9# Ulang Tahun Misterius

Baginda raja ulang tahun… Dorrr!!! Tarrr!!! Bumm!!!

Kembang api bertebaran di angkasa. Para hulubalang merayakan ulang tahun baginda raja dengan senang hati.

Sebagaimana yang biasa terjadi di kerajaan bedogol setiap ada yang berulang tahun maka akan mendapatkan ucapan selamat ulang tahun. Belum pernah ada yang mendapatkan ucapan selamat hari raya atau selamat menempuh hidup baru ketika ada yang berulang tahun.

Namun ulang tahun kali ini tidak ada yang dapat mengucapkan ulang tahun kepada baginda raja. Pasalnya, baginda raja tidak berada di istana. Jadi untuk apa ulang tahun ini dirayakan?

Kerajaan bedogol memang selalu menyimpan misteri. Salah satu yang menjadi misteri adalah Baca lebih lanjut

Iklan

Ngajar Ngaji Lagi, Dejavu?

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi

Enam bulan tinggal di komplek perumahan ini udah mengalami Dejavu. Ngajar ngaji lagi. Apa iya itu dejavu? Pastilah ini bukan kebetulan, karena segala yang terjadi di dunia ini udah ada yang ngatur, yaitu Allah SWT. Serius!!!

Pertama kali aku terkejut kala sepulang shalat berjamaah di mesjid. Di depan rumah kok banyak sandal. Kecil-kecil lagi, kayak minion. Terus bapak-bapak yang rumahnya di depan rumah kami yang dipisahkan oleh jalan beraspal itu bilang, “Itu udah ada yang nungguin di dalam…” Terus bapak itu senyum nggak jelas gitu.

“Oh siapa pak?” Aku celingak-celinguk dari luar pagar sampe ke dalam rumah.

Toeweweng…

Rupanya udah ada tiga anak kecil yang terdiri dari dua perempuan dan seorang laki-laki telah duduk rapi di atas karpet plastik bergambar kambing hitam yang nakal. Ya ya, Shaun the Sheep. Aku tersenyum, mereka pun tersenyum. Ini kan anak bapak-bapak tadi.

Memang sebelumnya Bapak itu pernah bilang kalau dia minta tolong ngajarin anaknya mengaji. Dia bercerita kalau guru mengaji anaknya yang lama sudah tidak mengajar lagi karena kesibukannya bekerja. Kira-kira sudah 2 bulanan anak-anaknya mengaji tanpa didampingi seorang guru. Ya guru ngajilah, masak guru silat.

“Ya udah pak, abis abis maghrib gitu lah, suruh aja anak-anak datang. Insha Allah saya ajarin.” Aku teringat kalau isteriku turut mengompori untuk mengajari pecahan botol ini, katanya begini…

“Pahala abang pasti banyak kali bang, udah abang ngajarin ngaji. Abis itu abang ajarin sholat sekalian sholat berjamaah isya.”

“Iya…” Jawabku sekenanya.

“Ihh.., nggak ikhlas gitu jawabnya.”

Aku dengan cepat merubah mimik wajahku seolah-olah senang sekali. Bahaya nih kalau ngambek, bisa bisa… “Iya, ikhlas dunk, kan jadi amal jariyah…” Barulah agak senyum dia.

Alhamdulillah, karena kurcaci-kurcaci itu udah pernah mengaji, bacaan mereka sudah lancar, tinggal memperhatikan panjang pendek bacaannya dan tajwidnya saja.

Ngomong-ngomong soal mengaji. Dulu Baca lebih lanjut

8# Sheila Out 7

konser Sheila on 7 dilihat dari jauh

konser Sheila on 7 dilihat dari jauh

Tanggal 7 Desember 2013, kamu tahu itu hari apa. Itu adalah hari sabtu. Yaitu hari yang sangat disenangi para hulubalang kerajaan Bedogol dan karyawan-karyawan BUMN di negeri seberang, karena biasanya itu adalah akhir pekan. Wabilkhusus di kerajaan bedogol, hari sabtu adalah hari berpulang. Yaitu berpulangnya para hulubalang kepada keluarga masing-masing meninggalkan sejenak kesibukan di Kerajaan Bedogol.

