1# Kisah di Kerajaan Bedogol

Tersebutlah sebuah kerajaan kecil yang tidak bisa disebutkan letaknya dimana akan bersuka cita besok. Seluruh penghuni kerajaan itu akan mendapatkan hadiah dari Maharaja yang sedang mengalami untung besar dari hasil berniaganya… (sampai sini, pengarang udah mulai bingung, ini kerajaan atau toko kelontong, tapi udah nanggung jadi diterusin aja).

Sebenarnya ada yang lupa, harusnya diawal tadi disebutkan, tapi karena males ngedit, diterusin aja. Kerajaan ini dinamai Kerajaan Bedogol. Kenapa bedogol, entahlah, beberapa hari ini, pengarangnya lagi dihantui dengan kata-kata bedogol.

“Bedogol… bedogol…” kata-kata itu terus berulang yang datangnya berasal dari raja kerajaan bedogol. Sidang pembaca, janganlah bedogol diartikan dengan artian yang sebenarnya, anggaplah kata “bedogol” itu sebagai kata suci yang memiliki makna yang sangat agung dan dalam. Sehingga siapapun yang bernaung di kerajaan bedogol, menjadi agunglah mereka semua dan terpuji segala kelakuannya.

Balik lagi ke atas, terus turun lagi. Jadi hari yang dinanti-nanti akhirnya datang juga. Hari dimana sang perdana menteri yang tak pernah bosan bertanya kepada hulubalang, kapan kiranya hasil kerja keras mereka selama ini terbayarkan, apalagi akhir tahun akan datang dan semua rakyat ingin berpesta, berlibur dan berburu.

Tapi itu semua terjawab sudah, sang Zimgol datang membawa berita bahwa semua hulubalang akan mendapatkan bonus atas hasil kerja keras mereka selama ini yang telah menghabiskan waktu dan perasaannya untuk kemajuan kerajaan bedogol.

Tersebutlah salah satu hulu balang yang biasa dipanggil Rigol akan menggunakan bonus tersebut untuk membeli perabotan rumah barunya. Rigol sudah memilih-milih perabotan yang cocok dan sesuai selera apalagi Rigol akan segera mengakhiri hidupnya, eh… masa lajangnya.

Lain lagi dengan Firgol, hulubalang yang satu ini baru saja mengakhiri masa lajangnya beberapa minggu lalu (sepertinya, tulisan ini terlalu norak, pasti akan segera ketauan). Dibilangnya pada senja itu…

“Semua bonus ini nantinya akan aku persembahkan untuk istriku tercinta, jadi tertutuplah segala kemungkinan bagiku untuk menggunakannya secara pribadi dan sembunyi-sembunyi…”

Lalu hulubalang yang lain menyahut, salah satunya Digol.

“Benarkah demikian wahai Firgol, jika engkau tak memberitahu isterimu (bonus itu), maka terbukalah kemungkinan bagimu untuk menggunakannya sesuka hatimu…”

“Tidaklah demikian Digol, dia pasti tahu sendiri.” (Firgol masygul dan menyadari bahwa ia telah bercerita pada isterinya tentang hari bahagia yang akan datang itu).

Salah satu Menteri yang biasa dipanggil Kokogol memiliki niat yang sangat mulia, niat yang bila semua hulubalang mengetahuinya, niscaya mereka akan mengangkatnya beramai-ramai dan melontarkannya ke udara seperti pelatih tim sepakbola yang memenangkan piala champion. Tapi ini niat ya, ingat… masih niat. yang pernah disampaikannya pada Digol.

“Janganlah bonus itu engkau habiskan dengan sia-sia, karena diantara yang sekian itu, ada hak-hak bagi mereka yang terhimpit kesulitan. Lihatlah saudara-saudara kita di Gaza.”

Digol lalu menyahut perkataan mulia itu. “Apa maksud dari semua itu Menteri Kokogol? Semulia apakah Gajah yang Menteri Kokogol maksud itu sehingga berhak baginya sekian dari sekian apa yang akan kita dapatkan?”

“Tidaklah akan hilang bedogol dari kerajaan ini sehingga engkau tak lagi salah eja bahwa yang aku maksudkan adalah Jalur Gaza, bukan makhluk berbelalai lagi berkuping lebar itu.”

Digol terperangah dan menyadari kekhilafannya, lalu berkata “Betapa mulia niat Menteri Kokogol, semoga aku bisa melakukannya seperti yang Menteri Kokogol niatkan.”

“Aamiiinnn…” Seluruh hulubalang mendoakan.

Tidak lama kemudian, Raja datang. Lalu berbincanglah Raja dengan beberapa hulubalang tentang segala macam yang ingin mereka ceritakan.

Hulubalang Digol mendengar suara dari atas meja dimana suara itu berasal dari Telegol yang bisa mengantarkan suara dari kerajaan kecil yang lain lalu dalam sekejap berada di telinganya.

“Apa kabar wahai hulubalang Digol, apakah engkau masih mengingat aku dari suaraku yang tak pernah berubah ini?”

“Hohoho… kabar aku sangatlah baik. Tentu saja aku ingat akan suaramu, bahkan wajahmu, isteri dan anak-anakmu aku mengingatnya.”

Lalu menyahutlah lagi suara dari kerajaan lain itu yang mana, nama kerajaannya itu belumlah bisa diberi nama.

“Dimana-mana sekarang sedang hangat perbincangan tentang bonus itu, gusarlah kami yang tak memiliki jabatan apa-apa dan hanya sibuk mendengar saja. Sudilah hulubalang Digol menyisihkan sekian dari sekian itu untukku jika engkau berkenan…”

Digol terkekeh-kekeh dengan sedikit menghitung-hitung pos-pos yang semakin bertambah. Lalu Hulubalang Digol membuat kata-kata mutiara untuk dirinya sendiri. Beginilah kata-kata yang tersusun di kepalanya…

Semakin banyak engkau berteman dengan orang yang kekurangan, maka akan semakin menjadi kaya dirimu. Kecuali jika kamu pelit dan tidak memberi apa-apa.

Bersambung nggak ya…

2 Tanggapan

  1. hahaha gw tau maksunya bedogol, “be” nya aja ilangin😛

    Baby Pink

  2. agak gimana gitu ya nama kerajaannya -.-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: