Kisah Sendu di Siang Bolong

Suatu kali saat aku kliring, aku terdampar dalam obrolan yang sangat mengguncang hati. Obrolan apakah kiranya yang sanggup memporakporandakan perasaanmu kalau bukan obrolan tentang orang tua kita yang telah lanjut usia.

Ketika orang tua kita semakin lanjut usia, disaat itulah sebagai anak, kita mulai menjadi orang yang paling peduli, sama seperti saat orangtua kita merawat kita di waktu kecil dahulu. Itu pun kalo kamu dirawat. Terutama sama nyokap, eh ibu…

Ibu lah makhluk di bumi ini yang paling berjasa menjadikan kita dewasa seperti ini, bisa membaca, menulis, kerja, banting tulang, pulang malam, gajinya dikit, HAH!! MALAH CURHAT.

Nah giliran kita beranjak dewasa dan orangtua beranjak lebih tua lagi maka giliran kita lah yang merawat mereka. Apalagi saat mereka sakit. Dari sinilah cerita teman-temanku yang memporakporandakan perasaan itu dimulai…

Hendra bercerita… Ibunya mengidap penyakit aneh. Gusinya mengalami pembengkakan sehingga pipinya ikut membesar, sampai-sampai busuk dan bernanah. Beragam upaya telah dicoba, upaya medis gagal, pengobatan alternatif juga telah dicoba namun belum menunjukkan hasil.

Setiap kali Hendra menjenguk ibunya (karena Hendra sudah memiliki keluarga sendiri) Ibunya selalu bertanya, ‘bau ya nak?’ Hendra menatap sayang pada ibunya dan selalu mengatakan ‘Tidak’. Bagi Hendra bau penyakit ibunya tidak akan menghalanginya untuk mendekap ibunya dan selalu membesarkan hati ibunya bahwa beliau pasti segera sembuh.

Lain halnya dengan adiknya yang selalu ‘jujur’ menjawab bila ditanya ibunya, ‘bau mak’. Kalau sudah begitu, Hendra jadi gatal tangannya mau ngegampar adiknya.

Kisah kedua diceritakan di tempat yang sama…

Ibu Sadli mengidap penyakit diabetes, saking parahnya, kaki sang ibu sudah mulai membusuk dan mengeluarkan bau yang tidak sedap, pastinya bukan seperti bau sambel terasi atau ketek berjamur. Setiap kali Sadli menjenguk ibunya, Sadli selalu dekat dengan sang ibu tanpa rasa jijik sedikitpun dan tanpa terganggu dengan bau dari penyakit itu.

Hingga pada suatu hari tanpa sepengetahuan Sadli, kaki sang ibu diamputasi untuk mencegah kemungkinan menjalar ke anggota tubuh yang lain oleh pamannya sendiri (adik mamanya entah adik bapaknya), idenya loh, bukan yang motong, kalo yang motong tetap dokter spesialis. Awalnya Sadli marah besar begitu tahu kaki ibunya telah tiada, namun karena yang mengambil keputusan adalah orang yang dia hormati. Sadli memadamkan pemberontakannya. Apaan sih!! kayak film G30S PKI gini.

Sadli mendekap ibunya dan ibunya pun bercerita kalau malam itu ibunya bermimpi dijenguk oleh kakek, nenek, dan anggota keluarga lainnya yang telah lebih dahulu berpulang kerahmatullah. Saat itu Sadli mulai merasa tidak enak dan khawatir kalau waktu untuk bersama ibunya tidak akan lama lagi.

Ia lalu memeluk ibunya, mencium kaki ibunya tepat di kaki yang telah diamputasi, berurai airmata memohon maaf atas segala kesalahan yang pernah ia lakukan terhadap ibunya.

‘Gak nak, Sadli gak ada salah… Cuma ibu berfikir, bisa gak ya ibu melihat anak Sadli nanti.’ Itulah kata-kata yang masih terngiang-ngiang sampai sekarang di telinga Sadli. Walau akhirnya Ibunya tidak sempat melihat ia menikah dan melihat cucunya. Sadli yakin Ibunya pasti melihat mereka dari tempat yang lebih indah.

Cerita kedua teman tadi jadi semakin menambah cintaku pada ibuku yang berada di kampung. Semoga Allah selalu melimpahi kesehatan dan keberkahan umur pada Ibunda.

Bagi kita yang masih memiliki ibu, jangan pernah sia-siakan waktu kamu bersama ibu. Jangan pernah ada sedikitpun rasa benci terhadap orang tuamu. Walau orangtuamu keras dalam mendidikmu atau ada cara orang tuamu yang tidak kamu suka dalam mendidikmu, ingatlah bahwa mereka ingin menunjukkan kasih sayang terbesarnya kepada kamu, namun kadangkala kamu yang tidak begitu memahaminya.

Kamu boleh aja gak suka ketika ibu memarahimu, menceritakan kejelekanmu di depan orang lain, atau menyuruhmu melakukan sesuatu disaat kamu letih, tapi ibu juga memujimu tanpa sepengetahuanmu pada teman-temannya, bahwa kamu anak yang bisa diandalkan, anak yang dibanggakannya dan tentu saja ia tidak ingin membuatmu besar kepala.

Percaya deh, segalak-galaknya harimau, tidak akan memakan anaknya, begitu juga, segalak-galaknya ibumu, ia tidak akan memakanmu atau mengulitimu, ibu hanya ingin anaknya lebih baik dari dia, lebih berharga dari dirinya.

Ibumu tidak akan menghitung berapa uang yang telah ia habiskan untukmu, tapi ia akan menghitung berapa lama lagi ia bisa bersamamu. Apakah kamu tidak menyadari itu, masihkah kamu berfikir kamu akan meninggalkannya karena tidak tahan mendengar ocehannya. Ketika kamu jauh darinya, kamu pasti akan merindukan ocehannya, nasehatnya, amarahnya… hanya saja kamu barangkali belum menganggap itu semua berarti saat ini. Karena, lebih banyak kita menganggap sesuatu itu baru berarti ketika kita telah kehilangannya.

 

 

 

Satu Tanggapan

  1. Akan ada saatnya kita tidak ingin untuk berpisah dan ingin terus menemani yang dikasihi, tapi yakinlah saat itu tidak akan berlangsung lama, manfaatkan waktu untuk membuat mereka bahagia melihat kita, dan tidak khawatir untuk meninggalkan kita…

    Udah lama ga mampir disini, Oh iya Podjok Qolbuku kini ganti alamat jadi http://podjokqolbuku.wordpress.com

    Kunjungi juga blog baru saya bang Abdi, http://jadinetpreneur.blogspot.com , ditunggu lho,🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: