Tentang Sebuah Jam Tangan

jam, tangan ajaib

jam, tangan ajaib

Bercerita tentang jam tidak hanya bicara tentang waktu, tapi bisa juga tentang dinding kalo dia itu jam dinding, atau tentang tangan kalo dia berwujud jam tangan, atau bisa juga tentang macet kalo dia menjelma jadi traffic jam. Dari beberapa jenis jam itu maka ini adalah tentang jam tangan.

Seorang perempuan sedang sibuk memperhatikan deretan jam tangan yang terpajang di stelling kaca sebuah toko jam, ia menunjuk ke salah satu jam jenis analog dan meminta pelayan toko mengeluarkannya dari akuarium jam itu. Diperhatikannya dengan seksama mulai dari tali hingga pernak-pernik yang menempel di antara jarum jam. Pelayan toko pun menyebutkan segala kelebihan jam tangan itu dengan harapan supaya si perempuan yang tampak sudah bersuami itu segera membelinya.

“Ini ori loh bu, bagus tuh dipakai sama bapak.” Penjaga toko mencoba merayu.

Lalu terjadilah tawar menawar harga dan setelah disepakati, perempuan tersebut langsung membayar dan membawanya pulang. Sampai di rumah, ia kemudian membungkus jam tersebut dengan kertas yang indah, didalamnya ia letakkan sepucuk surat yang berisi tentang ucapan selamat ulang tahun dan beberapa pesan yang nantinya ia persembahkan buat orang yang dicintainya, ayah dari anak-anaknya.

“Kanda jam berapa pulang?” Tanyanya lewat telepon selepas kado kecil itu dia persiapkan.

“Mungkin habis  magrib Din, kenapa?” Si suami memanggil istrinya Dinda, bukan Udin.

“Habis magrib itu isya donk…” ujarnya manja.

“Hmm… Habis magrib sebelum isya insya Allah.” Si suami memperbaiki jawabannya dengan dingin.

“Oh, ya sudah. Dinda dah masak nih untuk kanda. Jangan lama-lama ya pulangnya.”

“Iya sayang… Kanda pasti pulang ke rumah. Kanda kan bukan keong. Nggak bawain rumah.”

“Hehe… iya. Kanda memang bukan keong, tapi meong.”

“Ha ha ha”

Janji si suami ditepati. Ia pulang ba’da magrib dan langsung mendapatkan kejutan dari istrinya. Dia potong kue ulang tahun yang dibuat istrinya dikelilingi dua anaknya dan bersama-sama mereka berdoa memohon kepada Allah agar kebahagiaan yang mereka rasakan sekarang akan terus abadi sampai akhir hayat.

***

Kini setiap bekerja, sang suami selalu menggunakan jam tangan hadiah dari istrinya. Jam tangan bermerek internasional yang suaminya tidak pernah bertanya berapa harganya dan dimana belinya. Ia hanya pakai saja sebagai asesoris di tangannya yang membuat wibawanya semakin bertambah.

Bila pulang bekerja, jam tangan itu dia letakkan di atas meja yang rendah sehingga mudah dijangkau anak-anaknya. Anak-anaknya pun memainkannya layaknya seperti mobil-mobilan. Menggeretnya di lantai, melemparkannya dan memperebutkannya. Hal itu luput dari perhatian suaminya hingga akhirnya jam itu rusak.

Si istri mengambil jam itu di lantai setelah anak-anak meninggalkannya, beralih ke mainan yang lain. Wajahnya menampakkan raut muka yang sedih. Jam yang dibelinya dengan harga yang mahal baginya setelah menyisihkan uang belanja berbulan-bulan kini jarum jam tersebut berhenti bergerak. Tapi nampaknya tidak ada kerusakan lain. Talinya masih bagus. Tidak nampak lecet.

Ia tidak mau berfikir negatif pada suaminya. Ia letakkan jam tangan itu dekat dengan tas kerja suaminya. Lalu berpura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi terhadap jam itu.

Keesokan paginya ketika hendak berangkat kerja, si suami memakai jam tangan seperti biasa dan terkejut.

“Loh jamnya mati.” Ujarnya pelan. Lalu dia bertanya pada istrinya. “Ma, jamnya kok mati? Jangan-jangan ini jam palsu ma.”

Isterinya yang mendengar perkataan suaminya yang tidak mengenakkan itu menahan diri untuk tidak emosi. Tidak baik marah apalagi ketika suaminya hendak berangkat kerja, fikirnya. Dia masih ingat kata ustadz saat mengikuti ceramah ramadhan tahun lalu. Suami yang akan berangkat kerja mencari nafkah adalah sama halnya dengan berjihad. Maka tugas seorang isteri adalah mendoakannya agar suami selalu diberi kesalamatan dan perlindungan dari Allah dalam bekerja. Selalu mendapatkan rezeki yang halal. Dengan doa isteri, maka rezeki yang diperoleh suaminya akan diberkahi Allah. Suami pun tiada beban dalam bekerja karena ia pergi kerja diantar dengan kedamaian dan doa isteri yang salihah.

“Ya udah ditinggal aja. Nanti coba Dinda bawa ke toko biar diperbaiki.” katanya sambil merapikan baju suaminya.

Di kantor, si suami teringat akan kata-katanya kepada isterinya. Ia menyesal sudah mengatakan kalau itu jam palsu. Ia tau pasti isterinya kecewa mendengar kata-katanya. Tapi ia bersyukur isterinya memiliki kesabaran ekstra sehingga tidak membalas perkataannya. “Isteriku, maafkan aku…” Lirihnya.

Selepas pulang dari kantor ia mendapati jam tangannya masih dalam keadaan mati. “Pastilah istriku belum sempat membawanya ke toko jam.” Ujarnya dalam hati. Ia memutuskan untuk keluar memperbaiki jam tangannya sendiri ke kota mengajak anaknya yang sulung dengan mengendarai motor.

Banyak toko-toko jam yang ada di kota dan ia memilih toko jam yang namanya sama dengan merk jam tangannya. Setelah berbasa-basi dengan pemilik toko, ia menyerahkan jam tangan itu ke pemilik toko dan menanyakan apakah jam itu masih diperbaiki.

Kata pemilik toko yang sepertinya ahli juga dalam memperbaiki jam, jam tangan itu rusak pada IC (integrated circuit) nya. Stainless stellnya masih bagus tidak nampak lecet, dan biaya untuk memperbaikinya membuat si suami terkejut.

“Mahal sekali pak memperbaikinya.”

“Iya pak. Ini jam tangan mahal loh. IC nya pun mahal.” Si pemilik toko menyebutkan kisaran harga jam tangan itu yang membuat si suami terpana. Si suami itu pun menjelaskan kalau jam tangan itu sebatas dipakainya saja. Ia tidak menyangka kalau itu jam asli dan harganya mahal. Barangkali perbincangan antara si suami dan pemilik toko jam itu terdengar anak sulungnya.

“Yah, kemarin jam tangannya dimainin sama adik. Dilempar-lemparkan gitu yah.” Kata si sulung.

“Oh ya… ayah dimana ya kok nggak tau?”

“Waktu itu ayah lagi mandi. Udah abang bilang, tapi kalo jamnya abang ambil, adik nangis.”

Si suami tersadar. Ini semua akibat keteledorannya. Ia teringat wajah isterinya dan merasa bersalah. Ia selama ini seolah tak perduli kalau jam itu sangat berharga. Ia terharu. Isterinya benar-benar memberikan kado yang spesial. Sebuah jam tangan mahal yang tidak disadarinya. Yang tidak pernah ia tanyakan berapa harganya karena ia tidak ingin dianggap kalau ia hanya peduli soal harga. Ia hanya ingin memakai saja karena ia menyukai jam tangan. Ia ingin segera pulang dan ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada isterinya. Isterinya yang sabar, yang tidak mau mengungkit-ungkit pemberiannya. Isterinya yang tidak pernah marah ketika jam itu lupa dipakainya atau ketika jam itu tidak diletakkan di tempat yang aman dari jangkauan anak-anak.

Ia meminta izin untuk membawa pulang kembali jam tangannya, tidak jadi diperbaiki. Ia berdoa semoga jam itu sehat kembali seperti sedia kala sehingga tidak perlu diperbaiki karena uangnya juga tidak cukup untuk memperbaiki jam itu.

Doanya dikabulkan Allah. Dua hari kemudian jarum jam itu sudah berputar-putar sendiri dan ia kembali memakai jam tangan itu dan memuji istrinya yang telah memilih jam tangan yang sangat disukainya. Si istri pun sangat senang mendapatkan pujian dari suaminya dan mengingatkan dengan santun agar tidak sembarangan meletakkan jam tangan itu disembarang tempat.

Udah, gitu aja. Tamat. Inti dari semua itu adalah Terkadang apa yang engkau anggap biasa, adalah sesuatu yang tidak biasa. Maka, syukurilah segala sesuatu yang ada, maka Allah akan menambah dan melebihkan nikmatNya pada kita.

Iklan

7 Tanggapan

  1. Keren bang ^^

  2. Keren bang ^^

  3. iyaaa keren banget nihhh 😀

  4. cerita yang sangat menginspirasi sekali nihh

  5. so sweet banget ceritanya >_<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: