Nenek Koprolalia

Seperti biasa, aku berangkat pagi-pagi sekali ke kantor yang jaraknya lumayan jauh dari rumah dan harus ditempuh dengan angkutan umum. APV yang disulap menjadi angkutan umum berwarna hijau dan aku berada didalamnya bersama 6 orang penumpang yang tiada kukenal.

Di pertengahan jalan, tepatnya di Desa Sei Buluh, naiklah seorang penumpang berjenis kelamin perempuan dengan rambut yang sudah memutih dan memakai pakaian. Aku pastikan dia seorang nenek. Belum lagi ia duduk, mopen alias mobil penumpang itu bergerak sehingga tubuhnya terdorong ke depan dan meluncurlah kata-kata mutiara dari mulutnya karena terkejut.

Baca lebih lanjut

Iklan

ke Pulau Berhala, the Dream Comes True

Selamat Datang di Pulau Berhala

Selamat Datang di Pulau Berhala

Pernahkah kamu ke Pulau Berhala? Saya baru sekali dan sepertinya tidak cukup sekali kesana. Jadi saya tetap memasang niat agar suatu hari bisa kesana lagi. Bawa isteri juga. Kalau dia mau.

Pada suatu hari yang agak mendung karena kabut asap. Saya dan teman-teman kantor, maksudnya teman-teman yang satu kantor dengan saya mengadakan kegiatan yang sangat tidak disukai oleh mereka yang tidak kami ajak untuk ikut kegiatan ini. Karena kami akan bertamasya ke Pulau Berhala. Sebuah pulau terluar wilayah Indonesia. Yang masuk dalam kawasan Kabupaten Serdang Bedagai.

Karena saat itu posisi kami di wilayah Sergai, maka kami akan berangkat dari Bedagai dengan menggunakan perahu yang sebelumnya telah kami pesan dan kami bayar uang muka agar dikira mereka bahwa kami serius dan akan rugi jika kami tidak jadi berangkat. Janji untuk berangkat pukul 2 siang seperti yang dibilang pihak travel kami abaikan gara-gara ada kegiatan kantor yang sangat tidak menarik untuk diikuti. Kompetisi Frontliner yang menampilkan kehebatan para satpam, teller dan customer service menampilkan standard layanan dan juaranya akan dikasi makan di hotel ditemani para direksi.

Apa enaknya makan bareng direksi, kan malu kalo mau congok. Gak bisa leluasa gigit lauk sampe bumbunya beterbangan. Dan kalo mau tambah juga jadi segan.

Akhirnya kami relakan kantor cabang menjadi pemenangnya. Sebagai unit kantor dibawahnya, kami rela mengalah demi melihat induk kami bahagia dengan ponten-pontennya. Kami tidak ingin latihan mereka selama ini sia-sia. Jadi kami relakan mereka menang agar mereka bahagia. Bukankah membuat orang bahagia itu berpahala.

Pukul 3 siang kompetisi baru selesai, kami bergegas menuju Bedagai untuk berangkat naik perahu. Jarak dari kantor ke perahu ditempuh 1 jam. Alhamdulillah sampai dengan selamat dan perahu dan orang-orang yang berada di atasnya masih sabar menunggu kami.

Riki dengan topi koboinya membuat pancing. Pancing yang akhirnya dimakan laut

Riki dengan topi koboinya membuat pancing. Pancing yang akhirnya dimakan laut

Semua perbekalan sudah lengkap. Riki sibuk menata benang pancing dan membuat joran agar kami semua yang berjumlah 9 orang bisa ikut memancing semua. Topi koboi yang dikenakannya tidak cocok untuk naik perahu, harusnya naik kuda. Sementara yang lain duduk-duduk nggak jelas.

Waktu itu kabut asap masih tebal. Baca lebih lanjut

Hikmah di Pantai

Blog ini semakin tak terawat saja, sukurlah blog ini tidak seperti halaman belakang rumah di kampung  yang bisa ditumbuhi semak belukar dan sampah daun-daun kering kalau ditinggal berbulan-bulan. Tapi terkadang, kerinduan yang menyeruak tiba-tiba membuat jari-jari ini harus bermain-main lagi, merangkai kata demi kata untuk menuangkan isi hati dan pikiran agar tak menggumpal dan menguap sia-sia tak menjadi kenangan.

Ini terjadi semenjak menikah, cieee… blog ini memang semakin kurus alias kurang diurus, maklumlah udah ngurus makhluk ciptaan Tuhan yang lain, yaitu bidadariku yang nggak suka baca blogku.

Dulu, waktu masih sendiri di kos-kosan, begitu sering ide-ide berkelebat dan muncul untuk dituliskan di blog ini. Namun setelah tak lagi sendiri, waktu untuk ngeblog seakan tiada lagi. Ide-ide yang muncul kembali tenggelam setelah melihat wajah bidadariku dan tentu saja waktu yang tersisa hanya dihabiskan dengannya. Cieee….

Harusnya sih tidak seperti itu. Masa yang dilalui setelah menikah jangan dijadikan kambing hitam atas ketidakproduktifan diri ini dalam menelurkan karya-karya (ciee… karya yang sangat biasa-biasa saja) yang manfaatnya mungkin bisa dirasakan orang lain atau paling tidak diri sendiri lah dan setelah menikah seharusnya lebih memacu diri lebih produktif lagi dalam menjalankan hobi ngeblog ini. Apalagi kalau diseriusin, ngeblog juga bisa menghasilkan uang.

Kalau saja tidak malas, banyak sebenarnya ide-ide tulisan yang bisa dituangkan di sini. Misalnya saja kemarin saat libur panjang Baca lebih lanjut