Tinju

image

Bah, menang pulak si Mayweather ini betinju sama si Pacman. Kok bisa ya, padahal sepanjang pertandingan dia asik belari kincah kirap kesana-kemari menghindari pukulan si Pacman. Sesekalinya dia mukul, itu pun banyakan tak kenaknya. Apa ada kecurangan sama juri, tak taulah awak. Awak cuma menonton langsung dari tipi nya, itu pun tak full karena menyambil main internet ataupun terkencing ke kamar mandi.

Sebenarnya bisa nya kita tengok dari slow motion yang ditayangkan setiap jeda ronde. Tapi tipi Indonesia ni kalo menayangkan tinju asik iklaaan aja yang ditonjolkan. Entah iklan apa ajalah, sampe layar tipi pun bisa tiba-tiba berubah jadi kecil karena si iklan harus nongol di tengah pertandingan. Iklan ini tak hanya di pertandingan tinju aja nya, di pertandingan sepak bola yang tayang di tipi pun gitu jugak. Akhirnya, tak bisa lah tetengok slow motionnya. Entah pukulan siapa yang kenak, entah siapa yang meleset. Tapi sepanjang pertandingan

Baca lebih lanjut

Suatu Malam Bersama Kakek

Malam itu terasa sejuk, udara dari AC bergumul menyesaki ruang mesjid. Sehabis shalat sunat ba’da maghrib, aku tidak langsung pulang ke rumah seperti biasa, karena tiba-tiba aku ingin duduk dekat kakek marbot, jamaah biasa memanggilnya kakek Rusdi.

Jarang aku mengobrol dengan beliau yang usianya kini sudah memasuki kepala tujuh. Tubuhnya yang kurus dan guratan-guratan diwajahnya menunjukkan ke-aki-annya. Namun begitu, ia tetap semangat mengurus mesjid, menghidupkannya setiap lima waktu, menjadi muazzin dan imam solat.

“Nggak pulang kampung Di, libur panjang kan?” Dia langsung menyapaku begitu kuletakkan pantatku di sampingnya. Beliau bilang libur panjang karena hari jumat bertepatan tanggal merah, saat umat Kristiani memperingati wafatnya Jesus.

“Nggak kek, di sini aja nemenin kakek, he… he…” Kakek tersenyum.
“Kakek kemana nih liburan? Masa di mesjid aja.”

“He… he… Nggak ada. Nanti sepala pergi, perginya jauh ya kan.” Memang benar, kakek kalau pergi biasanya ziarah ke Air Batu yang berjarak 3 jam dari Kota Tebing Tinggi, sekali waktu dia pergi ke Jawa dibawa saudara kandungnya. Kalau kakek sudah pergi, maka jamaah akan kelimpungan mencari siapa yang jadi imam solat.

“Kakek nggak kesepian? Tinggal sendiri di mesjid.” Kakek belum menjawab pertanyaanku. “Ceritain lah kek tentang nenek.”

Dia tersenyum, memang sepertinya tersenyum, walau

Baca lebih lanjut

Mimpi Buruk

Ketika tidur kita akan mengalami peristiwa yang aneh, mimpi. Ada mimpi indah dan ada mimpi buruk. Kita tidak dapat memilih antara keduanya ketika hendak tidur bahkan ketika tidur. Namun kita bisa mencegah mimpi buruk datang, yaitu dengan cara tidak tidur.

Mimpi buruk katanya tidak boleh diceritakan. Mimpi indah barulah boleh. Kalau saya malah sering lupa. Kecuali mimpi buruk yang membuat sampai terjaga biasanya akan selalu teringat. Seandainya aja kita bisa mengatur mau mimpi apa malam ini, tentu kita akan selalu mengarang mimpi-mimpi yang indah. Mau mimpiin artis idola, orang yang kita suka atau mimpiin kota-kota atau tempat favorit yang belum pernah dikunjungi. Terserah apa saja dan kita pun menikmatinya di alam mimpi.

Mimpi terkadang menyimpan rahasia kehidupan yang ada hubungannya dengan masa depan. Jika engkau ingat mimpimu, catatlah agar esok dan seterusnya engkau masih tetap mengingatnya, maknailah mimpi yang engkau alami itu karena pada suatu hari kamu akan mengalami sebuah kejadian yang ada hubungannya dengan mimpi itu. Kamu akan mengatakan “Sepertinya ini ada hubungannya dengan mimpi kemarin.”

Saya pernah mengalami mimpi yang sepertinya Baca lebih lanjut

Panitia Lomba

Itu adalah hari sabtu pagi, ketika pagi itu aku dua kali datang ke mesjid. Yang pertama untuk shalat subuh dan kedua untuk membantu persiapan pelaksanaan MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) yang diadakan di mesjid kelurahan tempatku tinggal.

