Movie: The Power of Love

Film the Power of Love yang diharapkan para pembenci aksi damai 212 tidak laku dipasaran dan berharap segera turun layar ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Film ini mampu menyedot antusias masyarakat khususnya umat Islam untuk – sebagaimana tagar promosinya – memutihkan bioskop. Pada hari kedua penayangannya saja jumlah penonton sudah mencapai 152.607 orang

Walau banyak kampanye negatif dari pegiat medsos – satu misalnya denny siregar lewat akun twitternya yang saya printscreen,

Baca lebih lanjut

Iklan

Guru Ngaji, Mungkin Bukan Film Religi

guru ngaji - antaranews

comot di google

Hobi nonton film di rumah agak sulit terealisasi belakangan ini, padahal antrian film-film download-an dari internet yang ada dalam flasdisk telah tertancap manis di tivi. Ini disebabkan oleh karena nggak enak sama istri kalo nonton di rumah kesannya jadi males-malesan, matanya jadi sakit melihatku nonton sambil tiduran, lalu dia akan ambil jurus bersih-bersih rumah. Kan nggak nyaman kalo nonton lalu ada debu beterbangan, ada sapu nempel-nempel di kaki. Tapi lama-kelamaan itu menjadi semacam kode kalo pasangan lagi butuh hiburan karena setiap hari lelah berjuang dengan statusnya sebagai ibu rumah tangga.

Jadinya hari sabtu aku ajak dia nonton bioskop, supaya hobiku tersalurkan dan istri juga bisa melihat dunia luar, biar gak kayak ashabul kahfi. Tiba-tiba keluar goa, mata uangnya sudah gak berlaku lagi.

Aku ajak istri nonton film Guru Ngaji. Awalnya sih pengen nonton Pacific Rim Uprising. Film hollywood yang kaya dengan imajinasi dan teknologi. Namun setelah mempertimbangkan manfaat dan mudharatnya baik dari sisi pribadi maupun dari sisi pasangan, maka kuputuskan untuk nonton film Guru Ngaji yang menurutku dari isi cerita lebih banyak manfaatnya dan yang lebih penting, mata tidak lelah untuk membaca teks terjemahan.

Awalnya kesulitan juga nyari bioskop mana yang mengembangkan layar untuk film Guru Ngaji. Dari 11 bioskop di kota Medan ini,

Baca lebih lanjut

Cerobohnya Film Getaway

Kalau kamu penikmat film-film bertema kejar-kejaran mobil, tentu tidak akan melewatkan film Getaway yang sampai tulisan ini dibuat, film itu masih tayang di bioskop-bioskop kota Medan. Film yang dibintangi Ethan Hawke dan Selena Gomez (dari namanya aja udah ngegomezin apalagi wajahnya) ini lebih mengeksplorasi adegan kebut-kebutan mobil yang dikendarai Brent Magna (Ethan Hawke).

Memang cerita di film ini sedikit membingungkan saya, sampai-sampai saya memutar ulang beberapa bagian film ini. Kenapa? Karena saya terlewat membaca teks translatenya. Kenapa bisa terlewat? karena tiba-tiba perut saya lapar lalu pergi ke dapur.

Film Getaway ini hampir mirip dengan film Turbo. Kalau Turbo bercerita tentang seekor siput yang bermimpi menjadi seekor pembalap dan akhirnya impiannya menjadi nyata. Kemiripannya adalah kedua film ini ada adegan kebut-kebutan.

Kalau kamu yang udah nonton film Getaway tentu kamu tahu film ini berkisah tentang apa. Tapi kalau yang belum tahu, beginilah cerita singkatnya.

Malam natal itu, Brent mendapati rumahnya berantakan, ceceran darah di lantai dan istrinya hilang. Tiba-tiba ia mendapat panggilan telepon dari orang tak dikenal yang memandunya untuk mendapatkan sebuah mobil dimana mobil itu telah dipasangi kamera dan GPS. Brent harus mengikuti segala perintah si penelepon jika ingin istrinya selamat. Mulai dari meloloskan diri dari kejaran polisi, meledakkan pembangkit listrik sampai mencuri data di sebuah bank (jadi seperti film Speed). Di dalam mobil itu iya ditemani The Kid (Selena Gomez) yang mana adalah pemilik mobil yang dikendarai Brent dan pada akhirnya data yang dicuri dari bank itulah menjadi alat tukar untuk mendapatkan istrinya.

Kejanggalan-kejanggalan di film ini begitu banyak dan yang paling menarik perhatian saya adalah kesembronoan seorang sutradara Courtney Solomon pada adegan ketika Brent dikejar seorang pengendara motor di lokasi stasiun kereta api dimana ketika mobil Shelby Mustang Super Snake itu menyerempet dinding stasiun dan spion mobil itu terlepas.

spion lepas

spion patah terhimpit tembok

Namun entah bagaimana, Baca lebih lanjut

Film Komedi yang Aku tonton di Bulan Agustus

Film bulan ini yang bisa membuat aku tertawa adalah Old Dogs. Film ini sendiri aku dapatkan dari download di internet, males beli yang bajakan, selain ngoyak kantong, juga bikin baterai laptop cepat lowbat. He…he…

Film ini dibintangi John Travolta dan Robin Williams, dua bintang hollywood yang kusuka bila mereka berperan dalam film-film komedi.

Film ini bercerita tentang dua orang tua (emang wajah keduanya tak lagi muda) yang sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga keduanya terlambat mencari pendamping hidup. Namun akhirnya mereka sadar bahwa hidup tanpa wanita itu bagaikan sayur tanpa garam (ini sih bisa-bisanya aku aja, huahua…)

Akhirnya Robin berperan sebagai Dan bertemu dengan seorang wanita yang sudah punya dua anak (laki dan perempuan). Kedua anak itu mendambakan seorang bapak yang bisa menjadi sahabat sekaligus sebagai hero.

Tentu saja Dan Baca lebih lanjut

Betapa Berharganya Seorang Hafidz

Beberapa minggu terakhir ini entah kenapa aku semakin gila nonton film. Hampir setiap minggu beli film dvd (bajakan) – Psst… tenang coy, murah soalnya – minimal dua biji.

Kalau minggu lalu aku beli tiga film, jumat kemarin beli dua film, Possession dan Iron Man 2. Jadul ya? Sengaja sih. Sebenarnya banyak film-film baru yang sudah terpampang dan bergelantungan di lapak-lapak penjual vcd bajakan. Tapi sayang, gambarnya masih buram dan nampak sekali kalau hasil gambarnya membajak langsung dari bioskop. Jadi gak heran kalau beli dvd seperti itu, kita akan melihat penonton bioskop yang lalu lalang menutupi handycam si pembajak.

Kok bisa ya merekam film di dalam bioskop?

Ah, lupakanlah soal itu. Semalam, temanku meminjamkan dua biji filmnya, The Book of Eli dan The Imaginarium of Doctor Parnassus. Film ini aku tonton di malam minggu, kalau orang lain mungkin menghabiskan waktu dengan pacarnya, aku juga… Cuma sekarang pacarku adalah laptop merk Byon. Ha… ha… promosi euy.

The Book of Eli, bagus juga film itu… tapi aku tertipu. Si Eli yang di film itu selalu diperlihatkan membaca Bible, melindunginya dari orang-orang yang tak bertanggungjawab ternyata berhasil menipuku sampai di akhir film. Si Eli ternyata buta dan Bible itu sepertinya tertulis dalam bentuk huruf Braille. Uniknya manusia di zaman itu tidak ada yang bisa membaca kecuali si Carnegie yang mati-matian (sampai mengorbankan anak buahnya yang begitu banyak) hanya untuk mendapatkan Bible tersebut.

Kenapa Bible itu bisa jadi rebutan? Baca lebih lanjut

The Road: Bertahan Ditengah Ketidakpastian

Seorang ayah dan anaknya menyusuri kota di Amerika yang luluh lantak dihantam perang dan bencana alam. Yang terlihat hanyalah padang gersang, pohon-pohon kering tak berdaun, gedung-gedung runtuh dan jalanan yang dipenuhi bangkai mobil.

Ayah dan anak laki-laki itu bertahan hidup sebisa mungkin dari kelaparan. Mereka pun harus menghadapi bahaya dari penjarah dan manusia yang menjadi kanibal, membunuh dan memakan setiap orang yang mereka temui.

Mereka menyusuri kota, masuk ke rumah-rumah yang tak lagi berpenghuni mencari apa yang bisa dimakan. Saat malam tiba, mereka berlindung di kolong jembatan, suatu kali di pipa air dengan tubuh menggigil menahan dinginnya malam.

Dalam perjalanannya ke Selatan, mereka hanya membawa sepucuk pistol dengan dua peluru aktif. Satu peluru akhirnya terpakai saat sang Ayah menembak seorang anggota geng kanibal yang menyandera anaknya di hutan. Praktis tinggal sebutir peluru yang mereka harapkan bisa melindungi mereka dari setiap bahaya yang muncul.

Insting sang ayah telah membawa mereka menemukan sebuah gudang penyimpanan makanan bawah tanah. Beberapa malam mereka hidup “enak” didalamnya hingga suatu hari mereka terpaksa meninggalkan tempat itu karena khawatir saat mendengar langkah manusia di atas gudang makanan itu. Itu artinya, Baca lebih lanjut