Arisan yang Luar Biasa

Rombongan arisan yang datang dari Asahan

Ini bulan September. Kata orang ini bulan musim penghujan, padahal sebenarnya ini bulan sembilan. Tetapi benar, hampir setiap hari hujan. Kadang-kadang deras, kadang gerimis, ia adalah orkestra alam yang dirigentnya adalah malaikat Mikail dan tidak ada manusia yang bisa tau dengan pasti hujan akan jatuh kemana, kecuali hanya mengira-ngira saja. Entah apa sebenarnya hubungannya hujan dengan cerita ini, jadi pengen nyanyi Terangkanlah….

Saat itu adalah hari minggu. Hari dimana dilaksanakan arisan keluarga besarku yang kali ini mendapat giliran adalah kakakku yang tinggal di Kota Lubuk Pakam. Maka peraturannya adalah, segenap peserta arisan keluarga haruslah datang ke tempat yang mendapat giliran. Baik itu yang berasal dari tempat yang dekat maupun dari tempat yang jauh. Namun apabila ada yang berhalangan untuk datang, hal itu tidaklah mengapa. Biasanya untuk peserta yang tidak datang akan menitipkan salam pada yang datang berikut alasannya mengapa tidak bisa datang. Karena itu adalah arisan keluarga, maka pesertanya adalah seluruh keluarga yang hubungan persaudaraannya berdasarkan garis patrilineal.

Baca lebih lanjut

Iklan

Sandal yang Menghadap ke Timur

Itu adalah malam yang indah ketika melihat barisan saf yang sedang duduk tasahud akhir dalam sebuah mesjid. Begitu rapi dan teratur dengan ekspresi wajah para jamaah yang tidak bisa aku ceritakan karena aku melihat mereka dari luar yang sedang memarkir kuda besi di halaman mesjid. Untuk kesekian kali aku melewatkan kesempatan menjadi masbuk.

Sulit untuk mendapatkan solat magrib berjamaah di mesjid ketika aku masih di dalam angkutan umum. Jika supir bis mengemudikan dengan kencang dan jalanan tidak macet, insya Allah aku akan menjadi masbuk. Itu pun jika waktu magrib tidak masuk lebih cepat.

Menjadi masbuk bukanlah cita-citaku. Melainkan terjadi dengan sendirinya oleh karena keterlambatan untuk bersama-sama mengikuti imam sejak takbiratul ihram. Agar masih tergolong sebagai masbuk, aku harus mendapatkan mesjid yang lebih dekat dari tempat parkiran sepeda motor.

Mesjid yang dekat dan arah jalannya satu arah dengan jalanku menuju pulang ke rumah adalah mesjid Nurul Ikhwan. Dia adalah saksi bahwa aku sering solat magrib sendirian didalamnya. Mesjid Nurul Ikhwan sepertinya mesjid yang menjadi tempat berkumpulnya para jamaah tabligh. Sering kudengar mereka bermusyawarah dan juga berkumpul mendengar tausiah dari salah seorang diantara mereka selepas solat magrib berjamaah.

Beberapa yang lain berkumpul di luar, menentukan tujuan lalu berjalan bersama-sama menuju rumah-rumah orang Islam. Mengajak mereka untuk memakmurkan mesjid.

Aku senang memperhatikan mereka. Kadang-kadang juga mencuri dengar tausiahnya. Beberapa yang pernah singgah di telingaku adalah tentang memaknai nikmat dari Allah yang luas dan banyaknya tiada dapat kita hitung. Perbuatan yang mereka lakukan itu mengingatkanku pada perbuatanku saat masih duduk di bangku Aliyah dulu. Sama persis.

Selepas solat magrib aku bergegas menuju teras. Melihat sepatu dan kuda besiku. Oo… ternyata masih ada. Terima kasih ya Allah. Tapi ada yang aneh.

Sandal yang disusun rapi di halaman mesjid

Kulihat barisan sandal di halaman mesjid berjajar rapi sesuai dengan paasangannya masing-masing. Termasuk juga sepatuku. Seingatku saat memasuki mesjid tadi aku meletakkan sepatu sesuai dengan posisi kaki yang mengarah ke mesjid. Menghadap kiblat. Namun sekarang posisi sepatu dan semua sandal-sandal yang ada di halaman ini mengarah keluar. Sepertinya sepatu dan sandal itu sudah mempersiapkan diri bahwa ketika si empunya akan keluar mesjid tidak perlu repot bagi mereka memutar kaki dan badannya atau mengarahkan dengan tangan mereka sendiri dan itu sangat mudah dilakukan. Perbuatan siapakah yang merapikan semua sandal-sandal dan sepatu di halaman mesjid ini?
Adalah seorang pemuda yang saat itu memakai lobe putih sepertinya salah seorang jamaah tabligh. Dia adalah orang yang merapikan sandal-sandal itu dan mengarahkannya ke timur. Menyejajarkannya sehingga enak dipandang. Aku harusnya berterima kasih padanya karena merapikan letak sepatuku. Kaus kakinya juga masih ada.

Perbuatan remeh temeh seperti itu kadang luput dari perhatian kita karena mungkin kita sering mengabaikan hal-hal kecil yang hadir dihadapan kita dan bagiku itu merupakan perbuatan baik yang sederhana.

Pemuda itu telah memberikan pelajaran berharga bahwa perbuatan baik sekecil apapun itu pastilah ada manfaatnya. Setidaknya dia telah memberikan kemudahan bagi orang lain, memberikan manfaat yang dari perbuatan sederhana itu ada timbul rasa syukur yang terucap, ada tasbih yang menyeruak dari dalam hati dan ada senyum kecil yang terpancar.

Sekali lagi itu adalah perbuatan baik yang sederhana dan kecil di mata manusia dan untuk membalas dengan ucapan terima kasih saja kita enggan. Beda dengan penilaian dan janji Allah yang telah dituliskan dalam alQuran

“Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah-pun, ia akan mendapatkan balasannya (QS. Al Zalzalah:7)

————-

Tamora, sambil nonton moto2

Tahun Baru Rasa Lama

Tidak terasa tahun 2015 berlalu berganti menjadi tahun 2016. Kenapa tidak menjadi tahun 2020 saja ya, biar tiba-tiba sehabis hitungan mundur yang gundul tiba-tiba jadi gondrong, yang SD tiba-tiba udah masuk SMA, yang baru nanam pohon durian tiba-tiba udah jualan pancake durian, yang baru beli motor kreditan tiba-tiba udah lunas. Wah enak sekali ya.

Seluruh dunia menyambut

Baca lebih lanjut

Tentang Sebuah Jam Tangan

jam, tangan ajaib

jam, tangan ajaib

Bercerita tentang jam tidak hanya bicara tentang waktu, tapi bisa juga tentang dinding kalo dia itu jam dinding, atau tentang tangan kalo dia berwujud jam tangan, atau bisa juga tentang macet kalo dia menjelma jadi traffic jam. Dari beberapa jenis jam itu maka ini adalah tentang jam tangan.

Seorang perempuan sedang sibuk memperhatikan deretan jam tangan yang terpajang di stelling kaca sebuah toko jam, ia menunjuk ke salah satu jam jenis analog dan meminta pelayan toko mengeluarkannya dari akuarium jam itu. Diperhatikannya dengan seksama mulai dari tali hingga pernak-pernik yang menempel di antara jarum jam. Pelayan toko pun menyebutkan segala kelebihan jam tangan itu dengan harapan supaya si perempuan yang tampak sudah bersuami itu segera membelinya.

“Ini ori loh bu, bagus tuh dipakai sama bapak.” Penjaga toko mencoba merayu.

Lalu terjadilah tawar menawar harga dan setelah disepakati, perempuan tersebut langsung membayar dan membawanya pulang. Sampai di rumah, ia kemudian membungkus jam tersebut dengan kertas yang indah, didalamnya ia letakkan sepucuk surat yang berisi tentang ucapan selamat ulang tahun dan beberapa pesan yang nantinya ia persembahkan buat orang yang dicintainya, ayah dari anak-anaknya.

“Kanda jam berapa pulang?” Tanyanya lewat telepon selepas kado kecil itu dia persiapkan.

“Mungkin habis  magrib Din, kenapa?” Si suami memanggil istrinya Dinda, bukan Udin.

“Habis magrib itu isya donk…” ujarnya manja.

“Hmm… Habis magrib sebelum isya insya Allah.” Si suami memperbaiki jawabannya dengan dingin.

“Oh, ya sudah. Dinda dah masak nih untuk kanda. Jangan lama-lama ya pulangnya.”

“Iya sayang… Kanda pasti pulang ke rumah. Kanda kan bukan keong. Nggak bawain rumah.”

“Hehe… iya. Kanda memang bukan keong, tapi meong.”

“Ha ha ha”

Baca lebih lanjut

Kala Anak Band Mendapatkan Hidayah

Jika kamu pencinta musik Indonesia, mungkin kamu tidak asing dengan nama grup band seperti Sheila on 7, Matta Band dan Nineball. Ketiga grup band itu telah menetaskan lagu yang easy listening dan memiliki banyak penggemar di seantero Indonesia. Nah, itu tadi bandnya, bagaimana dengan salah satu personel dari setiap band itu ternyata memberi cerita lain bagaimana dunia musik yang selama ini mereka jalani membuka jalan lain untuk mengenal dunia lain, dunia yang membawa mereka lebih mencintai Allah dan Rasulnya. Paling tidak itulah yang terbersit dari apa yang saya saksikan di acara salah satu televisi swasta nasional pada tanggal 21/06/2015.

Sunu saat sebelum dan sesudah Hijrah

Sunu saat sebelum dan sesudah Hijrah

Sunu (Matta Band), Sakti (ex Sheila on 7) dan Ray (Nineball) adalah pemusik yang kini lebih banyak mendedikasikan dirinya di jalan agama. Secara lahiriyah, perubahan itu nampak dari tampilan gaya dan pakaian mereka yang jauh dari kesan sebagai anak band. Mereka nampak lebih santun dalam berbicara, lebih banyak menundukkan pandangan, memelihara jenggot dan berpakaian gamis. Saya sering melihat tampilan seperti mereka yang biasa dikenal dengan istilah Jamaah Tabligh, yaitu sekelompok orang yang memilih jalan dakwah, mengingatkan sesamanya dan menghidupkan sunnah nabi. Terlepas Baca lebih lanjut

Refleksi di Ramadhan

Bulan ramadhan telah mendekapmu, kuat. Kuat sekali. Memintamu untuk segera membasuh hatimu agar bersih. Agar jernih. Hingga hatimu kembali bercahaya memantulkan kebaikan-kebaikan kesekelilingmu.

Noda-noda yang tersisa barangkali adalah keegoisan yang belum sepenuhnya terkendali. Hingga acapkali dirimu tak dapat mengerti bahwa pesan kebenaran bukan menuruti kehendakmu.

Ramadhan seharusnya adalah penawar amarahmu kala mendapati sesuatu yang tak sesuai dengan harapanmu. Ramadhan juga menjadi tameng kala hawa nafsumu coba mengalahkan akal sehatmu.

Ramadhan hanyalah

Baca lebih lanjut

Suatu Malam Bersama Kakek

Malam itu terasa sejuk, udara dari AC bergumul menyesaki ruang mesjid. Sehabis shalat sunat ba’da maghrib, aku tidak langsung pulang ke rumah seperti biasa, karena tiba-tiba aku ingin duduk dekat kakek marbot, jamaah biasa memanggilnya kakek Rusdi.

Jarang aku mengobrol dengan beliau yang usianya kini sudah memasuki kepala tujuh. Tubuhnya yang kurus dan guratan-guratan diwajahnya menunjukkan ke-aki-annya. Namun begitu, ia tetap semangat mengurus mesjid, menghidupkannya setiap lima waktu, menjadi muazzin dan imam solat.

“Nggak pulang kampung Di, libur panjang kan?” Dia langsung menyapaku begitu kuletakkan pantatku di sampingnya. Beliau bilang libur panjang karena hari jumat bertepatan tanggal merah, saat umat Kristiani memperingati wafatnya Jesus.

“Nggak kek, di sini aja nemenin kakek, he… he…” Kakek tersenyum.
“Kakek kemana nih liburan? Masa di mesjid aja.”

“He… he… Nggak ada. Nanti sepala pergi, perginya jauh ya kan.” Memang benar, kakek kalau pergi biasanya ziarah ke Air Batu yang berjarak 3 jam dari Kota Tebing Tinggi, sekali waktu dia pergi ke Jawa dibawa saudara kandungnya. Kalau kakek sudah pergi, maka jamaah akan kelimpungan mencari siapa yang jadi imam solat.

“Kakek nggak kesepian? Tinggal sendiri di mesjid.” Kakek belum menjawab pertanyaanku. “Ceritain lah kek tentang nenek.”

Dia tersenyum, memang sepertinya tersenyum, walau

Baca lebih lanjut