salah undangan

Bawalah amplop kalo datangin undangan

Bawalah amplop kalo datangin undangan

Apa yang akan dilakukan calon jamaah haji ketika waktu keberangkatan ke tanah suci semakin dekat? Salah satunya adalah mengadakan acara tepung tawar. Minta didoakan selamat baik ketika dari mulai berangkat sampai kembali pulang ke tanah air.

Kalau kamu punya saudara atau tetangga atau orang yang nggak kamu kenal tapi dia mengenalmu. Kamu akan menerima undangan baik secara lisan maupun tulisan.

Aku juga begitu. Imbas dari menjadi pendamping haji ketika diadakan manasik haji akbar PT. Bank Sumut untuk yang ke-9 kali di Asrama Haji Medan membuatku menjadi bintang pujaan ibu-ibu dan nenek-nenek yang kudampingi. Salah satunya Nek Nurhayati. Dia undang aku ke acara tepung tawarnya lewat telpon.

“Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam…”

“Abdi, ini nenek… datang nanti nenek ya ke rumah. Hari minggu jam 10 nenek ada acara tepung tawar…”

“Nenek yang pake tongkat?” Aku masih ragu

“Iya…”

“Oh iya nek… insya Allah nek ya. Dimana rumah nenek?”

“Di Bagelen, dekat mesjid rumah nenek. Bawa istri nenek ya… jangan lupa nek ya.”

Ha…? dia memanggilku nenek juga. “Iya nek… insya Allah nek.”

Minggu jam 11 aku pergi dengan istri meraba-raba jalan ke rumah nenek dengan sepeda motor. Perumahan Bagelen dekat mesjid. Nah itu dia. Istriku diam saja diboncengan menjaga roknya yang panjang agar tak masuk ke jari-jari.

Wah ada dua rumah dekat mesjid yang punya hajatan nih. Rumah pertama diramaikan dengan bacaan talbiah dan berjarak tiga rumah dari rumah pertama tampak teratak berwarna hitam. Dibawahnya ada orang makan-makan tapi orangnya sedikit.

“Yang mana rumahnya ya… ini pasti yang lagi baca talbiah.”

“Yang sana orang kemalangan mungkin.” Istriku menimpali.

“Kita tanya aja lah biar nggak salah”.

Kudatangi orang yang duduk di tembok parit. Bapak-bapak yang lagi main tab.

“Pak… ini rumahnya  bu nurhayati ya yang punya acara?”

“Nurhayati? Aryati dipanggilnya.”

“Yang marganya saragih kan…” kuharap dia menjawab iya.

“Ee… Iya…” tapi matanya sudah kembali ke tabnya.

Aku ajak istriku memasuk lorong yang disebelah kanan dan kirinya udah ada orang duduk. Mereka sepertinya tamu undangan seperti kami. Ada kursi kosong yang didepannya ada meja. Di atas meja ada hidangan makanan yang masih ditutup. Artinya belum boleh dimakan.

Ditengah-tengah acara doa itu arwahku mulai tidak tenang. Mana nenek itu tidak kelihatan karena acaranya di dalam rumah. Padat sekali. Segan rasanya kaki ini melangkah melewati tamu-tamu lainnya untuk memastikan bahwa ada nenek bertongkat didalamnya.

Kulihat kebelakang, ada bapak-bapak yang sepertinya dia bisa bicara.

“Pak. Ini rumah bu Nurhayati ya?”

“Bu Aryati…”

“Mmm… Bukan Nurhayati? Marganya Saragih”

“Setau saya ibu ini nggak punya marga.”

Mampus aku. “Kalo rumah itu acara apa pak?” Aku menunjuk rumah yang pasang teratak hitam tadi.

“Itu acara tepung tawar juga.”

“Kalo ibu Aryati ini pake tongkat ya pak?”

“Bukan. Yang pake tongkat yang di sana. Tinggi besar orangnya kan…”

“Iya…”

“Oh, di sana.”

“Salah masuk saya kalo gitu. Mau ke rumah nenek yang pake tongkat itu. Maaf ya pak.”

“Oh nggak apa-apa.”

Untung belum disuruh makan. Aku ajak istriku melarikan diri dari tempat itu sambil senyum ke kiri dan ke kanan melewati tamu. Semoga di dalam pikiran dan hati mereka tidak mengetahui yang terjadi sebenarnya.

Kami langsung menuju rumah satunya. Nah, nenek bertongkat nampakku duduk dengan pakaian ihramnya.

Aku disambutnya dengan gembira. Memujiku di depan teman-temannya.

“Inilah yang nolongin aku selama manasik haji.” Kata nenek itu dihadapan belasan saudaranya.

Aku tetap tenang. Aku tidak mau salah tingkah di depan mereka.

“Makan nek, makan…”

Ya ini yang ditunggu dari tadi. Tau aja kalau udah lapar.

Setelah mengambil nasi dan lauk pauk yang sederhana dan cukup gizi, kami mencari bangku yang kosong. Agar kami tidak makan berdiri. Tapi kok ada yang berbisik-bisik seperti menyebut namaku. Kutolehkan kepalaku. Astagfirullah,  rupanya mereka bapak dan ibu yang dulunya bertetangga waktu ngekos di dekat rumah mereka.

Ternyata nggak ada ruginya kalau menghadiri undangan, selain menjaga tali silaturahim, terkadang kita bisa bertemu dengan orang-orang yang pernah berbuat baik pada kita.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: