Jangan Pernah Dewasa

gruKata orang yang pernah sekolah, masa yang paling indah adalah masa-masa di sekolah. Itu pun lebih dikhususkan lagi kalau yang orang yang bilang itu adalah tipe yang aktif mengikuti seabrek kegiatan di sekolah, punya pacar di sekolah dan punya geng sendiri. Tapi kalau yang sering jadi korban bully teman-temannya di sekolah, itu bukanlah tempat yang indah.

Kadang-kadang kalau ngebayangin indahnya masa di sekolah, rasanya ingin kembali kesana. Pinjam pintu doraemon, program tahun dan tempat, buka pintunya, eh… udah nyampe di masa itu. Tapi ini bukanlah kartun doraemon. Jadi cuma bisa diputar-putar dalam memori kepala saja.

Masa-masa di sekolah seperti di SMA sederajat (termasuk lah itu, MA, SMK, SMEA, STM) membuat banyak kesan, dimasa itulah banyak yang masih mencari jati dirinya. Kenakalan-kenakalan yang dibuat lebih didasarkan pada gengsi dan pengaruh teman. Jadi anak yang baik budi adalah kerugian, karena temannya sedikit. Jadi anak yang bandel menguntungkan, karena akan jadi buah bibir dan akan selalu diingat gurunya.

Kalau saya bukan termasuk anak yang baik budi, juga bukan termasuk anak yang bandel, tapi memang kalau ditimbang, itu lebih berat ke kanan, ke arah yang baik. He…he…he… Apalagi saya tidak pernah ikut kegiatan semacam OSIS dan Pramuka, jadilah saya termasuk golongan orang-orang yang kurang pergaulan. Kadang muncul rasa penyesalan kenapa sejak sekolah dulu jarang ikut kegiatan ekstakurikuler, padahal kegiatan semacam itu bisa menempa mental, membuat jadi orang yang percaya diri dan mempunyai banyak teman.

Dulu saya dikenal sebagai anak yang pendiam. Pendiam disini artinya bukanlah seperti lirik lagu Potret, “kau ludahi aku, aku diam… kau jambak rambutku, aku diam…” bukan. Bukan itu. Pendiam saya waktu itu adalah pasif dengan cewek-cewek. Ha… ha… ha…

Akibatnya, saya kebagian peran yang sangat kecil dalam drama perpisahan sekolah. Ceritanya, waktu itu setiap lokal diwajibkan menampilkan karya seni, dan kami memutuskan membuat drama singkat tentang kisah Juraij yang dituduh berzina. Sikap pendiam saya membawa berkah, yaitu kebagian peran sebagai pengawal. Kerjanya cuma berdiri, diam, dan menyeret Juraij.

Selain membawa berkah, sikap pendiam juga membawa permusuhan. Bukan saya yang bawa, tapi senior waktu di sekolah Aliyah dulu. Waktu itu lagi ujian, yang namanya ujian tidak boleh bekerjasama dalam menjawab soal. Bekerjasama dalam meraut pensil 2B yang boleh. Untuk menipiskan peluang agar tidak terjadi kerjasama, siswa kelas 2 dan kelas 3 digabung, rinciannya begini, satu meja dihuni dua bangku yang diduduki oleh anak kelas 2 dan anak kelas 3. Jadi di samping saya anak kelas 3, laki-laki. Ketika dia buntu menjawab soal di lembar ujiannya. Dia bolak-balik bertanya pada saya, entah kenapa dia bertanya pada saya, apa karena saat itu pancaran wajah saya layaknya seperti orang pintar mungkin. Saya diam saja waktu itu. Ternyata diam saya itu membuatnya marah dan mengancam saya. “Awas kau nanti di luar.”

Bagaimanapun, tetap saja lebih banyak hal yang menyenangkan di masa sekolah. Orangtua kita, tidak terlalu khawatir saat kita masih sekolah, mereka lebih khawatir ketika kita menyelesaikan sekolah, kuliah. Apakah dia akan mendapatkan pekerjaan yang baik? atau apakah dia akan mendapatkan jodoh yang baik? Seperti itu mungkin…

Saya jadi teringat dengan dialog di film Despicable Me 2. Ketika Gru akan mengantar tidur ketiga putri angkatnya, dia mengkhawatirkan si kakak yang masih ber sms-an sebelum tidur dengan teman sekolahnya. Setelah mencium kening mereka semua, dia berkata pada anaknya yang paling kecil.

“Jangan pernah dewasa.”

Ketika kita masih sekolah, mungkin kita masih lugu dan polos, berfikir dengan sederhana, sebatas kepentingan sendiri tanpa dibebani dengan tujuan masa depan, itu lah yang membuat masa sekolah menjadi indah. Sama halnya dengan Gru, dia begitu tersentuh dengan keluguan putri angkatnya yang bungsu, kalau Gru adalah laki-laki karena kepalanya yang botak.

Gimana? Mau sekolah lagi? Mahal ya SPP nya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: