Panitia Lomba

Itu adalah hari sabtu pagi, ketika pagi itu aku dua kali datang ke mesjid. Yang pertama untuk shalat subuh dan kedua untuk membantu persiapan pelaksanaan MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) yang diadakan di mesjid kelurahan tempatku tinggal.

Bangku-bangku plastik telah tersusun rapi, mimbar tempat mengaji sudah dihias indah, cuaca juga mendukung karena matahari entah kemana. Dekorasi yang sederhana namun orang tidak perlu menebak kalau di mesjid ini sedang mengadakan lomba MTQ, karena sudah ada spanduk terpasang di pagar mesjid yang menjelaskan hal itu.

Ada tiga tingkatan yang diperlombakan dalam MTQ tingkat kelurahan ini, tingkat anak-anak, remaja dan dewasa. Untuk tingkat anak-anak, peserta begitu membludak, tingkat remaja juga. Sedangkan tingkat dewasa sangat miskin peminat karena hanya diikuti dua peserta untuk tingkat putra dan dua peserta untuk tingkat dewasa putri. Lucunya, tingkat dewasa putri diikuti kakak beradik sehingga mereka menjadi juara satu dan dua, sedangkan tingkat dewasa putra tadinya hanya terdaftar satu orang, untungnya salah satu teman panitia segera mengabari seorang temannya yang masih dalam wilayah kelurahan tempat dilombakannya MTQ itu untuk menjadi peserta. Tentu saja mau karena apapun ceritanya, juara dua sudah di tangan.

MTQ ke-47 Kelurahan Tebing Tinggi

MTQ ke-47 Kelurahan Tebing Tinggi

Aku ditawarin juga untuk menjadi peserta dewasa putra, supaya peringkat tiga ada juaranya. Hahaha, apa kata dunia kalau panitia ikut jadi peserta. Apalagi kapasitas mengajinya kalah jauh sama tingkat remaja. Mereka bisa menguasai beberapa jenis qiraah dan melantunkannya dengan baik. Lah aku cuma mengaji biasa seperti membaca wirid yasin.

Lagian aku sudah punya tugas sendiri. Jadi juru foto MTQ, itupun atas inisiatif sendiri setelah melihat tidak ada petugas panitia yang mengabadikan acara ini ke dalam dunia digital. Buru-buru aku pulang ke rumah mengambil kamera semi pro ku. Itung-itung fotonya nanti bisa jadi pendukung waktu update blog. Hehehe…

MTQ tingkat kelurahan ini memang sangat ramai, ya… ramai peserta maksudnya. Beda sama acara kibotan (keyboard) yang bisa membuat jalan macet karena ramai penonton dan ramai orang berjualan. Di acara MTQ ini paling banter orang jualan rujak dan bakso bakar. Coba kalau pasar malam atau kibotan, mau jualan apa aja ada, dari balon gas sampai jual gasnya juga ada.

Intinya sih cuma mau bilang kalau syiar Islam sekarang kurang diminati. Entah konsepnya yang kurang menarik atau memang pudarnya rasa kecintaan terhadap agama di hati umat. Karena dimanapun terutama acara lomba MTQ ini, penonton itu bisa dihitung dengan jari dan cuma ditonton oleh tiga kelompok yaitu peserta, orangtua peserta dan panitia.

Alhamdulillah, pemerintah setempat masih punya komitmen untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan syiar Islam. Khusus MTQ yang memang diadakan setiap tahun selalu mencari bibit-bibit qari qariah yang dimulai dari tingkat lingkungan, kelurahan, kecamatan dan nantinya akan mewakili propinsi kala dilaksanakannya MTQ tingkat nasional.

Begitupun, pemerintah setempat tidak bisa melaksanakan kegiatan syiar Islam ini tanpa dibantu masyarakat, masyarakat yang juga perhatian terhadap berkembangnya syiar Islam, karena tidak gampang memang mengajak umat untuk bersama-sama melaksanakan kegiatan syiar Islam. Selain disibukkan dengan pekerjaan masing-masing, kesadaran untuk turut membantu saja terkadang tidak ada. Sebagian mungkin menganggap bahwa kegiatan itu pasti sudah punya panitia sendiri atau malu menampakkan diri dalam kegiatan tersebut karena jarang ikut sholat berjamaah di mesjid.

serba serbi MTQ ke-47 di Kelurahan Tebing Tinggi

serba serbi MTQ ke-47 di Kelurahan Tebing Tinggi

Acara MTQ tingkat kelurahan Tebing Tinggi alhamdulillah berjalan sukses, walau sempat dilanda hujan deras. Sempat juga kalang kabut ketika tempias air hujan membuat dewan juri sibuk melindungi kertas penilaian dari kejatuhan air. Aku dan teman panitia harus berjibaku memasang terpal untuk menutup percikan air yang mengarah ke dewan juri. Sayangnya sepatu para dewan juri tak dapat diselamatkan dari fungsi sebagai penampung air hujan. Hehehe…

Hujan saat pelaksanaan MTQ tentu saja sangat disyukuri, karena sudah hampir sebulan kota Tebing Tinggi tidak disiram hujan deras. Kakek marbot yang menanam pohon ubi di samping mesjid tidak lagi harus menyiram ubinya sebagaimana setiap hari dia lakukan.

Walau melelahkan, namun ada rasa kebahagiaan bisa terlibat dalam menyemarakkan syiar Islam.Semoga Allah membalas segala keikhlasan seluruh panitia dengan kebaikan…

Satu Tanggapan

  1. Nice Posting.. Salam Kenal..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: