Mengapa Harus 1 Juni?

saya indonesia

Saya Indonesia Saya Pancasila

Kalau boleh jujur. Saya termasuk yang agak geli akan kemunculan tagar Saya Indonesia Saya Pancasila. Awalnya kata ini dipopulerkan Presiden Jokowi dalam pidatonya memperingati hari lahirnya pancasila. Lalu kemudian kata itu membanjiri media sosial dengan gambar profile picture siapa saja yang disandingkan dengan ikon #PekanPancasila berlatar merah putih. Beberapa teman juga latah untuk membuat PP semacam itu. Tentu saja dengan meletakkan foto dirinya yang paling menarik.

Saya tidak akan membahasnya dari segi bahasa sebagaimana beberapa pakar menyebut bahwa kalimat itu kurang sesuai, akan lebih tepat bila dirubah menjadi Saya Pancasilais. Kalimat Saya Pancasila akan dapat diselewengkan semisal “Saya Indonesia Saya Pancasila. Siapa yang menghina saya itu sama artinya menghina pancasila.” Kan bisa saja dibuat demikian. Eh, jadi kebahas.

Tanggal 1 juni dijadikan hari libur nasional oleh pemerintah sebagai hari lahir pancasila lewat keputusan presiden. Hal ini tentu menjadi kegembiraan para pengusul dan tentu saja kegembiraan bagi para pegawai negeri karena jatah hari libur nasional jadi bertambah. Bagi saya pribadi, menjadikan tanggal 1 Juni menjadi hari libur nasional adalah keputusan yang kurang tepat dimana ditilik dari sejarah, tanggal 1 Juni merupakan hari dimana Sukarno menyampaikan usulan dasar negara dengan 5 sila yaitu;
1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau Perikemanusiaan
3. Mufakat atau Demokrasi
4. Kesejahteraan Sosial
5. Ketuhanan yang Maha Esa

Sebelumnya pada tanggal 29 Mei 1945, Mr. Muhammad Yamin lebih dulu menyampaikan gagasan dasar negara dengan 5 sila:
1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Peri Kesejahteraan Rakyat

Kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945 ditetapkanlah secara final rumusan pancasila sebagaimana yang kita kenal saat ini. Harusnya pemerintah lebih jeli dalam menetapkan keputusan dengan mempelajari kembali sejarah. Bukan karena pesanan pihak-pihak tertentu sehingga penetapan tanggal 1 Juni sebagai hari lahir pancasila menjadi kontroversi di tengah masyarakat termasuk Prof. Yusril Ihza Mahendra yang tulisannya sempat menjadi viral belakangan ini di media sosial yang menjelaskan mengenai sejarah rumusan pancasila.

Menanamkan nilai-nilai pancasila dengan membuat hari libur nasional kurang begitu efektif kecuali hanya untuk euforia sesaat dan kegiatan seremonial belaka. Alangkah lebih bijaknya pemerintah melalui kementerian pendidikan menghidupkan kembali mata pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) karena dizaman saya sekolah dulu, tidak hanya hafal kelima sila namun sampai butir-butir pancasila pun dikaji dan dikorelasikan dengan perilaku di sekolah maupun di luar sekolah. Menghapuskan pelajaran PPKn di sekolah-sekolah bisa jadi turut memberi andil akan munculnya konflik-konflik berlatar isu SARA, karena generasi muda yang awalnya diberi asupan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila (Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan maupun toleransi) kini tidak lagi. Saat ini pancasila di sekolah cuma menjadi hafalan dan nyanyian saja.

Pemerintah juga tidak perlu sungkan mencabut keputusan hari libur 1 juni dan memindahkannya ke tanggal 18 Agustus 1945 agar sesuai dengan kenyataan sejarah. Tidak boleh dibelokkan. Mengganti hari lahir pancasila dari 1 Juni ke tanggal 18 Agustus bukan ingin menafikan peran Sukarno yang turut memberi gagasan sila-sila tersebut. Namun itu bisa dianggap sebagai jalan tengah karena tidak hanya Sukarno yang memberi usulan dasar negara. Banyak tokoh pendiri kemerdekaan lainnya yang memberi usulan dasar negara di sidang BPUPKI yang tidak boleh juga kita lupakan.

Dulu Megawati Soekarno Putri, sebagaimana diberitakan Kompas, saat menjadi pembicara dalam seminar dan bedah buku Revolusi Pancasila di JCC (27/10/2015) mengungkapkan keinginannya agar pemerintah SBY menjadikan 1 Juni sebagai hari nasional. Pada akhirnya keinginannya terkabul di masa pemerintahan Jokowi. Bahkan dijadikan hari libur nasional pula.

Tinggal kita lihat apakah penetapan 1 juni dapat mengembalikan Indonesia yang rukun, damai dan sentosa sebagaimana yang termaktub dalam sila dan harapan Presiden Jokowi atau cuma diperingati saja dengan upacara bendera dan menyanyikan lagu Saya Indonesia Saya Pancasila sebagaimana peringatan hari kemerdekaan? (ada loh lagunya, search aja di internet).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: