Di Awal Waktu

Di luar gerimis. Sementara suara azan maghrib telah berkumandang dari sebuah mesjid di sebelah barat. Oh ya, malam ini ada jadwal pengajian di kantor. Tapi orang-orang di kantor masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Aku berbegas ke mushalla, mengambil wudhu, lalu azan.

Udah lama gak melakukan kebiasaan ini semasa di kuliah dulu. Minimal 3 waktu shalat aku melakukannya. Maklumlah, namanya juga tinggal di mesjid. (Hentikan kisah menyedihkan ini!!!)

Suaraku rada cempreng, masih kerasa sisa-sisa kue dadar di tenggorokan. Salah juga tadi gak sempat minum.

Selepas shalat berjamaah, pengajian di mulai. Tema pengajian malam ini mengangkat seputar puasa Rajab. Ustadz mulai membuka pengajian dengan melafazkan asma Allah. Selanjutnya mulut kami sibuk mengunyah kue yang menantang di hadapan. Emang lagi kelaparan. Tangan-tangan berseliweran dari piring ke mulut.

Sambil makan, telinga dan mata ini tertuju ke ustadz. Darinya mengalir ilmu agama yang sudah asing tak terjamah karena sibuk dengan rutinitas menghitung angka-angka.

Kata Ustadz…

Melaksanakan puasa rajab berarti melakukan persiapan sebelum datangnya bulan suci ramadhan. Puasa di bulan rajab akan melipatgandakan pahala dari perbuatan baik yang kita lakukan, begitu pula sebaliknya. Setiap perbuatan buruk yang kita lakukan, dosanya juga menjadi berlipat ganda.

Bulan rajab yang lagi berlangsung sekarang ini hendaknya mulai kita manfaatkan untuk memperbaiki diri. Memperbanyak ibadah baik fardhu maupun yang sunnah. Salah satunya adalah shalat lima waktu. Apakah shalat lima waktu kita sudah benar?

Yang penting untuk dicatat, pertama, kita harus memperbaiki motivasi kita untuk shalat sebenarnya apa? Apa sebenarnya motivasi, kita shalat? motivasi shalat kita itu apa? Duh kok jadi hancur gini bahasanya. Tau lah ya maksudnya apa. Apakah kita shalat untuk dilihat orang (riya’), segan sama bos kita, atau sambilan untuk curi-curi waktu istirahat? Sebagai hamba Allah, shalat harusnya menjadi sarana seorang hamba mengenal Tuhannya. Menyadari kehambaannya dan wujud rasa cinta seorang makhluk kepada penciptanya.

Kedua, Shalatlah di awal waktu. Shalat di awal waktu sangat besar faedahnya baik dari segi waktu (melatih kedisiplinan) maupun dari sisi kehidupan. Abdurrahman bin Auf ketika akan menjalankan bisnisnya bertanya kepada Rasul, bagaimana agar bisnis yang ia jalankan mendapat kemajuan. Rasulullah memberikan tips “Shalatlah di awal waktu.” Shalat di awal waktu akan menjadikan diri kita menghargai waktu, tidak akan menyia-siakan waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, satu lagi yang paling penting, shalat di awal waktu memudahkan dikabulkannya doa kita kepada Allah dan membuka pintu rezeki.

Yang ketiga, Shalatlah dengan berjamaah. Rasul berpesan, Shalat berjamaah 27 kali lipat faedahnya/pahalanya dibandingkan dengan shalat sendirian. Sedapatnya kelima shalat fardhu dapat kita lakukan dengan berjamaah. Karena ini yang akan membedakan shalatnya seorang muslim sejati dengan orang munafik. Dimasa Rasul shalat orang munafik itu hanya tiga waktu. Zuhur, ashar dan maghrib. Itupun mereka melakukannya hanya agar dilihat Rasul. Istilahnya Setor Muka. Nah, apakah kita termasuk golongan yang itu. Coba itung dulu dalam satu hari berapa kali shalat berjamaah?

Sebenarnya ada dua poin lagi yang belum disampaikan ustadz, namun karena waktu isya telah masuk, pengajian pun ditutup dengan Alhamdulillah (biar kelar nulisnya).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: