3# Futsal Hujan

Oh malam yang basah disiram air dari langit. Sebentar reda sebentar tumpah lagi. Membuat para penggila futsal bingung, apakah akan bermain atau akan ditunda.

Lalu sabarlah mereka menanti hingga hujan reda, menunggu sampai titik-titik air berganti menjadi koma lalu menjadi tanda seru. Hujan berhenti!!!

Bergegaslah mereka pulang untuk mengganti pakaian kerja dengan pakaian olah raga, menghubungi teman-teman yang lain agar semua bisa berkumpul di lapangan futsal, karena hujan sudah benar-benar reda.

Dengan senang hati mereka pergi menuju lapangan futsal. Sampai disana ternyata lapangan futsal masih tergenang air. Bila dilihat dari jauh, nampaklah ia seperti kolam renang. Kecewa menggelayuti segenap yang hadir disana. Akan berapa lama menunggu lantai lapangan itu dipel sampai kering.

Lalu berkatalah salah seorang dari mereka. “Wahai Digol, bantulah mereka mengepel lantai futsal agar cepat kering.” Lalu Digol yang mendengar perintah itu menjulurkan lidahnya. Slurrpp…. Slurrrppp… seolah-olah mengepel dengan menggunakan lidah. Ajaibnya, lantai futsal tetap basah.

Tidak berapa lama, datang lagi teman-teman mereka yang lain dan wajah mereka yang tersenyum berubah menjadi kecut.

“Sesungguhnya apabila hujan turun dan telah berhenti sebelum setengah jam waktu untuk bertanding futsal, maka lantai futsal belum benar-benar kering,” kata Rizgol yang baru datang. Di sepeda motornya terdapat sebuah bola berwarna biru yang sudah pudar warnanya dan compang-camping.

Karena hal itulah, mereka mulai ribut dan ingin membubarkan diri.

“Kita harus menunggu Pasgol jika ingin membubarkan diri, karena dari tangannya kita akan memperoleh buah-buahan dan sekotak coklat untuk mengganjal perut.” Ujar Digol.

Benarlah katanya, tidak lama kemudian Pasgol muncul dengan keturunan pertamanya dan di tangan mereka terdapat 3 macam buah-buahan seperti jeruk, apel dan pir.

Semua hulubalang berebut seperti bebek menyantap dedak. Lalu sisanya menjadi hak Pasgol dan buah hatinya. Bersamaan dengan itu, tumpahlah air dari langit yang luas, membasahi bumi, membasahi pakaian hulu balang dan kendaraannya.

Satu persatu mereka meninggalkan lapangan futsal, pulang ke rumah masing-masing mungkin dengan basah kuyup. Selamatlah para hulubalang yang tidak datang sehingga mereka tidak kena hujan. Dan selamatlah para hulubalang yang baru memiliki belahan jiwa karena mereka akan semakin khusuk dalam menunaikan tugasnya diantara derai hujan dan angin yang sepoi-sepoi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: