Ekspedisi ke Goa Kalong

kolam teh tarik

Berpose sejenak untuk meninggalkan jejak

Kumatikan tivi setelah film Despicable Me 3 selesai kutonton. Film yang sebulan lalu didonlot tapi baru sekarang ditonton. Kubuka lebar pintu depan. Ini hari sabtu Jam 09.00 wib dan di luar sudah panas. Cahaya matahari langsung berebut masuk ke dalam rumah dan membuat aku silau.

Istriku datang menghampiri dan merengek minta raon-raon, mungkin maksudnya round-round. Dia bilang ada tempat wisata baru yang dekat tempat kami tinggal.

“Ayo lah kesana…” pintanya.

“Apa masih ada itu tempat wisatanya? Nanti udah tutup?” Aku teringat sebuah tempat wisata di Sibolangit, telaga dua warna yang sudah ditutup karena longsor sampai menewaskan 19 orang wisatawan lokal. Ada juga yang tutup karena preman setempat seperti warung nasi di sebelah kantor.

“Ya gak tau. Coba cek gugel.”

Itu saran yang sulit dibantah. Entah kenapa sekarang sepertinya tergantung banget sama yang namanya gugel. Ada sedikit hal yang nggak tau langsung buka gugel. Apalagi kalo ada perdebatan soal mitos atau fakta kehidupan berumah tangga, maka penyelesaiannya dengan mengetik keyword di gugel. Gugel seperti kitab suci untuk generasi instan. Termasuk aku kayaknya. Sesat.

“Abang gak ada paket. Pinjam hape adek la.”

Aku ambil hapenya yang tergeletak di atas tivi kubus. Lalu kucari nama lokasi wisatanya dan jarak yang harus ditempuh untuk sampai kesana bila berangkat dari rumahku dengan menggunakan google map. Wow… dekat. Cuma 45 menit bila ditempuh dengan Baca lebih lanjut

Iklan

Arisan yang Luar Biasa

Rombongan arisan yang datang dari Asahan

Ini bulan September. Kata orang ini bulan musim penghujan, padahal sebenarnya ini bulan sembilan. Tetapi benar, hampir setiap hari hujan. Kadang-kadang deras, kadang gerimis, ia adalah orkestra alam yang dirigentnya adalah malaikat Mikail dan tidak ada manusia yang bisa tau dengan pasti hujan akan jatuh kemana, kecuali hanya mengira-ngira saja. Entah apa sebenarnya hubungannya hujan dengan cerita ini, jadi pengen nyanyi Terangkanlah….

Saat itu adalah hari minggu. Hari dimana dilaksanakan arisan keluarga besarku yang kali ini mendapat giliran adalah kakakku yang tinggal di Kota Lubuk Pakam. Maka peraturannya adalah, segenap peserta arisan keluarga haruslah datang ke tempat yang mendapat giliran. Baik itu yang berasal dari tempat yang dekat maupun dari tempat yang jauh. Namun apabila ada yang berhalangan untuk datang, hal itu tidaklah mengapa. Biasanya untuk peserta yang tidak datang akan menitipkan salam pada yang datang berikut alasannya mengapa tidak bisa datang. Karena itu adalah arisan keluarga, maka pesertanya adalah seluruh keluarga yang hubungan persaudaraannya berdasarkan garis patrilineal.

Baca lebih lanjut

Permata yang Hilang

spon

Kini setiap hari aku selalu mendapat spon segi empat berwarna merah atau kuning. Spon bernomor dengan ukuran kira-kira 4×4 cm, kadang-kadang ukurannya 4×3 cm, 4×5 cm dan tidak pakai sama dengan.

Spon itu kuperoleh dari pemilik parkir kereta pada pagi hari setelah aku menitipkan keretaku padanya oleh karena aku akan pergi ke kantor dengan naik angkot.

Di tempat parkir itu berjajar berbagai jenis kereta yang didominasi merek Honda dan Yamaha. Suzuki mungkin ada tapi tidak aku perhatikan. Mereka semua ada pemiliknya, yaitu para pekerja yang berangkat pagi-pagi sepertiku, ada anak sekolah dan ada yang menitip saja daripada khawatir tidak aman bila  ditinggal di rumah sementara dia pergi beberapa hari.

Aku perlu menitipkan keretaku disitu agar aku tidak repot naik kereta sampai ke kantor yang jauhnya memakan waktu 1 jam. Selain itu, istriku juga tidak mengizinkan aku naik kereta ke kantor karena nanti wajahku jadi hitam, kotor dan jadi jelek. Kalau jelek, aku jadi menyesal kalau jumpa cermin.

Sebenarnya aku bisa saja tidak menitipkan keretaku disitu asalkan aku diantar setiap hari ke tempat biasa aku menunggu oleh istriku. Namun setelah kupikir masak-masak sampai gosong, itu tidaklah baik. Selain kelihatan manja dan tidak mandiri juga jadi merepotkan istri.

Kakek penjaga tempat penitipan kereta itu sepertinya sudah tua karena rambutnya didominasi warna putih. Bila aku tiba menitipkan keretaku, dia akan mendatangiku dengan Baca lebih lanjut

Belah Duren di Musim Hujan

Di kota Tebing Tinggi saat ini lagi musim hujan. Tapi itu biasa. Yang tidak biasa adalah musim durian. Di jalan-jalan protokol terlihat buah berduri itu beselemak peak di pinggir jalan baik di atas trotoar maupun di atas mobil pick up. Bentuk buah duriannya pun bermacam-macam. Ada yang oval seperti telur. Ada yang berbentuk seperti pepaya. Ada yang sudah dibelah dan ada yang tinggal kulitnya karena sudah dimakan. Entah oleh siapa.

Gerombolan durian itu memang nampak menggoda jika dilihat sambil lalu dan korban dari godaan durian itu adalah isteriku. Malam itu sewaktu menjemputnya dari tempat kerja untuk pulang, dia bertanya dengan kalimat mencurigakan.

“Abang nggak pengen makan durian?”

Aku yang mendadak mendapat pertanyaan seperti itu segera merespon dengan cepat.

“Mmm… Kenapa? Adek kepengen durian ya?”

Dia tidak menjawab. Kata guru MAN ku dulu, kalau perempuan ditanya sesuatu dan dia diam, itu tanda setuju. Tapi guruku mencontohkan anak perempuan yang mau dijodohkan sama bapaknya. Mungkin bisa dianalogikan sama kejadian ini.

“Ya udah, kalo kepengen abang putar lagi nih keretanya.” Lalu kuputar keretaku dengan jari telunjuk seperti pemain basket profesional. Ada senyum diwajahnya. Itu artinya dia senang bakal makan durian dan lebih senang lagi kalau aku yang mentraktir.

Checkpoint durian itu ada di persimpangan. Kulihat beberapa buah durian tersusun rapi di atas mobil pick up. Aku memakirkan keretaku lalu memilah-milih durian, mengciumnya dengan hati-hati, meraba-raba durinya.

“Durian dari mana ini bang?” Tanyaku sama laki-laki tanggung yang ada di samping mobil pickup itu.

“Nggak tau.”

“Berapa bang harga yang ini?” Tanyaku sambil menunjukkan buah durian yang paling besar. Pastilah ini raja durian. Karena dia yang paling besar diantara durian yang ada disitu.

“Nggak tau.”

“Lho, abang yang jual?” Aku mulai emosi karena jawabannya selalu tidak tau.

“Bukan.”

“Dasar kampretos. Kirain yang jualan.” Tapi dalam hati.

Tak lama keluar anak laki-laki tanggung dari dalam mobil dan mendekati kami lalu pura-pura ramah. Pastilah orang ini yang jualan.

Kuulangi pertanyaan yang salah sasaran tadi. Katanya durian-durian ini dari Sipispis. Sebuah daerah yang letaknya tidak jauh dari kota Tebing Tinggi.

“Berapa harga yang ini?” Tanyaku sambil menunjukkan durian yang besarnya agak sedikit lebih kecil dari helm LTD.

“Kalo yang itu dua puluh ribu bang.”

“Kok mahal kali.”

“Wiiihhh… udah murah itu bang.”

“Kan durian dari Sipispis biasanya murah.”

“Wiiihhh… sama aja itu bang.”

Nggak kutanya “sama aja” itu maksudnya sama durian yang mana.

“Lima belas ribu ya, biar ambil dua.”

“Wiiihhh… janganlah bang.”

Anak tanggung ini selalu menjawab pake WIIIHHH… sambil mengayunkan kepalanya. Aneh.

Aku memilih-milih lagi. mencium dan meraba-raba lagi. Kubanting pelan durian itu ke lantai pickup. Biasanya kalo durian yang isinya lemak itu agak menggema bunyinya. Beppp… gitu.

Tiba-tiba yang kutanya tadi lari bersama seseorang yang berjenis kelamin sama dengan dia. Sepertinya mereka berebut masuk ke dalam mobil. Kudengar sepintas kalau anak tanggung yang ngomong pake wiiihhh tadi udah ngantuk dan dia mau tidur. Sedangkan partnernya entah baru kembali darimana dan harus gantian melayani pembeli.

Anak tanggung yang baru muncul tadi mendekatiku.

“Yang mana bang?” Dia nanya.

“Yang ini sama yang ini ya. Berapa harganya?” Aku menunjuk dua buah

“Tiga puluh lima ribu aja bang.” Dia jawab sambil megang pisau. Dia pasti bukan mau nodong.

“Mahal kali. Tiga puluh ribu ya.”

Dia mengangguk, terus pisaunya dia buat untuk memotong tali. Padahal tali itu bukan ayam.

Isteriku tadinya mau makan di tempat itu juga. Tapi akunya bilang di rumah aja. Supaya kalau tidak habis dimakan bisa disimpan di tupperware atau dikolak besoknya. Karena isteriku baik budi, dia menurut. Menurut siapa? Menurutku. Mungkin setan jahat bilang, “dasar suami egois”. Eh, jadi suudzon sama setan. Selepas si penjual mengikat durian itu, aku pun pulang sambil membawa isteriku yang menenteng durian.

