Ngajar Ngaji Lagi, Dejavu?

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi

Enam bulan tinggal di komplek perumahan ini udah mengalami Dejavu. Ngajar ngaji lagi. Apa iya itu dejavu? Pastilah ini bukan kebetulan, karena segala yang terjadi di dunia ini udah ada yang ngatur, yaitu Allah SWT. Serius!!!

Pertama kali aku terkejut kala sepulang shalat berjamaah di mesjid. Di depan rumah kok banyak sandal. Kecil-kecil lagi, kayak minion. Terus bapak-bapak yang rumahnya di depan rumah kami yang dipisahkan oleh jalan beraspal itu bilang, “Itu udah ada yang nungguin di dalam…” Terus bapak itu senyum nggak jelas gitu.

“Oh siapa pak?” Aku celingak-celinguk dari luar pagar sampe ke dalam rumah.

Toeweweng…

Rupanya udah ada tiga anak kecil yang terdiri dari dua perempuan dan seorang laki-laki telah duduk rapi di atas karpet plastik bergambar kambing hitam yang nakal. Ya ya, Shaun the Sheep. Aku tersenyum, mereka pun tersenyum. Ini kan anak bapak-bapak tadi.

Memang sebelumnya Bapak itu pernah bilang kalau dia minta tolong ngajarin anaknya mengaji. Dia bercerita kalau guru mengaji anaknya yang lama sudah tidak mengajar lagi karena kesibukannya bekerja. Kira-kira sudah 2 bulanan anak-anaknya mengaji tanpa didampingi seorang guru. Ya guru ngajilah, masak guru silat.

“Ya udah pak, abis abis maghrib gitu lah, suruh aja anak-anak datang. Insha Allah saya ajarin.” Aku teringat kalau isteriku turut mengompori untuk mengajari pecahan botol ini, katanya begini…

“Pahala abang pasti banyak kali bang, udah abang ngajarin ngaji. Abis itu abang ajarin sholat sekalian sholat berjamaah isya.”

“Iya…” Jawabku sekenanya.

“Ihh.., nggak ikhlas gitu jawabnya.”

Aku dengan cepat merubah mimik wajahku seolah-olah senang sekali. Bahaya nih kalau ngambek, bisa bisa… “Iya, ikhlas dunk, kan jadi amal jariyah…” Barulah agak senyum dia.

Alhamdulillah, karena kurcaci-kurcaci itu udah pernah mengaji, bacaan mereka sudah lancar, tinggal memperhatikan panjang pendek bacaannya dan tajwidnya saja.

Ngomong-ngomong soal mengaji. Dulu waktu masih kuliah, aku juga pernah ngajarin ngaji. Anak-anak yang kuajarin ngaji saat itu perempuan semua dan mereka kakak beradik. Si kakak punya dua adik, sedangkan si adik punya dua kakak. Jadi jumlahnya tiga orang. Mampus lah situ kalo bingung.

Sekarang mereka sebesar apa ya… Apakah mereka udah pada merid semua atau apakah mereka masih ingat sama guru ngajinya yang sekarang jadi guru ngaji lagi?

Menjadi guru ngaji itu sebenarnya tidak sulit, berikut beberapa tips jadi guru ngaji yang disenangi sama murid ngajinya. Disenangi ini bukan dalam arti negatif ya, kulempar kau nanti kalau berfikir macam-macam.

  1. Pasang senyum dan wajah yang santun, jangan pasang wajah sangar. Bisa-bisa anak yang mengaji sama  kita bisa grogi dan gagap saat baca Al-Qur’an.
  2. Pastikan semuanya sudah dalam keadaan bersuci terlebih dahulu, termasuk guru ngajinya. Hal itulah yang dianjurkan Rasulullah
  3. Ajarkan mereka baca doa terlebih dahulu sebelum membaca al-Quran, misalnya doa mau belajar. Jangan disuruh baca doa mau makan, nanti malah nggak jadi ngaji. Lari pulak mereka ke dapur.
  4. Sediakan rehal atau meja belajar kecil, kalau tidak punya bisa juga pakai bantal sebagai alas Al-Quran. Jangan ditaruh di atas karpet plastik, apalagi karpet plastiknya gambar Winnie the Pooh dan si Piglet. Jangan dipangku karena dikhawatirkan celana anak-anak itu tidak bersih. Anak-anak kan masih sulit bedain mana kain lap, mana celana.
  5. Pastikan anak-anak bawa al-Quran, bukan mobil-mobilan atau buku PR nya. Atau sediakan juga al-Quran di rumah. Masak guru ngaji nggak punya al-Quran. Kan kebacut itu.
  6. Pastikan al-Quran yang dibawa adalah al-Quran dalam versi lembaran cetak. Jangan al-Quran yang di hape android. Kan bisa repot ngajarinnya.
  7. Jika mereka salah baca, jangan dimarahi apalagi dipukuli. Beri tanda atau isyarat saat mereka salah dalam membaca, misalnya dengan berdehem, biarkan mereka menemukan sendiri kesalahannya dengan mengulang bacaannya. Tapi kalau nggak ketemu juga kesalahannya jangan dibiarkan terus, nanti bisa nggak pulang-pulang, kan orangtuanya jadi khawatir.
  8. Pastikan bahwa ruang tempat mengaji dalam keadaan bersih, harum dan rapi. Sehingga anak-anak yang mengaji terasa nyaman. Kan susah kalau di ruang mengaji banyak nyamuknya, panas dan sumpek. Bisa-bisa mata kita lebih sering nyariin nyamuk itu kemana terbangnya ketimbang memperhatikan apa yang dibaca si anak.

Mungkin itulah beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang-orang yang mendadak menjadi guru ngaji. Ingatlah, bahwa menjadi guru ngaji itu adalah perbuatan mulia, menabung amal jariyah dan dirindukan surga. Selain itu, jika ada rumah yang terdengar dari dalamnya bacaan al-Quran, bisa dipastikan bahwa yang tinggal di dalamnya adalah orang Islam. Itulah cara kita membedakan rumah seorang muslim dengan rumah non muslim.

Semangat Mengaji!!!

 

 

2 Tanggapan

  1. Mantap kali lah pak ustad ini. Udah nikah rupanya. Selamat ya Jay… I’m happy for you.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: