The Road: Bertahan Ditengah Ketidakpastian

Seorang ayah dan anaknya menyusuri kota di Amerika yang luluh lantak dihantam perang dan bencana alam. Yang terlihat hanyalah padang gersang, pohon-pohon kering tak berdaun, gedung-gedung runtuh dan jalanan yang dipenuhi bangkai mobil.

Ayah dan anak laki-laki itu bertahan hidup sebisa mungkin dari kelaparan. Mereka pun harus menghadapi bahaya dari penjarah dan manusia yang menjadi kanibal, membunuh dan memakan setiap orang yang mereka temui.

Mereka menyusuri kota, masuk ke rumah-rumah yang tak lagi berpenghuni mencari apa yang bisa dimakan. Saat malam tiba, mereka berlindung di kolong jembatan, suatu kali di pipa air dengan tubuh menggigil menahan dinginnya malam.

Dalam perjalanannya ke Selatan, mereka hanya membawa sepucuk pistol dengan dua peluru aktif. Satu peluru akhirnya terpakai saat sang Ayah menembak seorang anggota geng kanibal yang menyandera anaknya di hutan. Praktis tinggal sebutir peluru yang mereka harapkan bisa melindungi mereka dari setiap bahaya yang muncul.

Insting sang ayah telah membawa mereka menemukan sebuah gudang penyimpanan makanan bawah tanah. Beberapa malam mereka hidup “enak” didalamnya hingga suatu hari mereka terpaksa meninggalkan tempat itu karena khawatir saat mendengar langkah manusia di atas gudang makanan itu. Itu artinya, cepat atau lambat tempat mereka akan segera diketahui orang lain.

Dengan membawa bekal makanan dari gudang tersebut, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke Selatan. Mencari dunia yang masih menyisakan kehidupan. Diperjalanan, mereka berjumpa dengan seorang kakek yang masih percaya bahwa sisa hidup sangat berharga untuk dijalani sesakit apapun itu.

Mereka juga harus berjuang merebut kembali bahan makanan mereka saat seorang gelandangan berkulit hitam dan menghukumnya dengan menelanjanginya dan mengambil seluruh pakaiannya. Padahal saat itu sedang musim dingin. Konflik muncul saat si anak memberontak perlakuan Ayahnya terhadap si gelandangan. Akhirnya mereka kembali mencari si gelandangan, sayang mereka tak menemukan gelandangan itu lagi. Si anak berharap gelandangan tersebut masih ada dengan meninggalkan pakaian dan sekaleng makanan di tempat itu.

Ayah dan anak tersebut berada di bibir pantai, berharap ada kapal yang membawa mereka menemukan kehidupan baru, namun sang Ayah akhirnya meninggal dunia akibat luka terkena panah dan letih yang ia derita. Sebelum meninggal, sang Ayah meminta anaknya untuk tidak menyerah dan meneruskan perjalanan ke Selatan.

Kisah di atas adalah serpihan cerita dari film The Road, sebuah film yang diangkat dari novel karya Cormac Mc. Carthy yang memenangi penghargaan Pulitzer pada tahun 2006. Film ini diperankan dengan ciamik oleh Viggo Mortensen (Ayah) dan Kodi Smit-McPee (anak).

Dalam kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa bagaimana pun sulitnya kehidupan, jangan sampai kita berputus asa untuk mencari jalan keluar setiap persoalan yang muncul. Kita juga diajarkan makna kehidupan yang mungkin tinggal beberapa detik saja kita jalani, karena hidup itu adalah anugerah yang melahirkan pengalaman dan kebijaksanaan.

Seberapa pedih dan sulitnya menjalani kehidupan, tetaplah optimis seolah-olah menyalakan api di dalam dada karena api itu yang akan membawa kita pada sebuah jalan keluar dari kehidupan yang kelam.

Putus asa sama dengan memadamkan api di tengah perjalanan malam. Kita hanya akan diam, tidak dapat berbuat apa-apa. Bukan menyalakan lilin, tapi malah terus meratapi kegelapan. Hanya penderitaan yang akan menjadi teman setia dan membawa pada kematian yang menyakitkan. Jika pun segala upaya dilakukan namun tetap gagal, kita tidak lah mesti terlalu kecewa karena ada beragam hikmah yang lahir dari kegagalan itu dan Tuhan tentu mendengar permohonan kita, lalu memberikan ganjaran yang akan kita terima di suatu hari kelak dari setiap usaha yang dilakukan, di setiap langkah dalam perjalanan.

