Kisah Sendu di Siang Bolong

Suatu kali saat aku kliring, aku terdampar dalam obrolan yang sangat mengguncang hati. Obrolan apakah kiranya yang sanggup memporakporandakan perasaanmu kalau bukan obrolan tentang orang tua kita yang telah lanjut usia.

Ketika orang tua kita semakin lanjut usia, disaat itulah sebagai anak, kita mulai menjadi orang yang paling peduli, sama seperti saat orangtua kita merawat kita di waktu kecil dahulu. Itu pun kalo kamu dirawat. Terutama sama nyokap, eh ibu…

Ibu lah makhluk di bumi ini yang paling berjasa menjadikan kita dewasa seperti ini, bisa membaca, menulis, kerja, banting tulang, pulang malam, gajinya dikit, HAH!! MALAH CURHAT.

Nah giliran kita beranjak dewasa dan orangtua beranjak lebih tua lagi maka giliran kita lah yang merawat mereka. Apalagi saat mereka sakit. Dari sinilah cerita teman-temanku yang memporakporandakan perasaan itu dimulai… Baca selebihnya »

Payung yang Tertukar

Pulang dari kantor malam tadi ditemani sebuah payung. Payung yang diberikan kantor secara cuma-cuma. Aku tertarik yang berwarna hijau. Kebetulan jumlahnya lebih sedikit daripada tiga warna yang lain. Hitam, biru dan Abu-abu.

Gagang payung kutempel inisial namaku “J” agar tidak tertukar dan tidak ditukar teman kantorku yang kadang suka berbuat jahil. Aku menaruhnya di pos satpam dan kutinggal sejenak untuk membeli sebungkus nasi.

Selepas kembali dari warung, aku ke pos satpam dan mendapatkan payung yang sudah tak berinisial lagi. Warnanya masih sama. Satpam yang berada di luar pos aku datangi dan bertanya padanya. Ia sepertinya tidak tahu apa-apa. Ia malah menunjuk ada tiga payung di dalam posnya.

Duh. Ini siapa yang punya kerjaan? Salah seorang teman yang mau pulang berhenti tepat di depanku. Ia tertawa. Aku curiga dan mencecarnya dengan pertanyaan yang sedikit menuduh. Ia mengaku mengambilkan salah satu payung di tempat yang sama. Namun ia tidak memperhatikan payung yang berinisial namaku.

Yah, mau apa lagi. Akhirnya aku bawa pulang putri payung yang tertukar. Moga-moga aja payung ini lebih bagus daripada payungku sebelumnya.

Terkadang, Baca selebihnya »

Hanya Keberuntungan

Sebagai pekerja kantoran, pergerakan tubuh tentu lebih sedikit dibandingkan dengan pekerja lapangan. Kalo di kantor, pekerjaan banyak dilakukan sambil duduk. Paling yang bergerak cuma jari-jemari (ngetik), kepala (celingak-celinguk liat bos) dan bibir (ngoceh sama temen di samping).

Untungnya setiap seminggu sekali kantor punya menu spesial, main futsal yang dimainkan setiap malam rabu. Salah satu cabor ini memang jadi pilihan karena sangat gampang dimainkan oleh seluruh kaum adam di kantor. Kan tinggal nyepak doank… yah, minimal cukuplah membakar sedikit lemak yang ada di tubuh. Yang gak punya lemak ya makin menonjol aja tulang belulangnya.

Namun minggu lalu, cabor yang dimainkan bertambah satu. Bulutangkis. Sayangnya letak lapangannya begitu jauh dari kantor dan mainnya di ruang tertutup, berbeda 180° dengan futsal. Aku saat itu turut bermain, dengan raket pinjaman dan main tanpa sepatu, akibatnya setelah bermain, kaki ini rasanya pegel gak karuan. Lebih parah sakitnya dibandingkan dengan main futsal. Kalo dipikir-pikir aneh juga, permainan badminton yang menggunakan kekuatan tangan tapi nyeri sendi-sendi yang dialami dominannya di kaki. Kata temen, itu akibat main tanpa pake sepatu. Ntah iya ntah betul.

Eh, tapi gak cuma itu dink, Baca selebihnya »

Gak Jelas, Bingung, Entah Apa Lah

Uh… Capek.
Perjalanan dari Tebing Tinggi ke Lubuk Pakam dengan mengendarai sepeda motor ternyata cukup membuat tanganku pegel. Belum lagi asap kendaraan yang masuk kedalam lobang hidungku ini entah berapa banyak. Tapi alhamdulillah udah nyampe dengan selamat.

Hampir lupa, hari ini ternyata ada jadwal jadi supporter tim sepakbola BPD Sumut di GOR USU. Nonton nggak ya?

“HARUSS!! Tapi kalo kau mau hari senin di sidang ya gak usah datang” kata kawanku. Itu artinya ya wajib datang. Tapi sungguh malasnya nonton, kok gak ikutan main aja sekalian ya. Duh, GOR pun gak tau dimana… Cabut!!

Lebih Baik Tidur Daripada Sahur

Setahun yang lalu, di bulan ramadhan. Tempatku bukanlah di sini. Jauh di sana, kota kecil yang dekat dengan deburan ombak laut. Kota Meulaboh yang banyak menyimpan berjuta kenangan selama tiga tahun aku menetap dan bekerja di sana.

Sekarang segalanya berbeda. Cuaca, suasana, teman menjadi serba lain. Segalanya serba baru kembali. Memulai hidup baru lagi dan mencoba eksis lagi di Kota Tebing Tinggi (hah, kayak grup band yang mau bubar aja…)

Kalau setahun yang lalu, aku terbiasa sahur dan buka bersama dengan teman-teman, sekarang harus sahur sendiri. Tiada yang membangunkan kecuali alarm hp. Tapi nyaris saja tak berguna, karena selalu aku lebih cepat bangun dari bunyi alarm. Selanjutnya cuci muka lalu menunggu sang pengantar makanan sahur di serambi.

Di kos-kosan ini, sebenarnya ada rekan kerja juga yang tinggal di tempat yang sama dengan kamar yang berbeda, kadang kami menyantap sahur bersama, kadang di kamar masing-masing. Habisnya, kadang-kadang dia juga sudah ada teman sahurnya di hp. He… he… he…

Ada kejadian lucu beberapa hari lalu. Aku membangunkannya untuk sahur dengan menggedor pintunya. Tidak berapa lama ia membuka dengan mata setengah picing. Lalu kuserahkan sebuah rantang dan aku kembali ke kamarku.

Pagi hari setelah bersiap-siap berangkat ke kantor bersama dengannya. Dia berbicara perlahan kepadaku. Baca selebihnya »

Hidup hanyalah Ujian

Hidup adalah ujian, hidup hanyalah ujian. Kata-kata yang pernah aku temukan dalam sebuah buku.

Benar memang. Hidup ini tidak pernah lepas dari ujian. Semakin bertambah usia, ujian semakin bertambah sulit karena ujian menaikkan kita pada tingkat kedewasaan dan kebijaksanaan yang lebih tinggi. Mungkin seperti sekolah dimana ujian datang pada akhir semester. Disanalah kita tahu seberapa kuat dan sabarnya kita dalam menghadapinya. Ketika menyelesaikannya, semakin bertambah rasa syukur kita kepada-Nya.

Kadang-kadang, muncul rasa lemah dan pesimis dalam menjalani hidup ini. Ada rasa ketidakberdayaan yang tiba-tiba muncul. Apalagi support dari orang terdekat tidak didapatkan.
Mengeluh lalu memendam kekesalan sehingga melahirkan sikap dan tingkah laku negatif yang membuat diri malah terjebak dalam keputusasaan.

Padahal Allah sudah janjikan bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Seperti judul lagu, badai pasti berlalu. Jadi tidak ada masalah/ujian yang tidak ada penyelesaiannya. Hanya saja, karena kita selalu memfokuskan diri pada kelemahan diri sehingga kita malas bangkit dan melakukan beberapa perubahan penting agar dapat menikmati hidup yang sedang kita jalani.

Seorang teman selalu menasehati, buat apa memikirkan perkataan orang yang selalu menyinggung kelemahanmu. Jika kamu terus memikirkannya, kamu hanya Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.