Sepak Bola adalah Gencatan Senjata

Timnas U-22 Indonesia Juara di final Piala AFF 2019

Tanggal 26/02/2019 menjadi hari bersejarah bagi dunia olahraga sepakbola Indonesia karena timnas U-22 berhasil merangkai impian pecinta sepakbola yang haus akan prestasi menjadi juara piala AFF U-22 di Phnom Penh, Kamboja setelah menaklukkan Thailand sang musuh bebuyutan dengan skor 2-1.

Kemenangan ini tentunya menjadi angin sepoi-sepoi bagi seluruh rakyat Indonesia yang saban hari kepanasan karena membaca medsos, berita online, televisi yang selalu menyajikan kegaduhan antara pendukung Jokowi dan Prabowo.

Sungguh kita ini sebenarnya butuh hiburan untuk menetralisir

Baca lebih lanjut

Di Ramadan…

I. Seminggu awal ramadan, suasana malam yang biasa saja berubah menjadi malam yang wonderful, beautiful dan peaceful. Lihatlah, di malam itu semua mesjid full. Jamaah berjajar rapi hingga kepelataran mesjid, melaksanakan solat fardu isya dan qiyamul lail.

Giroh anak remaja, bapak yang membawa anaknya, suami bersama istrinya berbondong-bondong memenuhi mesjid. Uang dari saku pun tak sayang mereka masukkan dalam kotak infak setiap malam. Berharap pahala berkali-kali lipat.

Namun menjelang berakhirnya ramadan, jamaah mulai menyusut. Tak lagi nampak jamaah berebutan saf dan tak ada lagi yang kebingungan memakai sandal saat hendak pulang. Sampai-sampai tuan marbot menghimbau lewat toa agar para warga muslim disekitar meramaikan kembali qiyamul lail di mesjid/musolla. Anak-anak muda tak nampak lagi batang hidungnya. Barisan saf seperti khusus buat lansia saja.

II. Di sore hari. Ramai orang menjual takzil, namun ada juga yang membagikannya gratis di lampu merah. Jiran tetangga saling berbalas makanan berbuka. Mesjid penuh dengan makanan untuk yang berbuka atau yang bertadarus. Semua orang seperti berubah menjadi dermawan. Ajaib.

Baca lebih lanjut

Movie: The Power of Love

Film the Power of Love yang diharapkan para pembenci aksi damai 212 tidak laku dipasaran dan berharap segera turun layar ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Film ini mampu menyedot antusias masyarakat khususnya umat Islam untuk – sebagaimana tagar promosinya – memutihkan bioskop. Pada hari kedua penayangannya saja jumlah penonton sudah mencapai 152.607 orang

Walau banyak kampanye negatif dari pegiat medsos – satu misalnya denny siregar lewat akun twitternya yang saya printscreen,

Baca lebih lanjut

Minus Remaja Mesjid

Peringatan Isra Mi’raj di Komplek yang Digagas Emak-emak.

Libur resmi memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW telah berlalu. Namun peringatannya masih dilaksanakan baik melalui institusi pemerintahan, sekolah, mesjid, musolla hingga kelompok perwiridan. Pelaksanaannya dibuat dalam acara resmi yang umumnya mengundang ustadz untuk memberikan tausiyah seputar Isra Miraj walau kadang materinya juga di luar tema yang diperingati.

Di komplek tempatku tinggal, acara peringatan Isra Miraj digagas ibu-ibu perwiridan. Karena yang menggagas ibu-ibu, maka dalam setiap menu acaranya pastilah ada aksi ibu-ibu yang tampil, terkecuali penceramahnya, entah kenapa bukan ustadzah.

Jarang dan belum pernah aku menyaksikan pengisi ceramah peringatan Isra Miraj maupun Maulid Nabi itu adalah Ustadzah. Mungkin karena Ustadzah termasuk makhluk hidup yang langka, atau jika pun ada agak susah mentolerir seorang Ustadzah berdiri berjam-jam di atas podium atau pentas dan memberikan ceramah di penghujung malam, biasanya peringatan hari besar Islam dilakukan malam hari.

Dulu, ketika masa aku sekolah

Baca lebih lanjut

Guru Ngaji, Mungkin Bukan Film Religi

guru ngaji - antaranews

comot di google

Hobi nonton film di rumah agak sulit terealisasi belakangan ini, padahal antrian film-film download-an dari internet yang ada dalam flasdisk telah tertancap manis di tivi. Ini disebabkan oleh karena nggak enak sama istri kalo nonton di rumah kesannya jadi males-malesan, matanya jadi sakit melihatku nonton sambil tiduran, lalu dia akan ambil jurus bersih-bersih rumah. Kan nggak nyaman kalo nonton lalu ada debu beterbangan, ada sapu nempel-nempel di kaki. Tapi lama-kelamaan itu menjadi semacam kode kalo pasangan lagi butuh hiburan karena setiap hari lelah berjuang dengan statusnya sebagai ibu rumah tangga.

Jadinya hari sabtu aku ajak dia nonton bioskop, supaya hobiku tersalurkan dan istri juga bisa melihat dunia luar, biar gak kayak ashabul kahfi. Tiba-tiba keluar goa, mata uangnya sudah gak berlaku lagi.

Aku ajak istri nonton film Guru Ngaji. Awalnya sih pengen nonton Pacific Rim Uprising. Film hollywood yang kaya dengan imajinasi dan teknologi. Namun setelah mempertimbangkan manfaat dan mudharatnya baik dari sisi pribadi maupun dari sisi pasangan, maka kuputuskan untuk nonton film Guru Ngaji yang menurutku dari isi cerita lebih banyak manfaatnya dan yang lebih penting, mata tidak lelah untuk membaca teks terjemahan.

Awalnya kesulitan juga nyari bioskop mana yang mengembangkan layar untuk film Guru Ngaji. Dari 11 bioskop di kota Medan ini,

Baca lebih lanjut

Mengapa Harus 1 Juni?

saya indonesia

Saya Indonesia Saya Pancasila

Kalau boleh jujur. Saya termasuk yang agak geli akan kemunculan tagar Saya Indonesia Saya Pancasila. Awalnya kata ini dipopulerkan Presiden Jokowi dalam pidatonya memperingati hari lahirnya pancasila. Lalu kemudian kata itu membanjiri media sosial dengan gambar profile picture siapa saja yang disandingkan dengan ikon #PekanPancasila berlatar merah putih. Beberapa teman juga latah untuk membuat PP semacam itu. Tentu saja dengan meletakkan foto dirinya yang paling menarik.

Saya tidak akan membahasnya dari segi bahasa sebagaimana beberapa pakar menyebut bahwa kalimat itu kurang sesuai, akan lebih tepat bila dirubah menjadi Saya Pancasilais. Kalimat Saya Pancasila akan dapat diselewengkan semisal “Saya Indonesia Saya Pancasila. Siapa yang menghina saya itu sama artinya menghina pancasila.” Kan bisa saja dibuat demikian. Eh, jadi kebahas.

Tanggal 1 juni dijadikan hari libur nasional oleh pemerintah Baca lebih lanjut

Bumerang yang Baik

Aku ingin berbagi tentang setitik pengalaman hidup. Tentang usaha menggapai cita. Jika perjalanan hidupku seumpama berada dalam labirin, maka aku perlu usaha untuk sukses menuju pintu keluar. Dimana di tengah perjalanan, ada mungkin hal selama ini yang kita anggap kecil ternyata memiliki pengaruh besar menggenapi mimpi.

Kehidupan dengan jalan yang terjal ku mulai ketika mengawali kuliah di tahun 2001. Aku bukanlah seorang mahasiswa dari keluarga golongan “the havest” yang bisa memilih kuliah di lembaga pendidikan ternama dengan uang kuliah jutaan persemester. Rasa pesimis telah menderaku ketika menerima ijazah SMA. Apakah aku bisa melanjutkan studi ke tingkat Strata 1? Dari mana biaya kuliah dan biaya hidup tinggal di kota? Pertanyaan yang tidak bisa kujawab saat itu.

Baca lebih lanjut