Bangku-bangku plastik telah tersusun rapi, mimbar tempat mengaji sudah dihias indah, cuaca juga mendukung karena matahari entah kemana. Dekorasi yang sederhana namun orang tidak perlu menebak kalau di mesjid ini sedang mengadakan lomba MTQ, karena sudah ada spanduk terpasang di pagar mesjid yang menjelaskan hal itu.

Ada tiga tingkatan yang diperlombakan dalam MTQ tingkat kelurahan ini, tingkat anak-anak, remaja dan dewasa. Untuk tingkat anak-anak, peserta begitu membludak, tingkat remaja juga. Sedangkan tingkat dewasa sangat miskin peminat karena hanya diikuti dua peserta untuk tingkat putra dan dua peserta untuk tingkat dewasa putri. Lucunya, tingkat dewasa putri diikuti kakak beradik sehingga mereka menjadi juara satu dan dua, sedangkan tingkat dewasa putra tadinya hanya terdaftar satu orang, untungnya salah satu teman panitia segera mengabari seorang temannya yang masih dalam wilayah kelurahan tempat dilombakannya MTQ itu untuk menjadi peserta. Tentu saja mau karena apapun ceritanya, juara dua sudah di tangan.

MTQ ke-47 Kelurahan Tebing Tinggi

MTQ ke-47 Kelurahan Tebing Tinggi

Aku ditawarin juga untuk menjadi peserta dewasa putra, supaya peringkat tiga ada juaranya. Hahaha, apa kata dunia kalau panitia ikut jadi peserta. Apalagi kapasitas mengajinya kalah jauh sama tingkat remaja. Mereka bisa menguasai beberapa jenis qiraah dan melantunkannya dengan baik. Lah aku cuma mengaji biasa seperti membaca wirid yasin.

Lagian aku sudah punya tugas sendiri. Jadi juru foto MTQ, itupun atas inisiatif sendiri setelah melihat tidak ada petugas panitia yang mengabadikan acara ini ke dalam dunia digital. Buru-buru aku pulang ke rumah mengambil kamera semi pro ku. Itung-itung fotonya nanti bisa jadi pendukung waktu update blog. Hehehe…

MTQ tingkat kelurahan ini memang sangat ramai, ya… ramai peserta maksudnya. Beda sama acara kibotan (keyboard) yang bisa membuat jalan macet karena ramai penonton dan ramai orang berjualan. Di acara MTQ ini paling banter orang jualan rujak dan bakso bakar. Coba kalau pasar malam atau kibotan, mau jualan apa aja ada, dari balon gas sampai jual gasnya juga ada.

Intinya sih cuma mau bilang kalau Baca lebih lanjut

Antara Rumah Kontrakan dan Tetangga

Nggak kerasa ternyata udah genap setahun aku menempati rumah kontrakan yang panas ini kalau lagi musim panas. Itu artinya harus nyiapin duit buat bayar kontrakan lagi untuk setahun ke depan. Sempat juga terfikir mau nyari kontrakan baru yang lebih murah, tapi mikirin nyari rumah dan harus angkut barang membuat niat itu lebih baik dipadamkan.

Sedikit kugambarkan keadaan rumah kontrakanku. Dia memiliki dinding beton, atapnya seng, lantainya keramik dan plafonnya asbes, dilengkapi dengan air sumur bor dan dari PAM juga dialiri listrik dari PLN. Kok seperti laporan taksasi ya…

Di dalamnya terdapat dua kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga dan 2 kamar mandi. Dapurnya juga ada sehingga kami bisa memasak. Dapurnya dilengkapi dengan rak kayu yang menempel di dinding tetapi tidak berjalan-jalan seperti cicak. Di dalam rak-raknya bisa diletakkan bahan-bahan dan alat-alat memasak. Di bawah meja dapur terdapat sekat-sekat yang dapat digunakan untuk menyimpan tabung gas, fungsi lainnya adalah tempat kecoa bersembunyi.

Istriku bilang rumah kontrakan sudah dibayar. Wah aku senang sekali. Dia memang pintar memanfaatkan uang pemberian suaminya. Jadi sekarang nggak takut kalau diusir sama si empunya rumah. Dengan diterimanya uang kontrakan setahun, maka akan amanlah untuk setahun ke depan. Istriku juga bilang kalau si empunya rumah mau menitip aquariumnya.

“hah, kapan?” tanyaku.

“Belum tau, nanti dia akan bilang kalau jadi. Cuma mau kita letakkan dimana ya? Kan kita tidak punya meja untuk tempat aquariumnya?”

“Nanti kita beli.”

“Pakek duit abang ya?”

‘Hah?”

“Nanti mau  pelihara ikan apa?”

“Ikan gembung aja.”

“Udahlah, nggak serius kalau ditanya.” Istriku mulai ngambek.

“Iya, kan sering beli ikan, daripada diletak di kulkas, kan mending diletakkan di aquarium dulu.”

Akhirnya percakapan terhenti sampai disitu karena dia beneran ngambek.

Dibalik rasa senang telah melunasi sewa kontrakan, ternyata ada rasa sedih yang mengiringi, karena disaat yang bersamaan, Baca lebih lanjut

Sahabat Dunia Akhirat

Sahabat itu adalah teman, teman belum tentu sahabat. Sahabat itu adalah sisi kita yang lain. Itu kenapa ada pepatah Islam, jika ingin mengetahui seseorang, lihat siapa sahabatnya. Karena kita dan sahabat boleh dikata seperti cermin yang selalu menampilkan siapa kita sebenarnya.

Mencari teman itu gampang, tapi mencari sahabat itu sulit. Tentu saja sulit mencari orang yang tidak mau berbasa basi, yang mau menyampaikan kekurangan kita, mengkritik kita, menyampaikan sesuatu yang benar dan memperbaiki kesalahan kita, turut merasakan apa yang kita rasakan (empati), saat kita bersedih ia akan hadir memberikan semangat, saat kita senang dia turut berbahagia.Ketika ada seseorang yang bisa melakukan hal semacam itu, maka ia telah menjadi sahabat kita.

Sahabat tentu saja tidak harus seagama bila persahabatan itu semata urusan duniawi. Namun bagaimana kita bisa melangkah dengan bijak dan tetap pada aturan ilahiyah dalam bekerja atau beraktivitas, maka kita tidak hanya membutuhkan sahabat yang seagama, namun juga sahabat yang punya ilmu agama, cukup itu saja? Tidak, karena jika punya ilmu agama tetapi tidak melaksanakannya, maka kita akan terpercik api kemunafikan darinya.

Sadar atau tidak, langkah yang kita ambil atau keputusan yang kita buat sedikit banyak dipengaruhi sahabat kita. Bila bersahabat dengan tukang las, maka engkau bau asap, bersahabat dengan penjual parfum, niscaya engkau pun ikut menjadi harum. Maka pemilihan sahabat itu lebih penting dari pada memilih presiden, salah memilih presiden menyesalnya sampai 5 tahun, itu pun kalau tidak keduluan dilengserkan, namun salah memilih sahabat bisa salah tujuan, tak selamat badan keseberang.

Apakah sahabat bisa tak bersahabat atau terputus? Bisa saja apabila Baca lebih lanjut

Karang Anyar, Bak Telaga Mempesona

Jernihnya Karang Anyar, tenangkan hati

Jernihnya Karang Anyar, tenangkan hati

Kalau ada tanggal merah di kalender, itu adalah hari yang membuat saya bingung, kemanakah saya harus menghabiskan hari libur ini? Banyak orang menggunakan hari libur untuk pergi rekreasi, sebagian orang menggunakannya untuk beristirahat karena lelah bekerja setiap hari. Sekelompok kecil menghabiskan hari liburnya dengan bekerja lembur,aku sendiri termasuk ketiga golongan itu. Wakwau…

Tidak kebetulan, sanak keluarga dari isteri berkunjung ke rumah saat hari libur kemarin. Ramai sekali, sampai dua mobil. Alhamdulillah, mereka menginap satu malam. Esoknya sebelum kembali pulang, mereka kami bawa dulu jalan-jalan ke tempat wisata di Siantar.

Karang Anyar, dari namanya itu adalah nama sebuah tempat di pulau Jawa sana, tapi di Pematang Siantar, nama Karang Anyar sudah tidak asing lagi karena menjadi nama sebuah tempat wisata Pemandian Alam.

Untuk menuju kesana sangatlah mudah, aktifkanlah GPS lewat ponsel pintarmu, lalu ketiklah tempat kamu berada dan ketiklah tempat tujuan kamu, yaitu Karang Anyar Simalungun, nanti akan muncul map
yang akan menuntunku kesana. He…he…

Itu beneran loh, saya awalnya tidak tahu dimana itu Pemandian Alam Karang Anyar, tapi berkat GPS di smartphone itu, saya dan saudara-saudara saya sampai juga disana, ada juga sih nanya-nanya warga sekedar untuk memastikan jalan yang dilalui itu benar atau tidak.

Bila ditempuh dari kota Medan menuju Pemandian Alam Karang Anyar Kec. Gunung Maligas Kabupaten Simalungun sekitar 128 Km atau kira-kira 2 Km setelah memasuki Kota Pematang Siantar. Jalan yang dilalui tergolong bagus karena sudah aspal, walau ada sedikit bolong disana-sini dan sedikit sempit namun untuk kendaraan roda empat tidak menjadi masalah berarti.

Sampai di gapura atau pos selamat datang kita akan Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 952 pengikut lainnya.