Makan durian di lapak penjualnya itu sebenarnya seru. Kita nggak perlu belah duren sendiri jadi gak takut kena durinya. Kalau misalnya duren yang dibelah itu busuk atau mentah, bisa langsung ditukar sama durian juga. Sampai-sampai muncul sinetronnya “Durian Yang Tertukar”. Terus kalau makan disitu kita bisa pamer sama orang-orang yang lewat di situ, sama tukang parkir, sama orang yang jualan juga. Kulit duriannya menjadi tanggungjawab yang jualan karena tidak diwajibkan untuk dibawa pulang. Terus kalau kurang, kita bisa langsung pilih dan beli lagi. Repotnya adalah kalau mau cuci tangan dan mau ngelap mulut sehabis makan duren. Itu penjual cuma ngasi kobokan dengan air yang sedikit dan kain lap yang kumal. Hiiii… mulut siapa aja lah yang udah nempel disitu. 

Sementara kalau makannya di rumah agak sedikit kurang nyaman sama tetangga. Bau durian itu bisa memancing tetangga jadi kepingin durian atau bisa juga jadi mual kalau tetangga itu alergi durian.

Akhirnya aku belah durennya di rumah dan warnanya sedikit kekuningan. Orang menyebutnya itu durian tembaga. Ada juga yang menyebutnya durian mentega. Tapi perbedaan nama itu tidak menjadi masalah buat durian. Karena yang terpenting itu bukanlah bagaimana cara memakannya atau dimana memakannya, tapi bagaimana cara membelahnya dan sepertinya saat itu sedang turun hujan.

10# Kerajaan Bedogol di Ujung Tanduk

image

Ini tahun yang sangat panas dirasakan rakyat kerajaan Bedogol. Matahari seperti ada dimana-mana. Kata tuan-tuan yang singgah tempo hari di istana. Ini adalah tahun beruk api, panas macam pantat kuali habis mengaco dodol.

Ingin tahukah kamu siapa gerangan yang singgah tempo hari di istana. Mereka adalah sekawanan isteri-isteri para petinggi istana pusat. Perlu kiranya kawan fahami, bahwa kerajaan bedogol merupakan kerajaan kecil yang mana ianya memiliki induk kerajaan. Induk kerajaan ini berada di padang yang sangat luas dan ramai. Para hulubalang bila ditanya satu persatu, maka semua akan memilih tinggal di induk istana yang megah itu. Namun tak dapat semua menuju kesana jika tidak ada prestasi ataupun handai taulan yang menjadi petinggi disana.

Para isteri-isteri petinggi itu singgah sejenak di kerajaan bedogol adalah untuk

Baca lebih lanjut

Road to Berastagi : Gundaling Sunyi

image

Perdebatan mengenai tujuan rekreasi pada hari libur panjang kemarin akhirnya berakhir ketika diputuskan untuk rekreasi ke Gundaling, Berastagi. Dengan segenap kekuatan dan keikhlasan seadanya, kami pun pergi menuju tempat wisata yang dikenal dengan hawa dinginnya, kota Berastagi dan pasar buahnya yang segarrr.

Hawa dingin di Gundaling bukanlah berasal dari AC, tetapi mungkin dari udara gunung Sinabung yang letaknya tidak jauh dari situ. Karena letaknya di dekat pegunungan, maka tempat ini menyimpan banyak potensi wisata yang sangat recommended untuk didatangi.

Jika kamu lapar, kamu bisa mencicipi manis pedasnya jagung bakar dan jagung rebus di Berastagi. Kamu juga bisa memetik buah strawberry dan jeruk langsung dari pohonnya dan membayarnya sebelum dibawa pulang. Kamu juga bisa mengelilingi Gundaling dengan menaiki kuda atau sado. Tarifnya mulai dari 40 ribu sampai 150 ribu tergantung jarak yang ditempuh. Jangan kuatir. Kudanya bukanlah kuda liar yang bisa melemparkanmu dari pelana. Kamu juga akan diiringi si joki sehingga mengendarai kuda supaya baik jalannya. Hei tuktiktaktiktuk dst…

Kalau di Gundaling, kamu bisa merasakan aroma yang lumayan membuat lobang hidungmu bergerak-gerak menyempit yang berasal dari

Baca lebih lanjut

Tentang sebuah Rumah Sakit

image

Cairan infus

Cuaca di luar sangat panas. Tapi saya merasa kedinginan. Karena saya berada dalam ruangan ber AC, yaitu di dalam kamar sebuah rumah sakit. Nama kamarnya Catelia 1.

Bukan saya yang sakit, melainkan isteri, dari informasi yang kudapatkan dengan bertanya pada pegawai administrasi. Penyakit yang bersemayam di tubuhnya bernama Colic Abdomen. Yaitu suatu penyakit

Baca lebih lanjut