ke Pulau Berhala, the Dream Comes True II

Angin laut menyergap tubuh, menusuk lubang pori-pori, menitipkan hawa dingin ke sekujur tubuh. Namun tetap saja rasa dingin itu tidak lebih terasa ketimbang rasa kesal akibat pancing yang jatuh di dasar laut di bawah dermaga.

berhala bacaanAku dan Miko mencari-cari relawan yang mau menyelam untuk menemukan pancing itu. Kami bertanya pada marinir yang sedang bertugas disitu namun mereka menyarankan besok saja mencarinya. Sekarang sudah malam, air juga sudah pasang, akan sulit menemukannya. Begitu jawab mereka.

Betul juga. Namun kami belum puas. Kami melihat ada acik-acik sekira 2 orang sedang memakai pakaian menyelam. Pakaiannya nampak seperti manset berwarna kecoklatan dan ketat menyatu dengan tubuh. Jika dilihat sekilas akan nampak seperti tubuh telanjang yang berukir lukisan. Kami mencoba mendekati kedua pemuda yang sepertinya mirip bintang film Tiongkok itu dan menyapanya.

“Mau menyelam ya Ko…” Miko sok akrab. Menyapa dengan panggilan Koko, seolah-olah itu adalah abangnya. Padahal bukan.

“Iya.” Salah satu dari mereka menjawab sembari menyiapkan perlengkapan menyelam dan menembak. Kemudian mereka memakai sepatu yang telapaknya sangatlah panjang dan lembek. Seperti kaki katak. Yang seorang lagi membereskan pelampungnya. Di pelampungnya tertulis

“One breath one shot.”

“Menyelam dimana Ko?”
“Itu, di dekat dermaga aja.” Muncungnya memberi isyarat ke arah dermaga.

Wah kebetulan nih. Kami segera menyampaikan hajat kami dan berharap mereka mau membantu ketika menembak di dekat dermaga.

Acik itu bilang oke. Akhirnya kami mengikuti keduanya menuju dermaga. Pelampung dilemparkan ke air dan mereka pun terjun dengan lampu senter dan tembaknya yang lebih mirip tombak. Kami menunggu mereka muncul ke permukaan dan tak lama kemudian gelembung-gelembung udara muncul bersama kepala acik-acik itu.

“Gak nampak, arus di bawah agak kencang.” Ternyata tidak berhasil.

“Ya udah ko, nggak apa pa.” Kami kecewa. Besok ajalah nyarinya. Siapa yang mau, dibayar pun kalo mau dan kalo dapat. Itu rencana kami.

Malam itu kami memutuskan ke pondok, aku dan Miko. Yang lain udah pada duluan dan mereka dari jalur bawah. Maksudnya mereka pergi ke mess tempat yang disediakan untuk kami menginap melalui jalan pinggir pantai dengan pemandunya salah seorang marinir. Keesokannya kami diceritakan sama mereka kalau lewat jalur bawah itu sangatlah tidak menyenangkan. Salah satunya bahkan ada yang luka tergelincir ketika memanjat batu, menghindari air yang sudah pasang.

batu besar

Batu-batu besar inilah yang harus dilewati menuju barak kalau dari jalur bawah dan air sudah pasang.

Kami yang cuma berdua memutuskan dari jalur atas, melalui 204 anak tangga untuk naik, dan menuruni 179 anak tangga dengan mengandalkan insting Miko yang sebelumnya sudah pernah kesini. Semoga saja tidak kesasar. Saya takut kalo kesasar nanti seperti di film-film horor itu. Bertemu sama makhluk luar angkasa. Tapi kami melewati dua kuburan. Agak seram, tapi tidak jumpa jin kok.

Akhirnya kami sampai di mess. Lebih tepatnya barak, yang dalam satu ruangan itu ada 20 ranjang yang disebelah kanan ranjangnya bertingkat dan yang di kiri tidak. Saya tidurnya kongsi sama Pendi. Biar dia tidak ketakutan tidur sendiri. Sebelum tidur, kami sempat ngobrol-ngobrol di luar sama marinir yang jaga di situ.

Besok paginya ada yang teriak. Kudengar ada suara yang mengatakan kalo orang pada rame di pantai karena menangkap seekor penyu. Aku melompat dari tempat tidur. Kuraih kamera prosumerku dan langsung lari ke luar. Padahal saat itu aku belum cuci muka, tapi tidak mengapa, nanti aja kubasuh pake air laut.

Di sebelah timur dari barak, aku melihat orang sudah pada ramai mengelilingi sesuatu, aku kesana setengah berlari dan mendapati mereka mengelilingi seekor induk penyu. Mereka mengangkatnya seperti mengajari bayi berjalan dan berfoto-foto. Aku melihat Bang Aldi, Miko dan Riki juga sudah ada disitu. Aku minta tolong Miko untuk mengambil gambarku bersama si penyu.

penyu minta tolong

penyu kesiangan ini dipandu untuk menuju tanah airnya, semoga dia tidak dimakan ikan paus

“Hai Penyu.” Sapaku. Tapi dia diam saja. Kupegang tangan kirinya. Nggak ada jarinya. Jadi kami tidak bisa saling bergenggaman.

Selepas orang semua selesai berfoto bergiliran, mereka beramai-ramai menyuruh penyu kembali ke laut. Kudengar tadi ada yang bilang kalo penyu ini bangun kesiangan, jadi saat akan pulang ke air, dia ketahuan sama orang-orang yang udah pada main di pantai. Jadilah dia seperti selebritis, diajak foto-foto, tapi tidak ada yang minta tanda tangan.

Penyu berjalan terseok-seok, barangkali dia lelah karena harus menggendong cangkangnya yang berat sehingga baru beberapa centi dia melangkah sudah berhenti lagi. Kami tidak ikut mengantarnya sampai bebas berenang ke laut. Biar saja mereka mewakili.

Aku, Miko dan Riki bernarsis ria di batu-batu besar yang ada di dekat situ. Ada batu yang sangat besar dan seperti buah apel terbelah. Di situlah aku beraksi seperti power rangers merah. Kalau Riki seperti Thor menumbuk batu, Miko seperti burung, bertengger selonjor dengan kedua kakinya.

power rangers

Power rangers merah beraksi

Kami menghabiskan waktu untuk berfoto saja, tapi aku sempatkan mengambil pecahan terumbu karang dengan wadah botol bekas yang sudah dipotong atasnya. Entah siapa yang memotongnya dan entah untuk apa. Jangan-jangan untuk tempat air kencing tapi nggak jadi dipakai. Karang-karang berwarna putih ini sengaja akan kubawa pulang untuk penghias akuarium di rumah yang belum ada ikannya. Tapi sekarang ini, pecahan terumbu karang itu telah menghias akuariumku dan ikannya sudah ada. Ikan mas koki 12 ekor.

main-main

Main ayunan dan ada putra duyung lagi tiduran🙂

Di sekitar situ banyak juga ayunan, kami bermain ayunan sebentar. Supaya ayunan itu tidak sia-sia dibuat. Lalu kami kembali ke barak. Membangunkan kawan-kawan yang masih terlelap. Mengajak mereka sarapan. Karena diluar tadi kami sudah diajak untuk sarapan dekat dermaga sama tukang masak.

“Bang, nanti kalo mau sarapan ke pos semalam ya. Udah disediakan disana.”

“Sarapan apa?”

“Nasi goreng sama kerupuk.”

“Oh ya udah.”

“Kalian udah sarapan?”

“Udah.”

“Kok nggak ngajak barengan.”

“Abang-abang kan masih tidur tadi.”

“Kok gak dibangunin.”

“Gak boleh, bukan muhrim.”

Akhirnya kami membangunkan yang lain untuk sarapan di pos semalam. Sambil bawa cumi-cumi hasil pancingan malam itu.

Oh, sepertinya aku belum cerita soal kami memancing malam itu ya. Pasti heran bagaimana kami bisa memancing, padahal pancingnya tenggelam di bawah dermaga. Kami meminjam pancing marinir dan cuma dapat 1. Jadinya kami gantian memancingnya kalau misalnya sudah bosan nggak dapat-dapat.