Masih banyak pelajaran yang bisa dipetik dari film ini, kondisi social dan penggambaran yang muncul dari setiap tokoh-tokohnya serta hubungan emosional yang dibangun oleh Ayah terhadap sang anak

14 Tanggapan

  1. Gw juga dah pernah nonton film ini.
    seram bangat dan ga bisa kebayang kalo itu terjadi.
    Yang paling mengerikan adalah ketika Sang Ayah menemukan ruang bawah tanah yang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang kelaparan…
    serem…

    ya mbak, banyak adegan mengerikan dan mengharukan dalam film ini, begitu mungkin ya dampak perang yang sangat dahsyat

  2. saya sudah nonton juga, wuih emang mantap nih pilem.

    iya, saya suka sekali, begitu dramatis🙂

  3. Kalo q c. .blum pnah nonton. . .tp trlhat menyerapkan bget. . .

    Sekalian nieh mw
    Mohon dukungan, dan bantuaannya. .atas keikut sertaan blog saya, pada lomba blog tingkat SMA, sdrajat, mohon kunjungan baliknya dan komentarnya pada postingan ‘KETUA, WAKIL, SEKERTARIS, ITU HANYALAH STATUS’, agar blog saya mendapatkan nilai plus pada poin interaksi dgan pngunjung, atas dukungannya trimakash.

    maksudnya menyeramkan ya…
    oke deh, langsung ke TKP untuk memberikan dukungan, terima kasih juga sudah berkunjung kemari.🙂

  4. Setuju nih film emang keren. Cerita dan aktingnya berhasil bikin perasaan penontonnya campur aduk. Aku aja ampe nangis nontonnya. ngeliat kondisi mereka yang kurus dan mulai penyakitan gitu betul2 merasa miris. semoga bumi kita ga ngalamin hal seperti di film ini. Amiiiin….😀

    Amin,,, tapi cit, kalo gak mau ngalamin kayak gini, mending minta cepat mati aja, haha…😀

  5. wah, baca sinopsisnya disini, kayaknya film ini bagus banget ya Bang.
    salam

    iya bunda, filmnya bagus dan kelam

  6. Wah saya belom ntn, kykny mantep y alur ceritanya… Inspiratif, nice share gan..😀

    lumayan mantep gan… ayo diburu gan😀

  7. seru juga filmnya, boleh juga untuk liburan sabtu depan. thx to infonya dan saya tunggu kunjungannya di blog saya. salam pesahabatan

    ya, sama sama mas… nantikan daku ke blog mu😀

  8. wah…
    makasih sinopsisnya…
    jadi ga sabar nonton deh😀

    iya terima kasih juga udah mampir mas…

  9. Aju juga pernah kayaknya liat, benar2 bagus😀

    kok kayaknya😀

  10. belom pernah nonton
    cari trailernya dulu ah

    kalo bagus gue donlot

    tks infonya!

    sama-sama… semoga ketemu trailernya🙂

  11. aku jg blom pernah nonton
    tapi kayaknya filmnya bagus banget
    memang hidup itu harus dengan pengorbanan🙂

    iya donk, mesti berkorban baru tau nikmatnya perjuangan

  12. Kunjingi jg blogku donk mas, lg sepi nich…😦

    kenapa sepi, bikin pesta dunk…

  13. Jadi pengin lihat mas sepertinya keren nih Film😀

    emang keren bro.. makasih dah mampir

  14. Ketika kita dihadapkan dengan suatu pilihan : membantu orang lain atau mempertahankan diri? sungguh dilema bagi saya. Ketika sang Bapak menelanjangi orang yang mengambil barang2nya, saya gak tega. tetapi dsisi lain sang bapak ada benarnya. hm. Itulah kehidupan.

    Yang membuat saya sedikit bingung? di ending nya kok keluarga itu mengikuti kedua tokoh utama itu ya????
    2 orang suami istri, 2 anak dan satu anjing. Ingat waktu di dlm bunker, sang bapak merasa terancam karena ada suara seseorang/anjing?
    mengapa mereka mengikutinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: