Bumerang yang Baik

Aku ingin berbagi tentang setitik pengalaman hidup. Tentang usaha menggapai cita. Jika perjalanan hidupku seumpama berada dalam labirin, maka aku perlu usaha untuk sukses menuju pintu keluar. Dimana di tengah perjalanan, ada mungkin hal selama ini yang kita anggap kecil ternyata memiliki pengaruh besar menggenapi mimpi.

Kehidupan dengan jalan yang terjal ku mulai ketika mengawali kuliah di tahun 2001. Aku bukanlah seorang mahasiswa dari keluarga golongan “the havest” yang bisa memilih kuliah di lembaga pendidikan ternama dengan uang kuliah jutaan persemester. Rasa pesimis telah menderaku ketika menerima ijazah SMA. Apakah aku bisa melanjutkan studi ke tingkat Strata 1? Dari mana biaya kuliah dan biaya hidup tinggal di kota? Pertanyaan yang tidak bisa kujawab saat itu.

Entah kenapa timbul niat besar untuk menimba ilmu diperkuliahan. Apalagi mendengar teman-teman satu kelas telah mendaftar ke beberapa perguruan tinggi, semakin memacu semangatku untuk meniru jejak mereka. Kuutarakan niatku pada orangtua, mereka memberikan support dengan memberikanku uang yang hanya cukup untuk mendaftar ke perguruan tinggi agama dan ongkos naik bus ke kota Medan.

Kota Medan yang sangat asing bagiku telah membuat orangtua khawatir terutama ibu. Ibu berusaha mencari tahu keberadaan saudara angkatnya di kota Medan untuk aku tumpangi. Alhamdulillah, alamatnya telah diketahui, Ayah dan Ibu mengantarkanku kesana, meminta izin untuk tinggal sementara sampai dapat tempat kos-kosan. Ide sebenarnya sih agar biaya yang aku keluarkan tidak besar dan aku bisa berhemat.

Karena paman membuka bengkel sepeda motor di halaman rumahnya. Setiap pulang kuliah aku merasa harus membantunya. Entah itu membuka kap-kap motor yang akan diservice, ganti oli dan buka tutup bengkel. Semua itu kulakukan tanpa bayaran. Sama seperti aku tinggal di rumahnya, gratis.

Salah seorang teman paman yang sering mangkal di bengkel, bang Ogi mencetuskan ide untuk membuka doorsmeer dan tempel ban sepeda motor di lahan yang tidak terpakai tepat di samping bengkel paman. Aku termasuk yang ikut menjalankan kedua usaha itu dengan sistem bagi hasil.  Alhamdulillah, dari sanalah kantongku mulai berisi dan berfikir untuk menabungnya.

Saking semangatnya mengumpulkan uang, aku meminta pada bang Ogi untuk membuka tempel ban itu sampai pukul 12 malam yang tadinya hanya sampai masuk waktu magrib. Hasil dari usaha doorsmeer dan tempel ban itu ternyata cukup untuk membiayai ongkos ke kampus, biaya kuliah dan jajan. Sisanya aku simpan dalam bentuk tabungan. Aku benar-benar super hemat demi untuk bisa membiayai kuliah sendiri. Saat  itu aku berprinsip, uang yang kutabung harus cukup untuk biaya kuliah.

Aku punya cerita sendiri ketika memilih tabungan yang akan kugunakan. Karena repotnya mencari uang, maka memilih tabungan pun harus benar-benar jeli agar uang tabungan tidak berkurang terpotong biaya macam-macam. Beberapa bank kudatangi dan bertanya pada customer service perihal biaya apa saja yang dikenakan. Biarlah mereka bilang aku pelit karena aku pikir penghasilan yang kudapat tidak sebanyak gaji mereka dan biaya semacam itu tidak masuk dalam hitungan keuangan mereka. Apalagi stigma bagi masyarakat yang tinggal di kampung-kampung bahwa pegawai bank itu gajinya besar, rumahnya besar dan perutnya besar. Untuk yang terakhir barangkali ditujukan pada pimpinan bank yang seringkali memiliki tubuh yang tambun. Stigma itu begitu tertanam dibenakku sehingga aku memimpikan bekerja diperbankan seperti mereka. Terkesan berkelas.

Dari beberapa bank yang kusinggahi, belum ada yang membuatku tertambat dan jatuh hati. Untuk sementara, niat menabung di bank kutangguhkan.

Kebetulan di kampus sedang ada promo produk tabungan dari salah satu bank nasional yang saat itu masih tergolong baru beroperasi. Promo itu dilakukan beberapa mahasiswi yang wajahnya sudah tidak asing bagiku karena mereka anak-anak mahasiswi jurusan perbankan yang rata-rata berwajah manis. Kelas mereka di samping kelasku.

Mereka menawarkan langsung padaku saat turun dari tangga kelas. Memberikan brosur dan mempengaruhi pikiranku dengan penjelasan mengenai keunggulan produk tabungannya. Kebetulan sekali. Inilah tabungan yang selama ini kucari. Minim potongan dan dilayani mahasiswi yang manis. Hahaha…

Aku hanya bertahan 1 tahun di rumah paman. Kebiasaan bergadang dan kelelahan bekerja memberi pengaruh buruk pada kuliahku. Aku memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru tapi dengan catatan, aku tetap bisa mencari uang secara part time untuk membiayai kuliah dan tempat tinggal. Syukurlah ada seorang teman yang mengajakku tinggal bersamanya di mesjid.

Di Medan, kamu tidak akan heran jika di banyak mesjidnya ditinggali anak-anak mahasiswa. Tentu saja tidak sekedar tinggal di mesjid, namun harus mampu “menghidupkannya” seperti azan setiap masuk waktu solat, menggantikan imam atau khatib jumat yang berhalangan bahkan sampai menjaga kebersihannya. Dan itu tidaklah mudah karena harus membagi waktu antara kuliah dan melayani mesjid. Untungnya aku bersama dua teman satu kuliah bisa saling bergantian mengurus mesjid itu. Mereka juga sangat pengertian padaku yang kadang harus menggantikan aku saat bekerja paruh waktu di pabrik roti.

Menjelang akhir studi, aku harus memikirkan biaya untuk wisuda. Mulai dari biaya untuk penelitian skripsi, sidang sampai tetek bengek lainnya. Aku semakin gigih mengumpulkan uang. Setiap kali gajian, aku langsung menyetorkan uang itu ke bank. Tidak kulihat lagi berapa nominalnya dan berusaha untuk tidak menariknya kecuali untuk keperluan kuliah.

Alhamdulillah, aku berhasil menyelesaikan kuliahku tanpa harus menjadi beban orangtua. Aku bisa mandiri dan membuat bangga ayahku karena aku berhasil mengalahkannya dalam dunia pendidikan. Ayah adalah guru agama SD yang akan pensiun dan ibu bahkan tidak sempat menamatkan sekolah dasarnya. Satu kalimat yang pernah ibu sampaikan telah melecut semangatku untuk mandiri. “Ibu tidak bisa mengkuliahkan kamu, masa depan ada di pundakmu karena ada tiga lagi adikmu yang harus sekolah, jangan seperti ibu yang tidak tamat sekolah. Kamu nanti tidak jadi apa-apa”.

Selepas kuliah aku melamar kerja di salah satu bank daerah dan diterima. Dulu ini hanyalah impian ketika membuat rekening tabungan, tapi sungguh tidak disangka ini menjadi kenyataan. Perbuatanku yang dulu memilah-milah produk tabungan menjadi “bumerang” dalam artian bumerang yang baik. Aku kini harus memberi pemahaman yang baik pada konsumen/calon nasabah untuk memakai produk tabungan. Aku yang telah merasakan sendiri besarnya manfaat dari menabung kadang menjadikan pengalamanku sebagai salah satu referensi untuk mempengaruhi calon nasabah terutama yang masih duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi. Walaupun saat ini, sistim pembayaran uang sekolah (swasta) dan uang kuliah melalui rekening tabungan, menjadikan produk tabungan kini tidak hanya untuk tempat menyimpan uang tunai semata, namun juga menjadi salah satu bagian dari alat transaksi non-tunai.

Dari pengalamanku, menabung menjadi rantai penghubung antara cita-cita dan masa depan. Saat kita bercita-cita menggapai sesuatu, didalamnya tidak hanya niat semata namun diperlukan usaha untuk menggapainya, dan menabung adalah kepingan puzzle yang akan melengkapi cita-cita dan merangkainya menjadi masa depan.

Jika dulu saya tidak menabung, hidup boros “menikmati” masa-masa sebagai anak kuliahan, mungkin jalan ceritanya akan berbeda. Seumpama kepingan puzzle yang hilang dan membuat cacat gambaran akan masa depan. Maka dari itu, mulailah menabung dari sekarang.

“Cerita ini didukung oleh Bank Sumut”

#ayokebanksumut

#banknyaorangsumut

Iklan

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: