Bumerang yang Baik

Aku ingin berbagi tentang setitik pengalaman hidup. Tentang usaha menggapai cita. Jika perjalanan hidupku seumpama berada dalam labirin, maka aku perlu usaha untuk sukses menuju pintu keluar. Dimana di tengah perjalanan, ada mungkin hal selama ini yang kita anggap kecil ternyata memiliki pengaruh besar menggenapi mimpi.

Kehidupan dengan jalan yang terjal ku mulai ketika mengawali kuliah di tahun 2001. Aku bukanlah seorang mahasiswa dari keluarga golongan “the havest” yang bisa memilih kuliah di lembaga pendidikan ternama dengan uang kuliah jutaan persemester. Rasa pesimis telah menderaku ketika menerima ijazah SMA. Apakah aku bisa melanjutkan studi ke tingkat Strata 1? Dari mana biaya kuliah dan biaya hidup tinggal di kota? Pertanyaan yang tidak bisa kujawab saat itu.

Baca lebih lanjut

Kerja Kecil Untuk Impian Besar

duitMatahari sedang galak-galaknya di hari minggu siang itu, di sebuah pasar yang dipenuhi dengan hilir mudik pembeli mencari keperluannya masing-masing. Pasar minggu yang hanya beraktivitas sampai sore itu menjadi santapan warga dari berbagai desa sekitar untuk menuntaskan hajat hidup mereka.

Di pojokan dekat penjual molen, seorang remaja berdiri dekat sepeda motor butut. Menyandar sembari memegang setangnya. Alif namanya. Dahinya berkenyit menahan panas. “Kok lama kali sih Emak…” gumamnya dalam hati.

Alif sedang menunggu Emaknya yang membelikan sepatu sekolahnya. Sudah 1 bulan sejak sepatu itu rusak, baru hari ini Emak mengajaknya ke pasar. Memburu sepatu. Alif masih ingat perbincangan kemarin dengan kakaknya saat si kakak menjemur sepatunya yang habis dicuci.

“Alif, kenapa sepatumu ini? Ini kan sepatu yang 3 bulan lalu dibelikan emak, kok udah rusak gini?” Kakak menyodorkan monyong sepatu ke mukanya Alif. Mulut sepatu Alif terbuka sama seperti mulut Alif yang bingung mau menjawab pertanyaan kakaknya.

“Eh… Iya kak. Kemarin Alif main bolanya di sekolah pakai sepatu.” Jawab Alif yang seperti menganggap itu kejadian biasa.

“Kawan-kawanmu tidak pakai sepatu kalau main bola?” Tanya kakak lagi

“Nggak.”

“Jadi, kenapa Alif pakai?”

“Kaki Alif yang luka kena duri waktu mancing kemarin belum sembuh. Alif kuatir lukanya jadi tambah lebar kalo main bola kaki ayam.”

“Iya, tapi sekarang sepatumu yang mulutnya jadi lebar. Udah sana, cari lem. Biar kakak lem kan.”

“Gak usah kak. Biar minta belikan yang baru sama mamak.”

“Kamu ini ya. Mamak nggak punya duit lagi Lif. Lihat kita dari kemarin makan nasi sama ikan asin terus. Kamu malah minta belikan sepatu. Alih-alih nanti kita makan nasi sama garam aja lah.”

Alif terdiam. Suara kakak meninggi, sepertinya dia sedikit marah mendengar jawaban Alif.

“Makanya kamu nabung kayak kakak. Udah bisa beli sepatu sendiri. Buku tulis sendiri. Kamu jangan nambah susah mamak sama bapak lagi Lif. Kasian bapak sama mamak mau nyari duit dari mana lagi.”

Betul juga kata kakak Alif. Fatimah.

“Tapi kakak kan dikasi mamak uang jajan. Sedangkan Alif nggak.” Alif mencoba mencari alasan.

“Itu bukan uang jajan Alif… tapi uang dari hasil kakak jualan keripik.” Baca lebih lanjut

Road to Berastagi : Gundaling Sunyi

image

Perdebatan mengenai tujuan rekreasi pada hari libur panjang kemarin akhirnya berakhir ketika diputuskan untuk rekreasi ke Gundaling, Berastagi. Dengan segenap kekuatan dan keikhlasan seadanya, kami pun pergi menuju tempat wisata yang dikenal dengan hawa dinginnya, kota Berastagi dan pasar buahnya yang segarrr.

Hawa dingin di Gundaling bukanlah berasal dari AC, tetapi mungkin dari udara gunung Sinabung yang letaknya tidak jauh dari situ. Karena letaknya di dekat pegunungan, maka tempat ini menyimpan banyak potensi wisata yang sangat recommended untuk didatangi.

Jika kamu lapar, kamu bisa mencicipi manis pedasnya jagung bakar dan jagung rebus di Berastagi. Kamu juga bisa memetik buah strawberry dan jeruk langsung dari pohonnya dan membayarnya sebelum dibawa pulang. Kamu juga bisa mengelilingi Gundaling dengan menaiki kuda atau sado. Tarifnya mulai dari 40 ribu sampai 150 ribu tergantung jarak yang ditempuh. Jangan kuatir. Kudanya bukanlah kuda liar yang bisa melemparkanmu dari pelana. Kamu juga akan diiringi si joki sehingga mengendarai kuda supaya baik jalannya. Hei tuktiktaktiktuk dst…

Kalau di Gundaling, kamu bisa merasakan aroma yang lumayan membuat lobang hidungmu bergerak-gerak menyempit yang berasal dari

Baca lebih lanjut

9# Ulang Tahun Misterius

Baginda raja ulang tahun… Dorrr!!! Tarrr!!! Bumm!!!

Kembang api bertebaran di angkasa. Para hulubalang merayakan ulang tahun baginda raja dengan senang hati.

Sebagaimana yang biasa terjadi di kerajaan bedogol setiap ada yang berulang tahun maka akan mendapatkan ucapan selamat ulang tahun. Belum pernah ada yang mendapatkan ucapan selamat hari raya atau selamat menempuh hidup baru ketika ada yang berulang tahun.

Namun ulang tahun kali ini tidak ada yang dapat mengucapkan ulang tahun kepada baginda raja. Pasalnya, baginda raja tidak berada di istana. Jadi untuk apa ulang tahun ini dirayakan?

Kerajaan bedogol memang selalu menyimpan misteri. Salah satu yang menjadi misteri adalah Baca lebih lanjut

salah undangan

Bawalah amplop kalo datangin undangan

Bawalah amplop kalo datangin undangan

Apa yang akan dilakukan calon jamaah haji ketika waktu keberangkatan ke tanah suci semakin dekat? Salah satunya adalah mengadakan acara tepung tawar. Minta didoakan selamat baik ketika dari mulai berangkat sampai kembali pulang ke tanah air.

Kalau kamu punya saudara atau tetangga atau orang yang nggak kamu kenal tapi dia mengenalmu. Kamu akan menerima undangan baik secara lisan maupun tulisan.

Aku juga begitu. Imbas dari menjadi pendamping haji ketika diadakan manasik haji akbar PT. Bank Sumut untuk yang ke-9 kali di Asrama Haji Medan membuatku menjadi bintang pujaan ibu-ibu dan nenek-nenek yang kudampingi. Salah satunya Nek Nurhayati. Dia undang aku ke acara tepung tawarnya lewat telpon.

“Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam…”

“Abdi, ini nenek… datang nanti nenek ya ke rumah. Hari minggu jam 10 nenek ada acara tepung tawar…”

“Nenek yang pake tongkat?” Aku masih ragu Baca lebih lanjut

7# Nopember Ceria

tiang tiviIni sudah bulan Nopember. Nopember di kerajaan bedogol adalah bulan yang sangat istimewa karena pada bulan-bulan tersebut akan ada tanggal berwarna merah di setiap minggunya. Sebenarnya bukan itu.

Pada bulan Nopember tepatnya pada tanggal 4, yaitu hari dimana kerajaan Bedogol merayakan hari berdirinya kerajaan itu, dimana para pendiri kerajaan berhasil memproklamasikan kemerdekaan kerajaan itu dan sekaligus menyelamatkan kerajaan itu dari para pemberontak. Dimana para pemberontak itu adalah kebanyakan orang-orang kerajaan Bedogol sendiri. Dimana mereka suka berfoya-foya di atas penderitaan para hulubalangnya. Dimana dimana dimana…

Sesuai dengan titah baginda Raja Bedogol, pada tanggal 4 seluruh hulubalang haruslah berkumpul di halaman istana yang sangat luas membentang melewati gorong-gorong hingga ke pinggir jalan. Para hulubalang harus datang pada pukul 7 pagi dan tidak boleh terlambat. Karena barang siapa yang terlambat, maka akan terlihat lah raut muka yang penuh dengan kepura-puraan menahan rasa malu dan memilih tempat-tempat yang tersembunyi dari penglihatan baginda raja.

Para menteri berbaris di tempat tersendiri. Para hulubalang pun demikian, begitu juga para isteri-isteri menteri demikian pula sehingga terbentuklah barisan seperti huruf U bila dilihat dari atas tiang bendera.

Diiringi dengan deraian gerimis yang jatuh dari kerajaan langit, upacara berjalan dengan sangat khidmat. Para hulubalang dan menteri sangat-sangat tidak bersemangat, hal itu bisa dirasakan saat baginda raja meminta seluruh yang berhadir untuk bersama-sama menyanyikan lagu kerajaan.

Seluruh rakyat yang hadir ikut bernyanyi, tetapi hanya komat-kamit alias lipsing. Apa karena tidak ada yang hafal lagunya? Agar tidak kentara bahwa apa yang mereka nyanyikan itu keliru, suara yang mereka sumbangkan pun begitu lemah sehingga terdengar hanya bagi telinga masing-masing. Baginda raja yang merasakan ketidakberesan itu pun hanya tertunduk meratapi diri karena beliau juga tidak hafal lagunya. Begitu pun ia maklum karena lagu itu hanya kedengaran sekali dalam setahun.

Selang satu jam kemudian, upacara selesai. Laporan selesai. Bubar… Peristiwa ini tampaknya tidak begitu menarik untuk diceritakan. Next…

Keistimewaan yang kedua bulan Nopember di kerajaan Bedogol adalah, Baca lebih lanjut

Upacara Hari Minggu

Hujan rintik-rintik mengguyur sebagian kota Tebing Tinggi di Minggu pagi. Padahal pukul 07.30 wib akan ada upacara peringatan milad PT Bank SUMUT. Kalo semakin lama di kos khawatirnya malah deras. Segera kuraih kunci motor. Brumm… Brumm…

Syukurlah, sampai di kantor masih rintik-rintik. Beberapa teman sudah berkumpul dan mulai menandatangani absensi yang diprint seadanya. Lah, ini nama si bos kok malah ditulis pake pulpen. Hihi… lupa si kawan mengetikkannya. Akhirnya kasus itu membuat aku jadi bulan-bulanan satpam yang bertugas nyodorin absen untuk diteken. Menjadi tertuduh dan dianggap nggak aware sama bos sendiri. Untunglah si Bos orang yang berjiwa besar terhadap perkara remeh temeh kayak gitu.

Protokol sudah memanggil manggil dengan mikropon. Kami pun membentuk barisan tanpa di komando. Tapi karena gak rapi dikomando juga akhirnya. Masalahnya satu, payah nyari orang yang mau baris di bagian depan.

Acara satu demi satu dilewati, nyanyi mars dengan kopekan, pidato pemimpin upacara, lalu nyanyi lagi. Hymne dengan irama 4/4. Nyanyi yang ini agak menyiksa karena Baca lebih lanjut