ke Pulau Berhala, the Dream Comes True

Selamat Datang di Pulau Berhala

Selamat Datang di Pulau Berhala

Pernahkah kamu ke Pulau Berhala? Saya baru sekali dan sepertinya tidak cukup sekali kesana. Jadi saya tetap memasang niat agar suatu hari bisa kesana lagi. Bawa isteri juga. Kalau dia mau.

Pada suatu hari yang agak mendung karena kabut asap. Saya dan teman-teman kantor, maksudnya teman-teman yang satu kantor dengan saya mengadakan kegiatan yang sangat tidak disukai oleh mereka yang tidak kami ajak untuk ikut kegiatan ini. Karena kami akan bertamasya ke Pulau Berhala. Sebuah pulau terluar wilayah Indonesia. Yang masuk dalam kawasan Kabupaten Serdang Bedagai.

Karena saat itu posisi kami di wilayah Sergai, maka kami akan berangkat dari Bedagai dengan menggunakan perahu yang sebelumnya telah kami pesan dan kami bayar uang muka agar dikira mereka bahwa kami serius dan akan rugi jika kami tidak jadi berangkat. Janji untuk berangkat pukul 2 siang seperti yang dibilang pihak travel kami abaikan gara-gara ada kegiatan kantor yang sangat tidak menarik untuk diikuti. Kompetisi Frontliner yang menampilkan kehebatan para satpam, teller dan customer service menampilkan standard layanan dan juaranya akan dikasi makan di hotel ditemani para direksi.

Apa enaknya makan bareng direksi, kan malu kalo mau congok. Gak bisa leluasa gigit lauk sampe bumbunya beterbangan. Dan kalo mau tambah juga jadi segan.

Akhirnya kami relakan kantor cabang menjadi pemenangnya. Sebagai unit kantor dibawahnya, kami rela mengalah demi melihat induk kami bahagia dengan ponten-pontennya. Kami tidak ingin latihan mereka selama ini sia-sia. Jadi kami relakan mereka menang agar mereka bahagia. Bukankah membuat orang bahagia itu berpahala.

Pukul 3 siang kompetisi baru selesai, kami bergegas menuju Bedagai untuk berangkat naik perahu. Jarak dari kantor ke perahu ditempuh 1 jam. Alhamdulillah sampai dengan selamat dan perahu dan orang-orang yang berada di atasnya masih sabar menunggu kami.

Riki dengan topi koboinya membuat pancing. Pancing yang akhirnya dimakan laut

Riki dengan topi koboinya membuat pancing. Pancing yang akhirnya dimakan laut

Semua perbekalan sudah lengkap. Riki sibuk menata benang pancing dan membuat joran agar kami semua yang berjumlah 9 orang bisa ikut memancing semua. Topi koboi yang dikenakannya tidak cocok untuk naik perahu, harusnya naik kuda. Sementara yang lain duduk-duduk nggak jelas.

Waktu itu kabut asap masih tebal. Jarak pandang hanya 200 meter, selebihnya putih samar-samar. Saya yang memegang kamera prosumer sibuk mengabadikan momen-momen bagus menurut saya. Muncul juga perasaan ngeri waktu itu. Gimana nanti di tengah laut. Apakah kabut semakin tebal? Apakah tekongnya jago mengendalikan perahu? Dalam hati saya berdoa agar kiranya perahu kami tidak seperti perahu Titanic.

Pukul 4 sore perahu mulai beranjak dari sandarannya yaitu tiang-tiang rumah panggung si empunya perahu. Drododokkk…. begitu kira-kira bunyinya. Di dalam perahu ada beberapa marinir dengan pakaian sipil. Itu saya ketahui setelah di tengah perjalanan dan berbincang-bincang dengan salah satu dari mereka.

Kata tekong perahu, jarak tempuh dari Bedagai ke Pulau Berhala kira-kira menghabiskan waktu 4 jam. Itu artinya kami harusnya sampai di Pulau Berhala pukul 8 malam. Deg-degan membayangkan berlayar di tengah laut saat malam tiba. Pastilah gelap, apalagi ditambah kabut asap kiriman. Entah siapa yang mengirim dan pakai apa mengirimnya saya tidak tahu.

Saya, Riki, Bang Najam, Miko dan Tuan Rambe duduk di anjungan kapal. Kata tetangga saya, anjungan itu ruang kemudi kapal yang letaknya di depan. Tapi ini kok kemudinya di belakang ya? Mungkin ini bedanya perahu sama kapal. Yang lain, yaitu 4 Di seperti Dian, Bang Aldi, Rendi, Pendi, duduk juga dekat kami. Baru beberapa puluh menit. Bang Aldi sudah merebahkan tubuhnya di geladak perahu. Sepertinya dia mengantuk sekali. Dia tidur memakai masker. Masker yang dibeli waktu di darat tadi oleh Tuan Rambe. Kasian Tuan Rambe, dia selalu disuruh-suruh oleh semuanya. Dia disuruh lari-lari mengambil tas pakaiannya di kosnya agar tidak terlambat naik perahu. Pancingnya yang dia pinjam dari saudaranya jadi ketinggalan akibat terburu-buru. Tuan Rambe juga tidak sempat ganti pakaian, ia masih memakai pakaian dinas Satpam saat naik perahu. Pastilah ada yang heran, baru kali itu ada perahu berlayar dijaga satpam.

Suasana di perahu begitu menyenangkan, jika kamu tidur digeladak. Kamu akan tidur nyenyak karena seperti diayun-ayun. Kalau kamu solat juga akan berayun-ayun, makanya kami solat dengan cara duduk. Kalau solat dengan gerakan sempurna, pastilah tidak jadi solat. Yang ada malah bacaan solatnya tercampur sama kata-kata, eh… eh… aduh…

Baru kali itu saya solat di atas perahu yang sedang berlayar. Untunglah ombak tidak besar. Jadi tidak begitu sulit ketika rukuk dan sujud. Bang Aldi, Bang Najam dan saya solat bergantian. Dian ragu-ragu mau solat. Dia takut berwudu dengan air laut yang diambil pakai timba. Mungkin dia takut nyebur ke laut dan dimakan paus. Apalagi dia tahu kalau dia bukan nabi Yunus.

Saya berharap sore ini bisa melihat binatang laut muncul ke permukaan. Tapi sejak berangkat sampai saat itu. Cuma burung laut yang mengapung. Kepinginnya saya melihat lumba-lumba yang berenang mengiringi perahu seperti yang dibilang Miko. Miko pernah mengalaminya dan aku juga ingin memiliki pengalaman seperti itu.

“Woiii… keluarlah ikan hiuuu… Dimana kau.”

“Loh mas… kok hiu?” Mas Riki menyebutku Mas, begitu juga saya sebaliknya. Padahal kami bukanlah pasangan anu.

“Eh, astagfirullah. Lumba-lumba maksudnya. He he he.” Riki dan Miko tertawa.

“Gawat kita nanti kalau betulan hiu yang datang.” kata mereka. Saya berdoa semoga Allah tidak mengabulkan kata-kata tadi.

Sudah hampir pukul enam sore, mulai ada perubahan suasana. Riki terkapar, perutnya mual.

“Lemah kau, lemah!” Ejek Dian. Riki tidak perduli dan terus memejamkan matanya menetralisir makanan dalam perutnya supaya tidak tumpah keluar. Senasib dengan Riki adalah Tuan Rambe dan Rendi.

“Kenapa kau Rendi?” Rendi yang kutanya mengusap perutnya.

“Gak tahan aku bang. Kalo angkot ini bang, kusuruh pinggir aja lah bang. Biar bisa turun aku.” Maksud si Rendi, perutnya sudah mual. Dia mau muntah tapi terus ditahannya. Dia bilang mau tidur aja. Supaya dia lupa kalau tadi dia mau muntah.

Alhamdulillah aku masih tahan. Belum ada rasa mual-mual. Yang ada malah kentut-kentut. Lega rasanya kalau sudah kentut. Itu artinya angin yang jahat beranjak pergi dari perut bergabung bersama angin laut. Entah kemana tujuannya. Dian pastilah tadi kentut juga. Karena dia mengacungkan jari telunjuknya ke atas seolah-olah tangannya memegang pistol dan kemudian bersuara ahh… seperti ada rasa kepuasan disana.

Malam akhirnya datang, tapi bulan tak nampak. Kami mulai bergantian berbaring, tidur. Ternyata cukup membosankan di tengah laut tidak ada pemandangan apapun. Apalagi kalau sudah malam. Semuanya gelap. Rasa bosan dan takut bercampur. Apakah perahu ini akan sampai ke Pulau Berhala atau malah ke segitiga Bermuda.

Bang Najam dan Miko bercakap-cakap sama pemilik perahu. Namanya Bapak Edi. Dia bercerita tentang keanehan-keanehan di pulau Berhala. Saya ingin bergabung, tapi bingung cari posisi agar suara bapak Edi bisa tertangkap oleh kuping saya. Soalnya angin laut malam begitu kencang. Menampar-nampar rambut dan memporak-porandakan suara. Saya sempat mendengar Pak Edi cerita tentang binatang yang bisa tiba-tiba hilang setelah ditangkap di pulau itu. Nama binatang itu kepiting.

Pak Edi meminta anggotanya untuk memeriksa GPS, apakah pulau Berhala sudah dekat? karena seharusnya pukul 8 ini kami sudah sampai. Kami melihat lampu-lampu bersinar dikejauhan. Kata Bang Najam. Kalau ada cahaya berbaris-baris itu pastilah kapal. Tidak berapa lama anggota pak Edi datang lagi, namanya saya tidak tau. Tapi kata dia 3 mil lagi kami sampai di Pulau Berhala. Kami ikut-ikutan anggota pak Edi melongok-longok ke depan. Apakah pulau itu terlihat. Pak Edi fokus pada cahaya berjejer yang mulai nampak samar-samar. Dia bilang itu adalah dermaga. Semoga saja benar.

Sebenarnya pulau ini indah, tapi kamera ku tidak bisa menangkap keindahan itu, mungkin lensanya burek.

Sebenarnya pulau ini indah, tapi kamera ku tidak bisa menangkap keindahan itu, mungkin lensanya burek.

Memang benar. Tiba-tiba saja bentuk gunung ada di depan kami. Pastilah tadi tertutup kabut asap. Itu adalah Pulau Berhala. Dermaga juga sudah kelihatan. Ada bendera merah putih berkibar di dermaga itu. Ramai orang-orang di dermaga seperti hendak menyambut kami. Kata pak Edi, itu adalah marinir-marinir yang menjaga pulau Berhala. Kenapa harus dijaga. Mungkin agar pulaunya tidak lari atau tidak dicuri orang-orang yang serakah.

Saya melihat hp. Tidak ada sinyal sama sekali. Jadi saya tidak bisa mengabarkan kepada isteri kalau saya sudah sampai di Pulau Berhala.

Perahu berusaha merapat ke dermaga. Air saat itu mulai pasang. Namun jarak perahu dengan lantai dermaga masih 2 meter. Kami harus naik dengan menggunakan tali dan jaring yang tergantung di tiang dermaga dan akan ditolong marinir-marinir itu dengan menarik tangan kami. Kalau terlepas, maka kami akan nyemplung ke laut.

Sebelum kami naik, barang-barang haruslah naik terlebih dahulu dengan cara dilempar dari kapal dan ditangkap dari atas sama marinir-marinir. Pak Edi cekatan sekali melemparkan tas-tas kami, kemudian melemparkan kotak-kotak kardus, bungkus-bungkus plastikdan entah apa lagi, tidak ada yang dekat dengan pak Edi. Khawatir dia salah ambil salah satu dari kami dan dilemparkannya.

Lalu ada bungkus plastik yang dia lemparkan ke atas, tapi pak Edi sepertinya ragu-ragu melemparkannya. Bungkusan plastik hitam itu terbang ke atas namun tangan marinir yang menangkapnya kurang panjang. Plastik hitam itu jatuh ke air. Pak Edi berusaha menggapainya dari perahu tapi plastik hitam itu lebih cepat bergerak menyelam.

Kami sibuk bertanya, itu bungkusan milik siapa? Ternyata itu adalah pancing-pancing yang dirakit Riki saat dalam perjalanan tadi. Oh Tuhanku… Bagaimana itu bisa terjadi. Riki nampaknya kesal sekali. Kami juga.

Pak Edi mencoba menenangkan dengan menyarankan besok saja diambil. Malam begini tidak ada yang mau menyelam ke bawah untuk mengambilnya.

Tapi kami tetap saja kesal. Memancing cumi akan jadi impian belaka. Kami terus naik dibantu marinir. Setelah semua selamat di dermaga. Kami memandangi ke bawah. Mereka-reka mungkin pancing itu masih ada disitu. Kata Riki, bandul besinya yang berat membuat plastik cepat melayang ke dasar. Kami memandangi wajah marinir dengan wajah yang sedih, berharap ada marinir yang kasihan lalu meloncat ke laut mencarikan pancing-pancing itu. Tapi marinir itu tidak mengetahui arti wajah kami.

bersambung… itupun kalo tidak malas

Tebing Tinggi, 31 Oktober 2015. waktu itu sedang gerimis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: