Antara Rumah Kontrakan dan Tetangga

Nggak kerasa ternyata udah genap setahun aku menempati rumah kontrakan yang panas ini kalau lagi musim panas. Itu artinya harus nyiapin duit buat bayar kontrakan lagi untuk setahun ke depan. Sempat juga terfikir mau nyari kontrakan baru yang lebih murah, tapi mikirin nyari rumah dan harus angkut barang membuat niat itu lebih baik dipadamkan.

Sedikit kugambarkan keadaan rumah kontrakanku. Dia memiliki dinding beton, atapnya seng, lantainya keramik dan plafonnya asbes, dilengkapi dengan air sumur bor dan dari PAM juga dialiri listrik dari PLN. Kok seperti laporan taksasi ya…

Di dalamnya terdapat dua kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga dan 2 kamar mandi. Dapurnya juga ada sehingga kami bisa memasak. Dapurnya dilengkapi dengan rak kayu yang menempel di dinding tetapi tidak berjalan-jalan seperti cicak. Di dalam rak-raknya bisa diletakkan bahan-bahan dan alat-alat memasak. Di bawah meja dapur terdapat sekat-sekat yang dapat digunakan untuk menyimpan tabung gas, fungsi lainnya adalah tempat kecoa bersembunyi.

Istriku bilang rumah kontrakan sudah dibayar. Wah aku senang sekali. Dia memang pintar memanfaatkan uang pemberian suaminya. Jadi sekarang nggak takut kalau diusir sama si empunya rumah. Dengan diterimanya uang kontrakan setahun, maka akan amanlah untuk setahun ke depan. Istriku juga bilang kalau si empunya rumah mau menitip aquariumnya.

“hah, kapan?” tanyaku.

“Belum tau, nanti dia akan bilang kalau jadi. Cuma mau kita letakkan dimana ya? Kan kita tidak punya meja untuk tempat aquariumnya?”

“Nanti kita beli.”

“Pakek duit abang ya?”

‘Hah?”

“Nanti mau  pelihara ikan apa?”

“Ikan gembung aja.”

“Udahlah, nggak serius kalau ditanya.” Istriku mulai ngambek.

“Iya, kan sering beli ikan, daripada diletak di kulkas, kan mending diletakkan di aquarium dulu.”

Akhirnya percakapan terhenti sampai disitu karena dia beneran ngambek.

Dibalik rasa senang telah melunasi sewa kontrakan, ternyata ada rasa sedih yang mengiringi, karena disaat yang bersamaan, tetangga yang berada tepat di depan rumah harus mengakhiri kisah pahit manis mereka tinggal di rumah kontrakan itu. Mereka pindah ke kontrakan baru yang berjarak 50 meter dari kontrakanku. Tetanggaku bilang, si pemilik rumah telah menjual rumah itu, mau tidak mau, mereka pun harus pindah. Si pemilik rumah pun telah mengembalikan sebagian uang sewa kontrakan mereka. Duh, baru setengah tahun mereka jadi tetanggaku malah sekarang jadi tetangga orang lain. Rumah kontrakan yang telah dijual itu pun kini hanya menyisakan bunga layu dan lampu teras yang terus menyala.

Perubahan lain yang terasa adalah malam yang menjadi sunyi. Anak-anak tetangga depan yang biasanya bermain di depan rumah tak ada lagi. Tidak terdengar lagi suara gaduh anak-anak berlari berkejar-kejaran, bermain petak umpet dan susun batu. Tiga orang anak tetangga depan rumah itu sepertinya punya peran besar atas berkumpulnya anak-anak komplek bermain di sini.

Dulu istriku sering kesal jika anak-anak yang bermain di sekitar rumah begitu gaduh dengan teriakan-terikan mereka. Apalagi jika anak-anak itu menjadikan teras kami sebagai tempat persembunyian. Akan marahlah dia. Hanya dengan mengeluarkan suara, “Hei… Jangan disitu.” Maka anak-anak pun segera menuruti dengan saling menyalahkan satu sama lain, lalu mengendap-endap perlahan keluar pagar. Aku pernah bilang pada istriku agar jangan melarang mereka, karena memang inilah masa mereka bermain-main, mungkin sekarang istriku merasakan kalau kegaduhan yang ditimbulkan dari anak-anak yang bermain itu ternyata lebih baik ketimbang rasa sunyi yang kini mendera.

Tetangga kami yang baik telah pindah. Sayang sekali, padahal mempunyai tetangga itu sangaaat banyak manfaatnya. Contohnya aja nih berdasarkan pengalaman, jika kita bepergian, maka tetanggalah yang akan menjaga rumah kita. Jika hari tiba-tiba hujan dan kita tidak di rumah, maka tetanggalah yang menyelamatkan pakaian yang dijemur dari kebasahan. Jika kita punya banyak makanan, maka kita bisa berbagi dengan tetangga, begitu juga sebaliknya. Jika kita butuh pertolongan maka tetanggalah yang lebih dahulu membantu. Masih banyak lagi keuntungan-keuntungan yang kita dapatkan jika kita punya tetangga. Dalam Islam pun kita tidak dikatakan beriman jika tidak berbuat baik pada tetangga.

Tetangga dan rumah kontrakan ibaratnya seperti barang titipan, bisa pergi dan diambil kapan saja dan kita tidak bisa mencegahnya. Kita hanya bisa menikmati dan menjalani dengan penuh rasa syukur karena segala yang terjadi semua pasti ada hikmahnya. Rumah kontrakan dan tetangga itu harus kita jaga dan pelihara dengan baik. Rumah kontrakan harus kita anggap seperti rumah sendiri dan tetangga harus kita perlakukan seperti keluarga sendiri. Sehingga apabila kita meninggalkannya, adalah kesan baik yang akan dikenang baik oleh si empunya rumah juga tetangga.Aku dan istriku kini sedih harus kehilangan tetangga yang baik. Tapi apakah tetanggaku itu merasa kehilangan seperti kami tidak ya… Jangan-jangan mereka malah senang tidak bertetangga dengan kami. Ha ha ha…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: