6# Gara-gara Alarm Buka Puasa

Di suatu senja di kerajaan Bedogol, ketika itu sedang tidak hujan rintik-rintik. Terpukaulah para hulubalang menatap takjil, di remang cahaya sinar lampu-lampu kerajaan.

Benarlah keadaan itu sebagaimana adanya yaitu waktu dimana bulan Ramadhan tiba. Bulan yang sangat suci bagi seluruh rakyat Kerajaan Bedogol yang muslim. Bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Disinilah waktu yang tepat untuk mensucikan diri dari segala dosa dan pelanggaran baik yang dilakukan dengan terang-terangan maupun dengan sembunyi-sembunyi seraya berikhtiar agar kelak ketika bulan ramadhan pergi, dosa-dosa tersebut tidak dilakukan lagi.

Sebagaimana biasanya, para hulubalang di kerajaan Bedogol tetap bekerja seperti biasanya. Hanya saja di bulan ramadhan, mereka tidak akan menemukan lagi segelas teh manis dan air putih di atas meja dari pagi sampai petang. Melainkan teh manis itu akan ada di atas kardex pada waktu menjelang maghrib bersamaan dengan kue-kue basah. dan itu pun terjadi bila ada hulubalang yang rela menyisihkan sebagian rizkinya untuk membeli semua itu.

Di dalam istana yang dipenuhi dengan alutista lapuk. Masih ada beberapa hulubalang yang belum pulang ke peraduannya karena masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai. Di atas kardex telah tersedia menu-menu minuman makanan buka puasa yang terdiri dari:

1. Teh manis kelat: Teh manis ini bisa berwarna merah gelap dan manis kelat kemungkinan karena dibuat oleh penjaga istana

2. Kue-kue basah: Biasanya ada kue lapis, kue yang ada inti kelapa didalamnya (mampus! lupa), kue lappet, kue ondol-ondol dan naga sari.

3. Gorengan; biasanya ada bakwan, tahu isi, pisang goreng dan

4. Buah-buahan; belum pernah masuk menu berbuka di istana.

Menjelang waktu berbuka yang tinggal beberapa menit lagi, para hulubalang mulai merapat ke kardex, masing-masing sudah berada pada posisinya layaknya pembalap di lintasan motoGP yang menunggu detik-detik hitungan mundur. Mata mereka begitu awas memperhatikan menu apa duluan yang akan dilahap.

“Apakah kita tidak terlambat berbuka, kenapa suara terompet raksasa hari ini terasa lebih lama berbunyi dari hari sebelumnya ya…” tanya menteri Jamgol retoris.

“Oh, begini menteri, mungkin sang peniup terompet raksasa berbuka dulu, barulah setelah kenyang dia akan meniup terompetnya,” jawab Mumugol

 “atau jangan-jangan sang peniup terompet ketiduran.” tambah hulubalang yang lain

“Atau terompetnya yang tumpat sehingga tidak bisa berbunyi”

“Atau ada yang mencuri terompetnya…” Begitulah seterusnya muncul atau atau yang lain karangan para hulubalang belaka.

Tiba-tiba Baginda Raja muncul di dalam istana. Ia baru pulang dari berburu dan berkata, “Mengapa kalian belum pulang?”

“Iya baginda Raja, kami menunggu Baginda Raja tiba. Tidaklah pantas bagi kami pulang sebelum Baginda pulang.” Jawab seluruh hulubalang

Baginda Raja manggut-manggut, barangkali beliau kagum dengan kesetiaan para hulubalang, tapi Baginda Raja sempat melirik kardex lalu melirik ke arah wajah para hulubalang. Dilihatnya dengan mata batin, ada aliran yang kasat mata terkoneksi dari perut para hulubalang ke menu-menu makanan di atas kardex. Baginda Raja lalu masuk ke singgasananya.

Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Suara azan tiba-tiba menyeruak di dalam istana. Hulubalang Sonogol segera mendatangi asal suara dan kemudian mematikannya. Ternyata suara itu berasal dari alat telegolnya.

Para hulubalang yang mendengarnya hampir saja menyerbu takjil, namun diingatkan hulubalang Sonogol kalau itu hanyalah alarm. Sejenak kemudian dia berkata, “Wahai hulubalang Digol, sebaiknya kita memberi Raja minuman dan makanan untuk berbuka.” Saran Sonogol

 

Benar juga pikir hulubalang Digol. Sebentar lagi pasti akan bunyi terompet. Tidak mungkin Baginda Raja ikut berebut makanan di atas kardex. Lalu Hulubalang Sonogol pergi ke dapur mengambil piring kecil dan tutup gelas. Setelah diletakkan makanan diatasnya. Pergilah hulubalang Digol mengantarkan sepiring kecil makanan berisi kue basah dan gorengan beserta segelas teh manis kelat ke dalam singgasana Baginda Raja.

 

“Baginda, ini makanan berbuka untuk Baginda.” Hulubalang Digol meletakkan dengan hati-hati.

“Amboiii… Terima kasih wahai Hulubalang, semoga Tuhan memberikanmu pahala yang berlipat ganda. Tapi, bawalah makanan itu kembali. Saya hanya butuh air saja.”

Hulubalang Digol pergi keluar singgasana dengan piring dan senyum sumringahnya karena sudah didoakan Baginda Raja.

Tidak lama kemudian, Baginda Raja keluar dari singgasananya dan meletakkan gelas di atas kardex dimana tampak air teh itu telah berkurang setengahnya. Para hulubalang tampak terkejut.

“Saya pulang dulu ya…” Kata Baginda kepada para hulubalang

 

“Loh eh, eh loh… Maaf baginda Raja, apa baginda raja telah berbuka?” Tanya hulubalang Digol khawatir.

“Sudah… Kenapa rupanya hai hulubalang?”

“Eee…Kami belum Baginda.” hulubalang Digol nyengir.

Baginda Raja terkejut. “Loh, jadi suara azan tadi apa? Bukankah itu sudah waktunya berbuka?”

Ternyata Baginda sudah buka duluan gara-gara bunyi alarm hulubalang Sonogol. Apakah baginda Raja akan marah?

“Padahal saya tadi akan keluar sambil merokok.” Kata Baginda Raja sambil tersenyum dan pecahlah tawa cekikikan para hulubalang. Syukurlah baginda Raja tidak marah. Kalau marah pasti merahlah pipinya.

Setelah raja keluar dari istana, bunyilah suara terompet raksasa dimana hulubalang Kurgol menyebutnya suara liu liu, entah apa maksudnya dan seluruh hulubalang pun bersuka ria menyambut datangnya waktu berbuka.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Bedogol benjol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: