Pilpres yang Aneh

Tanggal 9 juli 2014 menjadi hari yang bersejarah bagi rakyat Indonesia dimana telah berlangsung pemilihan presiden (pilpres) secara langsung. Alhamdulillah sejauh ini tidak ada kerusuhan dalam prosesnya seperti dikhawatirkan banyak pihak. Mungkin berkah ramadhan meliputi negeri ini sehingga pilpres berlangsung aman dan damai.

Pagi itu sekira pukul 9 adikku membangunkanku dari tidur. Maklumlah, tidur waktu puasa itu ibadah, jadi suka lama bangunnya. Dia mengajakku untuk nyoblos ke TPS dimana kami terdaftar.

Dengan setengah mengantuk dan mata yang merah (kalau di cermin seperti lihat bintang sinetron Ganteng-ganteng Serigala), aku bergegas menyusul adik, kakak dan abang yang sudah berjalan duluan.

“Skor bola tadi pagi bisa jadi Kode alam lho.” Adikku membuka percakapan. Aku melirik sambil mengerutkan kening seolah bertanya apa maksudnya.

“7-1 artinya Presiden ke-7 yang terpilih nomor 1”. Katanya sambil terkekeh. Aku pun ikut terkekeh.

Maksudnya skor Jerman vs Brazil di semifinal piala dunia pagi itu 7-1. Kemenangan yang sangat fantastis buat Jerman. Sayangnya hasil quick count tidak ada yang menunjukkan kemenangan telak pada capres no. 1

Di dalam bilik suara aku mencoblos dengan mengucapkan doa semoga yang kupilih bisa menjalankan amanahnya sebagai pemimpin jika menang.

Di perjalanan pulang, adikku bilang lagi kalau dari kubu no.2 punya angka ajaib.

“Kalau tanggal pilpres 9 juli, 9 dikurang 7 maka hasilnya 2. Nomor dua yang menang.”

Bener juga. Bisa aja cara pendukung untuk mensugesti kemenangan kepada masyarakat.

Di televisi, hasil hitung cepat malah berbeda-beda. Tidak heran karena masing-masing pemilik stasiun tv berpihak pada salah satu capres. Kedua calon pasangan pun masing-masing mengklaim memenangi hasil quick count. Kalau sudah begini tampaknya siap menang tapi tak siap kalah.

Hidup ini serba kompetisi. Apa yang kita perjuangkan tidak selalu berhasil kita dapatkan. Sama halnya dengan kedua pasangan capres yang tentu saja harus ada yang unggul dan yang kalah. Namun kekalahan ini bukanlah dimaknai sebagai kegagalan karena selalu ada hikmah di setiap kejadian.

Yang menang tentu saja akan mengemban amanah yang amat berat dari seluruh rakyat Indonesia. Yang kalah bisa berkarya untuk negerinya. Namun bisakah yang kalah ikhlas menerima kekalahannya. Wallahua’lam.

Saya sempat tertawa ketika dengar selentingan kalau lagu Garuda di Dadaku itu adalah lagu yang selalu bawa sial. Dan itu lagu dijadikan sebagai jingle capres no. 1. Cobalah tengok bagaimana lagu itu dijadikan sebagai lagu wajib untuk timnas senior PSSI kita. Apa yang terjadi… tidak ada prestasi yang bisa mereka raih. Itu juga yang mungkin dikhawatirkan pendukung capres no. 1.

Kalau capres nomor 2 lagunya yang familiar saat ini adalah salam 2 jari. Terdengar easy listening emang dan banyak anak-anak suka menyanyikannya. Kalau ada yang iseng akan bilang, “Mana bisa salam dua jari. Salam itu harus lima jari.”

Akhirnya sekarang cuma bisa pasrah sambil menunggu hasil penghitungan suara KPU tanggal 22 juli nanti. Semoga kedua capres nantinya siap menang dan siap kalah agar tidak ada pemilu ulang yang banyak menghabiskan duit rakyat.

Lha terus anehnya dimana pilpres ini. Iya ya dimana anehnya… Aneh.

2 Tanggapan

  1. yah tgl nunggu yg udh mau di lantik aja nih mas skrg , amanah atau tidak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: