2# 12-12-12 di Kerajaan Bedogol

Kata rakyat jelata, tanggal 12 bulan 12 tahun 2012 adalah tanggal unik, cantik dan menarik. Tidak akan ada lagi tanggal seperti ini lagi selama engkau masih tinggal di atas bumi. Saking uniknya, berbondong-bondonglah orang berkawinan di tanggal itu. Banyak pula ibu-ibu hamil berusaha melahirkan di tanggal itu baik secara normal maupun dengan jalan operasi.

Bagi para remaja, tanggal 12-12-12 akan sangat indah bila hari itu menjadi hari jadian untuk berpacaran, atau hari yang baik untuk berputusan.

Ada sebagian rakyat jelata di belahan bumi lain menganggap, 12-12-12 bertepatan dengan hari kiamat sehingga mereka mempersiapkan peralatan yang dapat menyelamatkan mereka jika kiamat benar-benar terjadi, seperti kapal dan bungker-bungker di bawah tanah. Pasti harga tiket kapal itu sangatlah mahal. Lalu belinya dimana? Apakah tiket itu dijual online? Tentulah para hulubalang harus bertanya kepada hulubalang Faigol yang baru-baru ini membeli boneka kucing secara online.

****

Di Kerajaan Bedogol, tanggal 12-12-12 ditanggapi dengan dingin. Seluruh hulubalang tidak terpengaruh dengan isu akan terjadinya kiamat. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa dengan berprinsip: “Bekerjalah kamu seakan-akan kamu hidup selamanya dan beribadahlah kamu seolah-olah kamu mati esok hari.” Tapi tentu saja para hulubalang lebih mengikuti kaedah yang pertama.

Bagi hulubalang Digol, 12-12-12 adalah hari dimana pulsa simpatinya hanya bersisa Rp52,- dan Raja sedang bepergian meninggalkan kerajaannya.

Untuk menghidupkan suasana. Sang Menteri Kokogol pun mengusulkan sesuatu dengan cara yang tidak serius.

“Wahai para hulubalang! Bagaimana kalau kita bermain futsal?” Saat itu permainan futsal telah dikenal di Kerajaan Bedogol dan menjadi satu-satunya permainan yang sangat digemari kecuali oleh para dayang-dayang dan hulubalang Bnugol dan Dozzygol.

Tidak ada yang menjawabnya karena semua hulubalang sangat berkonsentrasi dalam bekerja. Dalam otak mereka saat itu adalah membayangkan bahwa mereka berdesak-desakan di depan pintu kerajaan, membawa poster-poster bertuliskan suara hati mereka dan berkoor…

“Cairkan lemburrr… Cairkan lemburrr!”

Saat seperti ini adalah saat yang sangat genting bagi Hulubalang Firgol. Ia selalu was-was dan bersakwasangka akan terjadi sesuatu yang mengancam jiwa kendaraannya. Belum lagi ia harus mengcounter berbagai bentuk serangan verbal dari para penjaga-penjaga pintu gerbang yang tak henti-hentinya bertanya,

“Kapan?”

“Udah?”

“Mana?”

Dan hulubalang Firgol hanya bisa beralibi, “Tidakkah kalian tahu bahwa Raja sangat sibuk akhir-akhir ini dan terabaikanlah olehnya segala apa yang ada di atas singgasananya.”

Digol juga menyetujui alasan Hulubalang Firgol, apalagi menandatangani berpuluh lembar surat yang isinya sama Cuma tanggalnya aja yang beda adalah perbuatan yang sangat memakan waktu dan sangat tidak menarik, apalagi tidak ada makanan yang tersaji kecuali gula-gula yang sebesar jempol kaki.

Ah, tapi tahukah engkau kalau 12-12-12 adalah tanggal sebelum 13-12-12. Lalu ada apa dengan 13-12-12.

Tidak jauh dari kerajaan Bedogol atau sepelemparan batu dari kerajaan bedogol, terdapatlah  sebuah lapangan yang sangat lapang. Banyaklah anak-anak laki-laki dan perempuan berkumpul di situ mengadakan gladi resik yang akan dilaksanakan di 13-12-12.

Mereka melakukan operet untuk peringatan 13 Desember , yaitu hari dimana para rakyat yang tinggal di sekitar kerajaan Bedogol pada tahun 1945 berperang melawan penjajah Jepang. Pantaslah pula di dekat kerajaan Bedogol terdapat nama jalan 13 Desember.

Hulubalang Digol masih terbawa-bawa suasana perjuangan merebut kemerdekaan di tanggal 13 Desember itu dan tiba-tiba suara terdengar suara peringatan dari alarmgol kerajaan. Apakah ini pertanda bahwa penjajah akan akan menyerbu kerajaan Bedogol?

Ternyata bukan. Dayang Ravigol yang asyik menggoyang kaki secara tak sengaja menendang sesuatu yang menimbulkan bunyi alarmgol. Jadilah suasana kerajaan menjadi gaduh.

Bertanyalah Hulubalang Digol, “Bagaimana caranya mematikan bunyi-bunyian ini Kurgol?”

Hulubalang Kurgol berlari menuju sebuah alat yang dapat mematikan bunyi-bunyian itu lalu menekan angka-angka yang terdapat di alat itu. Tit tit tit tit… bunyi-bunyian itu hilang. Ajaib sekali.

Hulubalang Firgol yang mengetahui siapa pelaku yang telah menyebabkan bunyi-bunyian itu berbunyi segera memerintahkan penjaga pintu gerbang menyeret dayang Ravigol.

“Bawa kemari segera Dayang Ravigol, biar kita hukum dia dengan hukuman yang setimpal karena telah mengganggu kenyamanan penghuni Istana!”

Penjaga pintu gerbang segera keluar. Tapi tidak kembali lagi. Itu artinya perintah hulubalang Firgol tidak ada yang melaksanakannya dan itu artinya Dayang Ravigol pun tidak mendapat hukuman apa-apa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: