4# Tamu Misterius

Segala makhluk bernyawa di Kerajaan Bedogol sibuk tak menentu karena kedatangan tamu yang sangat tidak diharapkan. Adalah sebanyak lima orang tamu bertampang biasa saja membawa misi suci, yaitu memeriksa segala apa yang ada di istana. Mencari-cari kesalahan setiap apa yang dikerjakan hulubalang istana sehingga banyak hulubalang yang tiba-tiba kumat asam lambungnya menahan ketakutan.

Kelima tamu itu bekerja di dalam ruangan yang diliputi angin sepoi-sepoi dimana angin itu muncul dari sebuah alat yang ditempel di dinding. Mereka membongkar, membalik-balik setiap dokumen kerajaan lalu memberi catatan bila menemukan keganjilan pada dokumen-dokumen itu.

Jika mereka menemukan sesuatu yang tidak beres. Maka mereka akan memanggil hulubalang yang bertanggung jawab akan masalah itu. Mereka mencecar dan menginterogasi para hulubalang sampai mengaku dengan menggunakan peralatan seadanya seperti cambuk dari ekor sapi. Para hulubalang yang bersalah akan diikat kedua tangannya ke atas, lalu ujung ekor sapi itu akan dilekatkan pada ketiak hulubalang.

“Ampun… ampun tuan, saya tidak tahu soal itu. iiiii…. iiii” Pinta hulubalang Defgol sambil menahan kegelian.

“Sebaiknya kamu mengaku, kalau tidak cambuk ini tidak hanya mendarat di ketiakmu, tapi juga di kupingmu.”

“iii…. iiii…. jangan tuan, kasihani saya. Nanti saya mati kegelian, siapa yang akan memberi makan anak isteri saya”.

Melihat wajah hulubalang Defgol sudah pucat seperti kain kafan, akhirnya Defgol dilepas dan disuruh memanggil hulubalang yang lain untuk masuk kedalam ruang interogasi. Namun tetap saja tidak ada satupun hulubalang yang mengaku dan selalu menjawab tidak tahu.

Akhirnya tamu-tamu misterius itu beralih pada hulubalang yang mengurusi berbekalan dan alutista kerajaan, lalu mendatangi Kokogol. Menteri yang mengurusi perbekalan dan alutista.

“Kami ingin melihat catatan kehadiran hulubalang yang bertugas setiap hari, apakah mereka semua selalu hadir atau ada yang tidak hadir menjalankan tugas-tugasnya. Apakah kalian siap?”

“Tunggu Tuan, saya akan bertanya pada anak buah saya.” Lalu Kokogol mengalihkan pandangan pada Rizgol dan Digol.

“Apakah kalian siap?”

Rizgol dan Digol saling berpandangan lalu akhirnya mereka menjawab dengan terpaksa. “Siap…”.

Sang tamu misterius melihat-lihat daftar hadir hulubalang yang telah disediakan.

“Wah wah wah… sepertinya saya melihat ada yang tidak beres pada daftar ini.”

Digol yang menyadari kesalahan yang terdapat pada daftar itu segera mencari alasan. “Oh… itu, eng… sebenarnya tidak pernah terjadi di kerajaan ini ada hulubalang yang tidak hadir pada bulan itu Tuan.”

“Saya tidak percaya. Kalau benar-benar mereka berhadir dan bekerja, mengapa ada yang tidak tercatat?”

“Itu karena mereka lupa Tuan.”

“Tidak bisa. Lupa tidak bisa menjadi alasan. Atas kelalaian ini, kami hukum kalian.”

“Dengan cambuk ekor sapi Tuan..?

“Bukan. Bulu pada ekor sapi udah rontok kena ketiak teman-teman kalian. Jadi alat itu rusak dan tidak bisa lagi digunakan.”

“Jadi dengan apa Tuan…”

“Tidak dengan apa-apa. Saya hanya ingin, setiap hulubalang yang tidak melakukan pencatatan pada daftar kehadiran segera dipotong…

“APAAA!!!” Hulubalang Rizgol dan Digol berteriak dengan serempak. “Ampuni kami Tuan, jangan suruh kami melakukannya. Kami tidak ingin mengotori tangan kami dengan darah saudara kami.”

“Bukan itu bedogol. Saya belum selesai.” Sang tamu melotot.

“Jadi? Maksudnya apa Tuan? Mohon beri penjelasan pada kami yang sangat bedogol ini.”

“Baiklah. Saya ingin kalian memotong upah hulubalang yang lupa mencatat kehadiran dirinya di kerajaan ini.”

Hulubalang Digol garuk-garuk kepala.

“Kenapa? Apakah kamu tidak bisa melakukannya?”

“Emmm… Bisa. Bisa kok Tuan.”

Hulubalang Digol menjawab dengan terpaksa. Keesokan harinya, Hulubalang memutar otak bagaimana caranya agar upah hulubalang yang lupa mencatat kehadirannya tidak jadi dipotong. Ia lalu bersemedi di atas kursinya selama beberapa waktu yaitu sama dengan waktu yang dibutuhkan untuk memasak air dengan kompor gas. Lalu tiba-tiba menyala bohlam diatas kepalanya. CRIIINNGGG…

Hulubalang Digol memberanikan diri menemui sang tamu yang tak diundang dan sok kejam itu. Ia lalu menceritakan mengapa ada hulubalang yang tidak mencatat kedatangannya.

“Tuan, para hulubalang yang lupa mencatat kehadirannya di kerajaan ini adalah mereka yang sangat sibuk dalam bekerja. Mereka adalah hulubalang yang giat dan tak kenal lelah sehingga karena kesibukan mereka bekerja. Mereka tidak lagi ingat hal remeh temeh seperti itu. Tuan lihat sendiri wajah-wajah layu mereka karena kurang tidur. Mereka pulang larut malam untuk mensejahterakan rakyat Bedogol dan bangun pagi-pagi untuk mengurusi istana kembali. Cobalah Tuan bayangkan betapa beratnya tugas mereka.”

Sejenak sang tamu terdiam. “Baiklah kalau begitu, saya mengerti. Mungkin kali ini kalian saya maafkan. Tapi lain kali tidak boleh ya berbuat seperti itu. Bagaimana jadinya kalau nanti kehadiran kalian menggunakan sistem payroll?”

“Ha… apa itu Tuan, sepertinya kata-kata itu sangat asing bagi kami?”

“Ups… maaf, saya melakukan kesalahan karena mengeluarkan bahasa yang tidak kalian mengerti. Saya lupa kalau kata-kata itu tidak digunakan di kerajaan ini.”

Hulubalang Digol manggut-manggut. Sepertinya ia pun pernah mendengar kata-kata itu dalam sebuah mimpinya.

Seminggu kemudian. Para tamu misterius itu berpamitan untuk meninggalkan Kerajaan Bedogol. Semua saling bersalaman dan berjanji akan datang kembali minggu depan…

Iklan

2 Tanggapan

  1. SPI …itu bedogol …hahahahah

  2. Anak setan ajm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: