Sampah Serapah

Itu adalah pagi yang agak mendung. Matahari entah dimana, mungkin masih berselimut awan. Namun kurasakan pagi ini begitu indah, tidak panas dan hawa dinginnya membuat segar.

Kupacu keretaku menyusuri jalanan yang sudah ramai orang-orang bekerja membersihkan parit. Sepertinya mereka dari lembaga atau dinas tertentu kalau kulihat dari seragamnya yang mirip semua berbalut training. Ada yang memegang cangkul, mencabut rumput, menebang tumbuhan liar di pinggir jalan, membersihkan parit dan ada yang berfoto, mengabadikan momen kerja gotong royong yang sudah semakin langka.

Dulu dikenal sebutan jumat bersih. Tapi ini bukan hari jumat. Ini adalah hari minggu. Apakah sekarang sudah diganti menjadi minggu bersih?

Saat melewati lapangan yang terletak di tengah kota Tebing Tinggi. Kulihat baliho besar dengan tulisan yang juga besar-besar. Tertulis “MEMPERINGATI HARI SAMPAH NASIONAL, 21 FEBRUARI 2016. Oh, jadi ini hari sampah. Enak ya sampah punya hari. Pasti sampah senang sekali hari ini mereka berulang tahun dan merayakannya. Menyanyikan selamat ulang tahun dan terus terbakar sendiri dan pindah sendiri ke tempat sampah.

Kalau dibilang hari sampah, itu sepertinya bukan kata yang tepat. Dibeberapa media yang kubaca, ini adalah HARI PEDULI SAMPAH. Ditetapkannya tanggal 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah sebagai peringatan terhadap bencana longsor sampah yang terjadi di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat pada 21 Februari 2005 silam. Seperti dituliskan Di situs Kementerian Lingkungan Hidup, penyebab terjadinya longsor tersebut, diduga karena curah hujan yang sangat tinggi serta ledakan gas metana (CH4) yang terperangkap dalam timbunan sampah. Longsoran gunungan sampah tersebut menelan lebih dari 150 jiwa yang kemudian dinyatakan sebagai bencana lingkungan. Mayoritas korban adalah penduduk di sekitar TPA yang bekerja sebagai pemulung. Maka ditetapkannya tanggal tersebut sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) adalah untuk membangun komitmen agar bencana akibat pengelolaan sampah yang kurang baik dan tidak berwawasan lingkungan tidak terulang.

Seringkali kita tidak menyadari bahwa begitu banyak sampah yang kita hasilkan setiap hari. Mulai dari sampah plastik setelah selesai berbelanja, sampah sisa-sisa makanan, sampah dari tumbuhan dari pekarangan rumah dan sampah rumah tangga lainnya. Bayangkan saja kalau tidak ada petugas kebersihan yang memungut sampah tersebut, pastilah rumah kamu berubah jadi tempat sampah. Terus banyak kecoa, tikus, ulat-ulat yang akan berpesta-pora. Hiii…

Itu sampah yang masih tingkat rumah tangga saja. Jika dilihat secara global perdaerah dan per negara seperti Indonesia ternyata lebih mengejutkan lagi. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di http://www.sciencemag.org pada februari tahun lalu, Indonesia berada di peringkat kedua di dunia yang menyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, baru kemudian disusul Filipina, Vietnam dan Sri lanka (sumber http://www.nationalgeographic.co.id). Gimana tahun ini ya, apakah Indonesia bisa menurunkan peringkatnya atau malah menjadi kampiun. Masih sampah plastik saja, Indonesia sudah mendapat peringkat kedua, jika ditambah dengan sampah masyarakat, alamat lah Indonesia jadi peringkat pertama.

Jika Indonesia menjadi peringkat kedua yang banyak membuang sampah plastik ke laut itu adalah hal yang wajar, barangkali itu juga disebabkan karena negara Indonesia adalah negara kepulauan yang dikelilingi oleh laut. Coba jika Indonesia seperti Arab Saudi, pastilah sampahnya dibuang ke gurun pasir.

Jadi teringat waktu masa kecil dulu di sekolah dasar. Setelah selesai baris berbaris dan akan memasuki kelas, setiap murid disuruh oleh wali kelas untuk mengutip sampah yang ada di halaman sekolah. Sampah yang telah dikumpulkan kemudian dibakar di tempat sampah. Barangkali itu adalah pelajaran sejak dini untuk membuang sampah pada tempatnya. Dan jika kebiasaan itu diteruskan hingga dewasa, pastilah tidak akan ada yang membuang sampah sembarangan entah itu ke sungai, ke laut maupun ke halaman tetangga.

Barangkali mulai sekarang kita harus ikut sadar akan bahaya sampah yang mengancam lingkungan dan ekosistem kita sendiri. Sampah plastik yang kita hasilkan setiap hari mungkin tidak pernah kita hitung, tapi kalau mau dihitung juga nggak apa-apa, supaya kita tahu ternyata sampah plastik yang kita hasilkan luar biasa, bisa sampai 700 kantong plastik pertahun.

Makanya belakangan ini kita saksikan berita-berita di televisi, beberapa daerah mulai menerapkan kantong plastik berbayar. Itu artinya kalau belanja di mall atau supermarket, kita bakal membayar plastik tempat belanja kita. Di satu sisi, pengusaha makin untung, sedangkan bagi pembeli mungkin harga kantongan plastik tidak begitu menjadi masalah bila harus membayar. Maka bagi yang tidak mau membayar, bawalah kantong plastik sendiri dari rumah atau bisa juga keranjang rotan atau keranjang plastik. Selain bisa menghemat uang, juga bisa ikut mengurangi sampah plastik.

Semoga setiap kita dapat berkontribusi mewujudkan Indonesia Bebas Sampah dan dapat menerapkan prinsip 3R dalam pengelolaan sampah (Reduce, Reuse, Recycle).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: