5# Pengarang Lagu Sesaat

Hujan yang jatuh dari langit pada hari itu memberikan hawa kesejukan bagi rakyat Bedogol. Di sebuah rumah yang memiliki dua kamar tidur dan satu kamar mandi adalah tempat dimana tiga hulubalang tinggal didalamnya. Rumah yang terletak di ujung kerajaan itu tidak sendirian, melainkan berderet-deret, berhadap-hadapan dan bergandeng-gandeng.

Hujan malam itu menambah kesuntukan bagi hulubalang Digol. Tidak seperti malam-malam sebelumnya dimana telegol, sebuah alat yang dapat menghantarkan suara dari tempat yang berjauh-jauhan tidak terlihat menempel di telinganya. Hal itu disebabkan tidak ada yang menghubungi Digol dan sebaliknya, Digol tidak dapat menghubungi seseorang. Seseorang yang sangat spesial tentu saja. Digol bertanya-tanya. Kenapa telegol jantung hatinya tidak bisa dihubungi.

Akhirnya hulubalang Digol hanya melamun, lalu menatap layar laptogol. Laptogol adalah alat bermuatan listrik yang dapat menampilkan gambar, mengeluarkan suara dan dapat menuliskan apa yang ada didalam benak Hulubalang Digol. Sayangnya, alat ini sudah tidak lagi dalam kondisi sempurna seperti milik hulubalang Kurgol. Laptogol milik Digol dalam kondisi cacat karena seperempat layarnya padam tertendang olehnya.

Hulubalang Digol menatap kesamping kanannya. Terdapatlah sesosok makhluk yang tidak asing berbaring terlentang. Tangan kirinya terlipat di atas kepala sedangkan tangan kanannya terlipat juga di atas kepala membentuk seperti bantal. Dari mulutnya terdengar nada yang aneh tapi beraturan. Dia adalah hulubalang Kurgol. Mereka adalah teman satu kamar tapi tidak satu tempat tidur.

Kebiasaan hulubalang Kurgol adalah selalu mendengarkan lagu-lagu dari telegolnya, setelah beberapa saat lagu diputar, hulubalang Kurgol langsung terlelap. Hebat sekali. Tidak demikian dengan hulubalang Digol yang malah tidak dapat tidur bila ditelinganya masih terdengar suara-suara lagu, suara nyamuk, dan suara petir. Bagaimana bisa tidur kalau lagu-lagu itu malah didengar dengan seksama, dicerna liriknya dan menciptakan imajinasi dari makna liriknya.

Oleh karenanya, jika hulubalang Kurgol sudah terlelap, dengan hati-hati, Digol mengecilkan suara musik itu sampai tingkat terendah, lebih rendah dari suara sayap nyamuk. Barulah Digol bisa tertidur.

Sejak saat itu, Digol mengenal Kurgol adalah pendengar lagu yang baik. Tapi beberapa hari yang lalu, hulubalang Kurgol ternyata memiliki bakat terpendam yang kini bakat itu mulai muncul ke permukaan bumi. Yaitu Pengarang lagu yang baik walaupun cuma satu malam.

Bakat hulubalang Kurgol mulai tampak saat mereka berdua pulang dari Negeri Madani dengan mengendarai kuda besi yang bernama Kalajengking Z. Orang bilang nama itu sangat aneh, mengapa tidak dinamai kuda saja, mengapa ditambah kalajengking. Tapi Hulubalang Kurgol dan Digol tidak mau mempermasalahkannya karena mereka tahu, yang mengetik ini sudah mulai bingung bagaimana mengakhiri cerita ini.

Tersebutlah, mereka berdua telah diselimuti malam ketika belum sampai di Kerajaan Bedogol. Untuk menghibur diri dari segala ketakutan akan hantu malam dan roh-roh jahat yang mungkin saja mengganggu mereka dalam perjalanan, mereka menghibur diri dengan menyanyikan lagu-lagu kenangan masa kakek dan nenek mereka masih kanak-kanak.

Tentu saja lagu itu pun disesuaikan dengan kondisi jiwa yang menyanyikannya. Misalnya hulubalang Kurgol menyanyikan lagu tentang seorang gadis yang dia idam-idamkan saat masih dalam kandungan. Sedangkan Digol tidak menyanyi karena ia berkonsentrasi mengendalikan kuda besi. Hulubalang Kurgol duduk manis dibelakang sambil menggubah lirik lagu dan terciptalah lagu seperti ini, tentu saja kalau roh-roh jahat dan hantu malam mau mendengarnya, mereka akan tau itu sebenarnya itu lagu siapa…

Di Tebing Tinggi kutemui
Gadis manis putri paman kontraktor
cantik menarik menawan hati
Winarti namanya jawa sekali
 
Waktu aku mengikat janji
kuberikan cincin bergambar sapi
tapi apa yang kualami
paman kontraktor marah ku dibenci
 
Winarti winarti kekasihku
***** saja orangtuamu
cincin yang bergambar sapi itu
tanda cinta kasih untukmu
 

Sepanjang jalan, lagu itu terus menemani hingga sampai di kerajaan Bedogol pada pukul delapan malam waktu bedogol bagian bagelen.

Malam terus merambat, kamar menjadi gelap, cicak-cicak merayap, nyamuk-nyamuk kalap, menyerbu Hulubalang Kurgol yang sedang terlelap.

“Kok banyak nyamuk sih Digooollll, kenapa dimatikan sih lampunya…?”

********** to be continued *********

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: