Di Ramadan…

I. Seminggu awal ramadan, suasana malam yang biasa saja berubah menjadi malam yang wonderful, beautiful dan peaceful. Lihatlah, di malam itu semua mesjid full. Jamaah berjajar rapi hingga kepelataran mesjid, melaksanakan solat fardu isya dan qiyamul lail.

Giroh anak remaja, bapak yang membawa anaknya, suami bersama istrinya berbondong-bondong memenuhi mesjid. Uang dari saku pun tak sayang mereka masukkan dalam kotak infak setiap malam. Berharap pahala berkali-kali lipat.

Namun menjelang berakhirnya ramadan, jamaah mulai menyusut. Tak lagi nampak jamaah berebutan saf dan tak ada lagi yang kebingungan memakai sandal saat hendak pulang. Sampai-sampai tuan marbot menghimbau lewat toa agar para warga muslim disekitar meramaikan kembali qiyamul lail di mesjid/musolla. Anak-anak muda tak nampak lagi batang hidungnya. Barisan saf seperti khusus buat lansia saja.

II. Di sore hari. Ramai orang menjual takzil, namun ada juga yang membagikannya gratis di lampu merah. Jiran tetangga saling berbalas makanan berbuka. Mesjid penuh dengan makanan untuk yang berbuka atau yang bertadarus. Semua orang seperti berubah menjadi dermawan. Ajaib.

III. Mesjid-mesjid galak mengundang penceramah. Ustadz memberi kultum (kuliah 7 menit), kulibas (kuliah lima belas menit), ada yang penuh dengan lelucon, tapi miskin isi. Tidak semua, banyak juga ustaz yang serius menyampaikan nasehat. Jamaah pendengar, mereka tertunduk-tunduk, menahan kantuk karena kekenyangan. Saat berbuka bagi sebagian hanyalah aksi balas dendam.

Acara tivi dipenuhi program religi. Ustadz rekomendasi kemenag atau ustadz yang tidak masuk rekomendasi beraksi di layar tivi. Stasiun tivi mendulang iklan, penonton mencicipi pengetahuan agama yang terpotong-potong. Sebagian yang lain menampilkan acara lawak murahan, sahur dibungkus banyolan sambil membongkar aib orang.

IV. Ramainya mesjid masih kalah dengan ramainya mal yang menawarkan sale berkali-kali lipat. Menggiring orang jadi santapan pedagang pakaian, perabotan, elektronik pun. Semua ingin serba baru secara lahir, batin nanti dulu.

V. Acara buka puasa bersama digagas. Entah itu sambil reunian, para pekerja kantoran, geng sekolahan dan komunitas apa aja dengan slogan menyambung silaturahim. Menyantap banyak makanan diantara suara azan lalu menjadi masbuk atau malah solat sendirian.

Begitulah serba serbi ramadan. Siangnya menahan. Malamnya balas dendam. Hawa nafsu dilepas begitu saja sehingga liar, padahal sudah berlatih mengendalikannya di siang hari, maka saatnya menambat di malam hari. Bila tidak begitu, apalah bedanya dengan bulan lainnya, hanya ganti jadwal makan saja.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: