8# Sheila Out 7

konser Sheila on 7 dilihat dari jauh

konser Sheila on 7 dilihat dari jauh

Tanggal 7 Desember 2013, kamu tahu itu hari apa. Itu adalah hari sabtu. Yaitu hari yang sangat disenangi para hulubalang kerajaan Bedogol dan karyawan-karyawan BUMN di negeri seberang, karena biasanya itu adalah akhir pekan. Wabilkhusus di kerajaan bedogol, hari sabtu adalah hari berpulang. Yaitu berpulangnya para hulubalang kepada keluarga masing-masing meninggalkan sejenak kesibukan di Kerajaan Bedogol.

Sebelum hari sabtu adalah hari jumat. Waktu itu hulubalang Digol sedang berada di taman kerajaan. Bekerja sambil melafalkan bait-bait Sheila on 7. Sheila on 7 itu makhluk apa?… Bukan Sekilo 7 On. SO7 adalah grup band yang berasal dari Jogjakarta dan pernah ngetop dengan lagu “Jadikan Aku Pacarmu”, “Kita”, “Sephia” and man(d)y more… Dulu hulubalang Digol suka sekali menyanyikan lagu itu. Tapi sekarang tidak lagi. Karena sekarang dia sudah jadian dengan gadis idamannya. Dia sekarang malah suka bait-bait syair lagu “Kupinang Engkau Dengan Bismillah.” Biar nggak mahal katanya. Karena bonus dari kerajaan belum terendus Perdana Menteri. Apalagi akhir-akhir ini perekonomian Kerajaan Bedogol semakin tak menentu. Seperti cuacanya yang sebentar panas, tapi gerimisnya lama.

“Wahai Digol, apakah kamu tidak menonton pertunjukan musik Sheila on 7 besok.” Tanya hulubalang Firgol dari balik semak-semak setelah mencari sarang burung.

“Apa! Ada konser Sheila on 7 besok?” Hulubalang Digol surprise sekali.

“Iya, tanyakanlah itu pada Mugol kalau kau tak percaya. Alangkah ruginya kau, apabila tidak menyaksikan pertunjukan mereka, sementara engkau mengaku Sheila Gank sejati.” Hulubalang Firgol mencoba memprovokasi Digol.

Tiba-tiba Mugol muncul dari atas pohon dan membenarkan kata Firgol.

“Jikalau engkau hendak menyaksikan pertunjukan mereka. Engkau harus membeli tiket sepertiku.”

Mugol bercerita kalau kekasihnya telah membeli tiket pertunjukan seharga Rp200.000,- /lembar untuk kelas VVIP. Menurut Digol, itu tiket yang sangat mahal sekali bila dibandingkan dengan tiket kereta api Lilawangsa Jurusan Tebing Tinggi – Medan.

Digol seperti berada dalam lautan kebimbangan. Ia tidak pernah menonton konser di tempat tertutup seperti itu. Tapi ia ingat kalau tempat itu pernah menjadi tempat ia mengikuti ujian untuk bisa menjadi hulubalang di Kerajaan Bedogol. Sebuah tempat yang sangat seram apabila berada disana seorang diri dengan kondisi lampu-lampunya dipadamkan.

“Sesungguhnya aku ingin sekali menyaksikan itu. Tetapi aku harus mencari tau tentang harga tiket pada kelas yang lain yang lebih murah.”

Lalu Digol pun meraih alatnya yang dapat mencari tahu segala informasi dan akhirnya ia mendapatkan apa yang dicari.

Keesokan harinya yaitu 600 menit sebelum konser dimulai. Digol masih bersantai-santai di rumah. 360 menit kemudian barulah ia tidak santai-santai di rumah melainkan di sepeda motor dan 180 menit kemudian ia tidak bisa bersantai-santai lagi, karena ia sedang sholat maghrib.

Kondisi di luar Pardede Hall sangatlah ramai, berbagai makhluk hidup telah berkumpul di tempat itu. Ada yang berjalan kesana kemari, ada yang pakaiannya sama tapi wajahnya tidak mirip dengan pentungan dipinggangnya. Ada yang berjualan makanan dan minuman. Ada juga yang memanggil-manggil siapa saja yang lewat padahal mereka tidak saling mengenal dan orang yang dipanggil itu menyerahkan kendaraan yang ditungganginya begitu saja. Pastilah mereka itu telah dihipnotis.

Antrian untuk masuk ke hall mulai memanjang dan berbelok-belok. Siapa saja yang masuk harus menunjukkan tiketnya, barulah setelah itu menunjukkan isi tasnya. Para penjaga memastikan bahwa di dalam tas mereka tidak berisi benda-benda terlarang, oh… ternyata benda terlarang yang dimaksud adalah air mineral dalam botol plastik. Kasihan sekali bagi mereka yang membeli minuman berbahan botol plastik bening itu karena minuman itu tidak boleh dibawa masuk dan dikumpulkan di lantai begitu saja.

Sungguh beruntung bagi orang-orang yang tidak membawa air minum di dalam botol plastik bening ataupun orang-orang yang lihai dalam menyembunyikan air minumnya. Maka mereka akan bisa minum sepuasnya saat berada di dalam hall. Sebaliknya, sungguh buntung orang-orang yang membeli minuman dalam kemasan botol dan ketahuan penjaga sehingga menjadi pembelian yang sia-sia.

Begitulah hulubalang Digol dan kekasihnya yang berhasil mengelabui para penjaga dapat makan dan minum sepuasnya di dalam hall. Dengan apa mereka minum, Mereka minum dengan teh kotak dan makanannya adalah roti-roti tipis berlapis coklat.

Konser mulai dibuka oleh sepasang pembawa acara yang berbeda bentuk tubuh dan suaranya. Pastilah mereka bukan dari jenis yang sama. Mereka berceloteh panjang mengulur waktu dengan menampilkan pertunjukan-pertunjukan musik dan tari-tarian yang tidak dikenal di kerajaan bedogol.

Sementara itu, hulubalang Digol sudah tidak sabar menanti kehadiran SO7 dan terpaksa harus menyaksikan sekelompok orang yang membunyikan alat-alat yang dipegangnya mengiringi sang penyanyi, dan penampilan mereka sangat-sangat tidak memuaskan. Beberapa kali sang pelantun lagu mendapat sorakan dan ejekan seperti ini…

Huuu….. Turun…. Huuu… Woo… @$@&*@*^^^##$%#. Kasihan sekali bukan?

Dari situ hulubalang Bedogol dapat mengambil hikmah bahwa sebagus apapun tarian dan suara penyanyi akan percuma apabila pengeras suara tidak berfungsi dengan baik.

Hulubalang Digol begitu masygul, sudah pukul 9 malam, SO7 tidak juga keluar. Padahal jadwalnya pukul 7. Kalau mulainya tidak pukul 7, namanya harus diganti, tidak lagi Sheila on 7, tapi Sheila out 7. Ia ingin beranjak dari tempat duduknya dan mendatangi panitia penyelenggara. Ia membayangkan kalau ia akan marah-marah kepada mereka dan mengancam akan keluar jika SO7 tidak juga muncul. Tapi niat itu ia urungkan karena pasti mereka tidak akan keberatan.

Atau ia ingin sekali melakukan aksi-aksi vandalisme, melempari mereka dengan bangku-bangku yang sudah berlepasan dari bautnya dan akan bergeser ke kanan dan kekiri apabila diduduki. Ia pun meminta pendapat kekasihnya.

“Aku ingin sekali melempar mereka dengan bangku ini. Bagaimana menurutmu?”

Ternyata kekasihnya lebih memilih menoyornya dari pada menjawab pertanyaannya.

“Oh… air minumnya habis. Aku haus. Dapatkah kamu mencarikan aku air minum?” pinta kekasihnya dengan wajah memelas.

“Sebentar, akan aku cari di luar. Siapa tahu di luar hujan.”

Digol dengan sigap menuju keluar hall. Saat seperti ini mengingatkannya akan kisah Siti Hajar yang berlari antara bukit Safa dan Marwah untuk mencari air. Tapi di sini dia tidak perlu berlari-lari karena ia teringat pada botol-botol minuman yang dikumpulkan di depan pintu masuk.

“Bolehkah saya mendapatkan sebotol minuman itu? Seseorang yang sangat penting dalam hidup saya sedang dehidrasi di atas sana. Kalau saya tidak kembali dalam 5 menit. Dia akan pingsan.” Digol bermohon pada penjaga.

“Maaf Tuan, kami tidak bisa memberikannya. Karena peraturan disini dilarang membawa air di dalam botol kecuali jin di dalam botol.”

Hah… Peraturan yang aneh. Pikir Digol dalam hati.

“Tapi dia dalam bahaya dan kehausan yang tidak tertahankan?”

“Begini saja Tuan. Tuan carilah plastik dan airnya nanti ambil saja dari botol-botol ini. Kami khawatir jika kami memberi Tuan air di dalam botol ini, penonton yang lain akan meminta hal yang sama.”

Hulubalang Digol terpaksa keluar mencari plastik menuruti ide mereka yang tidak cemerlang dan akhirnya ia dapatkan dari seorang pedagang mie.

Lalu ia kembali ke dalam hall dan mengambil sebotol air mineral yang masih baru, kemudian menuangkannya ke dalam plastik. Wah hebat. Dia berhasil menuangnya dari botol ke plastik tanpa bantuan siapapun lalu mengikat ujungnya dengan karet agar tidak tumpah dan kembali keperaduannya. Sungguh cerita yang sangat bertolak belakang dengan kisah Siti Hajar dan Ismail.

***

Akhirnya saat yang dinanti-nantikan tiba. Sinar lampu di atas gedung ditembakkan ke penjuru ruangan dengan bermacam-macam warna. Suasana menjadi terang benderang. Nampaklah olehnya hulubalang Mugol bersama kekasihnya.

Para punggawa SO7 berlompatan keluar dari dalam tanah lalu mengambil senjata masing-masing. Penonton berteriak histeris. Not-not lagu beterbangan dari senjata mereka dan menusuk-nusuk ke dalam telinga penonton membuat mereka bergelinjang, bergoyang-goyang, melambai-lambaikan tangan ke kanan dan kekiri dan ikut bernyanyi.

Hulubalang Digol takjub menyaksikan semua itu dengan slow motion. Baru kali ini ia melihat langsung para ksatria SO7 menunjukkan kemampuannya dari jarak yang jauh.

Malam semakin merangkak jauh. Letih mulai menggelayuti tubuh. Keringat mulai kering dan menyengat. Sudah waktunya untuk pulang bagi makhluk-makhluk yang tidak ingin dikatakan liar.

Semua ada akhirnya. Seperti kata pujangga Kerajaan Bedogol, Konser Pasti Berlalu. Hulubalang Digol pun beranjak pulang mengantar sang pujaan sambil berkejar-kejaran dengan waktu agar tidak disambut dengan senjata terkokang di depan pintu.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. postingan yang menghibur

    terima kasih udah berkunjung… semoga terhibur dengan postingan yang lain…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: