10# Kerajaan Bedogol di Ujung Tanduk

image

Ini tahun yang sangat panas dirasakan rakyat kerajaan Bedogol. Matahari seperti ada dimana-mana. Kata tuan-tuan yang singgah tempo hari di istana. Ini adalah tahun beruk api, panas macam pantat kuali habis mengaco dodol.

Ingin tahukah kamu siapa gerangan yang singgah tempo hari di istana. Mereka adalah sekawanan isteri-isteri para petinggi istana pusat. Perlu kiranya kawan fahami, bahwa kerajaan bedogol merupakan kerajaan kecil yang mana ianya memiliki induk kerajaan. Induk kerajaan ini berada di padang yang sangat luas dan ramai. Para hulubalang bila ditanya satu persatu, maka semua akan memilih tinggal di induk istana yang megah itu. Namun tak dapat semua menuju kesana jika tidak ada prestasi ataupun handai taulan yang menjadi petinggi disana.

Para isteri-isteri petinggi itu singgah sejenak di kerajaan bedogol adalah untuk

membuang hajat. Setelah menempuh perjalanan yang jauh dari istana pusat menuju ke istana lainnya untuk berlomba ketangkasan fisik. Mereka berkerut-kerut muka karena menahankan sesak yang tiada tara. Kebetulan istana bedogol adalah istana terdekat yang dilewati dan berbondong-bondonglah mereka memasuki istana bertanya dimanakah gerangan kamar mandi berada.

Para isteri petinggi itu pun masuk keluar bergantian. Ada rona wajah kepuasan tergambar jelas. Berpendar macam duit logam dalam kolam. Tapi hidung mereka bersungut-sungut, merasai bau yang tak lazim terhirup ke dalam rongga hidungnya.

“Apakah air di istana ini memang begini? (maksudnya air di istana kerajaan bedogol sedikit berbau dan keruh).” Tanya salah seorang diantara mereka kepada Amigol. Hulubalang yang pandai menghitung uang sampai berjuta-juta.

“Iya Ibu, maafkan kami tidak berkenan dengan keadaan air di sini.” Jawab Amigol dengan takzim.

“Mengapa demikian? Apakah sumur galiannya kurang dalam sehingga tidak mendapat air yang jernih.” Tanyanya lagi.

“Benar sekali wahai ibu. Baru kali ini kami mengalami hal buruk semacam ini akibat rusaknya mesin. Biasanya air yang keluar sangatlah jernih.”

“Kalau begitu, gantilah apa yang rusak sehingga bisa kembali seperti sedia kala.” Kata ibu itu sambil menatap perdana menteri.

“Tetapi kami telah menghabiskan dana yang tidak sedikit ibu, demi untuk memperbaiki mesin itu, dan kini uang kami telah habis… Hiks…hiks… srooottt.” Amigol sedih. Air matanya menganak sungai.

“Oh…” Para isteri petinggi istana itu maklum adanya. Mereka pun menahankan bau air yang sudah lekat di wajah dan anggota badan lainnya. Biar bagaimanapun, toh mereka telah meninggalkan kotorannya di istana dan jidatnya tidak berkerut-kerut lagi.

Mereka pun pamit setelah masing-masing memperkenalkan diri. Beberapa hulubalang mengenal suami-suami mereka, beberapa tidak. Mereka adalah para isteri petinggi yang akan menjalankan misi perlombaan antar isteri petinggi istana besar. Mereka berkata akan mengikuti lomba memasukkan bola ke dalam lubang tanah. Ada yang berlomba memukul bola dengan tangan berganti-gantian. Semuanya sepertinya menggunakan bola.

Setelah berbasa-basi sedikit dengan beberapa pertanyaan mengenai jati diri raja dan para punggawa istana, para isteri petinggi istana undur diri untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Sijemput.

“Baiklah, waktu jualah yang memisahkan kita. Kiranya pabila ada jarum yang patah, jangan digoreng dalam kuali, pabila ada tutur kata yang salah, tak lah pala diambil hati.” Kata seorang ibu yang bertahi lalat di bajunya. Kemudian raja menyilahkan pergi dengan untaian kata…

“Kami pun kiranya demikian, air di perigi rasa kesturi, pabila pulang nanti singgahlah kemari, kami kan jamu dengan senang hati, walau air di kamar mandi bau aki, insyaAllah terhindar dari bakteri.”

Raja membalas pantun perpisahan dengan istri-istri petinggi istana, selepas itu mereka keluar setelah pintu dibukakan dengan takzim oleh pengawal istana. Lalu istana sepi kembali.

Raja kemudian mengumpulkan seluruh hulubalang untuk meminta pendapat mengenai kerusakan-kerusakan yang terjadi di istana nan mungil dan berantakan itu.

“Wahai hulubalang Digol, sampaikanlah olehmu akan laporan mengenai kondisi istana. Mengapa hari ke hari istana kita sudah seperti kapal pecah karena menghantam gunung es.” Pastilah raja berkata demikian karena teringat akan film kapal titanigol.

“Duli tuanku, kapal kita, eh… istana kita memang sedang dilanda musibah tuanku. Ibarat kapal, seperti menghantam gunung es…” Hulubalang Digol seperti de javu dengan kata-kata itu.

“Hei hei… itu adalah kata-kataku tadi. Mengapa tidak engkau cari kamus yang lain?” Potong Raja cepat

“Maafkan hamba baginda, saya lupa.” Hulubalang Digol merasa terpukul.

“Jadi istana kita ini memang sangatlah gawat bin darurat baginda, alat perekam segala kejadian di istana mengalami kerusakan. Tetapi tidak lama lagi alat itu akan segera diganti dengan yang baru. Teruss…” sambil membolak-balik halaman notesnya “mesin pemberi uang kita sering sekali merajuk baginda, ia selalu saja meminta maaf walau tidak ada yang datang. Satu lagi adalah masa berlaku hak sewa istana kita ini baginda.”

Memang status tempat berdirinya istana kerajaan bedogol bukanlah milik kerajaan. Melainkan milik rakyat yang tidak bisa dimiliki dengan seenaknya. Kerajaan bedogol harus membayar upeti kepada si pemilik tanah dengan besaran yang tiada terkira. Andai kata si rakyat jelata itu meminta hak sewanya, tamatlah kerajaan bedogol. Wassalam. Karena sampai saat ini kerajaan bedogol yang masih belia ini belum ada upeti untuk diberikan kepada si pemilik tanah. Kerajaan besar alias induk kerajaan seperti tak perduli dengan kerajaan kecil Bedogol. Para petinggi sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga mereka tak lagi bisa memilah mana urusan yang maha penting dan mana urusan yang taik burung.

“Tenggat waktu kita sudah tidak ada lagi baginda. Apa lagi yang harus kita lakukan?” Lanjut hulubalang Digol.

“Hmmmhh…” Raja menampung dagunya dengan punggung tangannya. “Bersiap-siaplah kita diusir dari istana ini. Persiapkanlah keperluan untuk tidur di luar. Apakah itu tenda, tikar atau payung fantasi sebagai bentuk berjaga-jaga apabila tuan tanah menagih upeti. Walau kita harus menanggung malu karenanya.”

“Ha…”
seluruh hulubalang terpelongo mendengar titah baginda.

“Apa diantara kalian ada yang mempunyai saran untuk permasalahan ini…”

Para hulubalang saling berpandangan. Tentu saja mereka tidak ada yang memiliki saran karena otak mereka sudah buntu akibat rasa lapar yang mulai berdendang di dalam perut.

“Sudahlah. Janganlah terlalu dirisaukan. Apabila tuan tanah menagih upeti, kita tinggalkan saja istana. Lalu kita akan laporkan ke istana raya kalau istana kerajaan bedogol telah berakhir, telah tamat alias mampus. Lalu kita bersenang-senang di rumah sebagaimana halnya para petinggi istana raya bersenang-senang tanpa memperdulikan kita.” Tutup baginda dengan bijaksana.

“Baiklah baginda raja, izinkan kami undur diri sekalian makan siang baginda.” Digol kemudian melirik Fadigol yang matanya udah terpejam setengah akibat menahan lapar.

Lalu seluruh hulubalang kembali menuju ke ruang pengisian lambung demi untuk memompa kembali semangat bekerja. Mereka tinggalkan sejenak permasahan mengenai nasib istana dan nasib para hulubalang yang mulai santer diisukan akan dipindahkan ke istana lain.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: