Tahun Baru Rasa Lama

Tidak terasa tahun 2015 berlalu berganti menjadi tahun 2016. Kenapa tidak menjadi tahun 2020 saja ya, biar tiba-tiba sehabis hitungan mundur yang gundul tiba-tiba jadi gondrong, yang SD tiba-tiba udah masuk SMA, yang baru nanam pohon durian tiba-tiba udah jualan pancake durian, yang baru beli motor kreditan tiba-tiba udah lunas. Wah enak sekali ya.

Seluruh dunia menyambut

suka cita tahun baru dengan kembang api, mercon  dan tiupan terompet. Terompetnya terbuat dari kertas bekas cetakan alQuran pula. Sampai-sampai ada teman yang bikin status “ribut kali kelen tiup-tiup terompet, ditiupkan malaikat terompetnya itu, kiamat kelen.

image

Dulu, di tahun-tahun sebelumnya, saya termasuk yang ikut merayakan tahun baru. Rela menghirup polusi dari asap-asap knalpot yang berjubel dijalanan, terjebak macet, telinga pekak menerima semprotan suara terompet yang tak berhenti ditiup anak-anak pecahan botol hanya untuk menyaksikan ditembakkannya kembang api ke udara selepas menghitung detik mundur ke pukul nol nol.

Langit kemudian berubah warna. Berpijar seperti lahar yang muntah dari perut gunung api. Berdentum di ujung sana sini. Tepuk tangan membahana dan suara musik yang tak henti menghentak melupakan malam yang telah larut.

Selanjutnya pulang, menghirup asap knalpot lagi, merasai macet lagi. Tidur. Esok pagi tetap tidak ada yang berubah kecuali waktu. Tapi itu dulu, waktu masih muda, waktu belum menikah.

Kali ini saya terbetik dalam hati dari semua lintasan sejarah tadi. Mengapa tahun baru selalu dirayakan. Padahal disitu juga ada tahun yang ditinggalkan?

Bila tahun berganti, maka fokus banyak orang di belahan dunia adalah menyambut tahun baru. Tahun baru berarti harapan baru, resolusi baru, yang kadang lupa apakah resolusi dan harapan tahun sebelumnya sudah tercapai atau tidak.

Tahun yang ditinggalkan terlupakan, apalagi jika resolusi dan harapan tahun itu telah tercapai. Maka tahun yang ditinggalkan hanya seperti kulit kacang, kita lupa menyediakan tempat untuk merenung, bermuhasabah atas segenap kealpaan, kesalahan yang kita lakukan. Kita sibuk berpesta pora menikmati pergantian tahun dan lupa bahwa waktu yang telah meninggalkan kita itu tak akan pernah kembali sedetik pun. Kita tak merasa sedih dan tak merasa kehilangan. Seringkali kita terlambat menyadarinya.

Tahun baru ini adalah tahun yang berat bagi saya karena harapan dan resolusi tahun sebelumnya masih ada yang belum tercapai sementara kehadiran tahun baru ini membawa tantangan lain yang harus dihadapi dengan jurus yang berbeda. Ciaat.. Ciaaat… Toeweweweng…

Itulah mengapa tahun baru ini rasa lama. Tahun saja yang baru beserta tampilan fisiknya. Dibalik itu, keadaan batin dan segenap manifestasi yang dilahirkan tetap saja masih yang lama. Maka dentuman kembang api, haru biru pentas musik, bisingnya mercon, tiupan terompet hanyalah hura-hura, tidak ada faedahnya dan hanya meninggalkan sampah dan dosa semata, terkecuali ada sebagian orang baik yang melakukan kerja sosial di tahun baru. Mungkin merekalah yang menyambut tahun dengan rasa baru.

Hidup memang singkat, detik yang berlalu tak mungkin kembali, namun kesempatan akan selalu ada jika kita ingin lebih baik dari tahun sebelumnya.

 

Iklan

3 Tanggapan

  1. wowww mantapp infonya…

  2. ini baru informasi mantappssss

  3. smoga di tahun ini menjadi lebih baik lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s