Pulang Kampung, Selalu ada yang Berubah…

Pulang kampung adalah tradisi ketika berlebaran. Selain sebagai ajang silaturahim, pulang kampung juga memberikan kesempatan mata kita untuk melihat setiap perubahan yang terjadi di keluarga, di lingkungan dan di jalanan. Misalnya aja, makin banyak monyet di pohon-pohon sawit depan rumah, apakah mereka juga mudik?

Di kampung almarhumah nenek, dimana aku tinggal ketika sekolah Tsanawiyah dulu, banyak foto-foto bakal calon kepala desa dipampang di pinggir jalan. Malah halaman rumah nenek yang posisinya sangat strategis karena berada di persimpangan jalan ditanami pamflet-pamflet 4 orang calon yang wajahnya imtu (imut dan tua). Enak banget nih bakal calon kampanye gratis di halaman rumah nenek. Pikirku.

Sebagaimana biasa dalam pemilihan kepala desa, biasanya setiap calon dilambangkan dengan tanaman tertentu, ada padi, kapas, pisang, jagung dan sebagainya. Makanya di samping foto wajah calon, ada buahnya. Kalo ada orang lugu dan buta huruf lihat itu mungkin dikiranya itu foto pedagang buah.

Ada pamflet yang besar, ada yang sedang dan ada yang kecil. Mungkin disesuaikan dengan kondisi kantongnya kali ya. Yang besar pamfletnya pasti karena bayarannya lebih gede. Kalo yang kecil pasti karena dia orangnya pelit, medit dan kedekut. (maaf lahir dan batin :p )

Diantara keempat pamflet itu ada yang terpampang bagus, ada kotor, ada yang bolong-bolong dan ada yang miring sampe menutupi salah satu calon lainnya.

Wahhh, ini masih gambarnya aja udah menunjukkan persaingan, apalagi orangnya yang asli ya…

Kulihat salah satu calon ada yang kukenal. Oo iya, dia temanku waktu kami di remaja mesjid dulu. Dia sering tuh baca takhtim kalo wiridan. Ternyata sekarang udah sukses, mau jadi kepala desa.

“Nde, kenapa pamflet-pamflet ini di pasang di halaman rumah?”

“Iyo, mungkin biakh enak ditengok okhang yang lewat kokhno pas di simpang.”

Ooo, iya pulak. “Bayar Nde?”

“Tidak. pediakh situ. Konal konal jugo nyo…”

“Lucu-lucu ya Nde, ada yang bagus, ada pulak yang bolong-bolong.”

“Iyo… Kokhjoan anak-anak itu, yang sukaan okhang tu menjahili. Kadang dibalikkan okhang tu gambakhnyo… sahinggo saling membelakangi.”

Bah bah… Aneh jugo kuraso becakap kayak gini karna dah lama tu

“Jadi yang bolong-bolong itu Nde.”

“Haaa… kolo yang itu, pernah Bunde marahi… Heeyyy, kenapo kelen rusak gambakhtu? Dibilanglah sama anak-anak tu. Kan disuruh nyoblos Buk, tengok lah tu bacaannya. Coblos gambarnya. Bah, iya pulak. Tak salah jugo anak-anak tu.”

“Ooo… Ha…ha… ha…”

Itu lah mudik, kita selalu mendapatkan hal-hal baru, berkumpul bersama keluarga, mengunjungi sanak saudara. Bertambah cerita, mereview kenangan, dan selalu ada kue-kue dan sirup untuk dinikmati sambil mendengar cerita… ada lagi hikmah yang lain, minggu ini aku bisa nambah satu postingan lagi, hehehe…

Iklan

2 Tanggapan

  1. hampirr sama ternyata, saya di daerah solo dulu calonnya kadesnya juga make nama nama buah dan palawija

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: