Suatu Malam Bersama Kakek

Malam itu terasa sejuk, udara dari AC bergumul menyesaki ruang mesjid. Sehabis shalat sunat ba’da maghrib, aku tidak langsung pulang ke rumah seperti biasa, karena tiba-tiba aku ingin duduk dekat kakek marbot, jamaah biasa memanggilnya kakek Rusdi.

Jarang aku mengobrol dengan beliau yang usianya kini sudah memasuki kepala tujuh. Tubuhnya yang kurus dan guratan-guratan diwajahnya menunjukkan ke-aki-annya. Namun begitu, ia tetap semangat mengurus mesjid, menghidupkannya setiap lima waktu, menjadi muazzin dan imam solat.

“Nggak pulang kampung Di, libur panjang kan?” Dia langsung menyapaku begitu kuletakkan pantatku di sampingnya. Beliau bilang libur panjang karena hari jumat bertepatan tanggal merah, saat umat Kristiani memperingati wafatnya Jesus.

“Nggak kek, di sini aja nemenin kakek, he… he…” Kakek tersenyum.
“Kakek kemana nih liburan? Masa di mesjid aja.”

“He… he… Nggak ada. Nanti sepala pergi, perginya jauh ya kan.” Memang benar, kakek kalau pergi biasanya ziarah ke Air Batu yang berjarak 3 jam dari Kota Tebing Tinggi, sekali waktu dia pergi ke Jawa dibawa saudara kandungnya. Kalau kakek sudah pergi, maka jamaah akan kelimpungan mencari siapa yang jadi imam solat.

“Kakek nggak kesepian? Tinggal sendiri di mesjid.” Kakek belum menjawab pertanyaanku. “Ceritain lah kek tentang nenek.”

Dia tersenyum, memang sepertinya tersenyum, walau

guratan di pipinya begitu jelas dan garis bibirnya sudah turun tetap saja nampak tersenyum.

“Sudah 3 tahun kakek ditinggal nenek, hari itu 16 Januari. Wajahnya tersenyum. Seumur hidup kakek baru dua kali melihat orang mati tersenyum, salah satunya nenek.” Aku mendengarkan dengan haru. “Biasanya kebanyakan orang mati mulutnya terbuka, makanya ada yang diikat kan…” sambil tangan kakek membuat lingkaran dari dagu ke kepala. “Kata ustaz, orang yang matinya tersenyum sudah melihat gambaran surga.”

“Alhamdulillah, semoga kita bisa husnul khatimah kayak gitu ya kek?” Aku langsung bertanya tentang nenek, pastilah banyak amal baik yang dilakukan.

“Nenek itu orangnya nggak banyak omong, kalau ngobrol sama tetangga, dia cuma dengerin aja.” Kakek mulai bercerita tentang istrinya.

“Kalau sama kakek?” Aku terpancing untuk bertanya tentang kehidupan mereka selama bersama.

Beliau memperbaiki duduknya. Matanya seolah berbinar.
“Kakek sama nenek jarang sekali bertengkar. Kalau ada diantara kami yang marah, maka yang satunya akan sabar mendengarkan. Dengan mendengar, kita tahu apa yang diinginkan pasangan, walau apa yang dikatakannya bertentangan dengan kita, setidaknya ia merasa diperhatikan. Jarang sekali kakek dan nenek berbantahan.”

Aku dapat membayangkan bagaimana suasana yang kakek ceritakan, dan ia pun melanjutkan ceritanya.

“Seberapa besarnya kemarahan tetaplah sabar, jangan pernah memukul atau berlaku kasar, baik dengan omongan maupun fisik. Sepanjang hidup kakek dan nenek belum pernah sekalipun kami berkata kasar apalagi sampai memukul bila terjadi perselisihan.” Benar-benar terharu aku mendengarkannya. Pastilah malam itu hatinya diliputi rasa cinta dan kerinduan yang begitu penuh pada istrinya.

Kakek terus melanjutkan ceritanya, beragam. Aku pun tetap setia mendengarnya sambil sesekali menimpali. Ah, malam itu aku banyak memetik pelajaran dari kisah perjalanan hidupnya. Dari seorang kakek yang menghabiskan masa tuanya sebagai marbot. Salutnya, sudah setua itu kakek tetap menyibukkan dirinya berladang di kala siang.

Cerita pun berakhir ketika waktu isya menjelang. Kakek menyuruhku azan. Besok-besok kita ngobrol lagi ya kek. Seruku dalam hati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: