7# Nopember Ceria

tiang tiviIni sudah bulan Nopember. Nopember di kerajaan bedogol adalah bulan yang sangat istimewa karena pada bulan-bulan tersebut akan ada tanggal berwarna merah di setiap minggunya. Sebenarnya bukan itu.

Pada bulan Nopember tepatnya pada tanggal 4, yaitu hari dimana kerajaan Bedogol merayakan hari berdirinya kerajaan itu, dimana para pendiri kerajaan berhasil memproklamasikan kemerdekaan kerajaan itu dan sekaligus menyelamatkan kerajaan itu dari para pemberontak. Dimana para pemberontak itu adalah kebanyakan orang-orang kerajaan Bedogol sendiri. Dimana mereka suka berfoya-foya di atas penderitaan para hulubalangnya. Dimana dimana dimana…

Sesuai dengan titah baginda Raja Bedogol, pada tanggal 4 seluruh hulubalang haruslah berkumpul di halaman istana yang sangat luas membentang melewati gorong-gorong hingga ke pinggir jalan. Para hulubalang harus datang pada pukul 7 pagi dan tidak boleh terlambat. Karena barang siapa yang terlambat, maka akan terlihat lah raut muka yang penuh dengan kepura-puraan menahan rasa malu dan memilih tempat-tempat yang tersembunyi dari penglihatan baginda raja.

Para menteri berbaris di tempat tersendiri. Para hulubalang pun demikian, begitu juga para isteri-isteri menteri demikian pula sehingga terbentuklah barisan seperti huruf U bila dilihat dari atas tiang bendera.

Diiringi dengan deraian gerimis yang jatuh dari kerajaan langit, upacara berjalan dengan sangat khidmat. Para hulubalang dan menteri sangat-sangat tidak bersemangat, hal itu bisa dirasakan saat baginda raja meminta seluruh yang berhadir untuk bersama-sama menyanyikan lagu kerajaan.

Seluruh rakyat yang hadir ikut bernyanyi, tetapi hanya komat-kamit alias lipsing. Apa karena tidak ada yang hafal lagunya? Agar tidak kentara bahwa apa yang mereka nyanyikan itu keliru, suara yang mereka sumbangkan pun begitu lemah sehingga terdengar hanya bagi telinga masing-masing. Baginda raja yang merasakan ketidakberesan itu pun hanya tertunduk meratapi diri karena beliau juga tidak hafal lagunya. Begitu pun ia maklum karena lagu itu hanya kedengaran sekali dalam setahun.

Selang satu jam kemudian, upacara selesai. Laporan selesai. Bubar… Peristiwa ini tampaknya tidak begitu menarik untuk diceritakan. Next…

Keistimewaan yang kedua bulan Nopember di kerajaan Bedogol adalah, esok harinya setelah hari jadi Kerajaan merupakan tahun baru Hijriah. Yaitu tahun baru bagi umat yang beragama Islam, karena seluruh rakyat kerajaan Bedogol adalah beragama Islam, maka mereka memperingatinya dengan menutup istana dan para hulubalang dibebastugaskan selama satu hari, kecuali bagi mereka yang masih dalam misi penting, misi yang tidak dapat ditinggalkan karena adanya batas waktu yang telah ditentukan.

Kesempatan ini tidak disia-siakan dua hulubalang yang akan berhijrah dari kontrakan yang satu kepada kontrakan yang lain. Hulubalang Digol dan Kurgol pada mulanya tinggal dalam satu atap yaitu sebuah rumah kosong namun ada isinya, yaitu kecoa dan jentik-jentik nyamuk yang bisa ditemukan di kamar mandi.

Setelah beberapa bulan tinggal disana, keduanya merasa tidak lagi nyaman tinggal di rumah itu dan berniat hijrah ke tempat lain. Kasihan sekali nasib mereka karena mereka tidak diberikan fasilitas rumah oleh istana. Begitu juga hulubalang yang lain. Mereka harus mencari tempat tinggal sendiri.

“Wahai para hulubalang, janganlah kalian menjadi manja, meminta fasilitas ini dan itu, padahal kalian mampu berdiri di atas kaki kalian sendiri. Tidakkah kalian malu pada burung yang bisa membangun rumah mereka sendiri atau belajarlah pada keong yang kemana-mana membawa rumahnya sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tinggal didalamnya.”

Begitu kata pihak Istana. Para hulubalang hanya bisa ngedumel dalam hati masing-masing. Perumpaan macam apa itu!

“Tetapi kami bukanlah burung atau keong, melainkan hulubalang yang diberi tugas yang sangat berat, yaitu untuk memakmurkan kerajaan ini, jadi sudah sepantasnyalah kalau kami diberikan sedikit pelipur lara.” Begitu kata salah satu hulubalang. Maksudnya adalah, jika fasilitas tidak didapatkan, upah hendaknya dinaikkan.

Mereka pernah ingin ikut demo buruh seperti di kerajaan tetangga, namun mereka takut karena dukungan yang datang hanyalah dari isteri-isteri mereka saja. Sedangkan yang belum memiliki isteri tidak mendapatkan dukungan sama sekali. Lagi pula, mereka tidak termasuk ke dalam kelas buruh, melainkan kelas buru-buru yaitu buru-buru datang pada senin pagi dan jumat pagi karena ada pesan dari baginda raja yang harus mereka dengarkan dan laksanakan.

“Kita harus mencari tempat yang nyaman, jangan seperti rumah ini. Karena nyawa kita terancam oleh perampok bila terali disetiap jendela diambil oleh siempunya.” Hulubalang Kurgol beralibi

“Jadi kemanakah kita akan berhijrah wahai Kurgol?” Tanya Digol

“Kita akan hijrah ke suatu tempat yaitu tempat yang masih menyimpan kenangan indah saat aku tinggal di sana.” Matanya menatap langit-langit.

“Tempat apakah itu ya Kurgol.” Matanya menatap mata Kurgol

“Tempat yang sebelumnya baru saja kuucapkan… Oke Deal!”

 Kurgol menyepakati dengan dirinya sendiri, dan Digol terpaksa setuju karena ia tidak menemukan tempat berlabuh yang lebih baik.

 Akhirnya mereka berkemas-kemas, membawa barang-barang yang mereka punya dan meninggalkan barang-barang yang tidak mereka punya.

 Digol menampakkan raut wajah sedih seperti tak rela berpisah dengan rumah yang telah ditinggalinya selama 8 bulan itu.

 “Apa yang terjadi padamu hai Digol? Mengapa wajahmu melukiskan kesedihan?” Tanya Kurgol

Digol yang ditanya masih terdiam dan matanya hanya mengarah pada sesosok alat elektronik pemanas air yang bertuliskan dispengol . Ia menjawab ketika hulubalang Kurgol sudah tidak menginginkan jawabannya.

“Emmm… Kira-kira, berapakah harga dispengol ini kalau kita jual kepada tukang loak?”

GUBRAKKK… hulubalang Kurgol tidak menyangka mendapat jawaban hulubalang Digol seperti itu.

Pada akhirnya kedua hulubalang itu jadi berhijrah di sebuah tempat yang telah menciptakan berjuta kenangan indah bagi hulubalang Kurgol. Agar kenangan-kenangan itu tetap bersemayam dalam pikirannya. Hulubalang Kurgol memilih untuk tinggal di dalam kamar lamanya. Hulubalang Digol yang menyadari bahwa sahabatnya kembali bernostalgia menyentilnya dengan sebuah ungkapan yang pernah ditemukannya dalam sebuah status di twitgol dengan beberapa perubahan yang signifikan.

“Wahai Kurgol, manakah yang lebih seram bagimu, Kuburan tua atau kenangan mantan?”

Hulubalang Kurgol tersenyum sambil memamerkan gingsulnya. “Bagiku, tidak ada kenangan mantan yang seram, kecuali bagi mereka yang punya mantan bibi kunti.”

Itulah kenangan. Bagi sebagian orang, kenangan akan dijadikan sebagai sumbu untuk menyalakan pelita di tengah gulita. Entah itu kenangan buruk atau indah. Kenangan buruk tidak untuk membuat diri jadi terpuruk dan kenangan indah akan selalu diupayakan untuk mengulanginya kembali…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: