Keyboard Bongkar

Ingat nggak, waktu kamu kecil dulu, lagu apa yang sering dinyanyikan ibumu atau bapakmu untuk menidurkanmu? Kalo kamu ingat, artinya kamu itu anak ajaib karena masih bayi udah bisa mengingat lagu yang dinyanyikan mereka. He…he…he…

Aku masih ingat sekali waktu ibu atau ayahku ingin segera melelapkan adikku, mereka selalu menyanyikan lagu qasidah atau lagi nasyid. Dulu lagi musim-musimnya lagu Nasida Ria dan sejenisnya.

Lagu nasyid atau qasidah sarat dengan pesan-pesan moral, nasehat, petuah dan hikmah. Itulah kenapa orangtua kita dulu yang suka menyanyikannya untuk meninabobokan anaknya berharap telinga anaknya akan mendengarkan dan menangkap setiap makna yang terkandung didalam lagu itu sehingga kelak ketika dewasa, mereka bisa menjadi anak yang baik. Ada pula yang melantunkan alQuran demi harapan yang sama.

Kata orang bijak, anak itu seperti kertas putih, tergantung orangtuanya mau menulis apa di atas kertas itu. Bersenandung lagu-lagu nasyid atau qasidah ketika menidurkan anak bisa dikatakan menuliskan hal-hal baik untuk anaknya.

Coba bandingkan dengan sekarang, masih ada nggak orangtua yang meninabobokan anaknya dengan menyanyikan lagu nasyid atau qasidah, atau lagu lain yang liriknya mengandung pesan-pesan moral? Niscaya akan sulit ditemui.

####

Baru-baru ini, aku menghadiri undangan seorang teman yang merayakan syukuran kelahiran anaknya. Aku tiba dirumahnya malam hari dan ba’da isya hiburan yang ia sewa mulai beraksi. Tidak ada lagu qasidah dan rebana seperti yang pernah kulihat dulu. Tidak ada alunan musik syahdu yang membuat hati tenang. Tidak ada sama sekali. Melainkan…

Keyboard Bongkar!!!

Musik dimainkan, dangdut koplo. Biduan menari erotis dengan pakaian kekurangan bakal (ke atas nanggung, kebawah juga) mirisnya, anak-anak kecil berderet-deret duduk manis di atas panggung menikmati… entah lagunya entah biduannya.

Aku tergelitik untuk bertanya kepada temanku yang punya hajatan, kenapa kibot bongkar?

“Cemanalah Paung, kalo nggak ada hiburan kayak gini (kibot bongkar) gak ada yang mau datang. Kalo cuma amplopnya aja yang datang buat apa, kita kan berharap orangnya juga datang.”

Bah, aku datang bukan karena kibot bongkarnya loh!

“Nanti jam 10 (malem) ke atas mulai rame ni Paung, mulai lah mereka bongkar-bongkar,” lanjutnya lagi.

“Aku udah belikan mereka tuak dibelakang.”

“Hah? untuk apa?” Asli aku heran.

“Ya kalau nggak mabuk dulu mana berani mereka bongkar-bongkar…”

O… Astaghrifullahaladzim

Temanku bercerita terus, aku mau geleng-geleng kepala mendengarnya, tapi kuurungkan. Ntar dikira aku udah kena imbas musik kibot bongkarnya pulak.

Bayangin, agar hajatannya rame didatangi orang, temanku ini rela merogoh kocek 1,2 juta untuk membayar kibot bongkar. Ditambah lagi dengan membelikan mereka tuak, kamput.

Benar-benar aneh, acara syukuran kelahiran anak kok disambut dengan acara maksiyat. Lah itu anak besar mau jadi apa? Apa gak takut anaknya kelak niru bapaknya? Masih mending. Apa gak takut anaknya kelak niru penyanyinya. Hiiii…

Tapi tau kan yang kusebut kibot bongkar. Kibot bongkar adalah kibot mak lampir. Gak tau juga! Cari di KBBI, belum ada juga ya?

Keyboard bongkar alias keyboard mak lampir adalah grup musik yang terdiri dari keyboard, pemain keyboard dan beberapa penyanyi dimana penyanyinya siap membongkar-bongkar, bukan membongkar rumah kamu melainkan membongkar semua pakaiannya. Lalu, perhatikan apa yang terjadi…

3 Tanggapan

  1. waw, begini toh kisahnya kibot mak lampir😯

  2. hahah asik ya, kalo mengingat-ngingat masa kecil mah. jadi pengen jadi anak kecil lagi. hehehe

  3. Terima kasih atas informasinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: