Refleksi di Ramadhan

Bulan ramadhan telah mendekapmu, kuat. Kuat sekali. Memintamu untuk segera membasuh hatimu agar bersih. Agar jernih. Hingga hatimu kembali bercahaya memantulkan kebaikan-kebaikan kesekelilingmu.

Noda-noda yang tersisa barangkali adalah keegoisan yang belum sepenuhnya terkendali. Hingga acapkali dirimu tak dapat mengerti bahwa pesan kebenaran bukan menuruti kehendakmu.

Ramadhan seharusnya adalah penawar amarahmu kala mendapati sesuatu yang tak sesuai dengan harapanmu. Ramadhan juga menjadi tameng kala hawa nafsumu coba mengalahkan akal sehatmu.

Ramadhan hanyalah

Baca lebih lanjut

Suatu Malam Bersama Kakek

Malam itu terasa sejuk, udara dari AC bergumul menyesaki ruang mesjid. Sehabis shalat sunat ba’da maghrib, aku tidak langsung pulang ke rumah seperti biasa, karena tiba-tiba aku ingin duduk dekat kakek marbot, jamaah biasa memanggilnya kakek Rusdi.

Jarang aku mengobrol dengan beliau yang usianya kini sudah memasuki kepala tujuh. Tubuhnya yang kurus dan guratan-guratan diwajahnya menunjukkan ke-aki-annya. Namun begitu, ia tetap semangat mengurus mesjid, menghidupkannya setiap lima waktu, menjadi muazzin dan imam solat.

“Nggak pulang kampung Di, libur panjang kan?” Dia langsung menyapaku begitu kuletakkan pantatku di sampingnya. Beliau bilang libur panjang karena hari jumat bertepatan tanggal merah, saat umat Kristiani memperingati wafatnya Jesus.

“Nggak kek, di sini aja nemenin kakek, he… he…” Kakek tersenyum.
“Kakek kemana nih liburan? Masa di mesjid aja.”

“He… he… Nggak ada. Nanti sepala pergi, perginya jauh ya kan.” Memang benar, kakek kalau pergi biasanya ziarah ke Air Batu yang berjarak 3 jam dari Kota Tebing Tinggi, sekali waktu dia pergi ke Jawa dibawa saudara kandungnya. Kalau kakek sudah pergi, maka jamaah akan kelimpungan mencari siapa yang jadi imam solat.

“Kakek nggak kesepian? Tinggal sendiri di mesjid.” Kakek belum menjawab pertanyaanku. “Ceritain lah kek tentang nenek.”

Dia tersenyum, memang sepertinya tersenyum, walau

Baca lebih lanjut

Sahabat Dunia Akhirat

Sahabat itu adalah teman, teman belum tentu sahabat. Sahabat itu adalah sisi kita yang lain. Itu kenapa ada pepatah Islam, jika ingin mengetahui seseorang, lihat siapa sahabatnya. Karena kita dan sahabat boleh dikata seperti cermin yang selalu menampilkan siapa kita sebenarnya.

Mencari teman itu gampang, tapi mencari sahabat itu sulit. Tentu saja sulit mencari orang yang tidak mau berbasa basi, yang mau menyampaikan kekurangan kita, mengkritik kita, menyampaikan sesuatu yang benar dan memperbaiki kesalahan kita, turut merasakan apa yang kita rasakan (empati), saat kita bersedih ia akan hadir memberikan semangat, saat kita senang dia turut berbahagia.Ketika ada seseorang yang bisa melakukan hal semacam itu, maka ia telah menjadi sahabat kita.

Sahabat tentu saja tidak harus seagama bila persahabatan itu semata urusan duniawi. Namun bagaimana kita bisa melangkah dengan bijak dan tetap pada aturan ilahiyah dalam bekerja atau beraktivitas, maka kita tidak hanya membutuhkan sahabat yang seagama, namun juga sahabat yang punya ilmu agama, cukup itu saja? Tidak, karena jika punya ilmu agama tetapi tidak melaksanakannya, maka kita akan terpercik api kemunafikan darinya.

Sadar atau tidak, langkah yang kita ambil atau keputusan yang kita buat sedikit banyak dipengaruhi sahabat kita. Bila bersahabat dengan tukang las, maka engkau bau asap, bersahabat dengan penjual parfum, niscaya engkau pun ikut menjadi harum. Maka pemilihan sahabat itu lebih penting dari pada memilih presiden, salah memilih presiden menyesalnya sampai 5 tahun, itu pun kalau tidak keduluan dilengserkan, namun salah memilih sahabat bisa salah tujuan, tak selamat badan keseberang.

Apakah sahabat bisa tak bersahabat atau terputus? Bisa saja apabila Baca lebih lanjut

Arti sebuah Kehilangan

Ketika kau kehilangan seseorang yang kau cintai, ia tidak benar-benar meninggalkanmu. Ia hanya pindah ke tempat khusus di hatimu. (Frankenweenie)

Pagi yang sepi bersama aroma ikan asin digoreng dari arah dapur membawaku untuk ngeblog lagi.

“Sarapan Jaya…”

Aku mengangguk yang artinya adalah: iya, nanti sebentar lagi bang. Sepertinya perut ini belumlah lapar, mungkin selera untuk sarapan ini telah hilang karena baru saja menonton film Frankenweenie. Film animasi tentang seekor anjing yang mati ditabrak mobil dan coba dihidupkan kembali oleh Viktor, anak kecil yang sangat mencintai Sparky, lewat pengajaran dari sekolahnya, Viktor membuat sebuah percobaan dengan memberi setruman pada mayat Sparky. Sparky disetrum lewat petir… dan JDDDUUUUARRRR!!!! Sparky hidup kembali.

Sepertinya film ini harus dicontoh oleh anak-anak kecil sekarang yang ingin menghidupkan kembali hewan kesayangannya yang telah meninggal dunia. Caranya adalah seperti yang dicontohkan dalam film itu. Pasang asesoris besi pada bangkai seekor hewan, entah itu kura-kura, kucing, anjing atau tikus. Kalau bisa jangan cacing, karena akan sulit memasang asesoris besi pada bangkai cacing kan…

Asesoris itu diberi tegangan listrik sesuai dengan positif dan negatifnya, pernah lihat baterai sepeda motor atau mobil kan? Kan ada positif dan negatifnya untuk mengalirkan energi listriknya, kira-kira dibuatlah seperti itu. Lalu perhatikan apa yang terjadi…

Kalau itu tidak berhasil, cobalah berkali-kali. Itu artinya kamu orang yang tidak gampang menyerah. Tapi kalau tidak juga berhasil. Berilah pengertian pada dirimu bahwa hal itu mungkin mustahil, atau hal itu hanya bisa terjadi di film saja.

Kehilangan adalah sesuatu yang tidak kita inginkan. Kehilangan yang kita inginkan adalah sesuatu yang hilang itu bukanlah sesuatu yang kita cintai. Sesuatu yang kita cintai akan kita jaga agar tidak hilang atau mati. Tapi mati atau hilang adalah sebuah keniscayaan. Mampus kelen Baca lebih lanjut

ramadhan kali ini

Ramadhan kali ini agak sama dan agak beda dari tahun sebelumnya. Agak samanya itu adalah ketika sahur yang bangunin masih aja alarm hape. Beda sama temen satu kamar ini, ada suara cewek keluar dari hapenya. Nah, kalo agak bedanya itu… pas sahur taon kemarin ada tukang rantangan yang nganterin makanan sahurnya, jadi gak repot-repot masak nasi dan beli lauk kayak saat ini.

Taon kemarin, aku gak pernah absen shalat tarawih di mesjid. Tapi taon ini, kebanyakan malah shalat tarawih di kosan. Gara-gara gak bisa pulang cepat dari kantor. Adaaa aja kerjaan.

Taon kemarin pun masih sempat ikut shalat tarawih berjamaah yang diadakan setiap bank-bank yang tergabung dalam lembaga kliring di Kota Madya Tebing Tinggi. Tapi tahun ini bisanya cuma hadir sekali. Walau sekali pun lumayanlah dari pada tidak sama sekali.

Ada pelajaran menarik Baca lebih lanjut

Di Awal Waktu

Di luar gerimis. Sementara suara azan maghrib telah berkumandang dari sebuah mesjid di sebelah barat. Oh ya, malam ini ada jadwal pengajian di kantor. Tapi orang-orang di kantor masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Aku berbegas ke mushalla, mengambil wudhu, lalu azan.

Udah lama gak melakukan kebiasaan ini semasa di kuliah dulu. Minimal 3 waktu shalat aku melakukannya. Maklumlah, namanya juga tinggal di mesjid. (Hentikan kisah menyedihkan ini!!!)

Suaraku rada cempreng, masih kerasa sisa-sisa kue dadar di tenggorokan. Salah juga tadi gak sempat minum.

Selepas shalat berjamaah, pengajian di mulai. Tema pengajian malam ini mengangkat seputar puasa Rajab. Ustadz mulai membuka pengajian dengan melafazkan asma Allah. Selanjutnya mulut kami sibuk mengunyah kue yang menantang di hadapan. Emang lagi kelaparan. Tangan-tangan berseliweran dari piring ke mulut.

Sambil makan, telinga dan mata ini tertuju ke ustadz. Darinya mengalir ilmu agama yang sudah asing tak terjamah karena sibuk dengan rutinitas menghitung angka-angka.

Kata Ustadz…

Melaksanakan puasa rajab berarti melakukan persiapan sebelum datangnya bulan suci ramadhan. Puasa di bulan rajab akan melipatgandakan pahala dari perbuatan baik yang kita lakukan, begitu pula sebaliknya. Setiap perbuatan buruk yang kita lakukan, dosanya juga menjadi berlipat ganda.

Bulan rajab yang lagi berlangsung sekarang ini hendaknya mulai kita manfaatkan untuk memperbaiki diri. Memperbanyak ibadah baik fardhu maupun yang sunnah. Salah satunya adalah shalat lima waktu. Apakah shalat lima waktu kita sudah benar?

Yang penting untuk dicatat, Baca lebih lanjut

Kisah Sendu di Siang Bolong

Suatu kali saat aku kliring, aku terdampar dalam obrolan yang sangat mengguncang hati. Obrolan apakah kiranya yang sanggup memporakporandakan perasaanmu kalau bukan obrolan tentang orang tua kita yang telah lanjut usia.

Ketika orang tua kita semakin lanjut usia, disaat itulah sebagai anak, kita mulai menjadi orang yang paling peduli, sama seperti saat orangtua kita merawat kita di waktu kecil dahulu. Itu pun kalo kamu dirawat. Terutama sama nyokap, eh ibu…

Ibu lah makhluk di bumi ini yang paling berjasa menjadikan kita dewasa seperti ini, bisa membaca, menulis, kerja, banting tulang, pulang malam, gajinya dikit, HAH!! MALAH CURHAT.

Nah giliran kita beranjak dewasa dan orangtua beranjak lebih tua lagi maka giliran kita lah yang merawat mereka. Apalagi saat mereka sakit. Dari sinilah cerita teman-temanku yang memporakporandakan perasaan itu dimulai… Baca lebih lanjut