Tamu Misterius

Segala makhluk bernyawa di Kerajaan Bedogol sibuk tak menentu karena kedatangan tamu yang sangat tidak diharapkan. Adalah sebanyak lima orang tamu bertampang biasa saja membawa misi suci, yaitu memeriksa segala apa yang ada di istana. Mencari-cari kesalahan setiap apa yang dikerjakan hulubalang istana sehingga banyak hulubalang yang tiba-tiba kumat asam lambungnya menahan ketakutan.

Kelima tamu itu bekerja di dalam ruangan yang diliputi angin sepoi-sepoi dimana angin itu muncul dari sebuah alat yang ditempel di dinding. Mereka membongkar, membalik-balik setiap dokumen kerajaan lalu memberi catatan bila menemukan keganjilan pada dokumen-dokumen itu.

Jika mereka menemukan sesuatu yang tidak beres. Maka mereka akan memanggil hulubalang yang bertanggung jawab akan masalah itu. Mereka mencecar dan menginterogasi para hulubalang sampai mengaku dengan menggunakan peralatan seadanya seperti cambuk dari ekor sapi. Para hulubalang yang bersalah akan diikat kedua tangannya ke atas, lalu ujung ekor sapi itu akan dilekatkan pada ketiak hulubalang.

“Ampun… ampun tuan, saya tidak tahu soal itu. iiiii…. iiii” Pinta hulubalang Defgol sambil menahan kegelian.

“Sebaiknya kamu mengaku, kalau tidak cambuk ini tidak hanya mendarat di ketiakmu, tapi juga di kupingmu.”

“iii…. iiii…. jangan tuan, kasihani saya. Nanti saya mati kegelian, siapa yang akan memberi makan anak isteri saya”.

Melihat wajah hulubalang Defgol sudah pucat seperti kain kafan, akhirnya Defgol dilepas dan disuruh memanggil hulubalang yang lain untuk masuk kedalam ruang interogasi. Namun tetap saja tidak ada satupun hulubalang yang mengaku dan selalu menjawab tidak tahu.

Akhirnya tamu-tamu misterius itu beralih pada hulubalang Baca selebihnya »

Futsal Hujan

Oh malam yang basah disiram air dari langit. Sebentar reda sebentar tumpah lagi. Membuat para penggila futsal bingung, apakah akan bermain atau akan ditunda.

Lalu sabarlah mereka menanti hingga hujan reda, menunggu sampai titik-titik air berganti menjadi koma lalu menjadi tanda seru. Hujan berhenti!!!

Bergegaslah mereka pulang untuk mengganti pakaian kerja dengan pakaian olah raga, menghubungi teman-teman yang lain agar semua bisa berkumpul di lapangan futsal, karena hujan sudah benar-benar reda.

Dengan senang hati mereka pergi menuju lapangan futsal. Sampai disana ternyata lapangan futsal masih tergenang air. Bila dilihat dari jauh, nampaklah ia seperti kolam renang. Kecewa menggelayuti segenap yang hadir disana. Akan berapa lama menunggu lantai lapangan itu dipel sampai kering.

Lalu berkatalah salah seorang dari mereka. “Wahai Digol, bantulah mereka mengepel lantai futsal agar cepat kering.” Lalu Digol yang mendengar perintah itu menjulurkan lidahnya. Slurrpp…. Slurrrppp… seolah-olah mengepel dengan menggunakan lidah. Ajaibnya, lantai futsal tetap basah.

Tidak berapa lama, datang lagi teman-teman mereka yang lain dan wajah mereka yang tersenyum berubah menjadi kecut.

“Sesungguhnya apabila hujan turun dan telah berhenti sebelum setengah jam waktu untuk bertanding futsal, maka lantai futsal belum benar-benar kering,” kata Rizgol yang baru datang. Di sepeda motornya terdapat sebuah bola berwarna biru yang sudah pudar warnanya dan compang-camping.

Karena hal itulah, mereka mulai ribut dan ingin membubarkan diri.

“Kita harus menunggu Pasgol jika ingin membubarkan diri, karena dari tangannya kita akan memperoleh buah-buahan dan sekotak coklat untuk mengganjal perut.” Ujar Digol.

Benarlah katanya, tidak lama kemudian Pasgol muncul dengan keturunan pertamanya dan di tangan mereka terdapat 3 macam buah-buahan seperti jeruk, apel dan pir.

Semua hulubalang berebut seperti bebek menyantap dedak. Lalu sisanya menjadi hak Pasgol dan buah hatinya. Bersamaan dengan itu, tumpahlah air dari langit yang luas, membasahi bumi, membasahi pakaian hulu balang dan kendaraannya.

Satu persatu mereka meninggalkan lapangan futsal, pulang ke rumah masing-masing mungkin dengan basah kuyup. Selamatlah para hulubalang yang tidak datang sehingga mereka tidak kena hujan. Dan selamatlah para hulubalang yang baru memiliki belahan jiwa karena mereka akan semakin khusuk dalam menunaikan tugasnya diantara derai hujan dan angin yang sepoi-sepoi.

 

 

Arti sebuah Kehilangan

Ketika kau kehilangan seseorang yang kau cintai, ia tidak benar-benar meninggalkanmu. Ia hanya pindah ke tempat khusus di hatimu. (Frankenweenie)

Pagi yang sepi bersama aroma ikan asin digoreng dari arah dapur membawaku untuk ngeblog lagi.

“Sarapan Jaya…”

Aku mengangguk yang artinya adalah: iya, nanti sebentar lagi bang. Sepertinya perut ini belumlah lapar, mungkin selera untuk sarapan ini telah hilang karena baru saja menonton film Frankenweenie. Film animasi tentang seekor anjing yang mati ditabrak mobil dan coba dihidupkan kembali oleh Viktor, anak kecil yang sangat mencintai Sparky, lewat pengajaran dari sekolahnya, Viktor membuat sebuah percobaan dengan memberi setruman pada mayat Sparky. Sparky disetrum lewat petir… dan JDDDUUUUARRRR!!!! Sparky hidup kembali.

Sepertinya film ini harus dicontoh oleh anak-anak kecil sekarang yang ingin menghidupkan kembali hewan kesayangannya yang telah meninggal dunia. Caranya adalah seperti yang dicontohkan dalam film itu. Pasang asesoris besi pada bangkai seekor hewan, entah itu kura-kura, kucing, anjing atau tikus. Kalau bisa jangan cacing, karena akan sulit memasang asesoris besi pada bangkai cacing kan…

Asesoris itu diberi tegangan listrik sesuai dengan positif dan negatifnya, pernah lihat baterai sepeda motor atau mobil kan? Kan ada positif dan negatifnya untuk mengalirkan energi listriknya, kira-kira dibuatlah seperti itu. Lalu perhatikan apa yang terjadi…

Kalau itu tidak berhasil, cobalah berkali-kali. Itu artinya kamu orang yang tidak gampang menyerah. Tapi kalau tidak juga berhasil. Berilah pengertian pada dirimu bahwa hal itu mungkin mustahil, atau hal itu hanya bisa terjadi di film saja.

Kehilangan adalah sesuatu yang tidak kita inginkan. Kehilangan yang kita inginkan adalah sesuatu yang hilang itu bukanlah sesuatu yang kita cintai. Sesuatu yang kita cintai akan kita jaga agar tidak hilang atau mati. Tapi mati atau hilang adalah sebuah keniscayaan. Mampus kelen Baca selebihnya »

12-12-12 di Kerajaan Bedogol

Kata rakyat jelata, tanggal 12 bulan 12 tahun 2012 adalah tanggal unik, cantik dan menarik. Tidak akan ada lagi tanggal seperti ini lagi selama engkau masih tinggal di atas bumi. Saking uniknya, berbondong-bondonglah orang berkawinan di tanggal itu. Banyak pula ibu-ibu hamil berusaha melahirkan di tanggal itu baik secara normal maupun dengan jalan operasi.

Bagi para remaja, tanggal 12-12-12 akan sangat indah bila hari itu menjadi hari jadian untuk berpacaran, atau hari yang baik untuk berputusan.

Ada sebagian rakyat jelata di belahan bumi lain menganggap, 12-12-12 bertepatan dengan hari kiamat sehingga mereka mempersiapkan peralatan yang dapat menyelamatkan mereka jika kiamat benar-benar terjadi, seperti kapal dan bungker-bungker di bawah tanah. Pasti harga tiket kapal itu sangatlah mahal. Lalu belinya dimana? Apakah tiket itu dijual online? Tentulah para hulubalang harus bertanya kepada hulubalang Faigol yang baru-baru ini membeli boneka kucing secara online.

****

Di Kerajaan Bedogol, tanggal 12-12-12 ditanggapi dengan dingin. Seluruh hulubalang tidak terpengaruh dengan isu akan terjadinya kiamat. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa dengan berprinsip: “Bekerjalah kamu seakan-akan kamu hidup selamanya dan beribadahlah kamu seolah-olah kamu mati esok hari.” Tapi tentu saja para hulubalang lebih mengikuti kaedah yang pertama.

Bagi hulubalang Digol, 12-12-12 adalah hari dimana pulsa simpatinya hanya bersisa Rp52,- dan Raja sedang bepergian meninggalkan kerajaannya.

Untuk menghidupkan suasana. Sang Menteri Kokogol pun mengusulkan sesuatu dengan cara yang tidak serius.

“Wahai para hulubalang! Baca selebihnya »

Kisah di Kerajaan Bedogol

Tersebutlah sebuah kerajaan kecil yang tidak bisa disebutkan letaknya dimana akan bersuka cita besok. Seluruh penghuni kerajaan itu akan mendapatkan hadiah dari Maharaja yang sedang mengalami untung besar dari hasil berniaganya… (sampai sini, pengarang udah mulai bingung, ini kerajaan atau toko kelontong, tapi udah nanggung jadi diterusin aja).

Sebenarnya ada yang lupa, harusnya diawal tadi disebutkan, tapi karena males ngedit, diterusin aja. Kerajaan ini dinamai Kerajaan Bedogol. Kenapa bedogol, entahlah, beberapa hari ini, pengarangnya lagi dihantui dengan kata-kata bedogol.

“Bedogol… bedogol…” kata-kata itu terus berulang yang datangnya berasal dari raja kerajaan bedogol. Sidang pembaca, janganlah bedogol diartikan dengan artian yang sebenarnya, anggaplah kata “bedogol” itu sebagai kata suci yang memiliki makna yang sangat agung dan dalam. Sehingga siapapun yang bernaung di kerajaan bedogol, menjadi agunglah mereka semua dan terpuji segala kelakuannya.

Balik lagi ke atas, terus turun lagi. Jadi hari yang dinanti-nanti akhirnya datang juga. Hari dimana sang perdana menteri yang tak pernah bosan bertanya kepada hulubalang, kapan kiranya hasil kerja keras mereka selama ini terbayarkan, apalagi akhir tahun akan datang dan semua rakyat ingin berpesta, berlibur dan berburu.

Tapi itu semua terjawab sudah, sang Zimgol datang membawa berita bahwa semua hulubalang akan mendapatkan bonus atas hasil kerja keras mereka selama ini yang telah menghabiskan waktu dan perasaannya untuk kemajuan kerajaan bedogol.

Tersebutlah salah satu hulu balang yang biasa dipanggil Rigol akan menggunakan bonus tersebut untuk membeli perabotan rumah barunya. Rigol sudah memilih-milih perabotan yang cocok dan sesuai selera apalagi Rigol akan segera mengakhiri hidupnya, eh… masa lajangnya.

Lain lagi dengan Firgol, hulubalang yang satu ini baru saja mengakhiri masa lajangnya beberapa minggu lalu (sepertinya, tulisan ini terlalu norak, pasti akan segera ketauan). Dibilangnya pada senja itu…

“Semua bonus ini nantinya akan aku persembahkan untuk istriku tercinta, jadi tertutuplah segala kemungkinan bagiku untuk menggunakannya secara pribadi dan sembunyi-sembunyi…”

Lalu hulubalang yang lain menyahut, salah satunya Digol. Baca selebihnya »

Upacara Hari Minggu

Hujan rintik-rintik mengguyur sebagian kota Tebing Tinggi di Minggu pagi. Padahal pukul 07.30 wib akan ada upacara peringatan milad PT Bank SUMUT. Kalo semakin lama di kos khawatirnya malah deras. Segera kuraih kunci motor. Brumm… Brumm…

Syukurlah, sampai di kantor masih rintik-rintik. Beberapa teman sudah berkumpul dan mulai menandatangani absensi yang diprint seadanya. Lah, ini nama si bos kok malah ditulis pake pulpen. Hihi… lupa si kawan mengetikkannya. Akhirnya kasus itu membuat aku jadi bulan-bulanan satpam yang bertugas nyodorin absen untuk diteken. Menjadi tertuduh dan dianggap nggak aware sama bos sendiri. Untunglah si Bos orang yang berjiwa besar terhadap perkara remeh temeh kayak gitu.

Protokol sudah memanggil manggil dengan mikropon. Kami pun membentuk barisan tanpa di komando. Tapi karena gak rapi dikomando juga akhirnya. Masalahnya satu, payah nyari orang yang mau baris di bagian depan.

Acara satu demi satu dilewati, nyanyi mars dengan kopekan, pidato pemimpin upacara, lalu nyanyi lagi. Hymne dengan irama 4/4. Nyanyi yang ini agak menyiksa karena Baca selebihnya »

Pulang Kampung, Selalu ada yang Berubah…

Pulang kampung adalah tradisi ketika berlebaran. Selain sebagai ajang silaturahim, pulang kampung juga memberikan kesempatan mata kita untuk melihat setiap perubahan yang terjadi di keluarga, di lingkungan dan di jalanan. Misalnya aja, makin banyak monyet di pohon-pohon sawit depan rumah, apakah mereka juga mudik?

Di kampung almarhumah nenek, dimana aku tinggal ketika sekolah Tsanawiyah dulu, Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 63 pengikut lainnya.