Nenek Koprolalia

Seperti biasa, aku berangkat pagi-pagi sekali ke kantor yang jaraknya lumayan jauh dari rumah dan harus ditempuh dengan angkutan umum. APV yang disulap menjadi angkutan umum berwarna hijau dan aku berada didalamnya bersama 6 orang penumpang yang tiada kukenal.

Di pertengahan jalan, tepatnya di Desa Sei Buluh, naiklah seorang penumpang berjenis kelamin perempuan dengan rambut yang sudah memutih dan memakai pakaian. Aku pastikan dia seorang nenek. Belum lagi ia duduk, mopen alias mobil penumpang itu bergerak sehingga tubuhnya terdorong ke depan dan meluncurlah kata-kata mutiara dari mulutnya karena terkejut.

“Eh eh k****l bapakmu.”

Penumpang yang ada di dalam termasuk aku menoleh ke nenek itu. Baru saja dia mengatakan sesuatu yang tidak pantas diungkapkan di depan umum karena kata itu adalah organ genital laki-laki yang diucapkan dalam bahasa jawa dan terdengar kasar. Setelah nenek itu duduk, dia pun merepet dan setiap kalimat yang diucapkan terselip kata itu lagi. Penumpang yang mendengarnya ada yang tersenyum dengan kening berkerut, ada juga yang memandang sinis dan aku memandang sambil menggeleng, “astaghfirullah…”

Latah, itulah kata yang tepat atas prilaku yang dibuat nenek itu. Latah menurut kamus bahasa Indonesia adalah menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; dan selanjutnya ketika kata latah dipasangkan dengan mulut berarti mengungkapkan kata-kata jorok (yang tidak pantas). Jadi nenek itu menderita sakit saraf yang mana bila terkejut ia tidak dapat mengendalikan emosinya untuk mengatakan sesuatu yang tidak baik, tabu atau kotor tanpa mengenal tempat dan waktu. Sungguh ini kesimpulan yang luar biasa.

Nenek itu sepertinya mengalami latah koprolalia yakni apabila ia latah selalu mengucapkan kata-kata yang dianggap tabu atau kotor. Jika sudah begitu, maka yang mengajaknya bicara siap-siap saja telinganya mendengar ujaran kotor dan pembicaraan pun jadi tidak etis. Orang akan lebih berhati-hati bahkan cenderung menghindari berkomunikasi dengan orang latah koprolalia.

Seperti yang terjadi saat nenek latah ini duduk di bangku mopen, disebelahnya, seorang kakek bertanya ramah padanya.

“Arep neng endi bu?” (Mau kemana bu?)

“Anu eh k****l, kae k****l. Arep neng simpang bedage…”

Kakek itu tidak bertanya lagi. Karena satu pertanyaannya itu membuat organ genitalnya disebut dua kali. Aku tidak bisa membayangkan jika nenek ini bermain-main dengan cucunya yang masih kecil. Mungkin cucunya akan bertanya. Makhluk apa itu nek?

Aku tidak akan membahas sebab munculnya latah dan bagaimana cara mengatasinya karena itu sama sekali bukan keahlianku. Aku hanya mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi di sekitar. Seperti pada kasus ini, aku jadi belajar psikologi 😁.

Banyak orang yang mengalami latah seperti nenek itu, tidak bisa mengendalikan emosi lalu mengatakan hal-hal yang terbersit dalam pikirannya. Apa yang ada dalam alam pikiran kita sesuai dengan apa yang keluar dari mulut kita. Sama seperti teko yang diisi dengan air sirup maka yang keluar juga sirup. Begitu juga diri kita, apabila kita sering mengisi ruhani kita dengan hal yang baik, maka prilaku yang kita tampilkan juga baik, sejalan antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Jika tidak, mungkin kita sedang melakukan penghianatan terhadap salah satunya. Jika demikian, apakah orang latah koprolalia berarti karena tidak menjaga pikiran dan perbuatannya dari hal-hal tidak baik. Ya, mungkin saja ia tidak menjaga dirinya dari lingkungan yang tidak baik.

###

Mopen itu berhenti menurunkan penumpang berpakaian putih, sepertinya seorang petugas kesehatan. Kesempatan itu digunakan si nenek berpindah tempat duduk ke belakang. Tepat disampingku. Aku tidak akan bertanya apa-apa padanya. Cukup kakek tadi saja yang jadi korban.

“Aku nggak bisa kalo nggak merokok.” Katanya sambil mengais plastik kresek yang dibawanya. Didalam plastik itu bercampur rokok batangan dan uang pecah kertas dan koin.

Alhamdulillah… aman. Nggak ada kata itu.

“Maaf ya dek. Aku ngerokok.” Dia bilang itu padaku. Tangannya sudah mendapatkan sebatang rokok dan mancis.

“Buka lebar nek jendelanya.” Pintaku padanya supaya asap rokoknya tidak menyerangku. Aku benci kalo ada orang merokok di dalam bus. Mengapa asapnya tidak dia telan saja sendiri. Mengapa malah dibagi-bagikan racun itu ke sekelilingnya.

Pas pus pas pus. Rokonya tinggal filter busa dan dia buang lewat jendela. Sudah tiba di simpang Bedagai. Dia teriak. “Penggeerrr, eh k%÷¥¥#.”

Semoga itu kata terakhir dia ucapkan. Rasanya aku lega nenek koprolalia itu sudah enyah dari mopen ini.

Kuperhatikan dia turun kepayahan sambil meminta supir jangan jalan sebelum dia mendarat di bumi. Dia serahkan ongkosnya dan bersamaan mopen melaju lambat.

“Eh, k****lnya jatuh! Alah.”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: