Sentimen Pasar Properti di Asia

Jika ada yang bertanya mana yang dipilih lebih dahulu, menikah atau punya rumah? Bingung ya? Mau jawab menikah dulu, eh… calonnya belum ada. Mau dijawab punya rumah dulu, eh… Duitnya yang nggak ada. Pasti sedih sekali yang belum punya dua-duanya. Tetapi lebih sedih lagi yang punya dua-duanya belum nikah juga.

Ngomong-ngomong soal rumah, rumah menjadi objek bisnis dan dianggap hampir menjadi kebutuhan primer. Tidak jarang ditemui di sudut-sudut jalan dijumpai spanduk-spanduk penawaran rumah, sampai iklan-iklan di koran dan televisi yang menawarkan hunian dari yang sederhana sampai yang mewah. Bisnis properti memang lagi booming saat ini bak kacang goreng apalagi adanya program pemerintah yang menyediakan kredit rumah FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah. Artinya, bagi masyarakat yang penghasilannya di bawah 2,5 – 3 juta sudah dapat memiliki rumah dengan sistem kredit di bank-bank yang ikut dalam program program pemerintah tersebut dengan bunga rendah dan flat.

Maraknya bisnis properti ini menjadikan sebagian masyarakat yang tadinya membeli rumah dengan tujuan untuk dihuni sendiri mulai melirik rumah sebagai investasi jangka panjang. Bagi pengembang, ini menjadi angin segar besarnya keuntungan yang mereka dapatkan, namun di sisi lain, banyaknya permintaan membuat harga rumah semakin mahal. Saat ini saja, harga rumah di Indonesia meningkat naik 30%.

Situs blog.rumah123.com mempublikasikan hasil survey yang diambil dari beberapa negara di Asia terkait dengan kebijakan pemerintah dan perilaku masyarakat terhadap kebutuhan akan properti/rumah serta mengukur pendapat dari ribuan konsumen di negara-negara tersebut.

Andy Roberts, General Manager Rumah123.com

Andy Roberts, General Manager Rumah123.com

Survei menyertakan hampir 30.000 responden, mayoritas berusia antara 26 dan 50 tahun. Responden survei sebagian besar terdiri dari eksekutif / manajerial dan profesional dan didasarkan pada pendapatan tahunan mereka. Sebagian besar responden termasuk dalam kelompok berpenghasilan rendah dan menengah sebagaimana survei sebelumnya.

Temuan-temuan utama

“Temuan survei menunjukkan persentase yang tinggi pada pembeli rumah pertama khususnya di Malaysia, Indonesia dan Singapura. Faktor yang mereka pertimbangan ketika memutuskan untuk membeli properti pun telah berubah, dengan lokasi lebih diutamakan dibandingkan harga, yang tidak terjadi pada enam bulan lalu. Di Malaysia, Indonesia dan Hong Kong motivasi utama responden untuk membeli properti adalah untuk memiliki rumah sendiri, sementara Singapura termotivasi oleh investasi jangka panjang, “ kata Chief Executive Officer iProperty Group, Shaun Di Gregorio.

Namun, di Hong Kong, sementara harga dan lokasi juga menjadi faktor kunci pertimbangan konsumen, menarik untuk dicatat bahwa lingkungan hidup juga telah menjadi pertimbangan utama responden.

Ketika tiba pada pertanyaan tentang apa jenis properti yang disukai responden survei temuan survei menunjukkan bahwa kepemilikan tanah adalah jenis properti yang paling populer di Malaysia dan Indonesia properti. Di Hong Kong dan Singapura, survei mengungkapkan bahwa kondominium pribadi adalah jenis properti yang paling populer di sana.

“Rumah tapak telah lama menjadi jenis yang disukai oleh berbagai investor dan pembeli property, selama ini rumah tapak memang terus menjadi favorit. Alasan utamanya – pembangunan dan kependudukan meningkat dengan cepat, sementara tanah semakin langka, maka harga tanah akan menjadi lebih mahal, “ kata Di Gregorio.

Fenomena ini dapat dilihat di Singapura dan Hongkong, dimana biaya untuk memiliki rumah tapak sangat tinggi sehingga kondominium menjadi pilihan fevorit.

Karena itu tidak mengherankan jika temuan survei menunjukkan hampir 40% orang Singapura yang disurvei, sangat antusias untuk berinvestasi properti di Malaysia dan Australia. Responden Singapura yang disurvei menjawab bahwa penurunan tingkat bunga (dari 42% menjadi 39%) di Malaysia sebagai alasan mereka ingin berinvestasi di sana, meskipun tingkat bunga di Australia meningkat (dari 15% menjadi 19%).

Di Hong Kong, hanya 10% merasa perlu untuk membeli properti di luar negeri. Dari mereka ini, Asia Tenggara adalah pilihan yang lebih disukai. Responden yang memilih kawasan Asia Tenggara (termasuk Singapura, Malaysia, Thailand dan Indonesia) naik hingga 39%, meningkat dari 35% pada survei terakhir. Tingkat dukungan untuk peluang berinvestasi di Inggris (25%) dan Australia (24%) pun tetap tinggi. Tingkat suku bunga di China masih tetap tinggi, dengan Shenzhen sebagai kota yang paling populer.

Hasil Survey Sentimen Pasar Properti di Asia

Hasil Survey Sentimen Pasar Properti di Asia

MALAYSIA – Sikap menunggu dan mengamati mulai hilang

Menurut Malaysia Institute of Estate Agents (MIEA), nilai properti tumbuh 20% menjadi 30% pada tahun 2010 dan 2011, dengan properti hunian di beberapa daerah meningkat setinggi 30% sampai 35%. Harga properti di Malaysia pun menguat secara dramatis di luar keterjangkauan kebanyakan orang, oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa responden terus melihat keterjangkauan sebagai perhatian utama.

“Memiliki rumah yang terjangkau, di kawasan padat penduduk seputar Klang Valley – yang merupakan rumah bagi sekitar 6 juta orang, dan di kota-kota besar lainnya, telah menjadi semakin sulit untuk kelompok berpenghasilan rendah atau bahkan untuk beberapa keluarga kelas menengah. 77% dibandingkan dengan 69% dari responden di survei sebelumnya melihat keterjangkauan dan kenaikan harga rumah sebagai perhatian utama. Hampir mencapai 90% responden mengungkapkan bahwa harga properti saat ini tidak terjangkau, “ tambah Di Gregorio.

Dia menambahkan bahwa untuk membantu mengurangi spekulasi dan mengendalikan harga properti, Pemerintah Malaysia dan Bank Negara Malaysia telah melangkah masuk dan memperkenalkan berbagai langkah-langkah pengendalian untuk mencoba ‘mendinginkan’ pasar properti lokal dan mencegah harga properti dari kenaikan lebih lanjut.

Di tingkat global, Malaysia telah menjadi negara yang lebih disukai investor properti asing, terutama setelah Hong Kong dan Singapura memberlakukan pungutan 15% untuk memperlambat investasi asing yang ‘memanasi’ pasar properti mereka.

INDONESIA – Terus tumbuh di tengah regulasi baru

Tidak seperti banyak negara Asia, ekonomi Indonesia sebagian besar didukung oleh permintaan domestik daripada ekspor. Properti di Jakarta menunjukkan lonjakan sebesar 38% pada harga pasar perumahan mewah tahun 2012. Apartemen di Central Business District (CBD) dalam permintaan tinggi karena populasi penduduk di metropolitan mencapai 12 juta. Secara umum, harga properti di Indonesia masih lebih rendah daripada di Malaysia dan seperdelapannya harga properti di Singapura.

51% responden merasa bahwa pemilu legislatif dan pemilihan presiden pada tahun 2014 mendatang memberikan pengaruh kepada pasar properti telah mempengaruhi pasar property, dan ini bisa dikaitkan dengan ketidakpastian akan pemilu itu sendiri.

“Tidak seperti negara-negara lain, kepemilikan properti oleh asing di Indonesia masih sulit dan menarik untuk dicatat bahwa 58% responden tidak ingin pemerintah mengizinkan orang asing untuk membeli apartemen / kondominium di Indonesia. Mereka bisa khawatir bahwa permintaan dari orang asing akan meningkatkan harga properti di Indonesia, ” ungkap Di Gregorio.

Lebih dari setengah (58%) dari responden memandang suku bunga KPR di Indonesia saat ini terasa berat, sementara 36%-nya merasa bahwa suku bunga saat ini sudah pada tingkat yang ideal. Kekhawatiran terbesar dari responden adalah mengenai kondisi pasar properti serta keterjangkauan dan kenaikan harga rumah.

HONG KONG – Langkah pendinginan dilakukan, harga properti terus melambung

Dijuluki New York City dari Asia, Hong Kong terus menjadi salah satu negara terpanas di pasar real estate, dengan rata-rata kenaikan harga naik 28% pada kuartal pertama dibandingkan dengan kondisi setahun lalu.

Pemerintah negara itu telah menempatkan berbagai kebijakan untuk mengekang pembelian real estate dan sebelumnya harga rumah naik 10,7% secara triwulanan, paling tinggi dibanding negara manapun. Lebih dari 85% responden menganggap bahwa properti di sana terlalu mahal. 65% dari responden percaya bahwa perubahan suku bunga KPR bank yang akan menjadi faktor utama yang mempengaruhi tren pengembangan properti di semester kedua, diikuti dengan aturan tambahan yang diperkenalkan oleh pemerintah (57%). Ini menjadi sebuah kejutan, bahwa pertumbuhan ekonomi di China diyakini setidaknya memberikan dampak, dengan hanya 36% responden menyepakati hal ini.

Di Gregorio mengatakan bahwa mayoritas responden menganggap harga properti terlalu mahal, pada saat yang sama kebijakan pemerintah untuk mengendalikan keadaan tampaknya menunjukkan hasil awal yang menjanjikan.

“Lebih lanjut, survei ini mengungkapkan bahwa masyarakat telah memiliki keduanya, daya beli yang rendah dan niat menjual sekaligus, namun pelaksanaan “First-hand Sales Ordinance” telah membantu meningkatkan kepercayaan pembeli rumah secara keseluruhan. Responden yang percaya pada langkah-langkah pemerintah telah mengakibatkan penurunan jumlah volume transaksi mencapai 44%, naik dari 35% sejak survei terakhir sementara responden yang mengharapkan penurunan harga properti melompat dari 12% (survei terakhir) menjadi 21%, yang menunjukkan peningkatan kepercayaan publik terhadap langkah-langkah yang dilakuka pemerintah, ” tambah di Gregorio.

Knight Frank memprediksi bahwa pasokan perumahan akan tetap ketat dalam jangka pendek. Dengan berbagai langkah pendinginan yang tersisa, pasar perumahan diharapkan tetap tenang dan penjualan turun sekitar 10% pada tahun 2013. Harga perumahan massal akan turun sekitar 10%, sementara harga di sektor mewah akan jatuh 5%.

SINGAPURA – Keterjangkauan masih menjadi kekhawatiran

Ketika ditanya tentang pasar properti di Singapura, Di Gregorio menjelaskan bahwa sama dengan banyak negara lain, mereka telah terhadap tentang pengaruh suku bunga global yang rendah dan tingginya tingkat likuiditas di pasar aset, terutama sektor properti.

“Tingkat keterjangkauan perumahan dan keseluruhan biaya hidup adalah keprihatinan utama warga Singapura, yang juga marah tentang jumlah pekerja asing di negara kecil berpenduduk 5,3 juta orang itu. 72% dari responden berpikir bahwa orang asing memiliki peran untuk bermain sehingga menaikkan harga properti, ” urai Di Gregorio.

Sebagian besar responden (43%) merasa bahwa pemerintah tidak memberikan cukup perumahan bagi orang asing, yang mungkin dapat menjelaskan mengapa responden merasa bahwa orang asing telah mendorong kenaikan harga property di negara itu, karena kekurangan pasokan perumahan. Hal ini terlepas dari kenyataan bahwa proporsi orang asing dalam ‘transaksi rumah pribadi telah tergelincir ke bawah.

60% responden yang disurvei mengharapkan dilakukan langkah-langkah lebih lanjut untuk mendinginkan pasar properti. Pemerintah setuju dengan sentimen ini dan bank sentral Singapura telah memperkenalkan aturan untuk memastikan bahwa cicilan bulanan konsumen tidak melebihi 60% dari pendapatannya, langkah yang ditujukan untuk mendinginkan pasar properti dan memastikan investor tidak terjerat oleh kenaikan suku bunga .

Singapura terus melihat properti di Malaysia sebagai investasi yang menguntungkan, terutama di lokasi-lokasi penting di wilayah Iskandar di Johor dan hotspot tradisional seperti Kuala Lumpur, meskipun terdapat tanda-tanda kestabilan pasar properti Singapura di bulan Juli ini.

Sebagai kesimpulan, Di Gregorio mengatakan, “Laporan survei ini menawarkan kita wawasan berharga dari pasar properti dan temuan di dalam survei ini juga menunjukkan kepada kita bahwa pasar properti sangat kuat namun konsumen masih berhati-hati. Kami percaya bahwa laporan ini akan sangat bermanfaat untuk tidak hanya konsumen, tetapi juga untuk pengembang, agen real estate dan pembeli properti lokal dan internasional, yang mencari untuk mengukur sentimen pasar properti Asia dari perspektif objektif. “

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: