Sahabat Dunia Akhirat

Sahabat itu adalah teman, teman belum tentu sahabat. Sahabat itu adalah sisi kita yang lain. Itu kenapa ada pepatah Islam, jika ingin mengetahui seseorang, lihat siapa sahabatnya. Karena kita dan sahabat boleh dikata seperti cermin yang selalu menampilkan siapa kita sebenarnya.

Mencari teman itu gampang, tapi mencari sahabat itu sulit. Tentu saja sulit mencari orang yang tidak mau berbasa basi, yang mau menyampaikan kekurangan kita, mengkritik kita, menyampaikan sesuatu yang benar dan memperbaiki kesalahan kita, turut merasakan apa yang kita rasakan (empati), saat kita bersedih ia akan hadir memberikan semangat, saat kita senang dia turut berbahagia.Ketika ada seseorang yang bisa melakukan hal semacam itu, maka ia telah menjadi sahabat kita.

Sahabat tentu saja tidak harus seagama bila persahabatan itu semata urusan duniawi. Namun bagaimana kita bisa melangkah dengan bijak dan tetap pada aturan ilahiyah dalam bekerja atau beraktivitas, maka kita tidak hanya membutuhkan sahabat yang seagama, namun juga sahabat yang punya ilmu agama, cukup itu saja? Tidak, karena jika punya ilmu agama tetapi tidak melaksanakannya, maka kita akan terpercik api kemunafikan darinya.

Sadar atau tidak, langkah yang kita ambil atau keputusan yang kita buat sedikit banyak dipengaruhi sahabat kita. Bila bersahabat dengan tukang las, maka engkau bau asap, bersahabat dengan penjual parfum, niscaya engkau pun ikut menjadi harum. Maka pemilihan sahabat itu lebih penting dari pada memilih presiden, salah memilih presiden menyesalnya sampai 5 tahun, itu pun kalau tidak keduluan dilengserkan, namun salah memilih sahabat bisa salah tujuan, tak selamat badan keseberang.

Apakah sahabat bisa tak bersahabat atau terputus? Bisa saja apabila sahabat yang kita punya adalah sahabat dunia, belum menjadi sahabat dunia akhirat. Karena persahabatan yang dilandasi keimanan dan ketaqwaan tidak akan terputus pada akhir zaman, insya Allah akan dipertemukan kembali di akhirat nanti.

Sahabat tidak melulu bersosok sebagai manusia, hewan bahkan benda mati pun dapat menjadi sahabat bagi kita. Mungkin ini ada beberapa sosok yang bisa dijadikan sahabat bagi kita.

  • Istri atau suami, makhluk hidup yang satu ini saya tempatkan pertama karena bagi saya seorang yang telah berumah tangga membutuhkan seorang sahabat sejati yang turut berjuang mempertahankan rumah tangga dari serangan penjajah. Penjajah disini bukanlah Jepang atau Belanda, melainkan orang yang mungkin ingin merusak rumah tangga, kemiskinan, kemalasan dan kekufuran. Pasangan hidup haruslah menjadi sahabat yang mengingatkan kita dikala tersalah, menasihati kita dengan ma’ruf, mengajak kita untuk beramal salih, bersama-sama membentuk keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah, tanpa sahabat mustahil hal itu dapat dilakukan, istri atau suami yang telah menjadi sahabat kita akan sama-sama berjuang untuk menjadi keluarga yang bahagia. Masih ingat kan lagunya the Brothers tuh kalo gak salah yang judulnya Sahabat Sejati. Begitulah sosok seorang pasangan hidup sekaligus sahabat.
  • Orang Tua, juga bisa menjadi sahabat terutama bagi kita, karena orang tua lebih memiliki pengalaman hidup ketimbang anaknya. Maka pendapat atau nasehat orang tua jangan pernah diabaikan karena tidak ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya kepada keburukan. Mereka yang menyayangi kita dengan penuh keikhlasan, mengorbankan jiwa dan raganya agar hidup kita kedepan lebih cerah daripada mereka.
  • AlQur’an, dan Hadits merupakan dua tuntunan yang wajib kita jadikan sahabat. Pernahkah kamu mendengar “Jadikan AlQuran sebagai sahabat.” Ketika kita menjadikan al-Quran sebagai sahabat, maka segala gerak gerik dan tingkah laku kita selalu akan kita jaga, kita tidak akan tersesat karena al-Quran telah kita jadikan sahabat yang akan selalu memberi petunjuk, memberikan ilmu pengetahuan, memberikan pengajaran dan pengarahan untuk hidup lebih bermakna karena setiap isi al-Quran yang kita baca adalah berisi perintah dan larangan dari Allah SWT, kisah-kisah keteladanan para nabi, peringatan maupun kenikmatan yang akan kita dapat atas balasan perbuatan kita selama hidup di dunia.

Tidak sulit kan mencari sahabat, kalau masih sulit mencari sosok sahabat, cobalah untuk menjadi sahabat bagi orang lain. Si suami menjadi sahabat bagi istrinya, si ayah menjadi sahabat bagi anaknya. Jika kita mau belajar menjadi sahabat, maka kita akan belajar untuk memahami orang lain. Mungkin selama ini kita banyak menuntut pasangan kita sempurna, mengapa tidak sesekali menuntut diri untuk memahaminya. Karena bagaimana pun, Tidak ada pasangan yang sempurna dan tidak selalu hidup berjalan sesuai dengan keinginan kita. Kita hanya perlu menjadi sahabat bagi pasangan kita, maka pasangan pun nantinya akan menjadi sahabat untuk kita.

nb: tulisan belepotan ini terinspirasi dari ceramah di tv. Semoga bermanfaat sampai kiamat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: