Tahun Baru Rasa Lama

Tidak terasa tahun 2015 berlalu berganti menjadi tahun 2016. Kenapa tidak menjadi tahun 2020 saja ya, biar tiba-tiba sehabis hitungan mundur yang gundul tiba-tiba jadi gondrong, yang SD tiba-tiba udah masuk SMA, yang baru nanam pohon durian tiba-tiba udah jualan pancake durian, yang baru beli motor kreditan tiba-tiba udah lunas. Wah enak sekali ya.

Seluruh dunia menyambut

Baca lebih lanjut

Tentang Sebuah Jam Tangan

jam, tangan ajaib

jam, tangan ajaib

Bercerita tentang jam tidak hanya bicara tentang waktu, tapi bisa juga tentang dinding kalo dia itu jam dinding, atau tentang tangan kalo dia berwujud jam tangan, atau bisa juga tentang macet kalo dia menjelma jadi traffic jam. Dari beberapa jenis jam itu maka ini adalah tentang jam tangan.

Seorang perempuan sedang sibuk memperhatikan deretan jam tangan yang terpajang di stelling kaca sebuah toko jam, ia menunjuk ke salah satu jam jenis analog dan meminta pelayan toko mengeluarkannya dari akuarium jam itu. Diperhatikannya dengan seksama mulai dari tali hingga pernak-pernik yang menempel di antara jarum jam. Pelayan toko pun menyebutkan segala kelebihan jam tangan itu dengan harapan supaya si perempuan yang tampak sudah bersuami itu segera membelinya.

“Ini ori loh bu, bagus tuh dipakai sama bapak.” Penjaga toko mencoba merayu.

Lalu terjadilah tawar menawar harga dan setelah disepakati, perempuan tersebut langsung membayar dan membawanya pulang. Sampai di rumah, ia kemudian membungkus jam tersebut dengan kertas yang indah, didalamnya ia letakkan sepucuk surat yang berisi tentang ucapan selamat ulang tahun dan beberapa pesan yang nantinya ia persembahkan buat orang yang dicintainya, ayah dari anak-anaknya.

“Kanda jam berapa pulang?” Tanyanya lewat telepon selepas kado kecil itu dia persiapkan.

“Mungkin habis  magrib Din, kenapa?” Si suami memanggil istrinya Dinda, bukan Udin.

“Habis magrib itu isya donk…” ujarnya manja.

“Hmm… Habis magrib sebelum isya insya Allah.” Si suami memperbaiki jawabannya dengan dingin.

“Oh, ya sudah. Dinda dah masak nih untuk kanda. Jangan lama-lama ya pulangnya.”

“Iya sayang… Kanda pasti pulang ke rumah. Kanda kan bukan keong. Nggak bawain rumah.”

“Hehe… iya. Kanda memang bukan keong, tapi meong.”

“Ha ha ha”

Baca lebih lanjut

ke Pulau Berhala, the Dream Comes True II

Angin laut menyergap tubuh, menusuk lubang pori-pori, menitipkan hawa dingin ke sekujur tubuh. Namun tetap saja rasa dingin itu tidak lebih terasa ketimbang rasa kesal akibat pancing yang jatuh di dasar laut di bawah dermaga.

berhala bacaanAku dan Miko mencari-cari relawan yang mau menyelam untuk menemukan pancing itu. Kami bertanya pada marinir yang sedang bertugas disitu namun mereka menyarankan besok saja mencarinya. Sekarang sudah malam, air juga sudah pasang, akan sulit menemukannya. Begitu jawab mereka.

Betul juga. Namun kami belum puas. Kami melihat ada acik-acik sekira 2 orang sedang memakai pakaian menyelam. Pakaiannya nampak seperti manset berwarna kecoklatan dan ketat menyatu dengan tubuh. Jika dilihat sekilas akan nampak seperti tubuh telanjang yang berukir lukisan. Kami mencoba mendekati kedua pemuda yang sepertinya mirip bintang film Tiongkok itu dan menyapanya.

“Mau menyelam ya Ko…” Miko sok akrab. Menyapa dengan panggilan Koko, seolah-olah itu adalah abangnya. Padahal bukan.

“Iya.” Salah satu dari mereka menjawab sembari menyiapkan perlengkapan menyelam dan menembak. Kemudian mereka memakai sepatu yang telapaknya sangatlah panjang dan lembek. Seperti kaki katak. Yang seorang lagi membereskan pelampungnya. Di pelampungnya tertulis

Baca lebih lanjut

ke Pulau Berhala, the Dream Comes True

Selamat Datang di Pulau Berhala

Selamat Datang di Pulau Berhala

Pernahkah kamu ke Pulau Berhala? Saya baru sekali dan sepertinya tidak cukup sekali kesana. Jadi saya tetap memasang niat agar suatu hari bisa kesana lagi. Bawa isteri juga. Kalau dia mau.

Pada suatu hari yang agak mendung karena kabut asap. Saya dan teman-teman kantor, maksudnya teman-teman yang satu kantor dengan saya mengadakan kegiatan yang sangat tidak disukai oleh mereka yang tidak kami ajak untuk ikut kegiatan ini. Karena kami akan bertamasya ke Pulau Berhala. Sebuah pulau terluar wilayah Indonesia. Yang masuk dalam kawasan Kabupaten Serdang Bedagai.

