Kerja Kecil Untuk Impian Besar

duitMatahari sedang galak-galaknya di hari minggu siang itu, di sebuah pasar yang dipenuhi dengan hilir mudik pembeli mencari keperluannya masing-masing. Pasar minggu yang hanya beraktivitas sampai sore itu menjadi santapan warga dari berbagai desa sekitar untuk menuntaskan hajat hidup mereka.

Di pojokan dekat penjual molen, seorang remaja berdiri dekat sepeda motor butut. Menyandar sembari memegang setangnya. Alif namanya. Dahinya berkenyit menahan panas. “Kok lama kali sih Emak…” gumamnya dalam hati.

Alif sedang menunggu Emaknya yang membelikan sepatu sekolahnya. Sudah 1 bulan sejak sepatu itu rusak, baru hari ini Emak mengajaknya ke pasar. Memburu sepatu. Alif masih ingat perbincangan kemarin dengan kakaknya saat si kakak menjemur sepatunya yang habis dicuci.

“Alif, kenapa sepatumu ini? Ini kan sepatu yang 3 bulan lalu dibelikan emak, kok udah rusak gini?” Kakak menyodorkan monyong sepatu ke mukanya Alif. Mulut sepatu Alif terbuka sama seperti mulut Alif yang bingung mau menjawab pertanyaan kakaknya.

“Eh… Iya kak. Kemarin Alif main bolanya di sekolah pakai sepatu.” Jawab Alif yang seperti menganggap itu kejadian biasa.

“Kawan-kawanmu tidak pakai sepatu kalau main bola?” Tanya kakak lagi

“Nggak.”

“Jadi, kenapa Alif pakai?”

“Kaki Alif yang luka kena duri waktu mancing kemarin belum sembuh. Alif kuatir lukanya jadi tambah lebar kalo main bola kaki ayam.”

“Iya, tapi sekarang sepatumu yang mulutnya jadi lebar. Udah sana, cari lem. Biar kakak lem kan.”

“Gak usah kak. Biar minta belikan yang baru sama mamak.”

“Kamu ini ya. Mamak nggak punya duit lagi Lif. Lihat kita dari kemarin makan nasi sama ikan asin terus. Kamu malah minta belikan sepatu. Alih-alih nanti kita makan nasi sama garam aja lah.”

Alif terdiam. Suara kakak meninggi, sepertinya dia sedikit marah mendengar jawaban Alif.

“Makanya kamu nabung kayak kakak. Udah bisa beli sepatu sendiri. Buku tulis sendiri. Kamu jangan nambah susah mamak sama bapak lagi Lif. Kasian bapak sama mamak mau nyari duit dari mana lagi.”

Betul juga kata kakak Alif. Fatimah.

“Tapi kakak kan dikasi mamak uang jajan. Sedangkan Alif nggak.” Alif mencoba mencari alasan.

“Itu bukan uang jajan Alif… tapi uang dari hasil kakak jualan keripik.”

Fatimah setiap hari selalu menyisihkan uang hasil jualan keripik buatan emaknya ke kantin sekolahnya di SMA Negeri. Selepas pulang sekolah, Fatimah membawa uang hasil jualan keripiknya dan menyerahkan ke emak. Emak kemudian membaginya sesuai dengan modal dan keuntungan. Fatimah diberi Rp5000,- oleh emak untuk uang jajan. Tapi oleh Fatimah, uang itu dia masukkan ke celengan dari bambu. Sedangkan Alif, letak sekolahnya yang hanya berjarak 20 meter dari rumah tidak diberi uang jajan oleh emak, dan hal itu pernah ditanyakan Alif pada emak.

“Mak, kok Alif nggak dikasi uang jajan kayak kawan-kawan Alif?”

“Alif kalo lapar atau haus kan bisa pulang ke rumah. Nggak perlu jajan.”

“Ah Emak.” Alif menyerah. Dalam hatinya membuat kesimpulan bahwa Emak pelit.

Alif mendekati kakaknya yang habis menjemur pakaian.

“Kak…” Panggil Alif setengah berbisik, seperti takut kedengaran orang lain.

“Berilah Alif kak sedikit dari uang hasil jualan keripiknya. Nanti Alif tabung.”

“Ah, enak aja. Berkurang lah tabungan kakak.”

“Ssstt… jangan kuat-kuat suaranya nanti dengar emak. Kan kakak dapat pahala besar udah bantu Alif menabung.”

Kakak menatap Alif. Lalu menyerahkan ember kosong ke Alif, seolah memberi kode ke Alif untuk mengembalikannya ke kamar mandi, dan itu sudah sering sehingga Alif hafal kebiasaan kakaknya.

Ayah menggergaji sebatang bambu dan menjadikannya satu batang pendek dengan dua ruas. Lalu melubangi ruas bagian atas dengan menggunakan pisau. Alif asyik memperhatikannya. Alif akan memiliki celengan dari bambu seperti kakaknya. Tapi Alif masih belum tahu duit dari mana yang akan dimasukkannya. Alif berdoa semoga setelah memiliki celengan bambu, emak memberinya uang jajan.

Alif teringat, setiap sore dia mandi di sungai kecil yang airnya jernih bersama teman-temannya. Sungai kecil yang membelah tanah-tanah perkebunan sawit milik pemerintah. Sungai yang dimanfaatkan warga untuk mencuci pakaian dan mandi selalu menjadi tempat bermain Alif dan kawan-kawannya. Memancing atau mengumpulkan pasir dari dasarnya dan selalu menemukan uang logam pecahan. Jika nanti ia menemukan uang logam di dasar sungai kecil itu akan dimasukkannya ke celengan bambu itu.

“Nah udah selesai Lif.” Ayah memberikan celengan bambu ke Alif

Lamunan Alif seketika buyar. “Kamu cuci dulu yang bersih ya biar miangnya hilang.”

“Iya yah, terima kasih ya yah.” Alif menuruti pesan Ayahnya membersihkan bulu-bulu halus yang menempel pada batang bambu dan itu bisa membuat gatal bila menyentuh kulit. Alif pernah merasakan nikmatnya gatal yang diakibatkan dari miang bambu itu kala menebang pucuk pohon bambu untuk dijadikan pancing. Akhirnya Alif tidak jadi mancing karena sibuk menggaruk-garuk sekujur badannya yang kegatalan.

Selepas solat isya Alif dan kakaknya belajar di ruang tamu. Alif mendekati kakaknya yang sedang membuka buku pelajaran ekonomi.

“Kak, Alif udah punya celengan seperti kakak.” Lapor Alif.

“Terus…” mata kakaknya terus menatap buku pelajaran.

“Alif mau menabung seperti kakak.”

“Bagus… menabung lah.”

“Mm… Duitnya kak?”

Fatimah sadar. Ini pasti ada hubungannya dengan permohonan Alif kemarin yang minta bagian dari hasil jerih payahnya berjualan keripik.

“Nanti ya kalo celengan kakak udah penuh dan nggak muat lagi.”

“Huh… Dasar pelit.”

“Udah ah. Kakak mau belajar dulu. Ini kakak lagi belajar tentang Bank dan Pentingnya Menabung untuk Masa Depan.”

“Bank. Apa itu kak?” Rasa ingin tahu Alif muncul mendengar kata-kata yang diucapkan kakaknya dari buku.

“Mau tau?”

“He eh.” Alif mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mau tau aja apa mau tau banget?” Tanya kakaknya menggoda.

“Mau duit kak.”

“Duit melulu. Dasar mata duitan.”

“Daripada mata belekan, hehehe…”

Fatimah menjelaskan pengertian bank kepada Alif dengan panjang lebar dan menceritakan pengalamannya saat berkegiatan semacam study tour ke sebuah bank yang ada di kota. Alif sangat antusias mendengarnya.

“Nanti Alif kalau udah tamat sekolah akan bekerja di bank.” Kata Alif. Kakak tersenyum dan mengaminkannya dalam hati. Besok sore sepulang sekolah, Fatimah berencana ke pasar. Kata teman-temannya di sekolah. Di pasar akan dibangun bank. Fatimah ingin kesana untuk memastikannya dan ia akan mengajak Alif.

Pasar tampak sunyi karena itu bukan hari minggu. Fatimah dan Alif celingak-celinguk meneliti mana bangunan yang akan dijadikan bank. Fatimah mengerem laju sepeda motor. Matanya terpaku pada sebuah bangunan yang sebagian tertutup kain. Plang yang tertancap di pinggir jalan pun masih tertutup kain.

“Ini ya bank yang kakak bilang?” tanya Alif. “Sudah tutup ya kak?” Tanyanya lagi.

“Buka aja belum Lif, kok tutup pula.”

“Itu udah ditutup kain kak. Kayak jenazah.”

“Hahaha… Ini namanya belum diresmikan Lif.”

Fatimah dan Alif menatap gedung itu. Sepertinya keduanya penasaran seperti apa bangunan itu nantinya jika sudah dibuka. Fatimah menanamkan niatnya dalam hati jika nanti bank itu sudah buka, Fatimah akan membongkar celengannya dan memindahkannya ke tabungan seperti yang dipelajarinya saat study tour. Dia akan memiliki buku tabungan dan didalamnya tertera jumlah uangnya. Fatimah akan lebih bersemangat menabung. Dia juga akan mengajak emak untuk menabung sebagian hasil dari berjualan keripik. Emak juga bisa mendapatkan tambahan modal dari bank sebagaimana yang pernah diungkapkan petugas bank saat study tour. Bahwa bank turut membantu masyarakat mengembangkan usaha-usaha kecil dengan memberikan tambahan modal usaha. Pasti usaha emak akan lebih besar daripada saat ini.

Alif membayangkan dirinya bekerja di bank seperti yang diceritakan kakaknya, rapi, berwibawa dan ramah. Alif ingin seperti mereka.

“Kak, jadi orang bank itu mata duitan ya kak?”

“Hahaha…” Fatimah sadar, adiknya mulai ngaco. “Yok kita pulang.”

***

“Lif. Kamu ngantuk ya?” Tanya emak yang melihat Alif duduk sambil memeluk sepeda motor. Alif mengusap matanya. Mulutnya menguap.

“Emak kok lama?”

“Iya, emak sekalian beli bahan-bahan untuk jualan. Kakakmu pasti udah lama menunggu. Yuk kita pulang biar lekas produksi lagi.”

Emak dan Alif pulang, melewati gedung yang pernah dikenalkan Fatimah pada Alif.

Setahun kemudian bank tersebut telah beroperasi. Disanalah Fatimah mulai menabung, menyisihkan sebagian keuntungan dari hasil berjualan keripik buatan emaknya yang lambat laun mulai berkembang. Emak juga mulai menabung disana.

Pangsa pasar keripik buatan Emak meluas tidak hanya di kantin-kantin sekolah saja, tapi mulai merambah ke pasar-pasar. Pesanan pun mulai berdatangan dari luar kota. Usaha yang pada awalnya hanya dikerjakan emak sendiri kini telah memiliki tenaga kerja. Beberapa ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggal mereka direkrut emak untuk ikut membesarkan usaha tersebut. Pada awalnya emak hanya memproduksi keripik pisang, seiring bertambahnya pesanan emak menambah variasi produknya seperti keripik ubi dan keripik sambal.

Usaha yang semakin berkembang berbanding lurus dengan kebutuhan akan modal. Gayung bersambut, Fatimah yang rutin bertransaksi dan mengenalkan usaha emak pada pihak bank telah membawa angin segar dengan diberikannya pembiayaan tambahan modal usaha oleh pihak bank. Siapa sangka kini usaha jualan keripik yang awalnya dibawa Fatimah ke kantin-kantin sekolah telah merambah ke supermarket dan pusat oleh-oleh di kota.

Semua keberhasilan usaha yang dilakukan dimulai dari hal yang kecil, menabung salah satunya. Menabung merupakan langkah pertama menentukan masa depan, menyadari bahwa keinginan tidak selalu didapat dengan cara yang instan, melainkan butuh proses yang panjang dan menabung telah menjembatani keinginan yang pada awalnya mustahil menjadi real. Fatimah, Emak dan Alif kini menikmati apa yang mungkin dulu dianggap bahwa menabung hanyalah kerja “kecil” namun seiring dengan keuletan telah membuka pintu masa depan yang cerah.

Cerita ini didukung oleh Bank Sumut

#ayokebanksumut

#banknyaorangsumut

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: