Nenek Koprolalia

Seperti biasa, aku berangkat pagi-pagi sekali ke kantor yang jaraknya lumayan jauh dari rumah dan harus ditempuh dengan angkutan umum. APV yang disulap menjadi angkutan umum berwarna hijau dan aku berada didalamnya bersama 6 orang penumpang yang tiada kukenal.

Di pertengahan jalan, tepatnya di Desa Sei Buluh, naiklah seorang penumpang berjenis kelamin perempuan dengan rambut yang sudah memutih dan memakai pakaian. Aku pastikan dia seorang nenek. Belum lagi ia duduk, mopen alias mobil penumpang itu bergerak sehingga tubuhnya terdorong ke depan dan meluncurlah kata-kata mutiara dari mulutnya karena terkejut.

Baca lebih lanjut

Permata yang Hilang

spon

Kini setiap hari aku selalu mendapat spon segi empat berwarna merah atau kuning. Spon bernomor dengan ukuran kira-kira 4×4 cm, kadang-kadang ukurannya 4×3 cm, 4×5 cm dan tidak pakai sama dengan.

Spon itu kuperoleh dari pemilik parkir kereta pada pagi hari setelah aku menitipkan keretaku padanya oleh karena aku akan pergi ke kantor dengan naik angkot.

Di tempat parkir itu berjajar berbagai jenis kereta yang didominasi merek Honda dan Yamaha. Suzuki mungkin ada tapi tidak aku perhatikan. Mereka semua ada pemiliknya, yaitu para pekerja yang berangkat pagi-pagi sepertiku, ada anak sekolah dan ada yang menitip saja daripada khawatir tidak aman bila  ditinggal di rumah sementara dia pergi beberapa hari.

Aku perlu menitipkan keretaku disitu agar aku tidak repot naik kereta sampai ke kantor yang jauhnya memakan waktu 1 jam. Selain itu, istriku juga tidak mengizinkan aku naik kereta ke kantor karena nanti wajahku jadi hitam, kotor dan jadi jelek. Kalau jelek, aku jadi menyesal kalau jumpa cermin.

Sebenarnya aku bisa saja tidak menitipkan keretaku disitu asalkan aku diantar setiap hari ke tempat biasa aku menunggu oleh istriku. Namun setelah kupikir masak-masak sampai gosong, itu tidaklah baik. Selain kelihatan manja dan tidak mandiri juga jadi merepotkan istri.

Kakek penjaga tempat penitipan kereta itu sepertinya sudah tua karena rambutnya didominasi warna putih. Bila aku tiba menitipkan keretaku, dia akan mendatangiku dengan Baca lebih lanjut

Belah Duren di Musim Hujan

Di kota Tebing Tinggi saat ini lagi musim hujan. Tapi itu biasa. Yang tidak biasa adalah musim durian. Di jalan-jalan protokol terlihat buah berduri itu beselemak peak di pinggir jalan baik di atas trotoar maupun di atas mobil pick up. Bentuk buah duriannya pun bermacam-macam. Ada yang oval seperti telur. Ada yang berbentuk seperti pepaya. Ada yang sudah dibelah dan ada yang tinggal kulitnya karena sudah dimakan. Entah oleh siapa.

Gerombolan durian itu memang nampak menggoda jika dilihat sambil lalu dan korban dari godaan durian itu adalah isteriku. Malam itu sewaktu menjemputnya dari tempat kerja untuk pulang, dia bertanya dengan kalimat mencurigakan.

“Abang nggak pengen makan durian?”

Aku yang mendadak mendapat pertanyaan seperti itu segera merespon dengan cepat.

“Mmm… Kenapa? Adek kepengen durian ya?”

Dia tidak menjawab. Kata guru MAN ku dulu, kalau perempuan ditanya sesuatu dan dia diam, itu tanda setuju. Tapi guruku mencontohkan anak perempuan yang mau dijodohkan sama bapaknya. Mungkin bisa dianalogikan sama kejadian ini.

“Ya udah, kalo kepengen abang putar lagi nih keretanya.” Lalu kuputar keretaku dengan jari telunjuk seperti pemain basket profesional. Ada senyum diwajahnya. Itu artinya dia senang bakal makan durian dan lebih senang lagi kalau aku yang mentraktir.

Checkpoint durian itu ada di persimpangan. Kulihat beberapa buah durian tersusun rapi di atas mobil pick up. Aku memakirkan keretaku lalu memilah-milih durian, mengciumnya dengan hati-hati, meraba-raba durinya.

“Durian dari mana ini bang?” Tanyaku sama laki-laki tanggung yang ada di samping mobil pickup itu.

“Nggak tau.”

“Berapa bang harga yang ini?” Tanyaku sambil menunjukkan buah durian yang paling besar. Pastilah ini raja durian. Karena dia yang paling besar diantara durian yang ada disitu.

“Nggak tau.”

“Lho, abang yang jual?” Aku mulai emosi karena jawabannya selalu tidak tau.

“Bukan.”

“Dasar kampretos. Kirain yang jualan.” Tapi dalam hati.

Tak lama keluar anak laki-laki tanggung dari dalam mobil dan mendekati kami lalu pura-pura ramah. Pastilah orang ini yang jualan.

Kuulangi pertanyaan yang salah sasaran tadi. Katanya durian-durian ini dari Sipispis. Sebuah daerah yang letaknya tidak jauh dari kota Tebing Tinggi.

“Berapa harga yang ini?” Tanyaku sambil menunjukkan durian yang besarnya agak sedikit lebih kecil dari helm LTD.

“Kalo yang itu dua puluh ribu bang.”

“Kok mahal kali.”

“Wiiihhh… udah murah itu bang.”

“Kan durian dari Sipispis biasanya murah.”

“Wiiihhh… sama aja itu bang.”

Nggak kutanya “sama aja” itu maksudnya sama durian yang mana.

“Lima belas ribu ya, biar ambil dua.”

“Wiiihhh… janganlah bang.”

Anak tanggung ini selalu menjawab pake WIIIHHH… sambil mengayunkan kepalanya. Aneh.

Aku memilih-milih lagi. mencium dan meraba-raba lagi. Kubanting pelan durian itu ke lantai pickup. Biasanya kalo durian yang isinya lemak itu agak menggema bunyinya. Beppp… gitu.

Tiba-tiba yang kutanya tadi lari bersama seseorang yang berjenis kelamin sama dengan dia. Sepertinya mereka berebut masuk ke dalam mobil. Kudengar sepintas kalau anak tanggung yang ngomong pake wiiihhh tadi udah ngantuk dan dia mau tidur. Sedangkan partnernya entah baru kembali darimana dan harus gantian melayani pembeli.

Anak tanggung yang baru muncul tadi mendekatiku.

“Yang mana bang?” Dia nanya.

“Yang ini sama yang ini ya. Berapa harganya?” Aku menunjuk dua buah

“Tiga puluh lima ribu aja bang.” Dia jawab sambil megang pisau. Dia pasti bukan mau nodong.

“Mahal kali. Tiga puluh ribu ya.”

Dia mengangguk, terus pisaunya dia buat untuk memotong tali. Padahal tali itu bukan ayam.

Isteriku tadinya mau makan di tempat itu juga. Tapi akunya bilang di rumah aja. Supaya kalau tidak habis dimakan bisa disimpan di tupperware atau dikolak besoknya. Karena isteriku baik budi, dia menurut. Menurut siapa? Menurutku. Mungkin setan jahat bilang, “dasar suami egois”. Eh, jadi suudzon sama setan. Selepas si penjual mengikat durian itu, aku pun pulang sambil membawa isteriku yang menenteng durian.

Makan durian di lapak penjualnya itu sebenarnya seru. Kita nggak perlu belah duren sendiri jadi gak takut kena durinya. Kalau misalnya duren yang dibelah itu busuk atau mentah, bisa langsung ditukar sama durian juga. Sampai-sampai muncul sinetronnya “Durian Yang Tertukar”. Terus kalau makan disitu kita bisa pamer sama orang-orang yang lewat di situ, sama tukang parkir, sama orang yang jualan juga. Kulit duriannya menjadi tanggungjawab yang jualan karena tidak diwajibkan untuk dibawa pulang. Terus kalau kurang, kita bisa langsung pilih dan beli lagi. Repotnya adalah kalau mau cuci tangan dan mau ngelap mulut sehabis makan duren. Itu penjual cuma ngasi kobokan dengan air yang sedikit dan kain lap yang kumal. Hiiii… mulut siapa aja lah yang udah nempel disitu. 

Sementara kalau makannya di rumah agak sedikit kurang nyaman sama tetangga. Bau durian itu bisa memancing tetangga jadi kepingin durian atau bisa juga jadi mual kalau tetangga itu alergi durian.

Akhirnya aku belah durennya di rumah dan warnanya sedikit kekuningan. Orang menyebutnya itu durian tembaga. Ada juga yang menyebutnya durian mentega. Tapi perbedaan nama itu tidak menjadi masalah buat durian. Karena yang terpenting itu bukanlah bagaimana cara memakannya atau dimana memakannya, tapi bagaimana cara membelahnya dan sepertinya saat itu sedang turun hujan.

Service Setengah Hati?

Service itu bukan hanya bagaimana melayani pelanggan, tapi juga bagaimana memuaskannya… #opoiyo

Aku terperangkap di dalam showroom Yamaha dan di luar hujan deras sekali. Tapi kendaraan di jalan seperti tidak perduli. Mereka tetap saja hujan-hujanan. Hujan yang turun sejak pagi belum juga berhenti mengguyur kota. Kadang deras, kemudian rintik-rintik, kemudian deras kembali. Sampai tengah hari gini hujan belum juga habis tercurah dari langit. Kulihat langit berwarna putih sampai batas pandangan. Mungkin kota Medan dan Kisaran juga mengalami basah-basahan seperti kota Tebing Tinggi ini.

Sejak pagi tadi sebenarnya berniat untuk service si biru (Si biru adalah panggilan sayang buat keretaku. Tak usahlah kusebut namanya. Biar tak dibilang pamer. Lagian masih kreditan). Tapi akhirnya baru bisa ke showroom Yamaha untuk service pukul setengah duabelas. Ketika hujan mulai reda. Syukurlah ketika sampai di showroom, mereka belum istirahat dan cuma satu kereta yang kulihat diservice.

Kutemui service counter dengan menyampaikan maksud dan tujuan. Dia pun faham dan meminta STNK dan mengkonfirmasi no telp. Memastikan kalau aku sudah terdata sebelumnya. Ini memang service yang ketiga kalinya. Lumayan, masih ada jatah service gratis, cuma ganti olinya yang nggak.

Service counter itu bertanya pada… sepertinya service advisornya. “Masih diterima? Udah mau jam istirahat?”

Laki-laki berbaju pitstop itu berdiri mendekati mbak service counter. “Terima aja.” Dan kemudian menatapku. “Ditunggu ya pak. Mekaniknya masih keluar bentar.”

Aku menunggu di ruang tunggu yang ada televisinya dengan siaran gosip artis Jupe yang dikabarkan meninggal dunia di hari ulang tahunnya. Dan si artis diwawancarai saat merayakan ulang tahunnya menanggapi kabar kematiannya. Sayang remotenya nggak ada buat ngecilin volumenya. 

Mekanik kulihat mulai mempreteli anggota tubuh si biru sebagai tanda bahwa dia akan diservice. Sebelumnya si mekanik kudengar seperti mengingatkan sudah dekat jam istirahat. Tapi mbak service counter mengatasnamakan perintah advisornya. Jadilah dia kerjain juga si biru.

Baru sekitar 20 menit berlalu. Si mekanik datang menghadap dan bilang padaku service akan dilanjutkan jam satu siang karena sudah jam istirahat. 

Saya mau jawab apa ya. Pengennya sih mau bilang. “Kok gak dilanjutin sampai selesai aja bro. Abis itu baru istirahat. Kan nanggung tuh.” Tapi yang keluar malah “Oh… iya.”

Jadi aku harus menunggu sampai satu jam untuk sampai ke pukul satu. Entah pukul berapa kalau sampai selesai service. Mana yang disediakan di sini cuma sekuntum minuman mineral gelas merk Zukra. Padahal aku kan nggak haus. Rupanya begini ya pelayanannya. Membiarkan pelanggannya menunggu mekaniknya istirahat dulu sementara service sudah setengah berjalan.

Tapi apa mau dikata. Ini service sepeda motor di showroom. Bukan service di bank. Kalau nggak puas dengan pelayanan petugasnya kita bisa buka rekening di bank lain. Nah kalau ini, tidak puas dengan pelayanan mekanik atau pihak service, mana bisa pindah ke showroom Honda atau Suzuki. Wong keretanya Yamaha. Manalagi showroom resmi yang ada bengkelnya cuma sebiji di kota Tebing ini. Ya mau tak mau kesitu juga.

Akhirnya mekanik kembali pukul setengah dua. Artinya dia terlambat setengah jam sebagaimana perkataannya tadi. Dan kerugian waktu itu hanya bisa digantikan dengan mengupdate blog ini. 

Aku jadi teringat harus segera pulang karena mau berbelanja kebutuhan untuk acara arisan besok, membeli melon, pisang, sayur dan game watch. Game watch-nya buat ponakan lho, bukan buat arisan. Juga mau pinjam tikar mesjid. Semoga arisannya lancar ya Jaya… 

Iya…

10# Kerajaan Bedogol di Ujung Tanduk

image

Ini tahun yang sangat panas dirasakan rakyat kerajaan Bedogol. Matahari seperti ada dimana-mana. Kata tuan-tuan yang singgah tempo hari di istana. Ini adalah tahun beruk api, panas macam pantat kuali habis mengaco dodol.

Ingin tahukah kamu siapa gerangan yang singgah tempo hari di istana. Mereka adalah sekawanan isteri-isteri para petinggi istana pusat. Perlu kiranya kawan fahami, bahwa kerajaan bedogol merupakan kerajaan kecil yang mana ianya memiliki induk kerajaan. Induk kerajaan ini berada di padang yang sangat luas dan ramai. Para hulubalang bila ditanya satu persatu, maka semua akan memilih tinggal di induk istana yang megah itu. Namun tak dapat semua menuju kesana jika tidak ada prestasi ataupun handai taulan yang menjadi petinggi disana.

Para isteri-isteri petinggi itu singgah sejenak di kerajaan bedogol adalah untuk

Baca lebih lanjut

Tahun Baru Rasa Lama

Tidak terasa tahun 2015 berlalu berganti menjadi tahun 2016. Kenapa tidak menjadi tahun 2020 saja ya, biar tiba-tiba sehabis hitungan mundur yang gundul tiba-tiba jadi gondrong, yang SD tiba-tiba udah masuk SMA, yang baru nanam pohon durian tiba-tiba udah jualan pancake durian, yang baru beli motor kreditan tiba-tiba udah lunas. Wah enak sekali ya.

Seluruh dunia menyambut

Baca lebih lanjut

ke Pulau Berhala, the Dream Comes True II

Angin laut menyergap tubuh, menusuk lubang pori-pori, menitipkan hawa dingin ke sekujur tubuh. Namun tetap saja rasa dingin itu tidak lebih terasa ketimbang rasa kesal akibat pancing yang jatuh di dasar laut di bawah dermaga.

berhala bacaanAku dan Miko mencari-cari relawan yang mau menyelam untuk menemukan pancing itu. Kami bertanya pada marinir yang sedang bertugas disitu namun mereka menyarankan besok saja mencarinya. Sekarang sudah malam, air juga sudah pasang, akan sulit menemukannya. Begitu jawab mereka.

Betul juga. Namun kami belum puas. Kami melihat ada acik-acik sekira 2 orang sedang memakai pakaian menyelam. Pakaiannya nampak seperti manset berwarna kecoklatan dan ketat menyatu dengan tubuh. Jika dilihat sekilas akan nampak seperti tubuh telanjang yang berukir lukisan. Kami mencoba mendekati kedua pemuda yang sepertinya mirip bintang film Tiongkok itu dan menyapanya.

“Mau menyelam ya Ko…” Miko sok akrab. Menyapa dengan panggilan Koko, seolah-olah itu adalah abangnya. Padahal bukan.

“Iya.” Salah satu dari mereka menjawab sembari menyiapkan perlengkapan menyelam dan menembak. Kemudian mereka memakai sepatu yang telapaknya sangatlah panjang dan lembek. Seperti kaki katak. Yang seorang lagi membereskan pelampungnya. Di pelampungnya tertulis

Baca lebih lanjut