Sebelum hari sabtu adalah hari jumat. Waktu itu hulubalang Digol sedang berada di taman kerajaan. Bekerja sambil melafalkan bait-bait Sheila on 7. Sheila on 7 itu makhluk apa?… Bukan Sekilo 7 On. SO7 adalah grup band yang berasal dari Jogjakarta dan pernah ngetop dengan lagu “Jadikan Aku Pacarmu”, “Kita”, “Sephia” and man(d)y more… Dulu hulubalang Digol suka sekali menyanyikan lagu itu. Tapi sekarang tidak lagi. Karena sekarang dia sudah jadian dengan gadis idamannya. Dia sekarang malah suka bait-bait syair lagu “Kupinang Engkau Dengan Bismillah.” Biar nggak mahal katanya. Karena bonus dari kerajaan belum terendus Perdana Menteri. Apalagi akhir-akhir ini perekonomian Kerajaan Bedogol semakin tak menentu. Seperti cuacanya yang sebentar panas, tapi gerimisnya lama.

“Wahai Digol, apakah kamu tidak menonton pertunjukan musik Sheila on 7 besok.” Tanya hulubalang Firgol dari balik semak-semak setelah mencari sarang burung.

“Apa! Ada konser Sheila on 7 besok?” Hulubalang Digol surprise sekali.

“Iya, tanyakanlah itu pada Mugol kalau kau tak percaya. Alangkah ruginya kau, apabila tidak menyaksikan pertunjukan mereka, sementara engkau mengaku Sheila Gank sejati.” Hulubalang Firgol mencoba memprovokasi Digol.

Tiba-tiba Mugol muncul dari atas pohon dan membenarkan kata Firgol.

“Jikalau engkau hendak menyaksikan pertunjukan mereka. Engkau harus membeli tiket sepertiku.”

Mugol bercerita kalau kekasihnya telah membeli tiket pertunjukan seharga Rp200.000,- /lembar untuk kelas VVIP. Menurut Digol, itu tiket yang sangat mahal sekali bila dibandingkan dengan tiket kereta api Lilawangsa Jurusan Tebing Tinggi – Medan.

Digol seperti berada dalam lautan kebimbangan. Ia tidak pernah menonton konser di tempat tertutup seperti itu. Tapi ia ingat kalau tempat itu pernah menjadi tempat ia mengikuti ujian untuk bisa menjadi hulubalang di Kerajaan Bedogol. Sebuah tempat yang sangat seram apabila berada disana seorang diri dengan kondisi lampu-lampunya dipadamkan.

“Sesungguhnya aku ingin sekali menyaksikan itu. Tetapi aku harus mencari tau tentang harga tiket pada kelas yang lain yang lebih murah.”

Lalu Digol pun meraih alatnya yang dapat mencari tahu segala informasi dan akhirnya ia mendapatkan apa yang dicari.

Keesokan harinya yaitu 600 menit sebelum konser dimulai. Digol masih bersantai-santai di rumah. 360 menit kemudian barulah ia tidak santai-santai di rumah melainkan di sepeda motor dan 180 menit kemudian ia tidak bisa bersantai-santai lagi, karena ia sedang sholat maghrib.

Kondisi di luar Pardede Hall sangatlah ramai, berbagai makhluk hidup telah berkumpul di tempat itu. Ada yang berjalan kesana kemari, ada yang pakaiannya sama tapi wajahnya tidak mirip dengan pentungan dipinggangnya. Ada yang berjualan makanan dan minuman. Ada juga yang memanggil-manggil siapa saja yang lewat padahal mereka tidak saling mengenal dan orang yang dipanggil itu menyerahkan kendaraan yang ditungganginya begitu saja. Pastilah mereka itu telah dihipnotis.

Antrian untuk masuk ke hall mulai memanjang dan berbelok-belok. Siapa saja yang masuk harus menunjukkan tiketnya, barulah setelah itu menunjukkan isi tasnya. Para penjaga memastikan bahwa di dalam tas mereka tidak berisi benda-benda terlarang, oh… ternyata benda terlarang Baca lebih lanjut

7# Nopember Ceria

tiang tiviIni sudah bulan Nopember. Nopember di kerajaan bedogol adalah bulan yang sangat istimewa karena pada bulan-bulan tersebut akan ada tanggal berwarna merah di setiap minggunya. Sebenarnya bukan itu.

Pada bulan Nopember tepatnya pada tanggal 4, yaitu hari dimana kerajaan Bedogol merayakan hari berdirinya kerajaan itu, dimana para pendiri kerajaan berhasil memproklamasikan kemerdekaan kerajaan itu dan sekaligus menyelamatkan kerajaan itu dari para pemberontak. Dimana para pemberontak itu adalah kebanyakan orang-orang kerajaan Bedogol sendiri. Dimana mereka suka berfoya-foya di atas penderitaan para hulubalangnya. Dimana dimana dimana…

Sesuai dengan titah baginda Raja Bedogol, pada tanggal 4 seluruh hulubalang haruslah berkumpul di halaman istana yang sangat luas membentang melewati gorong-gorong hingga ke pinggir jalan. Para hulubalang harus datang pada pukul 7 pagi dan tidak boleh terlambat. Karena barang siapa yang terlambat, maka akan terlihat lah raut muka yang penuh dengan kepura-puraan menahan rasa malu dan memilih tempat-tempat yang tersembunyi dari penglihatan baginda raja.

Para menteri berbaris di tempat tersendiri. Para hulubalang pun demikian, begitu juga para isteri-isteri menteri demikian pula sehingga terbentuklah barisan seperti huruf U bila dilihat dari atas tiang bendera.

Diiringi dengan deraian gerimis yang jatuh dari kerajaan langit, upacara berjalan dengan sangat khidmat. Para hulubalang dan menteri sangat-sangat tidak bersemangat, hal itu bisa dirasakan saat baginda raja meminta seluruh yang berhadir untuk bersama-sama menyanyikan lagu kerajaan.

Seluruh rakyat yang hadir ikut bernyanyi, tetapi hanya komat-kamit alias lipsing. Apa karena tidak ada yang hafal lagunya? Agar tidak kentara bahwa apa yang mereka nyanyikan itu keliru, suara yang mereka sumbangkan pun begitu lemah sehingga terdengar hanya bagi telinga masing-masing. Baginda raja yang merasakan ketidakberesan itu pun hanya tertunduk meratapi diri karena beliau juga tidak hafal lagunya. Begitu pun ia maklum karena lagu itu hanya kedengaran sekali dalam setahun.

Selang satu jam kemudian, upacara selesai. Laporan selesai. Bubar… Peristiwa ini tampaknya tidak begitu menarik untuk diceritakan. Next…

Keistimewaan yang kedua bulan Nopember di kerajaan Bedogol adalah, Baca lebih lanjut

6# Gara-gara Alarm Buka Puasa

Di suatu senja di kerajaan Bedogol, ketika itu sedang tidak hujan rintik-rintik. Terpukaulah para hulubalang menatap takjil, di remang cahaya sinar lampu-lampu kerajaan.

Benarlah keadaan itu sebagaimana adanya yaitu waktu dimana bulan Ramadhan tiba. Bulan yang sangat suci bagi seluruh rakyat Kerajaan Bedogol yang muslim. Bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Disinilah waktu yang tepat untuk mensucikan diri dari segala dosa dan pelanggaran baik yang dilakukan dengan terang-terangan maupun dengan sembunyi-sembunyi seraya berikhtiar agar kelak ketika bulan ramadhan pergi, dosa-dosa tersebut tidak dilakukan lagi.

Sebagaimana biasanya, para hulubalang di kerajaan Bedogol tetap bekerja seperti biasanya. Hanya saja di bulan ramadhan, mereka tidak akan menemukan lagi segelas teh manis dan air putih di atas meja dari pagi sampai petang. Melainkan teh manis itu akan ada di atas kardex pada waktu menjelang maghrib bersamaan dengan kue-kue basah. dan itu pun terjadi bila ada hulubalang yang rela menyisihkan sebagian rizkinya untuk membeli semua itu.

Di dalam istana yang dipenuhi dengan alutista lapuk. Masih ada beberapa hulubalang yang belum pulang ke peraduannya karena masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai. Di atas kardex telah tersedia menu-menu minuman makanan buka puasa yang terdiri dari:

1. Teh manis kelat: Teh manis ini bisa berwarna merah gelap dan manis kelat kemungkinan karena dibuat oleh penjaga istana

2. Kue-kue basah: Biasanya ada kue lapis, kue yang ada inti kelapa didalamnya (mampus! lupa), kue lappet, kue ondol-ondol dan naga sari.

3. Gorengan; biasanya ada bakwan, tahu isi, pisang goreng dan

4. Buah-buahan; belum pernah masuk menu berbuka di istana.

Menjelang waktu berbuka yang tinggal beberapa menit lagi, para hulubalang mulai merapat ke kardex, masing-masing sudah berada pada posisinya layaknya pembalap di lintasan motoGP yang menunggu detik-detik hitungan mundur. Mata mereka begitu awas memperhatikan menu apa duluan yang akan dilahap.

“Apakah kita tidak terlambat berbuka, kenapa suara terompet raksasa hari ini terasa lebih lama berbunyi dari hari sebelumnya ya…” tanya menteri Jamgol retoris.

“Oh, begini menteri, mungkin sang peniup terompet raksasa berbuka dulu, barulah setelah kenyang dia akan meniup terompetnya,” jawab Mumugol

 “atau jangan-jangan sang peniup terompet ketiduran.” tambah hulubalang yang lain

“Atau terompetnya yang tumpat sehingga tidak bisa berbunyi”

“Atau ada yang mencuri terompetnya…” Begitulah seterusnya muncul atau atau yang lain karangan para hulubalang belaka.

Tiba-tiba Baca lebih lanjut

4# Tamu Misterius

Segala makhluk bernyawa di Kerajaan Bedogol sibuk tak menentu karena kedatangan tamu yang sangat tidak diharapkan. Adalah sebanyak lima orang tamu bertampang biasa saja membawa misi suci, yaitu memeriksa segala apa yang ada di istana. Mencari-cari kesalahan setiap apa yang dikerjakan hulubalang istana sehingga banyak hulubalang yang tiba-tiba kumat asam lambungnya menahan ketakutan.

Kelima tamu itu bekerja di dalam ruangan yang diliputi angin sepoi-sepoi dimana angin itu muncul dari sebuah alat yang ditempel di dinding. Mereka membongkar, membalik-balik setiap dokumen kerajaan lalu memberi catatan bila menemukan keganjilan pada dokumen-dokumen itu.

Jika mereka menemukan sesuatu yang tidak beres. Maka mereka akan memanggil hulubalang yang bertanggung jawab akan masalah itu. Mereka mencecar dan menginterogasi para hulubalang sampai mengaku dengan menggunakan peralatan seadanya seperti cambuk dari ekor sapi. Para hulubalang yang bersalah akan diikat kedua tangannya ke atas, lalu ujung ekor sapi itu akan dilekatkan pada ketiak hulubalang.

“Ampun… ampun tuan, saya tidak tahu soal itu. iiiii…. iiii” Pinta hulubalang Defgol sambil menahan kegelian.

“Sebaiknya kamu mengaku, kalau tidak cambuk ini tidak hanya mendarat di ketiakmu, tapi juga di kupingmu.”

“iii…. iiii…. jangan tuan, kasihani saya. Nanti saya mati kegelian, siapa yang akan memberi makan anak isteri saya”.

Melihat wajah hulubalang Defgol sudah pucat seperti kain kafan, akhirnya Defgol dilepas dan disuruh memanggil hulubalang yang lain untuk masuk kedalam ruang interogasi. Namun tetap saja tidak ada satupun hulubalang yang mengaku dan selalu menjawab tidak tahu.

Akhirnya tamu-tamu misterius itu beralih pada hulubalang Baca lebih lanjut

Bukan Siapa Siapa… Siapa?

Semenjak melahirkan anaknya yang kembar. Ia jadi serba sibuk. Meneteki mereka dan mencarikan tempat yang aman dan nyaman agar kedua anaknya dapat tumbuh membesar seperti layaknya anak-anak yang lain.