Umpannya minta sama orang-orang yang mancing di dermaga. Pokoknya semuanya tinggal minta dan minjam. Bukan tidak bermodal, tapi tidak mau repot.

Kami memancing sampai dini hari. Tapi orang yang memancing masih ramai. Semua berlomba mendapatkan cumi-cumi. Katanya cumi-cumi itu suka mendekati cahaya. Karena di dermaga ada lampunya, maka cumi-cumi akan mendekat ke dermaga. Ku perhatikan beberapa pemancing sudah menemukan buruannya. Tinggal pancing kami yang belum di makan cumi-cumi. Yang makan malah batu karang. Nyangkut.

Aku diberi kesempatan sama Riki untuk gantian memancing, baru 5 menit aku melemparkan mata pancing kok sudah ada yang menarik-narik. Jangan-jangan putri duyung. Tapi nyatanya tidak. Aku menarik spontan dan dapat CUMI-CUMI KECIL. Iya, kecil. Paling kecil dari yang didapat sama orang-orang di situ. Tapi ya alhamdulillah.

Lalu gantian lagi sama Riki. Beberapa lama kemudian, karena lambat laun pesaing semakin menipis dan gerimis juga sudah turun, peluang untuk mendapatkan cumi-cumi terbuka lebar. Benar saja. Riki melihat ada cumi-cumi berenang. Dia melemparkan pancingnya ke arah cumi-cumi berada, diikuti sama pesaingnya dan ternyata cumi-cumi itu memakan umpan Riki dan STRIKE…. Horeeee… Kami dapat cumi-cumi yang paling besar dibandingkan dengan yang telah didapat sama orang-orang tadi. Begitu cumi-cumi diangkat, dia menembakkan tintanya sebagai tanda bahwa dirinya terancam, tinta itu bersimbah di wajah Riki. Wajah Riki coreng moreng seperti kue donut di lapisi cokelat.

Begitulah ceritanya. Pagi itu akhirnya kami makan pakai lauk hasil buruan kami sendiri. Yang masakin ibu-ibu disitu. Cumi-cumi itu sepertinya digoreng, tapi tidak sampai kering. Jadi rasanya kenyal-kenyal, liat dan lembut. Enak lho, apalagi pake bumbu sambel kecap.

Selepas itu kami ditawari untuk naik ke menara. Tapi karena semuanya sudah tidak tahan lihat air, jadinya semua pengen mandi dulu. Cuaca saat itu tidak panas, mungkin mataharinya disembunyiin kabut asap.

Orang yang membawa kami memberikan perlengkapan menyelam, seperti kacamata, kaki katak dan pipa oksigen. Tapi kami malah mengambil bola volley.

Kami main bola volley dua set dan dimenangkan oleh timku yang saat itu dihuni Bang Najam, Miko, Rendi dan Riki kalo nggak salah. Setelah udah capek dan bosan menang terus, kami mengakhiri permainan dan langsung nyebur ke laut. Wihh… sedapnya. Semuanya pake pelampung karena takut tenggelam. Tapi aku pake ban.

Begitulah kejadian di Pulau Berhala waktu itu. Mungkin kamu bilang, ah biasa aja pun. Tapi bagi aku yang menjalaninya, perjalanan itu sungguh berharga dan menyenangkan. Bisa mentadabburi alam, mensyukuri ciptaan Allah yang tiada bandingan. Melihat kekayaan alam Indonesia yang ternyata masih banyak yang belum tersentuh perhatian pemerintah.

Aku berdoa suatu hari nanti, pulau berhala ini nantinya tidak kalah seperti pulau Phiphi di Thailand. Dikunjungi banyak wisatawan dan terkenal sampai ke mancanegara. Semoga aja kayak gitu.

Kayaknya udah cukup. Tamat.

Tebing Tinggi, 21 Nopember 2015

Satu Tanggapan

  1. super duper artikelnya nihhhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: