Pemilih Bayaran

foto internetSuatu malam yang belum begitu lama berlalu. Saya pergi ke Mesjid untuk memenuhi panggilan azan isya, alhamdulillah jarak dari rumah kontrakan ke mesjid itu cuma berkisar 50 meter saja kalau ditarik garis lurus, tapi karena mengikuti jalanan komplek, jaraknya jadi bertambah 50 meter lagi.

Sebelum sampai ke halaman mesjid, saya sempat mendengar seorang remaja yang berkata kepada seorang ibu bertelekung, bahwa dia telah melaksanakan amanah dari tim-tim sukses yang telah memberinya uang agar mencoblos calon anggota legislatif tersebut.

“Jadi siapa yang kamu coblos, boy.” (anggaplah nama si remaja yang bersarung unyil itu namanya si Boy)

“Ya semua calon yang ngasi uang itu lah wak.”

“Loh, kan satu aja yang dicoblos. Batal lah jadinya kertas suara kau.”

“Bah, awakkan menjalankan amanah orang itu wak, dikasinya awak duit. Coblos ya si ini, coblos ya si itu. Ya karena duitnya udah kuambil, kucoblos lah siapa-siapa yang dibilang tim sukses itu. Nggak salah kan wak?”

Wak itu tersenyum sambil melirik aku persis ketika aku melewatinya diakhir pembicaraan mereka.

****

Pemilu tanggal 9 April udah lewat. Asas Pemilu yang katanya LUBER (Langsung, Umum, BEbas dan Rahasia) dan JURDIL (JUjuR dan aDIL) itu jauh panggang dari api. Setiap calon menugaskan para tim suksesnya untuk menyiram masyarakat yang terdaftar dan memiliki hak pilih dengan gelontoran uang agar mereka memilihnya. Uang yang dibagikan mulai dari 25ribu sampai 500ribu, tergantung dengan kemampuan si calon. Entah berapa uang yang mereka habiskan hanya untuk merebut kursi menjadi anggota dewan mewakili rakyatnya yang terdiri dari kaum kerabatnya dan masyarakat yang mereka beri uang.

Istri saya bilang, tetangga kami ada yang mendapat sampai 500ribu, ada pula teman di kantor yang keluarganya sampai mendapat 1 juta. Bayangkan saja setiap calon dari bermacam-macam partai menyiram uang ke masing-masing pemilih sebesar 100ribu saja misalnya, jika di dalam rumah itu yang punya hak pilih ada 10 orang, maka sudah 1juta uang mereka dapatkan. Wah… masyarakat seperti kedatangan Robin Hood yang bagi-bagi harta hasil curian.

Namun begitu, ada yang juga yang nggak dapat duit dari para Robin Hood gak jelas itu. Contohnya aja saya, tidak ada tim sukses dari para calon yang memberi uang ke saya di komplek ini. Kenapa? Karena saya tidak menjadi pemilih di daerah ini. Tapi ada juga teman yang bertanya heran kepada dirinya sendiri. “Kenapa ya aku nggak pernah dapat uang seperti itu? Salahku apa!!!”

Harusnya sebagai orang yang bijak. Kita bangga tidak mendapat uang dari cara-cara seperti itu. Kita bangga tidak menjadi bagian dari masyarakat yang disogok untuk memilih orang-orang yang tidak baik. Dari awal saja sudah ketahuan boroknya kan. Sebelum terpilih saja sudah menempuh cara yang dilarang. Bagaimana nanti ketika terpilih. Tentulah si calon itu memikirkan cara bagaimana dia bisa memperoleh kembali uang yang sudah dia habiskan untuk meraih jabatan. Apalagi kalau bukan korupsi.

Yang lebih tragis saya baca di koran. Rumah Sakit Jiwa sudah bersiap-siap menampung para calon yang gagal, karena seperti pada masa-masa pemilu sebelumnya, banyak calon yang stress bahkan jadi gila karena keinginan mereka tidak kesampaian untuk duduk di dewan/parlemen, sementara sudah ratusan juta bahkan milyaran uang yang mereka habiskan. Ironisnya, uang itu mereka peroleh dengan berhutang. Nggak heran kalau ada yang jadi gila gara-gara gagal jadi anggota legislatif.

Di kota tempatku tinggal, ada tim sukses yang dipukuli calegnya sendiri karena tidak berhasil memenangkan si caleg tersebut. Ada juga caleg yang meminta kembali uang yang udah diberikan kepada masyarakatnya karena hasil perhitungan suaranya tidak cukup mengantarnya menuju kursi legislatif. Ada-ada saja.

Pemilu adalah soal amanah. Jabatan adalah amanah. Para wakil rakyat mengemban amanah rakyat. Rakyat yang memilih mereka dengan tulus akan berharap para wakilnya di parlemen ataupun di dewan untuk menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat, memajukan daerahnya sampai lima tahun ke depan. Adapun dari para anggota dewan yang terpilih atas dasar perjuangan mereka dalam serangan fajar, mereka tidak akan berbuat banyak untuk kepentingan masyarakat, melainkan hanya sibuk memperkaya diri dan keluarganya.

Jika saja semua masyarakat yang diberi uang itu punya pemikiran yang sama dengan Si Boy. Alangkah indahnya hasil penghitungan kertas suara karena banyak kertas suara yang batal. Masyarakat dapat duit cuma-cuma dan wakil rakyat yang terpilih pun hanya orang-orang yang berjuang dengan cara yang jujur saja. Sayangnya, orang-orang seperti si Boy ini sangat sedikit sekali.

Akhirnya, dari sekarang hingga lima tahun ke depan, kalau salah pilih, kita akan dipimpin oleh orang-orang yang tidak jujur, tidak amanah dan bermental korup. Bersiaplah untuk menikmati hari-hari buruk. Jika nanti banyak kebijakan yang tidak menguntungkan rakyat, kita tidak perlu memaki atau menyesali karena itu semua adalah hasil dari yang kita tanam sendiri. Nikmati saja sampai lima tahun ke depan.

Begitupun kita jangan pernah putus berharap, berdoa kepada Allah yang Maha Kuasa agar diberi pemimpin yang adil dan bijaksana, Pemimpin yang tegas seperti Umar bin Khattab, yang jujur seperti Abu Bakar, yang cerdas seperti Ali bin Abi Thalib, yang tawadhu’ seperti Umar bin Abdul Aziz. Semoga saja muncul pemimpin yang bisa menjadi teladan dan meneladani karakter-karakter Nabi dan para sahabatnya dalam memimpin Negara ini. Semoga saja

2 Tanggapan

  1. hahaha… sumpah sy ngakak lihat gambar chuck norris itu wkwke.. kreatif hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: