Rindu Cinta Lama

aku merindukan cinta lama
cinta yang mengedepankan logika
menundukkan pandangan mata
membiarkan nurani bicara

aku merindukan cinta lama
cinta yang tersembunyi
membahagiakan hati
saat sendiri

aku merindukan cinta lama
cinta yang cuek
tak mudah terkorek
tak butuh merengek-rengek

aku merindukan cinta lama
cinta yang diam menjadi zikir
hidup dalam malam-malam terakhir
tak malu saat diri menjadi fakir

aku merindukan cinta lama
cinta yang tak butuh nada perantara
tak menghabiskan pulsa
tak perlu jua mendesah-desahkan suara

aku merindukan cinta lama
cinta yang suci karena Tuhan
bebas dari pelanggaran
tak pernah khawatir kehilangan

Aku merindukanmu Cinta…

Berkurang Lagi

Telah kering embun dari pucuk pohon dan rimbunan bambu
menyisakan selaksa terang dari ujung langit
bertambah tinggi dan menguning
lalu dahannya kering, hilang disapa angin

Debu terbang silih berganti
menyelimuti dinding hati
bertayamum sejenak mengasah intuisi
meresapi banyak waktu yang terlewati

Telah pudar jiwa-jiwa kekanakan
dikenakan pakaian kedewasaan
baik buruk susah senang tak berbilang
merangkai lukisan diuntaian angka puluhan

Pelangi pelangi datang
menganyam mimpi memburai kenangan
merangkum madah dan doa sejuta harapan
Semoga damai dan terang di puncak menara cinta

————–OO————–
Akhirnya, umurku berkurang lagi

Itulah yang Ada di Desa

Kami hanya ingin bermain

karena kami jenuh di depan komputer

bermain basket palsu

bermain basket palsu

kami ingin basket

tapi tidak untuk ber slam dunk

kami cuma bermain

dengan bola kaki dan ember pecah

walau tak seperti basket NBA

kami tetap gembira

dengan apa yang ada

karena kami anak desa Baca lebih lanjut

Israel Binatang Jalang

Aku benci Zionis Israel, sangat benci

Tersenyum mereka mengirimkan bom-bom dari pesawatnya, tank dan moncong senjata

Lalu menempel ribuan peluru, mesiu dan gas beracun ke rumah-rumah warga palestina, ke kujur tubuh orang tua, muda dan anak-anak menjadi lautan darah

Born to kill, tertulis di helm tentara zionis

Biadab

Tertawalah Israel, tertawalah hingga kau tahu bahwa akan hadir jiwa syuhada yang akan menumpahkan darah keluargamu

Hasbunallah wa ni ni’mal wakil

Terantuk

Langkah-langkah kau jejakkan
Dalam lembut malam dan penat siang
Memburu hari
Untuk kau ukir dengan asyikmu sendiri
Harapmu menghujam dalam
Hingga terang awan cita
Lalu… Lekas pergi tanpa peduli
Pada jiwa yang terpagut pesonamu
Kupu-kupu pagi itu
Melambaikan sayap hitamnya
Seperti dirimu
tumbuh bersayap
Terbang tinggi…tinggi… dan semakin tinggi
Rindulah kau
Hauslah kau
Luruhlah kau
Di sini
Ada aku yang menggenapi itu

Meulaboh, 15 Juni 2008

Belajar pada Embun

lihat embun pagi itu
seperti tetesan air mata bidadari
yang sedih hatinya

kugerakkan mata ini
merangkai mimpi yang terputus
mengeja…
berapa babak permainan hati
sudah berlalu

kuukir senyumku
tak seindah dulu
karena luka menutup manisnya
cerminku berubah air keruh

lihat embun itu lagi
ia jernih walau telah melewati gelap
ia suci menghapus debu di dedaunan
ia terburai di lapisan tanah yang lembut
hidupkan berhelai rumput

embun pagi itu
menetesi anganku
cukup melupakan kesedihan
hancurkan cinta yang selama ini membelenggu
pada yang bukan untukku