Karena saat itu posisi kami di wilayah Sergai, maka kami akan berangkat dari Bedagai dengan menggunakan perahu yang sebelumnya telah kami pesan dan kami bayar uang muka agar dikira mereka bahwa kami serius dan akan rugi jika kami tidak jadi berangkat. Janji untuk berangkat pukul 2 siang seperti yang dibilang pihak travel kami abaikan gara-gara ada kegiatan kantor yang sangat tidak menarik untuk diikuti. Kompetisi Frontliner yang menampilkan kehebatan para satpam, teller dan customer service menampilkan standard layanan dan juaranya akan dikasi makan di hotel ditemani para direksi.

Apa enaknya makan bareng direksi, kan malu kalo mau congok. Gak bisa leluasa gigit lauk sampe bumbunya beterbangan. Dan kalo mau tambah juga jadi segan.

Akhirnya kami relakan kantor cabang menjadi pemenangnya. Sebagai unit kantor dibawahnya, kami rela mengalah demi melihat induk kami bahagia dengan ponten-pontennya. Kami tidak ingin latihan mereka selama ini sia-sia. Jadi kami relakan mereka menang agar mereka bahagia. Bukankah membuat orang bahagia itu berpahala.

Pukul 3 siang kompetisi baru selesai, kami bergegas menuju Bedagai untuk berangkat naik perahu. Jarak dari kantor ke perahu ditempuh 1 jam. Alhamdulillah sampai dengan selamat dan perahu dan orang-orang yang berada di atasnya masih sabar menunggu kami.

Riki dengan topi koboinya membuat pancing. Pancing yang akhirnya dimakan laut

Riki dengan topi koboinya membuat pancing. Pancing yang akhirnya dimakan laut

Semua perbekalan sudah lengkap. Riki sibuk menata benang pancing dan membuat joran agar kami semua yang berjumlah 9 orang bisa ikut memancing semua. Topi koboi yang dikenakannya tidak cocok untuk naik perahu, harusnya naik kuda. Sementara yang lain duduk-duduk nggak jelas.

Waktu itu kabut asap masih tebal. Baca lebih lanjut

Road to Berastagi : Gundaling Sunyi

image

Perdebatan mengenai tujuan rekreasi pada hari libur panjang kemarin akhirnya berakhir ketika diputuskan untuk rekreasi ke Gundaling, Berastagi. Dengan segenap kekuatan dan keikhlasan seadanya, kami pun pergi menuju tempat wisata yang dikenal dengan hawa dinginnya, kota Berastagi dan pasar buahnya yang segarrr.

Hawa dingin di Gundaling bukanlah berasal dari AC, tetapi mungkin dari udara gunung Sinabung yang letaknya tidak jauh dari situ. Karena letaknya di dekat pegunungan, maka tempat ini menyimpan banyak potensi wisata yang sangat recommended untuk didatangi.

Jika kamu lapar, kamu bisa mencicipi manis pedasnya jagung bakar dan jagung rebus di Berastagi. Kamu juga bisa memetik buah strawberry dan jeruk langsung dari pohonnya dan membayarnya sebelum dibawa pulang. Kamu juga bisa mengelilingi Gundaling dengan menaiki kuda atau sado. Tarifnya mulai dari 40 ribu sampai 150 ribu tergantung jarak yang ditempuh. Jangan kuatir. Kudanya bukanlah kuda liar yang bisa melemparkanmu dari pelana. Kamu juga akan diiringi si joki sehingga mengendarai kuda supaya baik jalannya. Hei tuktiktaktiktuk dst…

Kalau di Gundaling, kamu bisa merasakan aroma yang lumayan membuat lobang hidungmu bergerak-gerak menyempit yang berasal dari

Baca lebih lanjut

Tentang sebuah Rumah Sakit

image

Cairan infus

Cuaca di luar sangat panas. Tapi saya merasa kedinginan. Karena saya berada dalam ruangan ber AC, yaitu di dalam kamar sebuah rumah sakit. Nama kamarnya Catelia 1.

Bukan saya yang sakit, melainkan isteri, dari informasi yang kudapatkan dengan bertanya pada pegawai administrasi. Penyakit yang bersemayam di tubuhnya bernama Colic Abdomen. Yaitu suatu penyakit

Baca lebih lanjut

Kala Anak Band Mendapatkan Hidayah

Jika kamu pencinta musik Indonesia, mungkin kamu tidak asing dengan nama grup band seperti Sheila on 7, Matta Band dan Nineball. Ketiga grup band itu telah menetaskan lagu yang easy listening dan memiliki banyak penggemar di seantero Indonesia. Nah, itu tadi bandnya, bagaimana dengan salah satu personel dari setiap band itu ternyata memberi cerita lain bagaimana dunia musik yang selama ini mereka jalani membuka jalan lain untuk mengenal dunia lain, dunia yang membawa mereka lebih mencintai Allah dan Rasulnya. Paling tidak itulah yang terbersit dari apa yang saya saksikan di acara salah satu televisi swasta nasional pada tanggal 21/06/2015.

Sunu saat sebelum dan sesudah Hijrah

Sunu saat sebelum dan sesudah Hijrah

Sunu (Matta Band), Sakti (ex Sheila on 7) dan Ray (Nineball) adalah pemusik yang kini lebih banyak mendedikasikan dirinya di jalan agama. Secara lahiriyah, perubahan itu nampak dari tampilan gaya dan pakaian mereka yang jauh dari kesan sebagai anak band. Mereka nampak lebih santun dalam berbicara, lebih banyak menundukkan pandangan, memelihara jenggot dan berpakaian gamis. Saya sering melihat tampilan seperti mereka yang biasa dikenal dengan istilah Jamaah Tabligh, yaitu sekelompok orang yang memilih jalan dakwah, mengingatkan sesamanya dan menghidupkan sunnah nabi. Terlepas Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.002 pengikut lainnya