Ia tidak pernah mengeluh dalam menghidupi anak-anaknya. Bahkan ia tak pernah menuntut pasangannya untuk bertanggungjawab menafkahi mereka, paling tidak memberikan sedikit kebutuhan hidup buat anak-anaknya. Namun itu tak dilakukan pasangannya. Pasangannya datang dan pergi hanya untuk menuntaskan misi utama. Melampiaskan hawa nafsu saja.

Ia tidak pernah bertanya kemana pasangannya pergi dan ia tidak mau tau soal itu. Ia pun pasrah-pasrah saja saat kesuciannya direnggut. Berkali-kali malah namun dengan durasi yang agak lama. Kadang seminggu sekali atau sebulan sekali. Yang pasti ia tak pernah mengingat kapan dan dimana saja.

Ia juga terbiasa  berganti pasangan, mirip binatang kan? Yah, andai mereka tau pasti mereka memakluminya. Demikian gumamnya. Namun ia tidak peduli. Penyakit Aids, hamil diluar nikah, moral, tidak ada dalam kamus hidupnya.

Lalu anak-anaknya. Sudah lupa ia berapa jumlahnya. Saat mereka dewasa dan sudah pandai menghidupi diri mereka sendiri. Mereka tidak lagi mau bersamanya. Pergi mencari jalan sendiri-sendiri dan tidak pernah kembali.

Kalau dipikir-pikir. Ia hidup hanya untuk makan, tidur, makan, tidur, ditiduri, melahirkan lalu mati.

Kini ia fokus untuk membesarkan si kembar. Ia peluk keduanya. Ia ciumi wajah-wajah lembut anaknya. Tampaknya hujan sebentar lagi turun. Ia harus mencari perlindungan agar anak-anaknya tidak menderita karena kedinginan. Malam belum usai. Orang-orang masih lalu lalang dengan aktivitas masing-masing. Beberapa asyik di depan komputer. Lainnya menyantap makanan dengan tulang ikan yang menari-nari di depan mulut mereka. Ah… jadi ngiler.

“Sepertinya ini waktu yang tepat untuk mengamankan kedua anakku,” pikirnya. Memanfaatkan kelengahan orang-orang di rumah itu. Ia pun bergerak cepat, menyelinap dari samping-samping dinding sembari membopong si kembar. Ia berhasil masuk ke sebuah kamar yang sedikit kacau dan bau. (baunya juga sedikit).

“Persis sesuai keinginanku.” Ia mencari tempat yang menghalangi pandangan orang-orang dari keberadaan mereka. Karpet bolong, beruntai dan berserabut menjadi mainan kedua anaknya. Jika melihat keceriaan si kembar. Ia jadi terenyuh dan berdoa agar tidak ada yang berani mencederai keduanya.

Walau sudah mendapatkan tempat untuk tinggal, ia tetap tidak merasa tenang. Ia merasa was-was jika kehadirannya tidak disukai dan pengusiran lah yang akan ia terima, bisa saja ia akan kembali dicampakkan mereka yang mengaku makhluk sosial itu.

BRAKKKK!!
“Ya ampuunnnn… Iiii…”
“Kurang ajar ini. Bikin kotor saja. Awas kelen ya!!!

Seorang wanita berteriak histeris. Sekonyong-konyong ia dan kedua anaknya sudah dicengkeram tangan yang kekar. Apa yang selama ini ia takutkan akhirnya terjadi. Tempat persembunyiannya sudah diketahui pemilik kamar. Tidak ada jalan keluar. Ia pun pasrah kemana akan dicampakkan. Anakku… Anakku… Teriakannya tersangkut di tenggorokan.

Brukkk!!!

Ia jatuh mencium lantai. Anak-anaknya dihempaskan ke tubuhnya. Ia menangis meratapi nasibnya yang malang. Kadang-kadang ia menyesal melahirkan keduanya. Bikin repot saja. Kalau sendiri pasti nasibnya tidak seburuk ini. Tapi mau gimana lagi. Ia sudah menerima takdirnya, menjadi sebagai seekor kucing betina yang cantik dan berbulu belang putih kuning.