Road to Berastagi : Gundaling Sunyi

image

Perdebatan mengenai tujuan rekreasi pada hari libur panjang kemarin akhirnya berakhir ketika diputuskan untuk rekreasi ke Gundaling, Berastagi. Dengan segenap kekuatan dan keikhlasan seadanya, kami pun pergi menuju tempat wisata yang dikenal dengan hawa dinginnya, kota Berastagi dan pasar buahnya yang segarrr.

Hawa dingin di Gundaling bukanlah berasal dari AC, tetapi mungkin dari udara gunung Sinabung yang letaknya tidak jauh dari situ. Karena letaknya di dekat pegunungan, maka tempat ini menyimpan banyak potensi wisata yang sangat recommended untuk didatangi.

Jika kamu lapar, kamu bisa mencicipi manis pedasnya jagung bakar dan jagung rebus di Berastagi. Kamu juga bisa memetik buah strawberry dan jeruk langsung dari pohonnya dan membayarnya sebelum dibawa pulang. Kamu juga bisa mengelilingi Gundaling dengan menaiki kuda atau sado. Tarifnya mulai dari 40 ribu sampai 150 ribu tergantung jarak yang ditempuh. Jangan kuatir. Kudanya bukanlah kuda liar yang bisa melemparkanmu dari pelana. Kamu juga akan diiringi si joki sehingga mengendarai kuda supaya baik jalannya. Hei tuktiktaktiktuk dst…

Kalau di Gundaling, kamu bisa merasakan aroma yang lumayan membuat lobang hidungmu bergerak-gerak menyempit yang berasal dari

kotoran kuda. Saya sempat mengabadikannya dengan kamera teman supaya kalau pulang nanti kameranya jadi bau taik kuda, tapi ternyata tidak.

Saya diajak Musa dan Fadil naik sado. Saya mau saja karena dipaksa Fadil. Kapasitas sado hanya untuk 4 orang termasuk kusir. Kami berdua duduk membelakangi kuda. Sedangkan si Musa duduk di samping pak Kusir dan di belakang pantat kuda. Sayangnya atap sado menjulang ke bawah sehingga saya dan Dian tidak bisa menikmati pemandangana dengan baik kecuali dengan menunduk. “Sado macam apa ini!!!”

Tapi dibalik kekurangan, selalu ada kelebihan. Pak kusir menawari untuk berhenti di setiap lokasi yang dianggap bagus untuk berfoto. Tentu saja dia yang harus memfoto kami. Bukan dia yang kami foto. Kami berfoto dengan latar gunung Sinabung yang masih mengeluarkan awan kinton gelap dari moncongnya.

Si Musa tiba-tiba mewawancarai pak Kusir.
“Kudanya punya nama pak?”

“Punya. Namanya Mantili.”

“Seperti nama pendekar di kerajaan Mojopahit itu ya..?” Fadil ikutan nanya. Pengetahuan sejarahnya ternyata masih bagus.

“Mantili si Pedang Setan ya?” Tiba-tiba saya ingat dengan sandiwara radio Saur Sepuh yang sering disiarkan waktu saya masih adik-adik.

“Bukan Mantili yang itu. Mantili yang ini Manja Tapi Liar.”

“Hahaha…” Kami tertawa bersahut-sahutan.

“Pak, ini kuda jantan apa betina?” bola mata Musa seperti mengarah ke selangkangan kuda.

“Betina. Kalau untuk dikendarai di sini betina semua.”

“Kenapa pak?”

“Kalo jantan udah pada ngumpul suka berantem. Tapi kalo yang betina paling ngerumpi kerjanya. Hehe…”

Kami tertawa juga. Tapi tidak bersahut-sahutan lagi.

Tidak sampai 10 menit mengelilingi bukit Gundaling, kami sudah kembali ke titik start. Setelah turun, saya dan Fadil menyuruh Musa untuk membayar ongkos sadonya. Musa ternyata merasa senang.

Selepas itu kami menjelajahi bukit Gundaling. Ada yang memfoto, ada yang di foto, ada juga yang tidak mau di foto. Saya termasuk yang memfoto dan yang minta di foto. Sengaja saya memilih berfoto di papan “Selamat Datang” agar nyata lah kiranya bukti bahwa saya memang benar-benar di Gundaling. Ternyata si Fadil mengikuti ide saya dan menempatkannya di DP BBMimage

.

Beberapa pengunjung yang datang ke Bukit Gundaling berfoto dengan latar Gunung Sinabung. Ada yang menggunakan kamera sendiri, ada juga yang menggunakan jasa fotographer setempat yang lengkap dengan alat cetak fotonya. Kamu bisa memilih beberapa hasil jepretannya untuk dicetak dan mendapatkan softcopy-nya. Untuk sekali cetak dikenakan biaya 10 ribu rupiah. Eh, betul nggak ya?

Saat  teman-teman sedang mengerubungi tukang cetak foto. Saya melihat seorang anak dari keturunan manusia juga, yang pandangannya selalu kosong. Entah bagaimana saya bisa menyimpulkannya begitu. Saya mendatanginya dan menawarkan jasa untuk memfotonya. Saat itu saya memegang kamera si Musa.

“Ayok mas kujepret yok.”

“Dimana mas?” Ajakanku berhasil. Dia langsung nanya lokasi foto.

“Suka hati mas. Mas yang pilih mau foto dimana. Nanti ku foto.” Kepalanya berputar-putar mencari tempat untuk dia berpose.

“Disana yuk mas.” Dia mengajakku ke area pepohonan. Dia mengatur gayanya sendiri. Ada gaya menyandar di pohon, ada gaya menunjuk seperti Bung Tomo, ada gaya berjongkok. Lalu kami gantian. Saya kan mau juga numpang eksis.

Oh ya, namanya mas Riki. Semoga dia tidak marah saat dirinya saya ghibah di blog ini. Hahaha…

Kami lalu pindah ke lokasi yang ada patung jodoh. Kata si Rafika pengharum baju yang mau digosok, itu adalah patung jodoh. Patung laki dan perempuan seperti menyambut tamu yang datang.

Mas Riki kusuruh memanjat lantai patung dan memasukkan kepalanya ke karangan bunga yang dipegang patung perempuan. Yess, persis tuh mas Riki seperti dikalungi bunga. Belakangan gaya itu ditiru teman-teman yang lain setelah mereka melihat hasil jepretan saya. Namun foto kedua, ketiga dst di tempat yang sama tidak pernah lebih baik hasilnya dari foto pertama.

Akhirnya cuaca lama-lama berubah, matahari diam-diam pergi entah kemana. Satu persatu rombongan kami menuju parkiran untuk pulang.

Azan magrib terdengar entah dari mesjid mana berasal. Sayangnya, musholla di bukit Gundaling tidak dibuka. Pintu kamar mandi dan mushollanya di gembok. Semoga saja cuma hari itu saja digembok. Sayang kalau ada tempat solat tidak bisa digunakan.

Karena hari sudah gelap maka kami pun pulang meninggalkan Bukit Gundaling dengan kuda-kudanya. Tamannya, patungnya, pasarnya yang menjual pernak-pernik khas Berastagi.

Semoga bukit Gundaling tetap asri, pengunjungnya bertambah sehingga rezeki orang-orang yang mencari nafkah di sana juga semakin bertambah.

Kayaknya bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: