dan harus gantian melayani pembeli.

Anak tanggung yang baru muncul tadi mendekatiku.

“Yang mana bang?” Dia nanya.

“Yang ini sama yang ini ya. Berapa harganya?” Aku menunjuk dua buah

“Tiga puluh lima ribu aja bang.” Dia jawab sambil megang pisau. Dia pasti bukan mau nodong.

“Mahal kali. Tiga puluh ribu ya.”

Dia mengangguk, terus pisaunya dia buat untuk memotong tali. Padahal tali itu bukan ayam.

Isteriku tadinya mau makan di tempat itu juga. Tapi akunya bilang di rumah aja. Supaya kalau tidak habis dimakan bisa disimpan di tupperware atau dikolak besoknya. Karena isteriku baik budi, dia menurut. Menurut siapa? Menurutku. Mungkin setan jahat bilang, “dasar suami egois”. Eh, jadi suudzon sama setan. Selepas si penjual mengikat durian itu, aku pun pulang sambil membawa isteriku yang menenteng durian.

Makan durian di lapak penjualnya itu sebenarnya seru. Kita nggak perlu belah duren sendiri jadi gak takut kena durinya. Kalau misalnya duren yang dibelah itu busuk atau mentah, bisa langsung ditukar sama durian juga. Sampai-sampai muncul sinetronnya “Durian Yang Tertukar”. Terus kalau makan disitu kita bisa pamer sama orang-orang yang lewat di situ, sama tukang parkir, sama orang yang jualan juga. Kulit duriannya menjadi tanggungjawab yang jualan karena tidak diwajibkan untuk dibawa pulang. Terus kalau kurang, kita bisa langsung pilih dan beli lagi. Repotnya adalah kalau mau cuci tangan dan mau ngelap mulut sehabis makan duren. Itu penjual cuma ngasi kobokan dengan air yang sedikit dan kain lap yang kumal. Hiiii… mulut siapa aja lah yang udah nempel disitu. 

Sementara kalau makannya di rumah agak sedikit kurang nyaman sama tetangga. Bau durian itu bisa memancing tetangga jadi kepingin durian atau bisa juga jadi mual kalau tetangga itu alergi durian.

Akhirnya aku belah durennya di rumah dan warnanya sedikit kekuningan. Orang menyebutnya itu durian tembaga. Ada juga yang menyebutnya durian mentega. Tapi perbedaan nama itu tidak menjadi masalah buat durian. Karena yang terpenting itu bukanlah bagaimana cara memakannya atau dimana memakannya, tapi bagaimana cara membelahnya dan sepertinya saat itu sedang turun hujan.